Sabtu, 26 Maret 2011

Princess Hours Episode 4

Telepon di apartemen Yeol berdering. Yeol yang baru saja pulang berbelanja bergegas untuk mengangkatnya. Ternyata Ibunya yang menelpon. Ibunya bilang dia menyaksikan upacara pernikahan Shin melalui siaran tv. Ibunya bertanya kenapa dia tak melihat Yeol ada di antara mereka. Yeol bilang pasti akan susah mencari sebuah jarum yang terjatuh di lautan luas. Ibunya tertawa mendengarnya. Ibunya bilang kalau besok dia akan meninggalkan Inggris. Yeol senang sekali mendengarnya dan mencatat jadwal kepulangan ibunya agar dia tak lupa.

Bersabarlah sebentar lagi, Yeol. Kita tunjukkan pada mereka yang tlah membuang kita bahwa kita masih hidup dan baik-baik saja. Yang telah membuat kita menderita, sementara mereka hidup dengan nyaman. Ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan pada mereka agar mereka bisa merasakan penderitaan kita hingga menangis darah. Jangan khawatir, Yeol. Ibu akan mengatasi semuanya. I miss u” ucap Ibu Yeol dengan dingin. “I miss u too” jawab Yeol yang sedari tadi hanya diam sambil menutup teleponnyaa.

Putra mahkota hidup di istana bagian timur yang terbagi menjadi dua tempat. Yang aslinya hanya ada bangunan Sa Yang Dang. Tapi kemudian, dibangun bangunan ala barat yang dibagi menjadi dua bagian. Sa Yang Dang sekarang hanya dipakai untuk tempat belajar putra mahkota.

Dan bangunan ala barat yang terbagi jadi dua bagian itu, sekarang adalah tempat tinggal Putra Mahkota. Diantara kedua bangunan itu terdapat halaman yang luas di tengah-tengahnya. Di bangunan yang satu ditempati oleh Putra Mahkota dan bangunan di sisi yang lain ditempati oleh Putri Mahkota. Chae-gyeong dibawa ketempat itu saat upacara Tong Ne selesai.

Chae-gyeong masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama kedua orang dayang yang selama ini selalu bersamanya. Chae-gyeong senang sekali dengan perabotan serba mewah dan nyaman yang ada di situ.

Sementara di Thailand, Hyo-rin yang jadi juara sedang ngobrol dan berbincang-bincang dengan guru dan dua orang asing yang tertarik pada bakat Hyo-rin. Mereka berdua memberikan beasiswa untuk Hyo-rin belajar balet di luar negeri dan mengembangkan bakat baletnya itu disana. Hyo-rin dan guru baletnya tentu saja sangat senang menerimanya.

Tiba-tiba ada kabar di tv yang membuat Hyo-rin terkejut tapi membuat kedua orang asing itu sangat antusias menyaksikannya. Apalagi kalau bukan pernikahan Shin dan Chae-gyeong yang disebut oleh orang-orang sebagai pernikahan abad ini. Guru balet Hyo-rin mengatakan kalau Hyo-rin dan Putra Mahkota berasal dari sekolah yang sama. Tiba-tiba Hyo-rin melangkah pergi dan meninggalkan aplikasi beasiswa yang didapatkannya begitu saja diiringi pandangan bingung Guru Balet dan kedua orang yang memberinya beasiswa itu.

Di teras kamarnya, Hyo-rin menggenggam erat sepatu baletnya. Dia melihat dengan tatapan sedih berita pernikahan Shin dengan Chae-gyeong dari tv di kamarnya. Tiba-tiba telepon di kamar Hyo-rin berdering. Gurunya menelpon dari bawah dan meminta Hyo-rin untuk turun dan berkata apa Hyo-rin tak tahu siapa kedua orang itu dan meminta Hyo-rin untuk cepat turun lagi. Hyo-rin pun turun dan menemui mereka lagi.

Orang asing yang laki-laki memberikan aplikasi beasiswa itu pada Hyo-rin sedangkan yang wanita bertanya pada guru Hyo-rin apa yang sebenarnya terjadi pada Hyo-rin tadi. Gurunya tak bisa menjawabnya dan meminta Hyo-rin untuk segera menandatangani beasiswa itu. Bukankah hal itu adalah impian Hyo-rin sejak lama. Tapi Hyo-rin meminta maaf dan bilang kalau dia tak bisa menerimanya karna masih ada banyak hal yang harus dilakukannya di sekolah.

Sementara itu di istana, Ibu Suri, Ratu dan Choi Sang-gung sedang membicarakan tentang pendidikan Putri Mahkota. Ibu Suri berkata untuk belajar memakai huruf Hangeul saja dan diselingi dengan huruf Hanja karna mungkin Chae-gyeong tak begitu mengenal huruf Hanja. (Huruf Korea ada 2, Huruf Hanja atau nama lainnya Kanji China yang sering digunakan pada masa Korea masih di bawah pemerintahan kekaisaran dan juga huruf Hangeul yang digunakan sejak pemerintahan Raja Sejong. Raja Sejong lah yang menciptakan huruf Hangeul. Dalam buku2, kamus, petunjuk jalan, dll, biasanya tertulis dalam 2 macam huruf tersebut karna orang-orang jaman dulu hanya bisa membaca huruf Hanja saja. Berbeda dengan orang Korea modern yang sekarang hanya memakai huruf Hangeul saja).

Ibu Suri bertanya pada Ratu bagaimana dengan pendidikan dasar Pangeran. Pendidikan dasar juga perlu diberikan pada Chae-gyeong, yaitu pendidikan mengenai bagaimana cara untuk berbicara, bersikap dan juga cara untuk mengungkapkan perasaaan. Semua itu adalah hal yang paling mendasar yang harus dipelajari.

Kemudian, Ibu Suri juga berkata Ratu dulu juga berasal dari kalangan rakyat biasa, hanya saja Ratu berasal dari keluarga kaya yang sudah terbiasa dengan segala macam sopan santun yang ada dalam istana. Jadi Ratu tak mengalami kesulitan saat belajar tentang sopan santun di istana. Ibu Suri mengatakan, kalau Putri Mahkota sangat jauh berbeda daripada Ratu. Putri belum terbiasa dengan sopan santun di istana. Maka dari itu Ibu Suri meminta Ratu untuk mendidik Chae-gyeong dengan lebih sabar. Ratu hanya bisa mengiyakan.

Ibu Suri bercerita, setelah kematian tragis mendiang Raja Hyo-ryul, Raja sekarang mengambil alih singgasana dengan baik karna bantuan Ratu. Semuanya berjalan dengan lancar karnanya. Dulu Ibu Suri tak sempat mengatakan apa-apa pada Ratu bahwa dia sangat berterima kasih karna Ratu sudah membantu dengan sepenuh hati. Ratu merasa terharu dan tersanjung mendengarnya.

Yeol sedang menyetrika sambil mendengarkan berita yang masih saja heboh dibicarakan oleh orang-orang. Apalagi kalau bukan pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Ternyata Yeol menyetrika celana olahraga Chae-gyeong.

Di kamarnya Chae-gyeong masih tertidur lelap saat dayang-dayangnya mencoba membangunkannya karna hari sudah pagi. Mereka heran dan bertanya pada Chae-gyeong kenapa Chae-gyeong tidak memakai hanbok yang seharusnya dipakainya untuk tidur. Chae-gyeong bilang dia merasa sayang kalau hanbok yang cantik seperti itu dipakai untuk tidur. hehehehe ……

Para dayang Chae-gyeong membantu Chae-gyeong untuk mandi. Tapi Chae-gyeong bilang dia ingin melakukannya sendiri. Di kamar mandi, Chae-gyeong terkagum-kagum dengan interior yang ada di dalamnya. Dengan bathtub keramik n keran yang terbuat dari emas dilengkapi dengan tv di dalamnya. Chae-gyeong tersenyum-senyum melihatnya.

Selesai mandi, Chae-gyeong dan Shin menghadap Raja, Ratu dan Ibu Suri. “Mulai sekarang, pengawal Shin akan ditambah dari 3 orang menjadi 14 orang. Mereka takkan mengawal di dalam sekolah, mereka hanya akan berada di luar sekolah untuk mengawal” kata Raja. Shin tersenyum senang mendengarnya. “Dan juga untuk Putri Mahkota, mereka juga akan mengawalmu. Semoga pengawalan itu membuat kalian nyaman” lanjut Raja. Chae-gyeong mengucapkan terimakasih pada Raja.

Shin menuntut permintaannya yang dulu sebelum nikah dipenuhi. Dia dan Chae-gyeong ingin pindah ke istana Chang-deok. Tapi Ratu bilang, butuh waktu setahun setengah untuk memperbaiki istana itu. Jadi mereka harus bersabar dulu untuk beberapa tahun ini. Shin tak suka harus menunggu. Ratu juga tak suka Shin menuntutnya seperti itu di depan Chae-gyeong. Shin bilang tak apa-apa karna Chae-gyeong juga sudah tahu akan hal itu. Shin yang marah menarik Chae-gyeong pulang ke kediamannya.

Chae-gyeong tak percaya Shin bisa sekasar itu pada para Tetua Kerajaan. Biarpun kelakuannya kekanak-kanakan, tapi Shin bilang kalau mereka tak diancam seperti itu, keinginan mereka takkan di penuhi. Chae-gyeong heran melihat tingkah Shin. Dia menganggap kelakuan Shin benar-benar aneh.

Sementara itu, Ibu Suri memarahi Ratu karna ternyata Ratu yang berjanji pada Shin untuk menyetujui kepindahan Shin ke istana Chang-deok agar Shin setuju dengan pernikahan itu. Ibu Suri menyesali keputusan Ratu yang tak berdiskusi pada yang lain terlebih dulu. Ratu hanya bisa meminta maaf atas tindakannya yang salah.

Ratu berkata semua ini karna Raja mengijinkan Shin bersekolah di luar lingkungan istana. Sedangkan Raja berkata semua ini karna Ratu yang selalu terlalu keras kepala dan memutuskan semua sendiri hingga membuat Shin jadi arogan. Shin waktu kecil juga anak yang penurut, tapi sekarang dia sudah berubah jadi arogan seperti ini. Ibu Suri pusing melihat Raja dan Ratu yang saling menyalahkan.

Asisten Shin menghampiri Shin dan Chae-gyeong. Dia membawa 3 orang wanita yang akan menjadi pengawal pribadi untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong terkagum-kagum melihat mereka. Kemudian Chae-gyeong bertanya pada Asisten Shin karna sudah bertemu tapi belum pernah tahu siapa dia.

Asisten Shin memperkenalkan dirinya sebagai Asisten yang bertugas untuk melindungi pangeran dan mengatur jadwal sehari-hari Pangeran dan apapun yang berhubungan dengan masalah Pangeran Shin, jaman dulu disebut seorang kasim. Chae-gyeong membatin, Asisten Shin pasti sudah dikebiri karna itulah syarat jadi seorang kasim. Chae-gyeong senyum-senyum memikirkan hal itu.

Rupanya Asisten Shi tahu apa yang Chae-gyeong pikir, dia bilang, jaman sekarang sudah tak seperti itu. Dia sudah punya istri dan anak di rumah. Bukan seperti jaman dulu yang harus seperti itu. Wajah Chae-gyeong memerah karna malu. Shin tertawa melihat kekonyolan Chae-gyeong. Chae-gyeong meminta maaf karna sudah salah mengira. “Tak apa-apa Bigung Mama” kata Asisten Shin. Chae-gyeong tertawa mendengar panggilan barunya Bigung Mama (Yang Mulia Permaisuri).

Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Apa ada yang salah dengan panggilan itu?” tanya Shin heran. “Tidak. Aku hanya merasa agak gugup dipanggil seperti itu” jawab Chae-gyeong. Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Dia berbaring dan meneriakkan sebutan barunya” Aku adalah Yang Mulia Permaisuri” teriak Chae-gyeong. Teriakannya terhenti karna kedatangan Choi Sanggung.

Choi Sanggung berkata dia belum memperkenalkan secara resmi pada Chae-gyeong. Dia adalah Choi Sanggung, Asisten pribadi Chae-gyeong sekaligus yang bertanggung jawab atas pendidikan Chae-gyeong. Chae-gyeong melotot mendengarnya. Tak disangka dia harus belajar di bawah pengawasan Choi Sanggung yang sangat disiplin itu lagi.

Choi Sanggung berkata kalau Akuntan Istana sedang menunggu Chae-gyeong. Chae-gyeong heran mendengar kenapa Akuntan Istana mencarinya. Choi Sanggung bilang, Akuntan Istana bertugas untuk mengatur harta dan kekayaan yang dimiliki oleh Chae-gyeong. Kalau Chae-gyeong lelah hari ini, Chae-gyeong bisa menemuinya besok siang. Chae-gyeong bilang dia bisa menemui mereka hari ini.

Chae-gyeong menemui Akuntan Istana. Ternyata mereka memberikan tabungan untuk Chae-gyeong. Akuntan Istana bilang semua uang Chae-gyeong yang dibutuhkan Chae-gyeong akan ditransfer dari rekening istana ke tabungan Chae-gyeong. Jika ada sesuatu yang ingin Chae-gyeong tanyakan, Chae-gyeong tinggal bertanya saja.

Akuntan Istana perpamitan pergi. Chae-gyeong penasaran ingin membuka buku tabungan yang 4x lebih besar dari buku tabungan kita itu. Hehehe….Dan Chae-gyeong sangat terkejut dengan isinya saat membukanya. Disana tertulis jumlah tabungannya dengan angka yang sangat fantastis. 100 juta won (kira-kira 780 juta). Chae-gyeong sampai berteriak saking girangnya.

Di perjalanan menuju sekolah, Chae-gyeong berada satu mobil dengan Shin. Chae-gyeong sedang asyik menuliskan rencana untuk apa saja uang yang dimilikinya sambil sesekali tertawa. Kedua sopir mereka juga senyum-senyum melihat tingkah Chae-gyeong. “Apa kau sakit?” sindir Shin. “Aku tak apa-apa” jawab Chae-gyeong. “Tapi kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila” lanjut Shin. Chae-gyeong manyun mendengarnya dan berkata, “Kenapa aku harus gila kalau aku punya banyak uang yang bisa kupakai”.

Sampai di sekolah, siswa-siswa yang lain mengerubuti mereka. Para pengawal melaksanakan tugasnya. Mereka mengawal Shin dan Chae-gyeong masuk ke dalam sekolah.

Tiba di kelas, Chae-gyeong heran melihat Yeol yang mengembalikan celana olahraga-nya. “Siapa kau?” tanya Chae-gyeong. “Apa kau tak ingat?” Yeol balik bertanya. “Oh, kau murid pindahan itu” kata Chae-gyeong kemudian. Yeol tersenyum senang karna Chae-gyeong mengingatnya. “Apa kau juga pindah ke kelasku?” tanya Chae-gyeong tersenyum senang. Kemudian Chae-gyeong menyodorkan jari telunjuknya ke arah Yeol, salam luar angkasa khas Chae-gyeong. Hehehe….

Chae-gyeong mencoba menyapa teman-temannya. Tapi tak satupun yang peduli akan kehadirannya. Termasuk Kang-hyeon yang biasanya sangat mengerti dirinya. Dia memakai sarung tangan dan celana olahraganya. Tapi tak satupun yang mempedulikannya. Chae-gyeong sedih. Dia tak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, Shin bermain basket dengan teman-temannya, diiringi sorak sorai gadis-gadis dipinggir lapangan. Para pengawal Shin juga ada di pinggir lapangan. Dan saat Shin terjatuh, para pengawal langsung pontang panting berlari menghampirinya. Tapi Shin pernah melarang mereka untuk mendekat. Jadi mereka-pun tak berani mendekat.

Shin duduk dibangku bersama teman-temannya. Mereka bertanya pada Shin apa yang terjadi saat malam pertamanya. Shin bilang tak terjadi apapun yang ada di pikiran teman-temannya meskipun hanya 1%. Tapi tiba-tiba Shin teringat jari tangannya yang digigit oleh Chae-gyeong. Kemudian dia berkata, “Tapi kupikir, ada 7% yang terjadi di antara kami” Shin tertawa senang. Teman-temannya mendesaknya untuk bercerita. Shin tak mau mengataka apa-apa. Dia mengajak mereka untuk pergi.

Turun dari tangga mereka bertemu dengan Hyo-rin. Salah satu tema Shin memanggil Hyo-rin. Mereka bertiga meninggalkan Shin berdua dengan Hyo-rin agar mereka bisa berbicara.

Sementara itu, Chae-gyeong sedang curhat dengan Yeol. Dia sedih melihat teman-temannya seperti itu. “Seorang biasa yang tiba-tiba jadi seorang putri, bukankah itu aneh. Tapi ini bukan cerita Cinderella. Tapi aku takkan menyerah dan diam saja. Aku akan berjuang untuk menjadi orang yang lebih baik. Bagaimanapun juga, terimakasih” kata Chae-gyeong. “Untuk apa? Aku bahkan tak bisa membantumu apa-apa” elak Yeol. “Tapi kau mau mendengarkan semua keluh kesahku. Kau memang hebat” jawab Chae-gyeong.

Bagaimanapun juga aku merasa lega karna aku punya teman sepertimu” kata Chae-gyeong. “Aku juga senang berteman denganmu” timpal Yeol sambil tertawa senang. Mereka bahagia.

Sementara itu, Hyo-rin dan Shin. “Min Hyo-rin gadis yang bodoh. Orang bodoh yang hanya tahu tentang menari balet seumur hidupnya. Saat kau lihat kompetisinya, semua peserta seperti orang yang bodoh. Mereka semua tak punya emosi. Sedangkan aku, kebahagiaanku, kesedihanku, kemarahanku, dan rahasia hidupku, semua itu kugunakan dalam tarianku. Dan juga, aku mulai menari menuruti apa yang kusuka. Kau akan menyesalinya. Kau akan menyesal seumur hidup karna menungguku. Selamanya. Tapi semua itu sudah berakhir sekarang. Aku menyesal mengatkan itu padamu. Tapi kau masih mau bermain dengan Hyo-rin kan?” kata Hyo-rin pada Shin.

Shin hanya diam. “Jangan khawatir, aku takkan mencampuri hidupmu. Bukankah kau kenal aku dengan baik? Kau bodoh sekali karna tak mau bermain” lanjut Hyo-rin. Shin hanya diam kemudian pergi meninggalkan Hyo-rin yang sedih sendirian.

Chae-gyeong dan Yeol kembali ke ruang kelas mereka. Yeol berkata agar Chae-gyeong tak khawatir dan agar Chae-gyeong tenang menghadapi semuanya. Chae-gyeong berterimakasih atas bantuan Yeol yang membuatnya merasa nyaman. Chae-gyeong pun masuk ke dalam kelas bersama Yeol.

Chae-gyeong memperhatikan sekelilingnya. Tak satupun yang mempedulikannya. Dua orang teman dekat Chae-gyeong meminta Chae-gyeong untuk berdiri di depan kelas. Chae-gyeong memandang Yeol untuk meminta pendapat, tapi Yeol malah menghindari tatapannya. Chae-gyeong maju ke depan, Dengan menuruti kata teman-temannya, dia berharap agar mereka mau berteman dengannya lagi.

Di depan Chae-gyeong malah berpidato dan mengucapkan terimakasih pada mereka semua yang sudah mau berteman dengannya selama ini. Mereka sudah memperlakukan dia dengan baik. Chae-gyeong berterimakasih karna telah menjaga meja dan bangku Chae-gyeong selama Chae-gyeong tak masuk. Chae-gyeong menunduk sedih.

Tiba-tiba teman-teman Chae-gyeong menyemprot Chae-gyeong dengan pasta dan ketiga sahabat dekatnya maju kedepan sambil membawa kue tart dan karangan bunga untuk Chae-gyeong semabari mengucapkan selamat atas pernikahan Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong sangat gembira dan terharu.

Jangan terlalu gembira. Sekarang kau sudah menikah. Hidupmu sudah berakhir sekarang. Apa kau sadar itu?” kata Kang-hyeon. “Apa-apaan ini? Sudah selesai?” kata wali kelas mereka yang tiba-tiba masuk. “Selamat buatmu, gadis bodoh. Hei! Kenapa kau berani menikah mendahuluiku?” kata wali kelas Chae-gyeong. Chae-gyeong dan teman-temannya tertawa mendengarnya. “Jadi anda juga ikut-ikutan mengerjaiku?” tanya Chae-gyeong. “Tentu saja. Kalau tidak mereka semua akan memarahiku. Tunggu apalagi? Sekarang tiup lilinnya” kata wali kelas Chae-gyeong.

Chae-gyeong meniup lilinnya, begitu selesai, Kang-hyeon yang ada dibelakangnya membenamkan kepala Chae-gyeong ke tart hingga muka Chae-gyeong belepotan tart. Tentu saja Chae-gyeong tak hanya diam begitu saja. Dia langsung mengejar teman-temannya dan juga wali kelasnya untuk mengolesi wajah mereka semua dengan tart. Riuh sekali suasana kelas Chae-gyeong. Yeol yang melihat aksi mereka tertawa bahagia.

Pulang sekolah, Yeol dicegat oleh beberapa orang cewek. Salah satu cewek itu, tiba-tiba memeluknya. Tentu saja Yeol kaget melihatnya. Cewek-cewek yang lain juga kaget melihat aksi cewek nekat itu. Chae-gyeong menghampiri Yeol dan tak menyangka ternyata Yeol ikut campur dalam rencana itu. Yeol membela diri. Kalau mereka meminta mereka dengan sungguh-sungguh untuk berpura-pura agar berhasil bersandiwara untuk menjebak Chae-gyeong.

Chae-gyeong tersenyum malu-malu. Yeol senang melihatnya. Tiba-tiba Shin berteriak menyuruh Chae-gyeong untuk masuk ke mobil. Chae-gyeong-pun berpamitan pada Yeol dan masuk ke mobil dengan dongkol. Yeol menyapa Shin. Tapi Shin hanya senyum simpul. Mereka pulang menuju istana. Sementara Yeol termenung sendirian. “Itu adalah tempatku. Apa kau tahu? Sebenarnya itu adalah tempatku” kata Yeol dengan pedih. Di atas sekolah, Hyo-rin pun memandang sedih kepergian Shin dan Chae-gyeong.

Teman-teman Shin berusaha menghibur Hyo-rin. Mereka memberikan sebuah ponsel model terbaru sebagai ganti ponsel Hyo-rin yang rusak. Hyo-rin mencoba menolak pemberian itu, tapi mereka memaksanya. Hyo-rin kemudian berpamitan pada mereka untuk menjemput guru baletnya.

Di mobil, Chae-gyeong teringat rumahnya saat melewati tikungan yang berbelok ke rumahnya. Dia bilang, biasanya dia naik sepeda ke sekolah, dia membayangkan, seperti apa sekarang sepedanya, apakah sudah karatan karna terkena air hujan? Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin cuek-cuek aja n asyik mendengarkan lagu iPod-nya. Chae-gyeong sedih, dia ingin sekali mengendarai sepedanya lagi.

Chae-gyeong memanggil Shin dan melepaskan earphone dari telinga kiri Shin. Shin marah karnanya. “Um….kita dekat dengan rumahku. Bolehkan kita berhenti?” pinta Chae-gyeong. Shin menyalakan tv di mobil, Asistennya berkata, pulang sekolah, mereka masih harus belajar. Chae-gyeong sedih mendengarnya.

Sementara itu, di rumah Chae-gyeong, Ayah Chae-gyeong merasakan hal yang sama. Dia merindukan Chae-gyeong dan khawatir apakah Chae-gyeong makan dengan baik, apakah Chae-gyeong sakit perut, apakah Chae-gyeong membuat masalah. Mungkin sulit bagi Chae-gyeong untuk belajar tata krama di istana. Istrinya berkata agar Ayah Chae-gyeong tak terlalu khawatir. Ayah Chae-gyeong ingin menelpon Chae-gyeong tapi istrinya melarangnya. Dia khawatir nanti malah mereka berdua menangis bersama.

Ayah Chae-gyeong bertanya apakah Ibu Chae-gyeong tak sedih kehilangan Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong berkata tentu saja dia sedih. Tapi tetap saja tak bisa membalikkan keadaan seperti semula. Semua ini terjadi kan juga karna salah Ayah Chae-gyeong. Ayah Chae-gyeong hanya diam. Tiba-tiba Hp Ibu Chae-gyeong berbunyi.

Di mobil, Chae-gyeong masih mengomel sendiri. Shin bisa bertemu dengan nenek dan kedua orangtuanya. Sedangkan dia tak bisa bertemu dengan salah satu anggota keluarganya. Ini benar-benar tak adil.

Yeol bertemu lagi dengan Hyo-rin di toko bunga. Mereka saling tersenyum. Hyo-rin berkata karangan bunga Yeol cantik sekali. Pacar Yeol pasti akan suka. Yeol hanya tersenyum mendengar kata-kata Hyo-rin. Yeol menyukai bunga tanpa akar. Tapi Hyo-rin lebih suka yanga da akarnya. Yeol segera pergi setelah karangan bunganya selesai.

Ternyata Yeol pergi ke bandara untuk menjemput ibunya. Dia tersenyum senang begitu melihat ibunya berada di antara penumpang yang pesawatnya baru aja mendarat. Ibu Yeol pun tersenyum senang melihat putra nya. Ibu Yeol segera menghampiri Yeol. Yeol memberikan karangan bunga itu pada Ibunya. Tiba-tiba cahaya kamera menyoroti mereka. Ibu Yeol segera berbalik dan tersenyum.

Dua orang pria menhampiri merka dan salah satunya mengucapkan selamat datag kembali pada Ibu Yeol. Ibu Yeol mengucapkan terimakasih karna walaupun mereka sibuk, mereka masih mau menjemput dirinya di bandara. Ibu Yeol mengenalkan mereka pada Yeol. Ternyata mereka adalah sahabat dekat mendiang Ayah Yeol.

Yeol dan Ibunya makan disebuah tempat mewah. “Imperial Palace”. Ibu Yeol berkata kalau ternyata Seol sudah banyak berubah. Apakah mereka terlalu lama pergi? Yeol menanggapinya dengan senyumnya. Sementara itu di ruangan atas restoran itu, ternyata ada guru balet Hyo-rin yang sedang dikerubuti banyak orang. Hyo-ri merasa minder ada di antara mereka.

Saat melihat Hyo-rin datang, guru balet Hyo-rin melengos. Dia masih marah karna Hyo-rin menolak tawaran beasiswa yang didapatnya di Thailand waktu itu. Hyo-rin terus membujuk gurunya yang sudah banyak membantunya itu. “Aku minta maaf” pinta Hyo-rin. “Apa kau benar-benar menyesal?” tanya guru baletnya. Hyo-rin mengiyakan. Dia juga berjanji akan belajar balet dan kembali secepatnya. Gurunya tersenyum mendengar hal itu.

Hyo-rin menunggu gurunya di depan pintu keluar Imperial Palace dan secara tak sengaja dia melihat Yeol keluar bersama Ibunya. Hyo-rin menghampiri dan menyapa mereka. “Pacarmu sangat canti sekali” puji Hyo-rin. Yeol dan Ibunya hanya senyum-senyum. Kemudian Yeol pun memperkenalkan mereka. Tentu saja Hyo-rin tersenyum malu karna sudah salah menduga.

Tiba-tiba guru balet Hyo-rin keluar dari tempat itu dan kaget melihat Ibu Yeol. Ternyata mereka berdua saling mengenal. Guru Hyo-rin adalah adik kelas Ibu Yeol. Guru Hyo-rin memuji penampilan Ibu Yeol yang sampai sekarang tak berubah. Masih awet muda seperti dulu. Ibu Yeol tersenyum mendengar pujian itu. Kemudian dia melihat ke arah Yeol.

Kau tampan sekali. Seperti seorang pangeran. Oh maaf, kau memang seorang pangeran. Maafkan aku” kata Guru Hyo-rin. Ibu yeol berpamitan pergi karna jemputannya sudah datang. Dia juga meminta Guru Hyo-rin untuk merahasiakan kedatangannya ke Korea.

Sepeninggal mereka, Guru Hyo-rin bercerita pada Hyo-rin tentang siapa Ibu Yeol dan Yeol. Ibu Yeol harusnya jadi ratu seandainya saja suaminya tak mengalami kecelakaan mobil dan meninggal. Sepeninggal suaminya, Yeol dan Ibunya mengasingkan diri ke Inggris.

Di istana, Ratu sedang berbicara dengan Sanggung-nya. Mereka membicarakan tentang kemungkinan apakah Ibu Yeol sudah kembali ke Korea atau belum. Sanggung-nya berkata, ada berita kalau Ibu Yeol sudah pulang ke Korea. Hanya saja mereka belum menemukan bukti.

Di kamarnya, Ratu membersihkan kaki suaminya. “Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Apa kau masih juga khawatir?” tanya Raja pada istrinya. “Tidak Yang Mulia. Aku sudah lega keadaan anda sudah lebih baik. Ini karna anak itu” jawab Ratu. “Anak itu?” tanya Raja agak bingung mendengar keterangan Ratu. “Maksudku Hwi-seong. Setiap aku memikirkannya, aku merasa khawatir. Tak sepatah katapun terucap selama 14 tahun ini dan tiba-tiba dia datang saat keadaan Anda sakit seperti ini. Barusan aku dengar Ibu Yeol juga sudah kembali ke Korea. Dan hal itu membuatku merasa tak nyaman. Waktu berlalu dengan cepat dan anak-anak itu sudah sama-sama tumbuh dewasa” kata Ratu.

Sementara itu ditempat lain, para pengikut Ibu Yeol mengadakan upacara ritual persembahan untuk mengenang mendiang Ayah Yeol. Sementara itu, Yeol dan ibunya berada di sebuah ruangan dan berbicara berdua. Ibunya mengajak Yeol untuk menemui para tetua yag sudah bersedia merawat makam Ayah Yeol dengan baik. Sebelum mereka pergi, salah seorang dari tetua itu menghampiri mereka. Yeol dan Ibunya pun berterimakasih pada mereka semua.

Yeol menyerahkan sapu tangan pada Ibunya. Ibunya berkata akan mengembalikan semua yang seharusnya menjadi hak milik mereka yang selama ini tak mereka dapatkan. Perlahan demi perlahan mereka akan melaksanakan rencana yang telah mereka susun.

Di istana, Chae-gyeong sedang makan berdua dengan Shin. Para pelayan membantu melayani mereka berdua. “Apakah kita harus selalu makan seperti ini tiap kali kita makan?” tanya Chae-gyeong. “Semuanya tergantung Omma Mama (Yang Mulia Ibu). Untuk memakan makanan yang berbeda atau tidak. Termasuk juga minumannya” jawab Shin. Chae-gyeong terlihat kecewa mendengarnya. Shin bilang hari ini mereka akan menonton film bersama Appa Mama (Yang Mulia Ayah). Chae-gyeong senang mendengarnya.

Chae-gyeong bertanya kapan mereka akan menonton film. Shin bilang setelah makan mereka akan langsung nonton film Chae-gyeong kecewa karna sebenarnya dia berencana untuk istirahat setelah makan. Shin bilang, pertama, para Tetua akan mengatakan sesuatu, setelah itu mereka semua akan menonton film bersama-sama. Chae-gyeong kecewa mendengarnya.

Ternyata setelah maan Chaegyeong malah disuruh belajar. Dia belajar dengan diawasi oleh Choi Sanggung. Sementara itu, Shin bermain anggar. Dia berhenti dan menelpon seseorang. Ternyata Shin menelpon Chae-gyeong. Tapi saat Chae-gyeong hendak mengangkat telponnya, Choi Sanggung membentak Chae-gyeong karna tak boleh bermain HP saat sedang belajar. Chae-gyeong bilang, itu telpon dari Pangeran Shin. Barulah dia diijinkan untuk mengangkat teleponnya.

Shin berkata kalau Chae-gyeong harus bersiap-siap untuk memenuhi janji menonton film dengan Raja. Setelah selesai latihan, Shin akan menjemput Chae-gyeong. Agar mereka tak terlambat, Chae-gyeong harus bersiap-siap sekarang. Chae-gyeong senang mendengarnya dan mengulang kata-kata Shin di depan Choi Sanggung. Tentu saja Chae-gyeong senang, karna itu artinya dia tak perlu belajar lagi. Hehehehe…..

Mereka bertiga menonton Hwang Jin-i ! Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin malah melotot. Mereka minum the bersama setelah selesai menonton. “Aku penasaran akan apa yang dipikirkan oleh Bigung Mama tentang film itu” kata Raja. Chae-gyeong yang hendak minum teh langsung meletakkan cangkir teh-nya. “Hanbok kita sangat cantik. Kupikir Hanbok kita hanya punya beberapa warna saja seperti merah, kuning dan hijau. Bagaimanapun juga, setelah tinggal di istana dan mengenakannya hampir setiap hari membuatku sadar, hal itu tak benar. Kita ini bukan orang yang sama seperti yang lain. Kita ini orang yang berkelas. Benar begitu kan?” kata Chae-gyeong panjang lebar.

Raja tertawa senang mendengar perkataan Chae-gyeong. “Orang berkelas? Itu sepertinya menarik..menurutmu bagaimana?” tanya Raja kemudian. “Bunga, daun maple, pohon, langit, kunang-kunang…Itu semua adalah hal alami dalam sebuah film” jawab Chae-gyeong. Raja senang mendengar kata-kata Chae-gyeong. Kemudian bertanya apakah mereka perlu menonton film bersama seminggu sekali? Chae-gyeong mencoba menjawab dengan bahasa yang sopan, tapi sayang malah kata-katanya jadi aneh. Raja tertawa mendengar kata-kata honorifik Chae-gyeong yang belepotan dan meminta Chae-gyeong memakai kata-kata biasa saja. Chae-gyeong tersipu-sipu malu.

Hyo-rin menelpon Shin. Dan saat menelpon, Chae-gyeong melewati Shin dan tertegun mendengar Shin tertawa dengan seseorang melalui telepon. Chae-gyeong masuk ke kamarnya. Dan memandangi Shin saat Shin masuk pula ke kamarnya. Chae-gyeong menatap Shin dengan sedih. Kenapa Shin tak pernah tertawa sesenang itu saat bersamanya.

Chae-gyeong menghibur diri dengan menelpon keluarganya. Mereka senang sekali mendengar Chae-gyeong menelpon hingga berebut telpon untuk bicara pada Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong masih merasa sedih saat selesai menelpon.

Kenapa aku masih merasa kesepian? Ibu menjadi Ratu di dunia asuransi. Kami takkan khawatir tentang kedatangan dept kolektor lagi. Kenapa aku masih tak merasa bahagia mendengar itu semua? Setelah semua yang kulakukan untuk mewujudkan semua ini. Ada apa sebenarnya. Kenapa masih ada perasaan kosong dan kesepian ini?” bathin Chae-gyeong.

Chae-gyeong keluar dari kamarnya. Begitu keluar dari kamar, dia tersenyum memandangi Shin yang sedang termenung di pintu kamarnya sambil memeluk teddy bear kesayangannya.

Apa yang sedang dilakukannya. Seorang pria dewasa tapi masih memeluk boneka di tangannya seperti seorang anak kecil. Ekspresinya menunjukkan kalau dia sedang berpikir tentang hal yang menyedihkan. Apakah ini semua karna dia tak bisa menikahi orang yang disukainya? Jadi dia merasa kecewa karnanya. Apa ini? Lalu dia anggap aku ini apa? Ini benar-benar mengecewakan” bathin Chae-gyeong sambil menunduk sedih di depan kamarnya.

Bersambung………….

Rabu, 09 Maret 2011

Princess Hours Episode 3


Chae-gyeong sampai di istana. Para dayang sudah mennatinya dan mengiringinya masuk. Seorang dayang kepala, Choi Sang-gung menjelaskan pada Chae-gyeong. Ini adalah istana Eun-yeong. Yang dibangun 140 tahun yang lalu. Di mana di tempat inilah pada tahun 1866 Ratu Myeong-seong belajar. Istana ini punya arti yang sangat mendalam. Dayang kepala mengucapkan selamat pada Chae-gyeong karna bisa belajar di tempat ini. Chae-gyeong sama sekali tak mengerti apa maksud perkataan dayang itu karna sedari tadi dia gugup.

Dua orang dayang masuk sambil memebawa bertumpuk-tumpuk buku yang diletakkan di sebelah Chae-gyeong. Dayang kepala berkata kalau buku-buku itu adalah abhan pelajaran yang harus dipelajari oleh Chae-gyeong. Chae-gyeong kaget sekali melihatnya.. Tapi kemudian Chae-gyeong pun mulai belajar. Dia belajar dengan santai. Chae-gyeong mengeluh, kalau harus mempelajari semua ini, lama-lama dia bisa gila. Wakkkkkk…..

Tiba-tiba Ratu datang mengunjungi Chae-gyeong yang ternyata sedang tertidur. “Bagaimana bisa kami mengajari gadis seperti ini. Maafkan kami, Yang Mulia. Padahal saya sudah bilang pada bawahan saya untuk menjaganya.” kata Choi Sang-gung. Dua orang dayang mencoba membangunkan Chae-gyeong, tapi Chae-gyeong tak mau dibangunkan. “Ibu, aku masih ingin tidur” kata Chae-gyeong dalam igauannya. Ratu tersenyum mendengarnya dan meminta mereka untuk membiarkan Chae-gyeong tidur, karna ini hari pertama Chae-gyeong di istana. Dan mungkin juga karna beberapa hari terakhir ini Chae-gyeong susah tidur.

Ratu berkata pada dayang kepala agar Chae-gyeong jangan sampai salah melakukan semua hal yang harus dilakukannya dalam upacara pernikahan kerajaan. Chae-gyeong banyak melakukan kesalahan, jadi Ratu meminta Choi Sang-gung untuk melatih Chae-gyeong dengan baik untuk menjadi seorang putri. Dan untuk kedepannya, biarkan dia menyadari kalau istana itu ada banyak aturannya.

“Perhatikan dengan baik semua yang dia pelajari dan tulislah apapun yang terjadi baik hal yang salah ataupun hal yang benar saat dia berlatih. Aku tahu kau punya kemampuan yang bagus untuk menangani masalah seperti ini” kata Ratu. Choi Sang-gung mengangguk menyanggupi perintah itu.

Chae-gyeong bersembunyi dari ke dua dayang yang diperintahkan untuk menjaganya. Kedua dayangnya bingung karna tak dapat menemukan Chae-gyeong. Sementara Chae-gyeong malah menertawakan mereka. Mereka berdua sangat ketakutan karnanya. Chae-gyeong berjalan mundur sambil menertawakan mereka. Tapi saat berbalik dia terkejut karna Choi Sang-gung ada di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan!” teriak Choi Sang-gung marah pada kedua dayang bawahannya itu. Chae-gyeong berusaha membela kedua dayangnya dan berkata bahwa semua ini salahnya. Tapi suaranya tak di dengarkan. Apapun kesalahan Chae-gyeong, semuanya pasti berasal dari kedua dayangnya yang tak bisa menjaga Chae-gyeong denga benar. Ribet banget aturan istana. Hfuuuuuuuh…………

Choi Sang-gung bilang kalau Dae Rae Bok (Pakaian untuk Upacara Besar) untuk Chae-gyeong sudah selesai. Hanya tinggal mengepas nya saja. Chae-gyeong baru sekarang mendengar kata Dae Rae Bok. Chae-gyeong tak mengerti karnanya. Dayangnya bilang, Chae-gyeong akan mengerti kalau Chae-gyeong ikut dengan mereka. Chae-gyeong tak berani macam-macam lagi, dia ikut kemana kedua dayangnya membawanya pergi.

Sementara itu di kediamannya. Ibu Suri sedang menulis puisi mengenang suaminya. Kemudian Ibu Suri memandangi foto keluarganya dan bertanya pada salah seorang dayang kepala senior istana Seo Sang-gung, apakah ada kabar dari Hye-jeong, ibu Lee Yeol. Seo Sang-gung berkata kalau Ibu Yeol masih harus menyelesaikan sesuatu di Inggris, jadi dia belum bisa pulang sekarang. Besok adalah hari besar bagi Keluarga Kerajaan, pasti akan sangat menyenangkan jika seluruh keluarga berkumpul, begitulah keinginan Ibu Suri. Seo Sang-gung berkata, Ibu Yeol pikir sekarang ini bukan saat yang tepat untuknya kembali ke Korea.

Ibu Suri membelai foto keluarga Yeol dengan lembut. “Tiba-tiba terpisah jauh dari suaminya karna kematian, pasti membuatnya sangat terpukul. Dia seorang Ratu, tapi harus di usir dari istana karna peraturan hukum. Dia pasti sangat menderita dan sakit hati” kata Ibu Suri dengan penuh kesedihan. “Ya, Yang Mulia. Saat Putri Hye-jeong berpikir tentang suaminya, dia merasa sangat terluka” jawab Seo Sang-gung.

“Seo Sang-gung, bukankah kau yang selama ini mengasuh Pangeran Hyo-ryul dan Pangeran Hwi-seong?” tanya Ibu Suri. “Ya, Yang Mulia. Jika melihat foto itu, Putra Mahkota Hyo-ryul pasti menginginkan mereka mengambil posisinya. Keduanya, Ibu dan anak, pasti akan menduduki jabatan sebagai seorang Ratu dan Putra Mahkota dengan baik” jawab Seo Sang-gung. “Tak ada gunanya membicarakan masa lalu” kata Ibu Suri yang sebenarnya tak suka mendengar perkataan Seo Sang-gung.

Seo Sang-gung ini sangat menginginkan Putri Hye-jeong menduduki tahta menggantikan suaminya daripada harus digantikan oleh Raja yang sekarang bertahta, adik mendiang Raja Hyo-ryul, Ayah Shin.

Sementara itu, Ratu sedang menghidangkan obat untuk Raja. Ratu menyarankan agar Raja beristirahat hari ini, karna besok pasti Raja akan kelelahan karna harus memimpin upacara besar. “Sebenarnya aku ini keras kepala. Tapi kali ini aku akan mendengarkanmu, istriku” kata Raja setelah meminum obatnya. Ratu tersenyum mendengarnya. Ratu senang karna sekarang Raja terlihat sehat. Raja bilang tentu saja sehat karna setiap hari dia minum obat itu. Ratu meminta agar Raja selalu menjaga kesehatannya. Raja bilang dia akan melakukannya.

Raja menanyakan tentang perkembangan pendidikan Chae-gyeong untuk jadi seorang putri. Ratu bilang pendidikannya sudah dimulai. Tapi sepertinya susah sekali untuk mendidik Chae-gyeong menjadi seorang putri. Ratu khawatir akan upacara pernikahan besok dan juga bagaimana caranya untuk mendidik Chae-gyeong mulai sekarang. Raja berkata untuk mendidik Chae-gyeong pelan-pelan saja. Ratu bilang ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan pendidikan Chae-gyeong. Lebih baik membicarakan bagaimana cara untuk mendidik Shin terlebih dahulu karna kelakuan Shin masih belum dewasa.

Choi Sang-gung duduk bersama Chae-gyeong dan para dayangnya. Choi sang-gung menyeduhkan teh untuk Chae-gyeong dan berkata kalau Chae-gyeong sudah berlatih dengan keras. Chae-gyeong bilang para dayangnya bekerja lebih keras daripada dirinya. Kemudian Chae-gyeong juga bertanya apakah itu berarti pelajarannya sudah selesai?. Choi Sang-gung membenarkan hal itu. Tentu saja Chae-gyeong gembira mendengarnya. Tapi kemudian Choi Sang-gung berkata kalau Chae-gyeong harus menghafalkan semua yang dipelajarinya sekarang. Chae-gyeong benar-benar terkejut mendengarnya.

Choi Sang-gung meminta Chae-gyeong menghafalkan semua etiket pernikahan yang dipelajarinya. Tentu saja hanya sebagian yang di hafal oleh Chae-gyeong. Dan sasaran kemarahan Choi Sang—gung tentu saja pada dua dayang Chae-gyeong. Tapi saat Choi Sang-gung hendak memukul mereka, Chae-gyeong menghalanginya dan berkata dia ingat apa yang sudah dihafalkannya. Chae-gyeong duduk bersila dan tangan kirinya memegang kepalanya, lalu menjawab pertanyaan Choi Sang-gung dengan lancar karna di tangan kirinya ada contekan! Dasar Chae-gyeong. Tentu saja Choi Sang-gung senang mendengar Chae-gyeong berhasil menghafal dengan baik.

 Yeol sedang bersama Shin di kamar Shin. Asisten pribadi Shin sedang bertanya pada Shin apa saja yang dibutuhkan Shin dan yang cocok untuk Shin. Shin menjawabnya dengan malas. Sementara itu, Yeol sedang asyik menikmati alat-alat  perfilm-an yang ada disitu. Tak berapa lama kemudian, Asisten pribadi Shin pamitan pergi pada Shin dan Pangeran Hwi-seong alias Yeol.

 Shin mengajak Yeol mengunjungi Chae-gyeong di istana Eun-yeong karna Yeol bilang dia dan Chae-gyeong sekelas. Tapi Yeol tak mau pergi. Shin bilang, jika seorang pria tampan kesana, dia pasti akan senang. Yeol bilang pada Shin untuk pergi sendiri. Yeol bilang Chae-gyeong pasti lelah setelah belajar, jadi lebih baik Shin mengunjunginya sambil membawa coklat atau permen agar Chae-gyeong senang. Tapi Shin tak mau mendengarkan Yeol dan pergi begitu saja. Yeol tersenyum melihat kepergian Shin.

Teman-teman akrab Chae-gyeong sedang mempersiapkan poster yang akan mereka bawa ke pernikahan  Chae-gyeong. Mereka berharap Chae-gyeong akan mengenali mereka dan tersenyum memandangi mereka. Tapi Kang-hyeon bilang tak mungkin Chae-gyeong melakukan itu dan hanya menatap mereka sementara di jalanan ada begitu banyak orang. Sun-yeong dan Hee-sung malah berhasil menciptakan nama baru untuk mereka berdua yaitu Jisu-Sesu.

Di istana, Chae-gyeong yang sedang belajar masih sempat menggambar kartun 3 orang temannya. Kayaknya Yun Eun-hye ni memang pandai menggambar. Di My Fair Lady, dia menggambar di dinding sebuah sekolah, di Coffee Prince dia juga menggambari pintu masuk ke Café dan disini, dia juga banyak menggambar, termasuk menggambar karikatur Ibu Suri di episode nanti. Tunggu ja ya. Hehehehe

Saat Chae-gyeong menoleh, dia sangat terkejut karna melihat Shin ada disitu. Chae-gyeong bilang tak seorangpun diijinkan masuk ke istana ini. Shin bilang kalau dirinya bukan orang biasa. Jelas lah. Kemudian Shin mengambil sebuah tas kecil dan menyerahkannya pada Chae-gyeong. Chae-gyeong senang sekali karna tas itu isinya permen. Tapi kemudian Shin bilang kalau itu hadiah dari Yeol. Ini neh yang bikin orang gregetan nonton drama Korea. Pura-pura tak peduli tapi sebenarnya cinta. Hhhuuuuuuh.

Chae-gyeong bilang dia tak mengenal Yeol. Ya iyalah, Chae-gyeong memang sudah ketemu Yeol. Tapi dia belum tahu nama Yeol. Apalagi saat Yeol diperkenalkan di kelasnya, Chae-gyeong dijemput utusan dari istana.

Shin terus saja menggoda Chae-gyeong. Dia memberikan permen itu pada Chae-gyeong untuk mnghiburnya karna siapa tahu Chae-gyeong menangis karna kangen pada kedua orangtuanya. Shin mengatakannya sambil tersenyum. Chae-gyeong sedih mendengarnya. Senyum Shin juga menghilang saat melihat Chae-gyeong sedih.

“Sejujurnya, ada satu hal yang kuminta saat aku menikah denganmu. Aku meminta istana Chang-deok untuk kita. Jadi kita bisa menjauh dari para tetua. Jadi jika suatu saat kau ingin mengunjungi orangtuamu sebulan sekali, mereka takkan tahu. Shin membuka catatannya dan mengatakan kalau Chae-gyeong boleh mengundang teman-temannya ke istana jika ada pesta. Chae-gyeong juga boleh mengundang keluarganya untuk berlibur di Hwang-shil resort milik Keluarga Kerajaan.

Chae-gyeong menghentikan perkataan Shin. Chae-gyeong bilang Shin tak perlu membuat dirinya merasa nyaman di istana. Shin yang jengkel meremas-remas kertas catatannya dan bilang kalau itu semua adalah ide Yeol. Hiiiiiiih…susah banget she bilang kalau dia juga perhatian ma Chae-gyeong dan semua itu adalah idenya. Huuuuuuuh…………

Shin bilang, yang bisa diberikannya pada Chae-gyeong adalah kekuasaan. Dia akan mengijinkan Chae-gyeong meninggalkan istana kalau Chae-gyeong kangen pada Ibunya karna Shin tak ingin melihat Chae-gyeong bersedih karna kangen pada orantuanya. Shin bilang dia sejak kecil sudah biasa dituruti semua kemauannya dan tak ada yang berani menghalangi langkahnya. Jadi Chae-gyeong tenang saja. Walaupun pernikahan ini hanya sementara, kalau Chae-gyeong memang ingin cepat bercerai, maka Shin akan mengabulkannya. Nikah ja belum da bilang cerai. Chae-gyeong malah sedih mendengar hal itu daripada mengingat rasa kangennya pada keluarganya.

Di rumah Chae-gyeong, kedua orangtua dan adik Chae-gyeong sudah bersiap mengenakan Hanbok untuk menghadiri upacara pernikahan Chae-gyeong. Sebelum berangkat, mereka duduk bersila dihadapan mendiang kakek Chae-gyeong dan mengucapkan terimakasih pada kakek karna perjanjian yang kakek buat membuat hidup mereka sangat bahagia karna bisa membuat mereka menjadi bagian dari anggota Keluarga Kerajaan.

Kedua orangtua Chae-gyeong masih sempat bertengkar karna Ayah Chae-gyeong tak bisa menghafal kata-kata yang harus diucapkannya pada pernikahan Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong mengancam akan benar-benar minta cerai kalau Ayah Chae-gyeong tak melakukan semuanya dengan benar. Ckckck…..

Upacara pernikahan berlangsung dengan khidmat. Ibu Suri dan Ratu yang menyaksikan lewat tv bersama para dayang. Upacara pernikahan yang sangat meriah. Seo Sang-gung bilang, upacara ini seakan seperti pembukaan Piala Dunia di Korea tahun 2002 yang lalu. Ibu Suri tak tahu kalau ternyata akan ada banyak orang menyaksikan pernikahan ini. Pasti semuanya disini karna tertarik dengan Putra Mahkota Shin.

Ratu mengatakan, semua ini karna Pangeran Shin memilih gadis yang bukan dari kalangan istana untuk menjadi istrinya. Jadi banyak rakyat yang tertarik dan penasaran ingin melihat. Ibu Suri mengiyakan hal itu. Tapi Ibu Suri agak khawatir kalau Putri Mahkota melakukan kesalahan karna Chae-gyeong baru saja masuk istana dan hanya sebentar mempelajari tentang pernikahan Keluarga Kerajaan. “Jika sampai Putri Mahkota melakukan kesalahan, maka…” kata Ibu Suri. Ratu memotong perkataan Ibu Suri dan berkata agar Ibu Suri tenang. Choi Sang-gung sudah mengajari Chae-gyeong dengan baik, jadi janngan mengkhawatirkan hal itu.

Ibu Suri pun tenang kembali dan merasa senang karna banyak orang yang akan menyaksikan upacara pernikahan tradisional dari kerajaan korea. Upacara pernikahannya harus lengkap dan tanpa ada kesalahan apapun.

Chae-gyeong yang sedang duduk, agak gugup saat melihat Choi Sang-gung yang juga memakai hanbok datang menemuinya dan mengatakan kalau Pangeran baru saja tiba. Choi Sang-gung meminta Chae-gyeong untuk keluar karna upacara pernikahan akan segera dimulai.

Keluarga Chae-gyeong juga sudah sampai di istana. Ayah Chae-gyeong juga masuk ke dalam sebuah bangunan istana dengan gugup untuk melaksanakan upacara pernikahan. Di jalanan sudah dipadati oleh orang-orang yang ingin menyaksikan pernikahan mereka. Termasuk teman-teman Chae-gyeong. Mereka berkata pada orang-orang kalau mereka tema dekat putrid mahkota. Tapi sayang tak ada yang percaya pada mereka.

Sementara itu, Yeol malah asyik membaca buku sambil membelakangi tv yang menyiarkan berita tentang pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Pakaian Hanbok yang disediakan untuknya masih tertata rapi di meja. Salah seorang pejabat istana menghampiri Yeol dan meminta Yeol untuk mengenakan pakaian yang sudah disediakan untuknya. Yeol bilang dia ingin menyaksikan lewat Tv saja. Pejabat Jang bilang kalau para tetua sudah menunggu Yeol untuk datang ke istana Eun-yeong. Yeol bilang kalau dia merasa tak nyaman kalau harus memakai hanbok. Pejabat Jang bilang, apa hanya karna hanbok itu jadi Yeol tak mau menghadiri upacara pernikahan itu. Yeol tak bisa menjaawabnya dengan lancar. Dia gugup.

Pejabat Jang mengatakan, apa Yeol teringat kematian Ayahnya dan merasa sedih karnanya hingga tak mampu menghadiri upacara pernikahan itu, Yeol hanya mengangguk dengan sedih. Kemudian mengambil foto keluarganya yang terjatuh.

Sementara itu di bagian istana yang lain, Shin memasuki sebuah bangunan yang tadi dimasuki oleh Ayah Chae-gyeong untuk melaksanakan bagian dari upacara pernikahan istana.

Di Thailand, kompetisi balet internasional sedang berlangsung. Hyo-rin menyaksikan saingannya sedang beraksi dengan tarian baletnya yang indah. Hyo-rin mendesah, dia ingat Shin. Dia ingat saat-saat berdua dengan Shin. Bermain piano berdua dengan Shin. Kemudian dia teringat tugasnya. Berlatih 13 jam sehari, setiap hari dalam setahun. Dan pembuktian latihannya sekarang hanya berlangsung dalam 5 menit saja. Jadi dia tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun.

Seorang peserta lagi dipanggil, Hyo-rin agak gugup karnanya. Gurunya menghampiri Hyo-rin dan mencoba menghiburnya untuk tetap tenang dan jangan gugup. Guru Hyo-rin memeluk Hyo-rin untuk menenangkan murid kesayangannya itu. Hyo-rin senang karnanya.

Upacara pernikahan masih belum selesai. Shin dipertemukan dengan kedua orangtua Chae-gyeong dan juga Chae-gyeong. Shin masih sempat memandang menggoda Chae-gyeong. Chae-gyeong tak suka melihatnya. Giliran ayah Chae-gyeong menyampaikan pesan untuk Shin. Walaupun gugup, tapi Ayah Chae-gyeong bisa melaksanakannya dengan benar, karna ada contekan di telapak tangannya. Ibu Chae-gyeong mengucapkan pesannya dengan lancar. Sementara itu di luar, Chae-jun melambaikan tangannya pada kakaknya.

Di tempat lain, ketiga sahabat Shin juga menyaksikan upacara pernikahan walaupun hanya lewat tv saja. Mereka berkumpul di sebuah Café sambil bermain bilyard. Tapi kemudian mereka terkejut dengan tingkah Chae-jun yang membuka bajunya untuk diperlhatkan di tv. Konyol! Mereka menertawakan tingkah Chae-jun tanpa tahu siapa Chae-jun.

Tak hanya wartwan lokal, ada banyak wartawan dari luar negeri yang juga meliput upacara pernikahan itu. Yeol berada di antara para wartawan itu. Wajahnya sedih memandang Shin.  Kemudian dia mundur untuk menjauh dari tempat itu.

Chae-gyeong keluar dari dalam istana Eun-yeong bersama kedua dayang dan juga Choi Sang-gung untuk dipertemukan dengan Shin. Shin memandangi istrinya itu dari atas sampai bawah. Chae-gyeong tersenyum pada Shin. Cantik sekali. Mungkin itu yang membuat Shin terus saja memandangi Chae-gyeong. ehm…ehm… Kemudian Choi  Sang-gung dan kedua dayang Chae-gyeong mengantar Chae-gyeong ke sebuah kereta.

Di Thailand, sampailah giliran Hyo-rin untuk menari. Dia menarikan tarian balet dengan indah dan menuai decak kagum dari para juri dan penonton.

Ibu Suri merasa senang karna upacara itu berlangsung dengan lancar tanpa kesalahan apapun. Ibu Suri memuji Ratu yang sudah mendidik Chae-gyeong dengan benar dan memberikan tanggung jawab untuk mendidik Chae-gyeong mengenai peraturan istana pada Ratu. Dengan senang hati Ratu menerima perintah itu. Saat sedang ngobrol serius tiba-tiba terdengar suara HP. Ternyata HP salah satu dayang yang ada disitu. Dayang itu pun keluar ruangan dengan malu.

Di salah satu halaman istana, Yeol sedang menyendiri sambil memegangi foto kedua orangtuanya. Dia melihat istana tempat dulu mereka tinggal. Yeol melakukan latihan yoga disana saat Seo Sang-gung datang menghampirinya. Seo Sang-gung menceritakan tentang Ayah Yeol. Sepertinya baru kemarin Ayah Yeol menikah dan menjadi seorang Raja. Waktu seakan cepat sekali berlalu dan banyak hal yang berubah disini. Seo Sang-gung bilang kalau Yeol mirip sekali dengan ayahnya hingga membuat Seo Sang-gung seakan masih hidup di masa lalu bersama Ayah Yeol. Yeol tersenyum senang mendengar ada seseorang yang masih selalu mengingat Ayahnya yang sudah meninggal.

Sementara itu, Shin dan Chae-gyeong di arak keliling kota dengan kereta disambut oleh begitu banyak warga yang antusias menyaksikan upacara pernikahan mereka dari layer lebar yang di pasang di sepanjang jalan. Shin melambaikan tangannya dan tersenyum. Chae-gyeong hanya tersenyum di atas keretanya. Saat sampai di hadapan teman-temannya, Chae-gyeong hanya diam saja, karna itu etiket pernikahannya. Tentu saja teman-teman Chae-gyeong kecewa karnanya.

Mereka bertiga masuk ke sebuah restoran untuk makan. Kang-hyeon meminta mereka untuk bergembira. Mereka ingin makan Sup Ayam gingseng untuk mengatasi rasa kecewa mereka tapi sayang sekali hari ini di restoran itu ada sangat banyak pelanggan hingga membuat makanan di restoran mereka sudah ludes dalam waktu singkat. Tentu saja mereka tambah kecewa karnanya.

Di istana, Chae-gyeong diantar Choi Sang-gung untuk bertemu dengan Shin dan para pekerja istana yang hendak mengucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua. Salah seorang pejabat senior mewakili rekan-rekannya mengucapkan ucapan selamat pada Shin dan Chae-gyeong. Saat pejabat itu menunduk memberi hormat, Chae-gyeong pun melakukan hal yang sama. Tapi sayangnya tindakan itu membuat hiasan sanggul di kepala Chae-gyeong jatuh di atas kepala pejabat itu. Wakkkkkkk……

Semua orang kaget melihatnya. Chae-gyeong panik dan mencoba meminta tolong pada Shin. Tapi Shin tak mau tahu. Dia malah menjauh dari Chae-gyeong.

Sementara itu di rumah Chae-gyeong juga sedang sibuk menerima kerabat, tetangga maupun kenalan mereka yang datang untuk mengucapkan selamat pada mereka. Sementara itu, Chae-jun sedang menerima telepon dari salah seorang temannya yang melihat aksinya di tv. Dengan bangga Chae-jun bilang kalau sekarang ini dia adalah adik ipar dari putra mahkota.

Sementara itu Ibu Chae-gyeong juga menerima banyak telpon dari orang-orang yang ingin menjadi anggota asuransi perusahaan tempatnya bekerja. Ayah Chae-gyeong juga tak kalah sibuk menerima ucapan selamat dari anggota keluarga dan kenalannya. Dulu ga da yang peduli pada mereka. Sekarang tiba-tiba semua orang jadi perhatian pada mereka, seperti ingin cari mukla saja, itu anggapan Ibu Chae-gyeong pada orang-orang yang sekarang sok perhatian pada keluarga mereka.

Di istana, Shin dan Chae-gyeong merasa kelelahan setelah melakkan serentetan upacara. Mereka sudah berganti baju dan menghadapi jamuan makanan yang disediakan untuk mereka berdua. Chae-gyeong masih marah karna tadi Shin tak mau membantunya. Chae-gyeong memanggil Shin dengan sebutan Shin-gun. Shin tak suka. Tapi Chae-gyeong malah mengeraska suaranya dan terus memanggil Shin dengan sebuatan Shin-gun. Shin malah menggodanya, menggunakan mahkota seberat 10kg untuk memukul kepala Perdana Menteri, bukan ide yang buruk. Jaaaaaaaah………

Chae-gyeong melirik marah. Kemudian dia berkata dalam hati, sebenarnya Shin itu laki-laki seperti apa. Shin bisa bicara dengan tenang bahwa dia ingin bercerai di masa mendatang. Tapi Shin bisa tersenyum dengan manis saat upacara pernikahan berlangsung dengan serius. Sepertinya dia seorang pria dengan kepribadian yang aneh. Senyumnya juga sangat manis dan hangat saat melambaikan tangan pada orang-orang yang menyambutnya di jalanan. Dan sekarang sepertinya Shin sedang sibuk berpikir. Chae-gyeong benar-benar penasaran dengan kepribadian Shin. Dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi yang dia tahu sekarang mereka berada dalam sebuah kapal yang sama.

Choi Sang-gung masuk ke ruangan itu untuk memimpin upacara minum arak untuk mereka berdua. Dia dan kedua dayang Chae-gyeong sangat terkejut melhat Shin dan Chae-gyeong yang sama-sama tertidur bersandar di dinding kamar itu. Choi Sang-gung pun membangunkan mereka dan berkata ada upacara yang belum mereka lakukan. Shin segera bangun. Lain hal nya dengan Chae-gyeong yang susah dibangunkan. Shin bilang pada Choi Sang-gung kalau dia yang akan membangunkan Chae-gyeong.

Shin membangunkan Chae-gyeong dengan mengguncang-guncang tubuh Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong bukannya bangun malah mengigau sambil memegangi kerah Shin. Tiba-tiba Chae-gyeong terbangun dan kaget karna ternyata dia memegangi kerah baju Shin. Karna takut, dia pun pura-pura tidur lagi. Shin tertawa melihatnya. Tapi kemudian berteriak marah dan meminta Chae-gyeong untuk tak berpura-pura tidur.

Shin, Chae-gyeong, kedua dayang dan juga Choi Sang-gung melaksanakan upacara Tong Ne, yang berarti awal malam pertama bagi pasangan suami istri. Tapi karna mereka berdua masih di bawah umur, maka upacara itu akan dilaksanakan saat mereka sudah beranjak dewasa. Jadi sekarang, acaranya hanya makan dan minum saja.

Shin bertanya kenapa malam pertama mereka harus di undur, tentu saja Choi Sang-gung kaget mendengarnya. “Apa dia sudah gila?” celutuk Chae-gyeong. Shin meminta Chae-gyeong untuk diam saja dan memanggil Chae-gyeong dengan sebutan Kue Beras.
Tentu saja Chae-gyeong tak terima mendengarnya. “Meskipun kau memohon padaku, aku takkan tertarik dengan malam pertama. Aku hanya penasaran saja dengan hal itu. Bukankah ini lucu, membatasi kita karna usia kita” lanjut Shin kemudian.

Chae-gyeong hanya diam sambil menunduk. Kemudian, mulailah mereka makan dan minum dengan di pandu oleh Choi Sang-gung dan dibantu oleh kedua dayang Chae-gyeong. Chae-gyeong merasa senang karna makanannya enak. Mereka ngobrol berdua setelah makan dan minum sementara di luar ruangan, Choi Sang-gung dan para dayang berjaga setengah mengantuk. Shin bilang dia juga mengantuk dan mungkin dia akan tertidur disini. Mata Chae-gyeong yang besar itu terbelalak kaget mendengar kata-kata Shin. Shin memandangi Chae-gyeong, “Taka pa-apa kan kalau kita berdua tidur disini?” tanyanya. Chae-gyeong tak suka dan menyuruh Shin untuk bangun.

Kemudian Chae-gyeong bertanya, benar kan yang dikatakan Choi Sang-gung kalau mereka akan tidur di ruangan yang terpisah. Shin membenarkannya, dan dia berkata dia akan pergi. Saat Shin berdiri dan hendak melangkah pergi, Chae-gyeong memanggilnya dan berkata, bagaimana bisa Shin meninggalkannya sendirian. Chae-gyeong meminta Shin untuk menunjukkan jalan. Karna sejujurnya, Chae-gyeong merasa istana adalah tempat asing untuknya. Tapi Shin sudah tinggal disini sepanjang hidupnya, jadi Shin pasti tak bisa merasakannya.

“Tapi jika kau berpikir karna aku suamimu dan aku harus bertanggung jawab padamu, aku tak mau melakukannya untukmu. Aku tak bisa melakukannya. Apa kau mengerti?” tanya Shin. Chae-gyeong sedih mendengarnya.  “Aku tahu ini kesalahanku. Tapi aku tak bisa merubahnya. Inilah kepribadianku sejak aku lahir. Jadi, jangan pasang muka sedih seperti itu. Aku benar-benar meminta maaf karna tak dapat melakukannya untukmu” lanjut Shin.

Shin menghampiri Chae-gyeong dan mengulurkan tangannya. “Sebagai seorang teman, aku bisa mendengarkan apa yang kau inginkan” kata Shin. Chae-gyeong yang sudah kesal tertawa penuh arti sambil menjabat tangan Shin. Tapi kemudian Chae-gyeong menarik tangan Shin dan menggigitnya keras-keras hingga membuat Shin berteriak kesakitan. Para dayang yang ada di luar yang tadinya setengah tertidur pun jadi terbangun mendengar suara teriakan Shin.

Chae-gyeong melepaskan gigitannya dan mengata-ngatai Shin. Dia tak mau punya teman seperti Shin. Shin mencoba hendak memukul Chae-gyeong karna kesal tapi di haling-halangi oleh para dayang. Shin memaki-maki Chae-gyeong tapi Chae-gyeong menutup kedua telinganya sambil meledek Shin untuk bicara lebih keras karna dia tak mendengar apa-apa. Hehehehe…..

Para dayang membawa Shin keluar dari ruangan itu. Sementara Chae-gyeong termenung sendirian di kamar itu. Chae-gyeong kecewa dengan perlakuan Shin tadi. Dia hanya ingin lebih mengenal Shin.

Bersambung……….

Princess Hours Episode 2


Chae-gyeong sedang mencoba menambahkan noda di rok-nya saat seorang dayang mengumumkan kedatangan Ratu. Maksud Chae-gyeong agar noda teh itu seperti motif alami di rok-nya. Tapi yang terjadi, malah warnanya jadi ga karuan. Ckckck…benar-benar ide yang buruk.

Chae-gyeong menyambut kedatangan Ratu. Ratu menyuruh Chae-gyeong untuk duduk. Mereka duduk berhadapan. Ratu menerapkan potongan medali yang dibawa Chae-gyeong dengan potongan medali peninggalan mendiang Raja, suami dari Ibu Suri yang sudah meninggal. Kedua potongan medali itu pun jadi sebuah medali yang utuh.

“Maksudku mengundangmu ke istana adalah untuk mendengarkan pendapatmu tentang perjodohan ini” kata Ratu. “Ya, Hwanghu Mama” jawab Chae-gyeong terbata-bata. “Ini adalah janji yang dibuat oleh mendiang Raja dengan Kakekmu. Apa yang kau pikirkan tentang hal ini? Kau pasti merasa ini sangat berat untukmu karma kau masih sekolah, kan?” tanya Ratu. “Ya….Yang Mulia” jawab Chae-gyeong malu-malu.

“Sebagai seorang calon mempelai, kau harus hormat pada orang yang lebih tua dan memberikan banyak anak untuk kami. Tapi ini adalah pernikahan yang sangat penting yang pasti takkan mudah untuk dijalani” kata Ratu. Chae-gyeong agak gugup mendengarnya. “Sebenarnya, aku dating untuk mengatakan kalau aku setuju untuk menikah” jawab Chae-gyeong sambil menunduk lesu. Ratu memandang seakan tak percaya pada Chae-gyeong. “Benarkah? Kupikir kau sangat menentang hal ini” kata Ratu. “Jika semuanya lancer, bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Chae-gyeong. “Apa itu?” Ratu balik bertanya.

“Ini satu-satunya pilihan yang ku punya. Anda mungkin sudah tahu keadaan keluargaku. Ayahku seorang pengangguran dan Ibuku hanya seorang sales asuransi” cerita Chae-gyeong. “Lalu…?” tanya Ratu lagi. “Jadi kupikir, jika orangtuaku yang menderita bisa berubah jadi nyaman…” lanjut Chae-gyeong. “Kurasa kau ingin mendapat sebuah imbal balik untuk persetujuanmu itu. Kau sepertinya lebih pintar dari yang kubayangkan” sindir Ratu. Chae-gyeong gugup mendengar kata-kata Ratu yang sinis. “Apa kau ingin membuat suatu perjanjian dengan pernikahan ini?” lanjut Ratu. “Ini bukan suatu perjanjian, tapi hanya sebuah permohonan” jawab Chae-gyeong agak ketakutan. “Ini bukanlah sesuatu yang harus kau campuri. Karna kau akan menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan, keluargamu akan menerima banyak hal yang bisa mengembalikan reputasi keluargamu” kata Ratu kemudian.

Chae-gyeong memandang Ratu seakan tak percaya. “Oh, benarkah? Terimakasih banyak, Yang Mulia! Aku akan menikah!” kata Chae-gyeong dengan penuh semangat. Ratu memandang Chae-gyeong dengan tatapan kecewa. Tiba-tiba dayang yang di luar berseru kalau Ibu Suri datang. Chae-gyeong dan Ratu pun berdiri untuk menyambut kedatangan Ibu Suri.  Ratu mengenalkan Chae-gyeong pada Ibu Suri. Ibu Suri bilang, Chae-gyeong lebih cantik dari yang beliau lihat di foto. Chae-gyeong senyum-senyum mendengarnya. “Kudengar kau menyetujui rencana pernikahan itu” kata Ibu Suri. “Jika Anda setuju, maka aku pun menyetujuinya” jawab Chae-gyeong malu-malu. Tiba-tiba Ratu melihat rok Chae-gyeong dan bertanya apa yang terjadi dengan rok Chae-gyeong. Chae-gyeong gugup. Ibu Suri meminta Ratu dan Chae-gyeong untuk duduk.

Chae-gyeong berkata kalau rok nya terkena tumpahan teh yang disajikan untuknya. Ibu Suri bilang tak mungkin kalau noda teh bisa meninggalkan warna seperti itu karna teh yang disajikan untuk Chae-gyeong menggunakan pewarna alami. Ratu meambahkan mungkin ada orang yang memasukkan zat kimia ke dalamnya. Jadi teh itu sekarang sudah bukan teh yang sehat lagi. 

Ibu Suri mengalihkan pembicaraan kenapa Chae-gyeong menyetujui lamaran itu. Chae-gyeong mencoba menjelaskan tapi dia bingung karna tak terbiasa memakai kalimat formal. (Di Negara Korea, orang yang lebih rendah pangkatnya, lebih muda usianya, harus menggunakan kalimat formal pada orang yang lebih tinggi pangkatnya ataupun yang lebih tua usianya (Honorifik). Kalau di Jawa namanya bahasa kromo ma bahasa ngoko).

Ibu Suri bilang pada Chae-gyeong untuk memakai bahasa yang biasa dipakai di era modern ini. Tapi Chae-gyeong bingung karna melihat Ratu yang sepertinya tak setuju dengan kata-kata Ibu Suri. Di tambah dengan gugupnya maka terciptalah bahasa yang campur aduk tak karuan yang sukses membuat Ibu Suri kebingungan dan membuat Ratu jadi tidak menyukai Chae-gyeong karna tak memakai bahasa formal untuk berbicara pada Ibu Suri. Hehehehehe…

Chae-gyeong hendak pulang dengan diantar oleh dua orang pengawal. Dalam perjalanan, Chae-gyeong bingung, dia terus merasa kalau dia sudah salah memilih untuk menyetujui pernikahan itu.Di depan lift, secara kebetulan dia bertemu dengan asisten pribadi Shin. “Kau pasti anak itu. Kau hampir mirip seperti kakekmu” kata Asisten Shin. “Apa anda mengenalku? Mengenal Kakekku juga?” tanya Chae-gyeong sambil tersenyum senang. Asisten Shin mengangguk mengiyakan.

“Oi….Celana olahraga!” seru seseorang. Chae-gyeong kaget mendengarnya. Semua orang berbalik ke arah suara itu. Ternyata Shin yang memanggil chae-gyeong. Shin meminta semuanya untuk pergi karna dia ingin bicara berdua dengan Chae-gyeong. Chae-gyeong hanya diam tanpa bereaksi.

“Kau terlihat sangat alami, mudah di atur… Kurasa kau menyenangkan” kata Shin. Chae-gyeong memandang Shin dengan sinis. “Apa? Alami..mudah diatur..dan menyenangkan?” tanya Chae-gyeong. “Kau seperti seorang tokoh utama sebuah komik yang sangat ceria” jawab Shin dengan santai. Tentu saja Chae-gyeong tak terima mendengarnya. Chae-gyeong memanggil pengawal yang tadi hendak mengantarnya pulang. Tapi tak seorangpun menyahut panggilannya. Jadi Chae-gyeong terpaksa turun sendirian dengan lift dan meninggalkan Shin tanpa mempedulikannya. Shin tersenyum simpul melihat kelakuan Chae-gyeong.

Ibu Suri sedang melihat foto mendiang suaminya dan kakek Chae-gyeong. “Jika mendiang Raja melihat gadis itu, Beliau mungkin takkan membuat perjanjian seperti ini. Meskipun dia seorang gadis di era modern, tata bahasa dan kelakuannya tak mencerminkan layaknya seorang putri. Kita berasal dari kasta yang berbeda, bagaimana mungkin bisa memilih sebuah keluarga seperti itu?!” keluh Ratu. “Haruskah aku bertanya pada mendiang suamiku kenapa dia melakukan hal ini?” Ibu Suri balik bertanya dengan sedih. Ratu jadi gugup dan merasa bersalah karnanya.

“Maafkan aku, Yang mulia” pinta Ratu. Ibu Suri mengambil sebuah kertas dan memberikannya pada Ratu. “Mendiang Raja belajar menulis dari kakek gadis itu dan menulis itu. Surat itu berarti bahwa kasta itu bukanlah masalah. Gadis itu mungkin punya masalah dengan tutur bahasa, tapi matanya jernih dan kepribadiannya begitu ceria dan alami. Dia calon yang tepat untuk jadi istri pangeran. Mendiang Raja selalu membuat pilihan yang tepat. Dia berpikir tentang masa depan dan membuat perjanjian ini dan berharap kita tak menghancurkannya. Jangan mengeluh tentang pilihannya” kata Ibu Suri. Ratu hanya bisa mengangguk mengiyakan.

Di rumah Chae-gyeong, Chae-gyeong merenung sendirian di kamarnya. Saat Chae-jun memintanya untuk makan malam, Chae-gyeong sama sekali tak bereaksi. Ayah dan Ibu menyusul ke kamar lalu kemudian membawa Chae-jun ke meja makan dan membiarkan Chae-gyeong sendirian saja. Ayah Chae-gyeong khawatir karna Chae-gyeong tak berselera untuk makan. Ibu Chae-gyeong berkata, biarkan saja. Chae-gyeong sedang cari perhatian. Dia pikir dia gadis yang paling menderita di dunia, tenggelam dalam penderitaannya sendiri. “Kita sudah bilang kalau dia tak mau menikah juga tak apa-apa. Tapi dia malah datang kesana dengan keinginannya sendiri” kata Ayah Chae-gyeong. Chae-gyeong butuh waktu untuk berpikir. Jadi biarkanlah dia berpikir. Ibu Chae-gyeong seakan tak mau tahu dengan keadaan Chae-gyeong, tapi saat Chae-jun hendak menghabiskan makanan, Ibu marah dan bilang pada Chae-jun untuk menyisakan makanan untuk kakaknya.

Di sekolah, Chae-gyeong masih lesu. Dia masih bingung haruskah dia menikah dalam usia semuda ini. “Teman-teman” panggil  Chae-gyeong pada ketiga teman akrabnya. “Apakah kalian pernah memikirkan tentang pernikahan?” lanjut Chae-gyeong. Teman-temannya malah menertawakannya. Mana mungkin seorang murid menikah? Di Korea, orang biasanya berumur 80 tahun. Kalau seusia mereka menikah, maka umurnya takkan panjang. Mungkin hanya sekitar 61 tahun saja. Lagipula, jika menikah sekarang, terus muncul orang yang benar-benar dicintai, maka takkan bisa bersatu dengan cinta sejati. Karna itu, jangan menikah sampai Chae-gyeong benar-benar menemukan seseorang yang dia cintai. Chae-gyeong mengiyakan perkataan teman-temannya. Kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga hingga membuat ketiganya bingung.

Di rumah, keluarga Chae-gyeong sedang mengamati cincin dan medali pertunangan Chae-gyeong. Chae-gyeong mencari medali dan cincin itu sambil berkata pertunangan itu tidak sah, tidak harus dilakukan sekarang. Tapi Ayah dan Ibunya menyembunyikan cincin dan medali itu di dalam jaket Chae-jun. Saat Chae-gyeong mencarinya, Chae-jun malah menunjukkannya hingga membuat kedua orangtuanya jengkel karnanya. Chae-gyeong hendak membawa medali dan cincin itu ke istana untuk membatalkan pernikahannya.

Di luar rumah, Chae-gyeong melihat berita di surat kabar tentang pernikahannya dengan Shin. Dia kesal karna beritanya begitu cepat menyebar dan merasa lesu dan ingin pingsan saat melihat fotonya yang ada di surat kabar.

Di istana, Raja dan Shin juga sedang melihat kabar mereka di surat kabar.  Raja  memerintahkan Shin untuk mengundang beberapa orang dari beberapa kerajaan tetangga. Shin terlihat tak suka dengan hal itu tapi dia tak bisa berkata apa-apa.

Anggota Keluarga Kerajaan sedang menikmati suguhan  musik dari para musisi istana. Shin duduk berdua dengan Ibu Suri sedangkan Raja duduk di sebelah Ratu.

Di rumah Chae-gyeong, anggota keluarga Chae-gyeong minus Chae-gyeong sedang asyik menikmati daging pangang. Mereka mencoba memanggil Chae-gyeong, tapi Chae-gyeong tak mau menjawabnya.  Dia sedang sibuk menangis di kamarnya. Ayahnya bilang dia tahu yang dirasakan Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong menyangkalnya. Mereka pikir Chae-gyeong menangis karna terpaksa harus menikah dengan Pangeran Shin demi keluarga mereka. Tapi ternyata, Chae-gyeong menangis karna melihat fotonya di surat kabar. Foto dirinya waktu lulus SMP. Saat dirinya masih jelek dan gemuk. Wakkkkkkkkkk…..

Pagi harinya, rumah Chae-gyeong dipenuhi wartawan yang ingin mewawancarai Chae-gyeong perihal pernikahannya dengan Pangeran Shin. Chae-jun membangunkan Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong bilang dia masih ngantuk karna semalam tak bisa tidur. Kedua orangtua dan adik Chae-gyeong pun menemui para wartawan yang ada di depan rumah mereka. Ayah Chae-gyeong bilang pada para wartawan untuk tidak mempublikasikan putri mereka. Ibu Chae-gyeong menambahkan putrinya masih muda dan dia masih bersekolah, jadi seharusnya para wartawan tak melakukan ini semua pada putrinya.

Chae-gyeong yang baru bangun tidur malah berjalan keluar meskipun sudah diperingatkan oleh adiknya agar tak keluar karna banyak wartawan. Chae-gyeong keluar karna dia merasa terganggu dengan suara brisik para wartawan yang membuatnya tak bisa tidur. Chae-gyeong terus berjalan hingga akhirnya lampu blitz menghujani dirinya. Barulah Chae-gyeong sadar. Dan saat dia berkaca, Chae-gyeong pun berteriak melihat raut wajahnya yang berantakan.

Di istana, Ibu Suri tertawa keras-keras melihat wajah Chae-gyeong yang baru bangun tidur yang sekarang sudah menghiasi halaman utama surat kabar. Ratu terlihat tak suka dengan berita itu. Kenapa calon istri seorang Pangeran bisa seperti itu. Ibu Suri bilang, dia malah suka dengan wajah polos Chae-gyeong yang seperti itu. Raja hanya tersenyum sementara Shin salah tingkah.

Tak hanya Keluarga Kerajaan. Tapi para dayang juga sibuk menertawakan foto CHae-gyeong di halaman surat kabar pagi itu. Asisiten Pribadi Shin yang mengetahuinya pun memarahi kedua dayang itu.

Di rumah Chae-gyeong, Chae-gyeong bingung karna dia tak bisa berangkat sekolah karna banyaknya wartawan yang menunggunya keluar rumah. Chae-jun berpura-pura berpakaian seperti Chae-gyeong dan menggunakan jaket yang menutupi seluruh tubuhnya . Sedangkan Chae-gyeong yang sudah memakai seragamnya bersembunyi di balik pagar rumah. Ibu Chae-gyeong mengatakan agar Chae-gyeong hati-hati di perjalanan saat Chae-gyeong palsu alias Chae-jun keluar rumah dan di kejar oleh banyak wartawan. Sementara itu, Chae-gyeong keluar rumah dan dibelakangnya, Ayah Chae-gyeong membopong sepeda Chae-gyeong sehingga Chae-gyeong pun bisa keluar rumah dengan selamat. Chae-gyeong naik sepeda dengan gembira ke sekolah.  

Sementara itu, Shin berangkat ke sekolah seperti biasanya. Di kawal oleh para pengawalnya. Di mobil Shin teringat perkataan Hyo-rin. “Aku ingin jadi seorang penari balet yang terkenal. Jika aku menikah dengan pangeran, itu berarti aku harus menyerah pada impianku”. Shin mendesah lesu mengingatnya.

Di sekolah, Chae-gyeong yang baru tiba, berjalan dengan lesu karna banyak murid cewek yang membicarakan dirinya di belakangnya. Tapi kemudian dia melupakan kata-kata mereka karna melihat ketiga sahabat baiknya sedang berkaca. Chae-gyeong mencoba bercanda dengan mereka, tapi mereka malah marah. Mereka bilang mereka juga ingin menikah dengan pangeran Shin. Tapi kenapa Chae-gyeong merebut Shin dari mereka.    

Chae-gyeong mencoba bicara pada Kang-yeon, tapi Kang-yeon tak mau mendengar dan pergi. Sun-yeong dan Hee-sung menangis kecewa. Chae-gyeong bilang dia juga frustasi dengan pernikahan ini. Tapi apa mau dikata, semua terjadi begitu saja. Chae-gyeong mengamati sekelilingnya. Ternyata para murid cewek banyak yang memperhatikannya dan memandangnya dengan tatapan tak suka. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang guru berteriak memanggil Chae-gyeong yang melanggar tata tertib karna memakai seragam yang tak semestinya. Seperti biasanya, Chae-gyeong memakai rok sekolah dan juga celana olahraga sekaligus. Chae-gyeong pun langsung lari dari kejaran guru itu.

Sementara itu, Shin juga digoda para sahabatnya. Mereka bilang, tak dapat dipercaya kalau di abad 21 ini masih ada juga yang namanya perjodohan. Shin hanya tersenyum menanggapi perkataan teman-temannya. Mereka juga bilang, jika seorang pangeran akan menikah, harusnya diadakan audisi untuk menjadi seorang istri Pangeran. Shin tertawa mendengarnya. Lalu saat salah seorang dari mereka berkata bagaimana dengan Hyo-rin, wajah Shin berubah kaku. Mereka terus menggodanya dan berkata, tadinya Shin dan Hyo-rin pasangan rahasia, sekarang jadi pasangan tak berguna. Shin melemparkan pen yang dipegangnya. Membuat temannya pun terdiam.

Di ruang balet, sama seperti hal nya cewek-cewek lain di sekolah mereka, mereka mengecam foto calon istri pangeran yang ada di surat kabar. Mereka diam saat Hyo-rin masuk ke ruangan balet.

Kang-hyeon, Hee-sung dan Sun-yeong sedang makan di kantin. Sedangkan Chae-gyeong duduk sendirian. Tiba-tiba datang adik kelas Chae-gyeong yang mengerubuti Chae-gyeong dan ada yang memfotony, juga meminta tanda tangan Chae-gyeong. Ketiga teman Chae-gyeong terlihat tak suka dengan hal itu. Chae-gyeong beruntung sekali karna bisa jadi seorang Cinderella. Hee-sung dan Sun-yeong terus saja mengecam Chae-gyeong sementara Kang-hyeon hanya diam.

Tiba-tiba Chae-gyeong membawa makanannya dan bergabung dengan mereka, tapi ketiganya tak suka dengan kehadiran Chae-gyeong, jadi mereka semua pergi menjauh dari Chae-gyeong. “Hei, aku harus mengatakan sesuatu pada kalian. Aku bukan seorang Cinderella. Aku hanya seorang gadis biasa. Apa kalian mengerti?” kata Chae-gyeong. Mereka bertiga hanya bisa diam.

Shin melangkah keluar sekolah bersama teman-temannya. Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba salah seorang temannya berteriak memanggil Hyo-rin karna dia melihat Hyo-rin sedang berdiri di sana. Sesaat Shin menoleh. Tapi setelah itu dia langsung masuk ke dlaam mobil tanpa mempedulikan Hyo-rin. Hyo-rin memandang kepergian Shin dengan kecewa.

Teman-teman Shin menghampiri Hyo-rin. Mereka bertanya apa Hyo-rin baik-baik saja. Hyo-rin bilang dia tak apa-apa. Dia hanya punya satu hal yang dipikirkannya. Otaknya penuh dengan pemikiran tentang lomba balet. Jadi tak bisa memikirkan hal lain. Mereka bilang akan mengantar Hyo-rin ke bandara. Salah satu dari mereka merekam Hyo-rin. “Jika aku menang, aku akan langsung kembali ke sekolah balet. Tapi jika aku kalah, aku takkan kembali” kata Hyo-rin.

Di bandara, Yeol baru saja sampai di Korea. Sementara itu., Hyo-rin hendak berangkat ke luar negeri. Mereka berdua terpaku dengan berita persiapan pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Hyo-rin berbalik, Yeol mencoba memperingatkan Hyo-rin, tapi terlambat, ada orang yang menabrak Hyorin hingga membuat HP Hyo-rin jatuh dan pecah. Yeol mencoba membantu Hyo-rin. Hyo-rin bilang dia tidak apa-apa. Kemudian dia melihat Hp-nya. Yeol memungut Hp Hyo-rin sesaat Hp itu masih menyala dan Yeol melihat foto Shin yang sedang berduaan dengan Hyo-rin. Setelah itu, Hp Hyo-rin mati. Hyo-rin meminta HP-nya, kemudian pergi meninggalkan Yeol yang bingung memikirkan foto itu.

Yeol sampai di istana. Dia melihat foto mendiang Ayahnya. Yeol menangis karna sedih mengingat Ayahnya yang sudah meninggal. Sementara itu, Ibu Suri sedang asyik menonton tv sambil tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba, seorang dayang mengumumkan kedatangan Ratu. IbuSuri pun mematikan tv dan duduk dengan tenang.

Ibu Suri berkata pada Ratu untuk mengirimkan hadiah pernikahan dan menata semuanya dengan baik agar semuanya selesai tepat waktu di hari pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Pernikahannya harus mengikuti gaya pernikahan era kekaisaran Korea. Ratu hanya mengangguk mengiyakan meskipun sebenarnya dia kurang setuju dengan pernikahan ini.

Yeol melihat-lihat halaman istana. “Apakah anda, Yeol?” sapa seseorang dari belakang Yeol. Ternyata Asisten pribadi Shin. “Yang Mulia” panggil Asisten pribadi Shin. “Paman, apa paman masih mengenaliku?” tanya Yeol sambil tersenyum senang. “Tentu saja, sebelum kau berangkat ke Inggris, aku ynag selalu menggendongmu di punggungku saat kau masih kecil” jawab Asisten Shin. “Ya, aku masih ingat. Kau sama sekali tak berubah, Paman” kata Yeol lagi. “Apa yang terjadi dengan Anda? Ibu Suri dan  Raja sangat merindukan Anda” kata Asisten Shin lagi.

Tiba-tiba ada seorang dayang senior yang menghampiri mereka dan berteriak memanggil-manggil Yeol. “Bibi” sapa Yeol. “Apakah ini mimpi atau kenyataan? Aku tahu anda pasti akan kembali lagi kesini” kata Dayang senior itu. “Ibu Suri pastia kan sangat senang melihat anda pulang. Ayo masuklah” lanjut Asisten Shin lagi sambil mempersilahkan Yeol untuk masuk.

Ibu Suri memang sangat gembira seklai melihat kepulangan Yeol. Ibu Suri menggenggam tangan Yeol dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. “Kau sekarang sudah tumbuh dewasa. Aku sama sekali tak pernah melupakanmu.  Tapi kenapa kau datang sendiri? Dimana Ibumu?” tanya Ibu Suri. Ratu yang duduk di hadapan mereka berdua tampak terkejut mendengarnya.

“Ibu nanti akan menyusulku. Sekarang ada yang perlu dia lakukan terlebih dahulu” jawab Yeol. “Apa kau akan tinggal disini selamanya?” tanya Ibu Suri. Yeol mengiyakan. Ibu Suri terlihat sennag sekali mendengarnya sementara Ratu terlihat tak terlalu menyukainya. “Lalu dimana kalian akan tinggal?” tanya Ratu. “Kami akan menyewa sebuah rumah” jawab Yeol. “Tidak. Kalian harusnya tinggal di istana Yeong-mu. Itu adalah kediaman mendiang Ayahmu” kata Ibu Suri. “Tapi sepertinya disana diperlukan beberapa perbaikan” kata Yeol kemudian. “Ya, kau benar. Istana itu sudah tua. Tinggallah di dalam istana. Kau akan merasa tak nyaman jika menyewa sebuah rumah” bujuk Ibu Suri.

Tiba-tiba Ratu berkata, menurut hokum, istri dan anak dari mendiang raja memang harus tinggal di luar istana. Ibu Suri berkata itu memang benar. Dia tak sempat memikirkan hal itu karna dia terlalu bahagia melihat kedatangan Yeol. Lalu kemudian, Ibu Suri berkata agar Yeol masuk ke sekolah kerajaan saja. Tapi Yeol bilang dia tak mau bersekolah disitu. Yeol bilang, di Inggris dia belajar menggambar desain. Jadi disini dia juga akan masuk jurusan desain.

Di ruangan Shin, teman-teman Shin sedang menonton video yang berisi liputan Chae-gyeong yang norak karna diburu banyak orang. Mereka bilang, Chae-gyeong tak pantas jadi istri seorang pangeran. Shin hanya diam saja mendengarnya. Ada juga yang bilang, Chae-gyeong tak pantas jadi seorang putri. Shin bilang pada mereka untuk ytak bicara apa-apa lagi. Biarlah dia atasi sendiri masalahnya.

Chae-gyeong sedang berjalan-jalan. Cewek yang berpapasan dengannya memperhatikannya. Kemudian tiba-tiba secara tak sengaja dia bertemu Shin. Chae-gyeong pun langsung berpaling dan bilang pada dirinya sendiri kalau dia salah arah. Tapi Shin memanggilnya dan menghentikan langkah Chae-gyeong. Shin mengajak Chae-gyeong bicara mengenai persiapan pernikahan mereka.

Shin bilang seseorang akan datang ke rumah Chae-gyeong. Shin bertanya apakah Chae-gyeong sudah siap untuk masuk ke dalam istana? Chae-gyeong bilang dia tak tahu apa? Shin bilang Chae-gyeong perlu diajari cara menjadi seorang putrid. Chae-gyeong tak suka mendengarnya. shin menyindir ekspresi wajah Chae-gyeong yang merengut.   

“Kau sendiri yang setuju untuk menikah dan juga meminta uang di saat yang sama. Ini bukan masalah bagiku jadi aku tak peduli. Bagaimanapun juga, bersiaplah dengan sungguh-sungguh dan jangan membuatku jadi terlihat bodoh karna ini bukan bercanda” ceramah Shin sambil berbalik dan meninggalkan Chae-gyeong. “Hei, Shin-gun” panggil Chae-gyeong. “Apa?  Shin-gun?” kata Shin terkejut dengan panggilan Chae-gyeong kepadanya. “Ya, Shin-gun. Bolehkah aku bertanya padamu?” kata Chae-gyeong saat Shin berbalik dan menghampiri dirinya lagi.

“Kau bisa menikahi gadis yang kau suka dan berhenti menggangguku” kata Chae-gyeong. Shin heran mendengar kata-kata Chae-gyeong. “Kau punya seorang gadis yang pernah kau lamar, kenapa kau katakan pada orangtuamu kalau kau mau menikah denganku?” lanjut Chae-gyeong. Shin mendekati Chae-gyeong, Chae-gyeong mengelak ke belakang, teman-teman mereka yang sedari tadi menonton melihat kejadian itu. Shin seakan hendak mencium Chae-gyeong.

“Kau ini tak tahu apa-apa. Apa kau pikir aku akan membiarkan gadis yang kusuka terperangkap di dalam istana sebagai seorang putri?” kata Shin. “Lalu bagaimana denganku?” tanya Chae-gyeong. “Sudah kubilang padamu sebelumnya. Kau dan aku tak punya hubungan apapun. Aku tak peduli apa yang akan terjadi denganmu, itulah kenapa aku menikahimu” jawab Shin dengan santai. “Apa katamu?!” teriak Chae-gyeong tak terima. “Harusnya kau senang karna aku mau menikah denganmu tanpa mengeluh” kata Shin lagi.

“Apa kau bilang?? Jadi kau lebih memilih menikah denganku daripada dengan gadis yang kau cintai dan membuatku terjebak di dalam istana?” tanya Chae-gyeong dengan nada jengkel dan kecewa. “Ya seperti itulah, terserah, lupakan saja, apapun alasannya, yang pasti kau akan jadi seorang putrid. Jika kau ingin jadi istriku, kau harus memperbaiki sikapmu dan menaikkan derajatmu atau kau akan dapat masalah. Apa kau tahu, levelmu itu terlalu rendah untuk jadi seorang putri” ceramah Shin. “Level?” kata Chae-gyeong. “Aku tak ingin kebodohanmu menggangguku. Kau mengerti?”  tanya Shin sambil berlalu pergi. Chae-gyeong yang jengkel mendengar kata-kata Shin hendak memukulnya saat Shin eranjak pergi, tapi segera mengurungkan niatnya saat Shin tiba-tiba berbalik lagi.

“Dan kau, lepaskan celana olahragamu yang kotor itu. Jika kau tak mau, akan kupanggil seseorang yang akan mengajarimu sopan santun…”kata Shin lagi. “Pergilah dan belajarlah sopan santun sendiri. Dasar kau brengsek!” teriak Chae-gyeong. Chae-gyeong berusaha menendang Shin, tapi yang terjadi dia malah terpeleset dan jatuh. Shin malah berdiri diatasnya dan menertawakan Chae-gyeong.

Chae-gyeong berjalan menuruni tangga dengan tertatih-tatih sambil memegangi pantatnya yang sakit karna terjatuh tadi.  Chae-gyeong bilang dia akan terus berpakaian seperti ini walaupun dia tinggal di istana untuk Shin. Tiba-tiba, guru yang kemarin memarahi dan hendak mengejar Chae-gyeong karna memakai rok dan celana olahraga sekaligus muncul. Melihat Chae-gyeong tentu saja guru itu marah dan berteriak agar Chae-gyeong berhenti. Mana mau Chae-gyeong berhenti. Dia malah lari cepat-cepat agar tak tertangkap.

Di luar gerbang, Yeol memasuki sekolah barunya. Dia mencoba mencari informasi tapi tak seorangpun ada disitu. Chae-gyeong yang masih berlari dari kejaran gurunya bertemu dengan Yeol. Yeol bertanya dimana kantor jurusan kesenian. Chae-gyeong menjawabnya sambil melepas celana olahraganya. Kantor jurusan kesenian ada di bangunan sebelah, di lantai 2. Yeol menatap kelakuan Chae-gyeong dengan heran. Sementara Chae-gyeong akhirnya berhasil melepas celana olahraganya dan lari begitu saja meninggalkan Yeol yang terbengong-benong melihatnya. Celana Chae-gyeong masih tertinggal disitu. Chae-gyeong lupa mengambilnya karna melihat guru yang mengejarnya  sudah ada di belakang Yeol.

Yeol memungut celana Chae-gyeong. Sementara itu, Chae-gyeong terus berlari. Tapi kemudian, dia terkejut karna ada dua orang pengawal yang menghadang dan memberi hormat padanya. Mereka bilang, Chae-gyeong harus cepat pulang untuk mempersiapkan pernikahannya. Chae-gyeong bilang kelasnya belum selesai dan juga tasnya masih ada di dalam kelas. Ternyata pengawal itu sudah mengambil tas dan sepatu Chae-gyeong dari dalam kelas. Chae-gyeong pun terpaksa ikut dengan mereka.

Sementara itu di kelas Chae-gyeong, Kang-hyeon menatap bangku Chae-gyeong yang kosong. Wali kelas mereka datang untuk memperkenalkan murid baru di kelas mereka. Semua murid cewek terpesona melihat ketampanan murid baru itu karna murid baru itu adalah Yeol. “Kita punya alien baru sekarang” kata wali kelas Chae-gyeong. Yeol heran mendengarnya, tapi kemudian dia tersenyum membaca poster yang ada di belakangnya. Disitu tertulis “Ruangan Planet”. Jadi jelas saja penghuni kelas itu semuanya disebut alien. Hehehe…ada-ada saja.

“Namanya Lee Yeol. Dia alien yang tampan kan?” tanya wali kelas Chae-gyeong. Semua murid cewek mengiyakan perkataannya. “Yeol tinggal di Inggris selama 5 tahun. Jadi dia akan banyak membutuhkan bantuan kalian. Dan kalian tahu bahwa di kelas ini tak ada perbedaan kan? Jadi bantulah dia, mengerti” lanjut wali kelas Chae-gyeong lagi, mereka semua serempak mengiyakan. Lalu murid-murid cewek termasuk Hee-sung dan Sun-yeong pun berebut agar Yeol duduk di samping mereka.

Pulang sekolah, banyak cewek-cewek yang berusaha menghalangi mobil Shin. Tapi tiba-tiba mobil itu berhenti. Shin keluar dari mobil dan disambut teriakan histeris cewek-cewek itu. Ternyata Shin turun karna melihat Yeol. Shin tersenyum senang melihat Yeol. Yeol pun demikian.

Shin membawaa pulang Yeol ke istana. Mereka ngobrol di ruangan Shin. Yeol bilang, Shin masih sama seperti yang ada di foto yang dikirimkan Shin untuknya di Inggris. Shin bilang Yeol juga masih sama seperti foto yang dikirimkan Yeol untuk Shin. Ternyata selama ini mereka masih sering berkirim surat dan foto meskipun mereka hidup terpisah di benua yang berbeda. Cie….

Mereka bicara tentang masa kecil mereka saat masih tinggal bersama. Kemudian, Yeol menyinggung tentang pernikahan Shin. Yeol dengar Shin akan menikah. Shin mengangguk mengiyakan. Yeol bilang, calon istri Shin pasti benar-benar cantik. Shin  bertanya apa maksud Yeol. Yeol bilang, seorang gadis pasti akan menolak menikah dengan Shin kalau tahu kepribadian Shin. Shin tersenyum mendengarnya. Tentu saja gadis itu tak menolak. Karna pernikahan ini tak gratis. Dia tipe gadis yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan.

Shin memberikan surat kabar yang ada foto Chae-gyeong pada Yeol. ”Jangan khawatir, dia tak begitu cantik” kata Shin. Yeol mengamati foto Chae-gyeong. Dan tersenyum melihatnya. “Dia imut” kata Yeol. “Apa? Dia imut?!” teriak Shin kaget kemudian menertawakan Yeol. “Jangan bercanda. Kau tak tahu kan betapa noraknya dia. Aku memang belum begitu mengenalnya. Tapi seperti itulah dia. Itulah salah satu alas an kenapa aku tak menghalangi pernikahan ini. Karna aku ingin melihat dia kesulitan menghadapi para tetua kerajaan. Bukankah hal itu menyenangkan?”lanjut Shin kemudian.   

“Ku dengar kau masuk jurusan kesenian kan? Kau pasti sekelas dengannya kalau kau masuk jurusan kesenian. Kau masuk kelas mana?” tanya Shin pada Yeol. Yeol tak menjawabnya. Dia terus mengamati foto Chae-gyeong. Yeol merasa seakan sudah pernah bertemu dengan Chae-gyeong. Waaaah… ternyata Yeol baru nyadar.

Ada kerusuhan di depan rumah Chae-gyeong. Banyak cewek-cewek yang berdemo menolak pernikahan Chae-gyeong dengan Shin. Para pengawal kerajaan sibuk menghalang-halangi mereka yang berusaha masuk ke dalam rumah Chae-gyeong. Mereka berteriak, “Kembalikan Pangeran Pada Kami”, dll. Yang lebih parah lagi mereka berteriak dan berkata, “Shin Chae-gyeong, bunuhlah dirimu sendiri. Wakkkk…

Di dalam kamar, Chae-gyeong hendak melambaikan tangannya. Tapi begitu mendengar kata-kata mereka, dia pun mengurungkan niatnya. Wajahnya jadi lesu saat para dayang mencoba mengukur badannya. Sementara itu di ruang tamu, ayah Chae-gyeong mencoba menjelaskan pada para pengawal kalau sejak pemberitaan di surat kabar, orang-orang itu terus saja mengganggu kehidupan mereka. Ibu Chae-gyeong juga mengeluhkan kelakuan para pengganggu itu, sementara Chae-jun malah asyik nonton tv. Ibu Chae-gyeong bilang kalau dia takut, apa yang akan terjadi pada Chae-gyeong kalau mereka dibiarkan begitu saja. Chae-jun bilang sambil tertawa, mereka berkata akan menghancurkan Chae-gyeong . Tentu saja Ibu Chae-gyeong jadi marah mendengarnya.

Para pengawal itu berkata, mereka akan mengatrasi semua masalah itu. Dan meminta keluarga Chae-gyeong untuk tetap tenang. Dan Chae-gyeong juga akan mendapat pengawal pribadi dari istana untuk memastikan kalau Chae-gyeong akan baik-baik saja. Tentu saja Ayah Chae-gyeong senang mendengarnya.

Chae-jun berkata pada Ibunya kalau acara di tv yang ditunggu-tunggu sudah dimulai. Ternyata acaranya berita tentang pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Mereka berkata, Keluarga Kerajaan belum pernah menyelenggarakan pernikahan seperti ini dimana mempelainya hanya rakyat biasa. Di istana, Shin juga sedang menonton berita itu. Mereka bilang, pernikahan ini adalah symbol bersatunya rakyat biasa dengan keluarga kerajaan. Shin mencoba menghubungi seseorang.

Sementara itu di tempat lain, Hyo-rin sedang menikmati malam di beranda kamarnya saat telpon di kamarnya berdering. Guru baletnya yang meelpon dan berkata kalau ruang latihannya sudah siap dan menanyakan apakah Hyo-rin akan turun untuk melihatnya. Kalau lelah, tak usah turun juga taka pa-apa. Tapi Hyo-rin bilang dia akan turun sekarang.

Hyo-rin bersiap-siap hendak turun. Dia mengambil tasnya, lalu kemudian menemukan HP-nya yang rusak karna terjatuh. Hp itu tak bisa nyala lagi. Jadi Hyo-erin membuang HP itu ke tempat sampah. Sementara itu, Shin mencoba menghubungi seseorang, tapi tetap saja Hp yang dihubungi tak aktif-aktif. Shin mencoba menghubungi Hyo-rin.

Shin keluar dari kamarnya, para pengawal mengikutinya dari belakang. Ratu juga hendak pergi keluar ruangannya. Ternyata Shin berlatih anggar. Ratu menyaksikan latihan Shin. Ratu bertanya pada Shin, apa alasan Yeol kembali ke Korea. Shin bilang dia tak tahu karna Yeol tak mengatakan apa-apa. Shin bertanya pada Ibunya kenapa Ibunya khawatir. Ratu bilang, hanya ada beberapa orang saja yang tahu tentang keadaan Raja. Ratu takut, kepulangan Yeol ada kaitannya dengan hal itu. Jika tidak, kenapa seseorang yang pergi selama 14 tahun tanpa ada kabar berita, tiba-tiba kembali begitu saja sekarang. Apakah itu bukan sesuatu yang aneh.

“Jadi kau kesini karna alas an itu?” tanya Shin. “Mulai sekarang, kau harus berhati-hati jika bertemu dengan Yeol” saran Ratu. Shin terlihat tak senang mendengar kata-kata ibunya. Ia pun melanjutkan latihan anggarnya.

Malam hari di apartemen Yeol, Yeol memandangi istana yang ada di seberang bangunan apartemen yang disewanya sambil memandangi foto keluarganya. Yeol sedang membereskan baju-bajunya. Kemudian dia memandangi celana olahraga milik Chae-gyeong yang diambilnya dan tersenyum karnanya.

Di kamarnya, tidur Chae-gyeong tak nyenyak. Chae-gyeong turun dari tempat tidurnya menuju kamar kedua orangtuanya. Ternyata Ayah dan Ibunya juga belum tidur. Mereka tengah berbicara tentang pernikahan Chae-gyeong. Apa benar yang telah mereka lakukan dengan meminta Chae-gyeong untuk menikah dengan Pangeran Shin. Ayah Chae-gyeong erkata, hatinya tak nyaman karna hal ini. Tapi bagaimana caranya untuk membatalkan pernikahan yang suda di atur oleh istana.

Ayah Chae-gyeong terkejut melihat Chae-gyeong yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka. “Hei, kenapa kau belum tidur?” tanya Ayah Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang perutnya sakit. Ibu Chae-gyeong minta Chae-gyeong berbaring di kakinya sambil mengurut perut Chae-gyeong dengan penuh sayang dan menyanyikan lagu agar perut Chae-gyeong yang sakit cepat sembuh. Duuuh…senangnya dimanja…..

“Bagaimana bisa gadis yang tak dewasa menikah?” gerutu Ayah Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong memukul perut Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong kesakitan. Chae-gyeong bilang ada luka di perutnya. Ayahnya bilang, kalau perutnya sakit, dikasih obat merah saja. Chae-gyeong tak terima mendengar kata-kata Ayahnya. “Ayah, kau seperti kakek saja! Apa maksudmu dengan obat merah?” tanya CHae-gyeong.

“Mungkin aku perlu menusukmu dengan jarum. Chae-jun, bawakan jarum kesini!” teriak Ayahnya. Chae-gyeong langsung bangkit dari tidurnya. “Jangan, Ayah. Aku sudah baikan sekarang. Lagipula Chae-jun masih tidur. “Kau masih saja seperti dulu. Pura-pura sakit agar diperhatikan. “Ayo kemari, akan kubersihkan telingamu” kata Ayah Chae-gyeong. Dengan manja Chae-gyeong tidur di bawah kaki Ayahnya. Ibu Chae-gyeong mengambil cotton bud. Chae-gyeong pun tertidur disitu. Ibu dan Ayahnya saling berpandangan.

Pagi harinya, Chae-gyeong berdandan memakai hanbok untuk pergi ke istana. Ayahnya bilang Vhae-gyeong sangat cantik sekali. Mengingatkan Ayahnya pada nenek Chae-gyeong. Ibunya berpesan agar Chae-gyeong jangan telat makan dan jangan sampai sakit perut. Ayahnya berkata, dia sudah mengepak obat-obatan untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong tersenyum mendengarnya. Chae-gyeong juga berpesan pada Chae-jun untuk menjaga Ayah dan Ibu selama dia tak ada. “Jangan khawatir, babi. Lain kali kalau kau datang dan berkunjung, akan kutunjukkan otot-ototku” jawab Chae-jun.

Chae-gyeong pun bersiap-siap untuk pergi ke istana karna utusan dari kerajaan sudah menunggunya. Tiba-tiba Ayah Chae-gyeong menangis. Tentu saja hal itu membuat langkah Chae-gyeong terhenti. “Putri kecilku…salahkanlah Ayahmu yang tak berguna ini” ratap Ayahnya. Ibunya menghampiri Ayahnya dan menyuruh suaminya untuk berhenti meratap.

“Benar-benar…Apa aku akan dikirim ke penjara?” kata Chae-gyeong. Chae-gyeong berkata agar mereka tak mengkhawatirkan dirnya. Chae-gyeong juga berkata, dialah yang memilih. Jadi dia yang akan bertanggung jawab dengan pilihannya. Jadi mereka jangan khawatir. Chae-gyeong pun keluar dari rumahnya. Ternyata sudah banyak wartawan dan fans Pangeran Shin yang terus saja berteriak menghujat Chae-gyeong.

Chae-gyeong berjalan masuk menuju mobil yang disediakan untuknya. Sesaat dia memandangi keluarganya dan tersenyum untuk mereka. Di jalanan, ternyata banyak orang yang tak mau ketinggalan melihat Chae-gyeong yang diboyong menuju istana.

Bersambung………………………

maaf ya....gambarnya nyusul.......^_^