Tampilkan postingan dengan label MY GIRLFRIEND IS GUMIHO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY GIRLFRIEND IS GUMIHO. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Januari 2011

My Girlfriend is Gumiho Episode 9

Kakek yang marah masuk di saat yang sangat tidak tepat, saat Tae-wung akan menjawab permintaan Mi-ho untuk menyukainya juga. Karena si licik Hye-in, kakek dan Bibi Min-suk jadi punya kesan kalau Mi-ho adalah cewek matre yang mendorong Tae-wung untuk membahayakan kesehatannya dengan terus main film.


Kakek memerintahkan mereka untuk putus dan meminta Tae-wung mengemasi barang-barangnya. Tae-wung menolak dan berkata kalau dia baik-baik saja dan jika dia tinggal disini bersama Mi-ho, maka itu tak salah. Mi-ho merasa sebentar lagi akan mendengar kata perpisahan. Dia menunggu di bawah dengan rasa takut dan mencoba untuk diam saja. Tapi jantung Mi-ho mulai bereaksi. Ini adalah bagian dari proses pemudaran jiwa gumiho. Mi-ho menghentikan langkahnya dan merasa kesakitan.


Tae-wung membela diri dihadapan kakek dan bibinya dengan berkata kalau kakek selalu memintanya untuk menjadi manusia dan seorang lelaki, jadi bagaimana bisa kakek menyuruhnya untuk berhenti. Tae-wung berkata, “Aku akan memikul tanggung jawab ini sampai akhir seperti yang kakek harapkan dan takkan menyerah begitu saja.” Kakek dan Bibi menggerutu tapi mereka sudah mempunyai rencana yang lain. Setelah Tae-wung kembali ke loteng, Kakek memandang Bibi Min-suk sebagai awal dari dimulainya rencana mereka.



Di dalam, Tae-wung menemukan Mi-ho yang terduduk di lantai dan bertanya ada apa. Tepat pada saat itu, sebuah erangan terdengar dari luar dan Bibi Min-suk berteriak memanggil Tae-wung. Tae-wung berkata pada Mi-ho kalau dia akan segera kembali. Lalu, dia berlari keluar untuk membawa kakek ke rumah sakit. Tanpa Tae-wung tahu kalau ia membawa kakek yang pura-pura pingsan ke rumah sakit dan meninggalkan Mi-ho yang benar-benar sakit sendirian. (hik...hik...).




Mi-ho duduk menahan rasa sakitnya, mata birunya menandakan kalau dia kehilangan kendali atas perubahan dirinya, seperti yang terjadi di atas kapal karna akibat dari terpisahnya dia dengan manik-manik serigalanya. Ketika Mi-ho tersandung dan jatuh ke tempat tidur, dia tak sengaja menendang camcorder ke lantai – yang ternyata menyala dan mulai merekam. Mi-ho ambruk dan berkata, “Rasanya sakit sekali.”


Memang sudah diprediksi kalau malam ini adalah malam yang menandai ‘kematian pertama’ Gumiho(Hmm...kayak kucing ja ya. Kalo kucing nyawanya yang 9. Kucing aq, nyawanya tinggal 6.hehehe..). Ekor Mi-ho menghilang satu. Mi-ho melihat ekornya hilang satu dan berkata, “Aku pasti benar-benar sekarat!”

Di dalam mobil, kakek memberitahu kalau dia tidak benar-benar kesakitan tapi kakek  menggunakan cara itu agar Tae-wung patuh dan mau ikut pulang. Karena ingat Mi-ho, Tae-wung meminta bibinya untuk kembali dan mengancam akan melompat kalau Bibi Min-suk tak mau berhenti. Tae-wung mengatakan kalau dia hanya ingin memastikan kalau Mi-ho baik-baik saja lalu dia akan pulang ke rumah.



Tae-wung berlari selama perjalanan ke loteng dan ketika dia sampai disana, dia mendapati Mi-ho sudah lebih baik. Meski begitu, dahi Mi-ho luar biasa dingin. Mi-ho mengatakan kalau dia baik2 saja dan ini mungkin akibat dari dia yang bekerja terlalu keras mencuci piring.




Setelah memastikan kalau Mi-ho baik-baik saja, Tae-wung harus kembali ke rumah sampai dia memastikan kalau kakek tidak akan jatuh sakit lagi. Mi-ho meminta Tae-wung untuk tak khawatir dan kembali ke ‘rumah kita’ saat kakek sudah lebih baik. Tak lama setelah Tae-wung membalikkan badannya, Mi-ho sudah meringis kesakitan. Dia menyembunyikan sakitnya agar Tae-wung tenang.




Kata ‘rumah kita’ memberikan efek buat Tae-wung yang tiba-tiba saja merasa kaget karna membiarkan dirinya merasa nyaman bersama Mi-ho. Karna itulah, Tae-wung merasa bimbang waktu Mi-ho bertanya apakah Tae-wung akan kembali sebelum bunga-bunganya layu sebab Tae-wung tidak ingin merasakan keterikatan pada ‘rumah’ yang telah mereka bangun bersama. Ini juga membuat Tae-wung ingat pada kelopak bunga yang jatuh tadi.




Kemudian cahaya itu mulai meredup, yang mencerminkan keraguan Tae-wung. Kakek menelpon dan Tae-wung menganggapnya sebagai tanda untuk kembali berpikir dengan akal sehatnya. Setelah Tae-woong pergi, Mi-ho mendapati kalau cahaya sudah menghilang sepenuhnya – dan itu berarti kalau Tae-wung sudah membuat keputusannya. Ketika kembali ke rumah keluarganya, Tae-wung mengingatkan dirinya kalau inilah rumahnya dimana cahayanya terang. Dia mencoba meyakinkan dirinya kalau begini lebih baik dengan adanya jarak antara dirinya dan Mi-ho.


Di sisi lain, Mi-ho dengan gembira mengatakan pada Dong-ju kalau dia sudah kehilangan ekornya. Jadi sekarang dia bukan lagi gumiho tapi phalmiho (gu = 9 dan phal = 8). Dong-ju berkata kalau kejadiannya pasti sangat menyakitkan. Tapi kegembiraan Mi-ho hilang waktu Dong-ju mengingatkan kalau Mi-ho masih harus mengalami 8 kali sakit seperti itu, dan setiap kali hal itu juga akan bertambah menyakitkan.




Mi-ho enggan menunjukkan sakitnya pada Tae-wung sebab dia belum bisa mengungkapkan rencananya untuk menjadi manusia. Dia yakin kalau dia pasti bisa memberitahukan Tae-wung segera, karna Tae-wung semakin hangat padanya. Dong-ju menganggap bunga itu sebagai pertanda bagus tapi meminta Tae-wung untuk menyukainya adalah sebuah kesalahan – itu malah bisa membuat Tae-wung menjauh dari Mi-ho


Mi-ho tak suka dengan kata-kata Dong-ju yang selalu memojokkannya. Jadi Mi-ho marah, “Guru Dong-ju jahat! Kau guru palsu!” Kata yang Mi-ho gunakan sebenarnya berarti ‘guru anjing’ dan Dong-ju mengingatkan kalau Mi-ho kasar dengan memanggilnya memakai kata ‘anjing’ yang dalam bahasa Korea bisa menjadi sumpah serapah. Mi-ho berkata lagi kalau Dong-ju memang guru anjing (dokter hewan) yang itu juga bisa berarti sebagai guru palsu. 




Ketika Mi-ho mengunjungi ajumma toko ayam, Mi-ho memetik kelopak bunga dan secara bergantian menyebutkan, ‘dia akan kembali dan dia tidak akan kembali.’ Sayangnya, bunga itu memprediksi kalau Tae-wung tidak akan kembali jadi Mi-ho merengus frustasi lalu mengunyah kelopak itu.


Ajumma toko sup ayam mengatakan pada Mi-ho kalau dia sudah habis bila calon keluarga barunya mengatakan kalau dia mencabut pendiriannya terhadap Mi-ho. Adegan yang sama terungkap dari drama yang sedang diputar di TV dimana seorang wanita memohon calon keluarga barunya di masa depan untuk menerimanya. Mi-ho menonton dengan kecewa sebab semua itu juga terjadi padanya. Contohnya, dia lebih tua dari Tae-wung sekitar 600 tahun!



Tae-wung tak bisa tenang selama beberapa hari belakangan, yang membuat kakek dan bibinya merasa terganggu. Tae-wung mencoba mengingatkan dirinya tentang siapa Mi-ho sebenarnya. Karna jika melupakan berarti dia melihat Mi-ho sebagai seorang wanita, yang mengindikasikan semakin bertambahnya ikatan diantara mereka.


Lalu akhirnya Tae-wung mengunggah foto serigala di hp-nya dan mengatakan pada dirinya kalau Mi-ho adalah serigala yang menakutkan. Tapi kemudian Tae-wung memperhatikan kalau serigala itu tidak terlalu menakutkan. Tae-wung berpikir, “Matanya bulat dan indah. Ini terlihat seperti Mi-ho…”. Kemudian dia menyarankan Ddung-ja, anjingnya, kalau dia akan mengajak anjingnya untuk bertemu dengan Mi-ho.




Hati Hye-in jadi tenang waktu mendengar kalau kakek sudah tahu tentang luka Tae-wung dan berkeras agar Tae-wung pulang ke rumah. Ini memberikan kesempatan pada Hye-in untuk mengecek kecurigaannya. Dia menuju ke atap sekolah laga untuk melihat tempat kemaren Mi-ho dilihatnya sedang melompat. Melihat betapa tingginya tempat itu, Hye-in menyimpulkan kalau hal itu mustahil.


Hye-in menghampiri Tae-wung yang tiba bersama anjingnya tapi dia kesal waktu mendengar Tae-wung kesini untuk mengunjungi Mi-ho. Tae-wung menghindari pertanyaan Hye-in tentang latar belakang Mi-ho dan ini membuat rasa keingintahuan Hye-in menjadi lebih besar. Tae-wung mengambil camcorder yang Hye-in belikan dan mengembalikannya yang membuat Hye-in pergi dengan marah-marah. Hye-in hampir menabrak seorang pejalan kaki tapi entah kenapa dia bisa menghindarinya dan waktu dia menengadah, dia kaget melihat Mi-ho berdiri disana.




Hye-in memeriksa camcordernya untuk memastikan benda itu tidak rusak dan karena itulah, dia melihat rekaman saat Mi-ho terekam secara tal sengaja dengan semua ekornya yang keluar. Hye-in jelas punya rencana sebab dia langsung menemui Sutradara Ban untuk menanyakan tentang wanita yang selama ini dicari-cari oleh Du-hong. Hye-in mendengar tentang gadis yang bisa melompat tinggi dan bisa berlari sangat cepat. Hye-in pun mulai menyatukan info ini.




Memang dasar beruntung, kebetulan ayah Hye-in adalah seorang dokter dan Hye-in meminta ayahnya untuk menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan hasil tes Tae-wung. Di loteng yang kosong, Tae-wung menemukan hp Mi-ho, yang dia ditinggalkan untuk di charge batrenya. Perasaan Tae-wung berubah jelek waktu dia melihat kalau Mi-ho menelpon Dong-ju di pagi harinya. Tae-wung pun pergi dengan perasaan yang jengkel tanpa tahu yang sebenarnya.




Tae-wung malah pergi ke Klinik Dong-ju. Bukan untuk mencari Mi-ho tapi untuk memeriksakan anjingnya. Setelah pemeriksaan singkat, Tae-wung meninggalkan Klinik itu dengan perasaan yang lebih baik dari saat dia tiba disana karna Mi-ho tidak ada disana. Dong-ju sendiri malah bertanya-tanya apakah ini indikasi dari Tae-wung yang mulai peduli pada Mi-ho. Dong-ju jelas tidak senang dengan perkembangan ini dan bergumam, “Apakah manusia itu tidak akan mengkhianati Mi-ho pada akhirnya, dan meninggal?”




Mi-ho berjalan menuju rumah Tae-wung untuk bertemu dengannya. Dia menunggu di tangga rumah itu untuk beberapa saat tapi akhirnya memutuskan lebih baik tidak dilihat oleh kakek lalu pergi. Di tempat lain di lingkungan itu, Tae-wung berjalan ke rumahnya dengan perasaan kecewa sebab dia tidak bertemu dengan Mi-ho tapi dia malah mengatakan maaf pada anjingnya sebab Ddung-ja tidak sempat bertemu Mi-ho.




Dan tentu saja waktu tiba di rumah Tae-wung tak sempat bertemu Mi-ho sebab mereka berselisih jalan. Tapi untungnya Ddung-ja menggonggong, dan Tae-wung melihat sesuatu di lantai. Dilihat dari dekat, kelopak bunga itu berbunyi: ‘Wung.’ Dan tidak hanya itu, kelopak bunga itu dilem di lantai.




Tae-wung tahu kalau Mi-ho ada di sekitar rumah Tae-wung dan wajah Mi-ho berubah cerah melihat kedatangan Tae-wung. Mi-ho langsung memeluk Tae-wung dengan erat. Tae-wung bahkan tidak protes kali ini dan hanya tersenyum melihat Mi-ho yang menempel padanya. Tae-wung berusaha untuk membebaskan dirinya dari pelukan Mi-ho dengan mengatakan banyak orang yang melihat. Sebagai jawaban, Mi-ho malah menutup mata Dae-woong dengan tangannya.




Ketika Mi-ho bertanya bagaimana kesehatan kakek, Tae-wung menjelaskan kalau kakek tambah parah setelah ortu Tae-wung meninggal. Kakek juga sakit dan semua orang mengira kalau kakek juga akan meninggal dan merupakan sebuah kejaiban dia masih hidup. Ternyata kakek berada di sisi Tae-wung selama 100 hari sambil memegang tangan Tae-wung. Mi-ho tersenyum, “Kalau begitu, kakekmu adalah manik-manik serigalamu!” 


Tae-wung menunjukkan pada Mi-ho bagaimana bermain bulu tangkis lalu membelikannya burger waktu melihat Mi-ho kelaparan. Tae-wung bahkan memberikan dagingnya untuk Mi-ho dengan mengatakan kalau dia sudah kenyang dan Mi-ho kemudian membagi daging itu dengan Ddung-ja.




Ketika hari semakin sore, Tae-wung mengatakan kalau dia tadi mampir ke rumah. Hal ini membuat Mi-ho senang sebab membuktikan kalau Tae-wung merindukannya. Mi-ho ingin mendengar Tae-wung mengucapkannya keras-keras dan memaksa Tae-wung untuk mengakuinya. Tae-wung malah marah-marah dan menyangkalnya, tapi Mi-ho yakin kalau dia benar. Dengan semangat, Mi-ho mengatakan kalau dia sangaaaaaaaattttttttt merindukan Tae-wung dan dia juga sangaaaaaaaatttttttt menyukai Tae-wung. Mi-ho mengakhiri ini semua dengan gerakan tangan yang aneh.


Tetap saja, Tae-wung tak siap mengakui perasaannya dan dia bersikap berlebihan waktu kakek bertanya apakah Tae-wung pergi menemui Mi-ho karena dia merindukannya. Tae-wung marah, “Aku sama sekali tidak merindukannya! Yang benar saja, ada apa dengan semua orang?” Sedangkan, Mi-ho bernyanyi selama dalam perjalanannya, “Tae-wung berkata dia merindukanku, karena dia menyukaiku. Kalau begitu aku juga harus memberitahukannya kalau aku akan menjadi manusia”.


Dong-ju muncul karena berpikir Mi-ho memerlukan teman. Tapi dia sama sekali tidak mengharapkan Mi-ho akan sebahagia ini. Senyum Dong-ju menghilang waktu Mi-ho memberitahukan kalau dia akan mengatakan pada Tae-wung jika dia akan menjadi manusia.


Bibi Min-suk mengungkapkan kekhawatirannya pada Du-hong dan meminta Du-hong apakah dia bisa meyakinkan Tae-wung untuk keluar. Du-hong kecewa tapi dia setuju membantu. Kemudian, Bibi Min-suk terpeleset lagi dan membuat koleksi DVD Du-hong tersiram kopi. Ini membuat Du-hong habis kesabaran dan dia tidak bisa menahan dirinya. Du-hong membentak Bibi Min-suk kalau seharusnya dia lebih hati-hati. Kata-kata Du-hong terlalu mengena hingga Bibi Min-suk merasa terhina dan keluar dengan jengkel.




Saat makan malam, Mi-ho menegaskan kalau Tae-wung tak kan kabur bila dia mengatakan padanya tentang proses menjadi manusia ini karna Mi-ho ingin sekali bersikap jujur. Dong-ju cuma merasa sedikit yakin kalau Tae-wung tak akan mengkhianati Mi-ho tapi itu hanya dilihat dari satu kacamata. Dong-ju bertanya apa yang akan Mi-ho lakukan bila dia tidak bersama Tae-wung saat sudah menjadi manusia.




Mi-ho menjawab, “Aku tidak bisa tanpa Tae-wung. Aku tinggal dengannya bukan karena memerlukannya tapi aku tinggal karena aku menyukainya. Dan alasan terbesarku menjadi manusia adalah karena Tae-wung.” Dong-ju mencoba menjelaskan pada Mi-ho kalau lebih baik tidak bersama seseorang yang tahu identitas kita yang sebenarnya. Mi-ho sebaiknya meninggalkan Tae-wung setelah seratus hari.


Mi-ho tidak suka hal itu dan Dong-ju jadi terdengar ketus ketika mengatakan pada Mi-ho kalau Mi-ho tidak setuju padanya, maka dia tidak bisa menolong lagi. Selain itu, Dong-ju mengatakan pada Mi-ho kalau dia belum memberitahukan Mi-ho kebenaran yang sepenuhnya. Dong-ju berujar, “Untuk menjadi manusia dengan aman, kau sangat memerlukan bantuanku. Aku harap kau mendapatkan apa yang kau inginkan dengan selamat, tanpa menderita.”




Mi-ho menolak untuk mengikuti perintah Dong-ju dan berkeras kalau dia akan tinggal bersama Tae-wung selama Tae-wung tidak keberatan. Setelah Mi-ho pergi, Dong-ju berkata, “Masalahnya aku berpikir kau tidak akan bisa menghadapi kematian Tae-wung!”


Kakek ingin agar Tae-wung pergi memeriksakan diri ke dokter besok dan Tae-wung setuju. Ini semua sudah diatur oleh Hye-in untuk mendapatkan kemenangannya. Dia juga berusaha membodohi Bibi Min-suk agar dirinya terkesan baik dan manis, yang jelas lebih baik dari Mi-ho. Untungnya, kakek ingat kalau pada awalnya dia menyukai Mi-ho, yang menunjukkan kalau masih ada kesempatan untuknya


Hye-in juga meminta Byung-su dan Sun-nyeo untuk membawa Mi-ho ke rumah sakit tapi juga memastikan agar Tae-wung tidak tahu. Hye-in membuat ini semua terkesan dilakukan demi kebaikan Mi-ho. Lalu, apa rencana Hye-in? Dia ingin memaksa Mi-ho melakukan tes fisik agar tahu identitas Mi-ho yang sebenarnya.


Tae-wung menelpon Mi-ho untuk memastikan kalau dia sudah sembuh sekarang. Dia hanya ingin memastikan kalau hasil tes yang keluar akan normal. Mi-ho mencoba untuk mengetes perasaan Tae-wung dengan bertanya apa yang Tae-wung rasakan bila Mi-ho tidak bersamanya setelah 100 hari. Tae-wung tidak siap menjawab ini dan cepat-cepat menutup telponnya.




Alasan kenapa Tae-wung bersikap seperti itu adalah karena dia ‘bingung.’ Dia tetap ‘lupa’ pada siapa Mi-ho sebenarnya dan Tae-wung kembali bermain dengan cahaya yang menunjukkan keraguan perasaannya. Mi-ho merasa kalau jawaban Tae-wung tak meyakinkan. Dia mendesah untu membenarkan perkataan Dong-ju kalau Mi-ho ingin tetap tinggal bersama Tae-wung, maka Tae-wung harus merindukannya. Keesokan harinya, Tae-wung pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sedangkan, Byung-su dan Sun-nyeo menjemput Mi-ho untuk diajak ke rumah sakit juga.


Hye-in menuntun Mi-ho untuk bertemu Tae-wung – atau begitulah yang dia bilang – sedangkan Mi-ho terlihat gelisah dan tidak nyaman. Rumah sakit terkesan aneh bagi Mi-ho dan menutupi kemampuannya untuk menemukan Tae-wung. Jadi Mi-ho harus percaya kalau Hye-in mengajaknya ke tempat yang benar.




Yang tentu saja tidak! Hye-in mengajak Mi-ho ke ruang pemeriksaan dan mengatakan dengan keprihatinan palsu kalau dia ingin Mi-ho diperiksa untuk memastikan kalau tidak ada yang salah pada Mi-ho setelah kecelakaan itu. Hye-in tidak memberikan Mi-ho kesempatan untuk bereaksi dan dia mengurung Mi-ho di ruangan untuk menunggu sampai dokternya datang lalu Hye-in bertanya, “Kau ini apa? Apa kau monster?”


Hye-in bangga pada dirinya sendiri sebab bisa melakukan rencananya tapi dia tidak tahu hal yang lain: kekuatan super Mi-ho! Pintu terbuka lebar dan Mi-ho kabur. Soalnya dia tahu dia tidak boleh melakukan pemeriksaan itu karna tak ingin membawa masalah lagi untuk Tae-wung.


Hye-in mengejar Mi-ho di sepanjang lorong dan meminta Mi-ho untuk menunjukkan diri dengan ancaman kalau Mi-ho tidak mau maka dia akan mengatakan pada semua orang tentang Mi-ho. Mi-ho menunjukkan dirinya dan bertanya dengan bingung, “Apa masalah siapa aku ini? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” Mi-ho tidak melakukan hal yang salah dan dia bukan orang jahat.




Hye-in menyimpulkan dan menuduh Mi-ho telah memberikan obat-obatan aneh pada Tae-wung atau melakukan hal-hal ilegal untuk membuat Tae-wung sembuh secara ajaib. Mi-ho bersikeras kalau dia bukan orang jahat dan berkata, “Tidak bisakah kau meninggalkanku?” Dan itu memberikan Hye-in kesempatan untuk menyatakan apa yang dia inginkan: jika Mi-ho menghilang, dia akan tutup mulut.


Hasil tes menunjukkan kalau Tae-wung sangat sehat yang membuat semua orang senang. Tae-wung mengingatkan mereka semua kalau dia memang baik2 saja dan bergegas untuk pulang ke rumah. Dia tiba di loteng dengan suasan hati yang ceria dan membawa daging untuk menggelar perayaan dengan Mi-ho malam ini. Hanya saja, dia tidak menemukan Mi-ho disana. Malahan, Mi-ho keluar dari rumah sakit setelah melakukan perjanjian dengan Hye-in dan berkata pada diri sendiri kalau dia harus menghilang. Mi-ho tidak punya pilihan.




Tae-wung menjawab telpon Mi-ho dengan senyuman dan menggodanya ketika Mi-ho bertanya apakah Tae-wung akan pulang awal malam ini. Tae-wung bercanda kalau dia tak terlalu merindukan Mi-ho dan untuk itu dia tidak berencana pulang cepat malam ini, yang dianggap Mi-ho sebagai hal serius. Mi-ho mendesah, “Kau tak terlalu merindukanku. Itu menenangkan.” Tae-wung mulai mengaku kalau dia hanya bercanda tapi Mi-ho menyela dengan hal yang lebih penting.



Mi-ho: Meski aku tidak menakutimu, kau akan menjaga manik-manikku, kan?









Tae-wung: Ya.
Mi-ho: Meski kau tidak memerlukannya, kau akan menjaganya, kan?
Tae-wung: Ya. Apa kau masih tidak percaya padaku?
Mi-ho: Aku percaya padamu. Jadi meski aku tidak bersamamu, jaga manik2ku baik2, ya?


Mata Tae-wung melebar dan Mi-ho berkata, “Tae-wung, aku rasa aku harus menghilang dari sisimu.”

Jumat, 07 Januari 2011

My Girlfriend is Gumiho Episode 8

Tae-wung mengatakan pada Mi-ho kalau Little Mermaid berakhir bahagia dan meminta Mi-ho untuk percaya pada kata-katanya, bukan kata-kata orang lain. Tae-wung menyeka air mata Mi-ho ketika dia berkata, “Jadi jangan menangis, nanti akan hujan.” (co cweet....ehm..ehm..).


Mereka pergi dan Mi-ho meninggalkan buku itu disana. Mereka melewatkan acara pemutaran film jadi Tae-wung mengantre untuk mendapatkan tiket film yang selanjutnya. Selagi menunggu Tae-wung, Mi-ho melihat pasangan lain yang lagi berkencan lalu dia mulai meniru aksi mereka. Mi-ho melihat gadis itu berdandan dan berkedip pada pacarnya, jadi Mi-ho melakukan hal yang sama pada Tae-wung.

Ketika Mi-ho melihat pasangan itu berbagi satu minuman dengan dua sedotan, dia meneguk habis sodanya lalu dengan diam-diam memasukkan sedotannya di minuman Tae-wung, dan menunggu. Tae-wung kaget ketika melihat Mi-ho dan memarahinya karena mencuri sodanya.


Kemudian, Mi-ho melihat sepasang kekasih yang berjalan bersama dan sang gadis melingkarkan tangannya di pinggang sang lelaki. Jadi Mi-ho mengikuti, meletakkan tangannya melingkari Tae-wung dan menyelipkan tangannya tepat ke kantong Tae-wung. Tae-wung jelas kaget dan dia mendekapkan tangannya pada tangan Mi-ho. Lalu, Mi-ho tersenyum pada Tae-wung. Awalnya dia terkejut tapi kemudian Tae-wung tersenyum juga sambil berkata, “Kau tidak bisa menunggu?” Kemudian, Tae-wung mengeluarkan sosis!


Mi-ho pikir usahanya untuk memulai sebuah hubungan gagal lagi. Selama pemutaran film, Tae-wung berusaha mengeluarkan sepotong jagung dari rambut Mi-ho dan Mi-ho berusaha terus menggenggam tangan Tae-wung selama film itu berlangsung. Lalu Mi-ho berkata pada Tae-wung kalau kencan itu menyenangkan. Tapi Tae-wung menolak dengan tegas mengatakan kalau mereka sedang kencan. Tae-wung bilang, ini bukan kencan , ini hanya jalan-jalan seperti mengajak anjing jalan-jalan. Dan, daripada memegang tangan Mi-ho seperti yang dia minta, Tae-wung malah memilih menarik tali tas Mi-ho seperti anjing. (ckckck....).


Mereka tiba di toko elektronik mall itu dan Mi-ho kagum pada semua gadget baru yang benar-benar aneh untuknya. Tae-wung berhenti di sebuah display dan melihat camcorder yang sangat dia inginkan. Tae-wung terhibur karena Mi-ho merasa semua benda yang dilihatnya sangat menarik. Jadi dia menggunakan kesempatan ini untuk membandingkan jangkauan pengetahuan 'guru Dong-ju'. Tae-wung mengatakan kalau stereo adalah alat untuk membaca pikiran, timbangan adalah alat untuk mengetahui usia dan kalkulator adalah remote manusia. 

Tae-wung juga mempermainkan Mi-ho dengan vacuum cleaner seolah-olah benda itu memakan tangan Tae-wung. Jadi Mi-ho menyelamatkan Tae-wung dengan melempar vacuum cleaner ke lantai hingga pecah berantakan! Tae-wung terpaksa harus membelinya.


Saat sedang menunggu Tae-wung, Mi-ho mendekati sebuah kipas, bermain-main dengan bunyi suaranya serta membiarkan rambutnya terbang. Tae-wung melihat Mi-ho dan berkata pada dirinya kalau dia bodoh bila berpikir Mi-ho akan memakannya. Tae-wung bergumam kalau seperti ini, Mi-ho terlihat seperti gadis normal dan ia tak ingat – kalau Mi-ho bukan gadis normal. Dia memandangi Mi-ho dan jantungnya mulai berdegup kencang. Tae-wung sekarang melihat Mi-ho dengan cara yang berbeda.


Tae-wung menutup mulutnya sendiri karena sudah berpikir seperti itu lalu dia mematikan kipas dan pergi. Tae-wung tetap memperhatikan Mi-ho ketika dia berjalan dan tahu apa yang dia rasakan. Tae-wung meyakinkan dirinya kalau dia sudah gila karena berpikir dia menyukai Mi-ho.


Hye-in bertemu dengan Byung-su dan Sun-nyeo, mentraktir mereka makanan untuk mendapatkan info tentang Mi-ho. Hye-in mengetahui kalau Mi-ho tidak bersekolah atau bekerja. Dan karena dia tahu sutradara Ban sedang mengejar Mi-ho untuk peran dalam film, pikiran Hye-in langsung tertuju pada kemampuan stunt Mi-ho yang tidak biasa. Hye-in bertanya-tanya apa malam itu di tempat Dae-woong, Mi-ho sebenarnya melompat dari atap tapi dia lalu menyadari kalau itu adalah hal gila.


Di rumah, Tae-wung memanggang daging sedangkan Mi-ho duduk di depan kipas. Untungnya, keriting Mi-ho tak permanen, meski begitu dia berharap keriting itu akan bertahan lama. Tae-wung melihat Mi-ho dengan hati-hati, dan hampir berharap agar Mi-ho tetap melakukan hal-hal gila, untuk membebaskan dirinya dari pikiran kalau dia mulai menyukai gumiho.


Mi-ho bertanya kapan mereka akan berkencan lagi dan berkata kalau dia suka melakukan kegiatan bersama Tae-wung dan Tae-wung malah menanyakan pada Mi-ho yang membuat Mi-ho merasa tak nyaman, “Kau menyukaiku karena aku membelikanmu daging, kan? Kau menyukai daging jadi kau menyukaiku.” Tae-wung mengatakan kalau dia akan berhenti membelikan daging, sebab dia berpikir Mi-ho akan memutuskan kalau dia tidak menyukai Tae-wung. Tapi sangat mengecewakan buat Tae-wung sebab Mi-ho berkata kalau itu sangat disayangkan tapi dia akan menyetujuinya.

Tae-wung mulai bersikap berlebihan kalau dia adalah gumiho – bagaimana dia bisa begitu sombong padahal Tae-wung tak akan membelikannya daging sapi? Tae-wung juga bilang kalau Mi-ho seharusnya takut dan mengancamnya – harusnya Mi-ho menakutinya dan Tae-wung akan ketakutan. Setelahnya, dia akan ingat kalau Mi-ho adalah gumiho dan bukan manusia. 

Mi-ho berkata kalau dia tak ingin menakuti Tae-wung lagi dan Tae-wung sebaiknya hanya memikirkan Mi-ho sebagai manusia saja. Tae-wung tidak bisa menerimanya dan berkata, “Kau gumiho! Kau hidup dengan ekormu. Kau punya sembilan ekor!”


Tae-wung meminta Mi-ho untuk berakting seperti itu, jadi mereka mulai beraksi sambil membawa daging Mi-ho dan Mi-ho mengancam akan memakan Tae-wung dan mengambil nyawanya. Tae-wung pergi tidur sambil bernyanyi dan menyatakan pada dirinya sendiri, garis perbedaan mereka harus tetap jelas dan mengulangi kata-katanya berkali-kali, “Gumiho, gumiho…”...(hehehe...).


Dong-ju bangun karna mimpi buruk tentang cintanya yang hilang yang mirip dengan Mi-ho yang terjadi berabad-abad lalu. Dalam mimpinya, gadis itu mengatakan pada Dong-ju kalau kalau dia sudah jatuh cinta pada seseorang dan menanyakan cara untuk bisa menjadi manusia. Dong-ju lalu mengatakan pada gadis itu untuk membunuh pria yang dia cintai yang tentu saja tidak bisa dia lakukan. Gadis itu malah meminta Dong-ju untuk membunuhnya saja dan Dong-ju menurut. Dong-ju terbangun dengan gemetaran dan menangis.


Tae-wung menghitung hari untuk mengetahui sisa hari dari kontrak mereka. Dia mencoba untuk meyakinkan dirinya kalau semua ini akan kembali seperti semula. Dia mencoba sebaik mungkin untuk menjaga jarak antara dirinya dengan Mi-ho. Tae-wung menjelaskan pada Mi-ho kalau ini adalah jarak hubungan mereka dan saat 100 hari berakhir, dia tidak akan menyusahkan dirinya dengan mencari tahu kemana Mi-ho pergi atau apa yang Mi-ho lakukan. Tae-wung pergi dan Mi-ho melambaikan tangan. Tae-wung meminta Mi-ho melambai dengan sikap mengancam dan Tae-wung bersikap seperti manusia yang ketakutan serta berjanji akan membawakan daging sapi. Mi-ho tak suka pada sikap dingin Tae-wung.

Mi-ho bertemu dengan 'Guru Dong-ju' dan bertanya apakah dia harus memberitahukan Tae-wung kalau dia ingin menjadi manusia. Dong-ju mengatakan kalau Mi-ho seharusnya tidak mengharapkan perasaan Tae-wung sebab dia tidak punya hal-hal yang manusia inginkan – uang, bakat, cara mendapatkan uang dsb. Dong-ju berujar dengan marah bahwa dia tidak bisa mengerti kenapa Mi-ho ingin berhenti menjadi makhluk spesial, yang kuat, dan malah ingin menjadi manusia yang rendah. 

Mi-ho bertanya apakah Dong-ju baik-baik saja dan meletakkan tangannya di pipi Dong-ju lalu bertanya dengan manis apa Dong-ju sedih. Air mata Dong-ju mengalir tapi dia berkata tidak apa-apa. Mi-ho menawarkan jus sayuran yang dia simpan untuk Tae-wung pada Dong-ju lalu pergi.


Hye-in dan Tae-wung mendapat telpon untuk bertemu dengan sutradara Ban dan saat menunggu di kantor Du-hong, Hye-in mengeluarkan beberapa jurus untuk memecah kebekuan antara dirinya dan Tae-wung. Hye-in dengan sengaja pura-pura tersandung dan terjatuh karena DVD dan kemudian mereka menyusun DVD itu sambil menunggu Sutradara Ban. Ini cukup untuk membuat mereka berbaikan lagi.


Mi-ho kembali ke departemen store dan memandangi camcorder yang Tae-wung inginkan. Mi-ho berkhayal, membelikan benda itu untuk Tae-wung dan Tae-wung benar-benar menghormatinya sebagai manusia dan hal itu juga membuat Tae-wung sangat bahagia karna bisa mendapatkan camcorder yang sangat diidamkan olehnya itu.

Di rumah, Tae-wung melihat cincinnya dan kalender, dia mendesah kalau masih tersisa 93 hari. Waktu berjalan begitu cepat dari yang dia kira. Dia heran kenapa Mi-ho tak ada di rumah jadi dia menelponya. Tapi Mi-ho sedang sibuk mencuci piring di restoran agar dia bisa mendapatkan uang untuk membelikan camcorder buat Tae-wung. Sedangkan, Tae-wung duduk di rumah. Menunggu dan menunggu serta semakin kesal. Ia pikir Mi-ho mungkin nongkrong di tempat Dong-ju!


Tae-wung ingin menelpon Dong-ju tapi membatalkannya untuk menyelamatkan harga dirinya. Mi-ho akhirnya menelpon balik dan khawatir mendengar di suara Tae-wung. 


Dia bertanya Mi-ho ada dimana tapi yang Tae-wung dapat adalah jawaban singkat, “Aku sibuk. Jangan menelponku. Jangan menungguku.” Mi-ho menutup telponnya untuk kembali bekerja yang membuat Tae-wung terpaku lalu berteriak pada hp-nya dengan penuh rasa tidak percaya. Tae-wung berteriak, “Lihat saja aku takkan menelponmu lagi!” Tapi, dia menunggu Mi-ho semalaman.


Tae-wung menelpon Mi-ho lagi. Mi-ho: “Kenapa kau menelponku lagi? Aku sibuk.” Tae-wung: “Kau seorang gadis dan kau sudah keluar semalaman!” Mi-ho: “Wung, aku gumiho.” Tae-wung ingat kalau dia lupa lagi dengan apa yang dikatakannya dan bersumpah kalau dia tak akan menelpon lagi. Tae-wung mengeluarkan baterai hp nya dan pergi tidur.

Tae-wung bangun di pagi hari dan menemukan Mi-ho sudah di rumah tapi Mi-ho sudah bersiap-siap untuk pergi lagi. Tae-wung berkeras kalau saat ini dia bukan sedang menunggu atau apa tapi dia hanya ingin tahu apa yang Mi-ho lakukan. Mi-ho tidak punya waktu untuk berbicara dan bergegas pergi dengan mengatakan kalau dia sibuk. Sekarang semuanya terbalik. Tae-wung yang menunggu Mi-ho sekarang. Dia makan sendiri dan mengeluh kalau Mi-ho terlambat lagi hari ini. Tae-wung mendesah saat dia menyilang tanggalan di calendar. Tae-wung menelpon Mi-ho tapi kali ini Mi-ho mematikan hp-nya.


Tae-wung bangun di melihat kalau Mi-ho bahkan tidak pulang tadi malam. Dia berpikir untuk menelpon Dong-ju tapi kemudian dia merubah pikirannya. Saat Mi-ho masuk. Tae-wung menarik pergelangan tangan Mi-ho dan minta diberitahu dia kemana saja, “Apa kau bersama Dong-ju selama ini?” Mi-ho tersenyum dan akhirnya menyerah. Dia memang bersama Dong-ju. Tae-wung bertanya apakah Mi-ho akan pergi tiap malam dan tanpa basa-basi, Mi-ho menjawab kalau dia akan ke tempat Dong-ju, “Kalau kau sapi biasa, Dong-ju adalah sapi liar!”


Ternyata itu  hanya mimpi Tae-wung. Tae-wung bangun dan memaki dirinya karena sudah bermimpi seperti itu. Tae-wung memutuskan ini karena dia telah menunggu gumiho – semua ini menyebabkan dia memimpikan mimpi aneh itu. Dia lalu menyilang tanggal di calendar lagi dan meyakinkan dirinya kalau dia sebaiknya tidak membebani diri dengan memikirkan Mi-ho.

Mi-ho menghitung uang dengan ajumma penjual ayam dan berkata kalau mencari uang itu ternyata susah. Ajumma mengatakan kalau Mi-ho adalah tukang makan yang hebat, jadi dia punya pekerjaan bagus untuk Mi-ho. Ajumma mengajak Mi-ho ke tempat syuting sebuah acara home shopping dimana mereka sedang membuat iklan tentang daging sapi. Yang harus mereka lakukan hanyalah makan – pekerjaan yang sangat sempurna buat Mi-ho. Dia melakukan pekerjaan itu dengan gembira dan Tae-wung melewatkan penampilan perdana Mi-ho di televisi, saat dia sedang bertanya-tanya dimana sebenarnya Mi-ho.

Byung-su melihat Mi-ho di TV dan Tae-wung shock dan merasa terganggu melihat Mi-ho dan marah karna Mi-ho ternyata punya waktu untuk dirinya sendiri. Tae-wung melihat Sutradara Ban dan bibi Min-suk berjalan masuk jadi dia menghalangi TV agar mereka berdua tak melihat mi-ho di TV. 


Tae-wung pulang dan ternyata Mi-ho sedang menunggunya. Mi-ho mengatakan kalau rasanya sudah seabad mereka tidak bertemu dan dia sangat merindukan Tae-wung. Hal itu membuat Tae-wung tenang sedikit tapi kemudian dia mengatakan kalau Mi-ho bersenang-senang di TV dengan ajumma penjual ayam serta meluangkan waktu dengan Dong-ju tapi tidak bisa mengangkat hp-nya sama sekali.


Mi-ho berkata kalau terlalu banyak piring jadi tidak bisa menjawab hp-nya. Dia mengatakan pada Tae-wung kalau dia bekerja keras untuk mendapatkan uang, jadi dia bisa membelikan Tae-wung benda yang paling Tae-wung inginkan – benda yang Tae-wung pilih waktu itu, setelah nonton film. Tae-wung begitu terkesan pada Mi-ho dan tersenyum. Mi-ho berkata kalau Tae-wung akan sangat terkejut pada hadiahnya dan berlari ke atas untuk mengambilnya.(jelaaaas terkejut lah....^_^).

Tae-wung menunggu sambil terkekeh dan berkata kalau tidak ada kejutan bila Mi-ho memberitahukan apa hadiahnya. Mi-ho melompat dari atas dengan riuh dan memberikan Tae-wung… spanduk iklan camcorder yang sangat Tae-wung inginkan! Tae-wung tahu maksud Mi-ho baik, hanya saja Mi-ho berpikiran salah dan Tae-wung sama sekali tidak memberitahu Mi-ho kalau dia membelikan hadiah yang salah. Dia bahkan memuji kemampuan Mi-ho memberikan hadiah dan mengatakan kalau dia akan meletakkan hadiah itu di samping tempat tidurnya. Ini adalah hal yang paling dia inginkan.


Tae-wung bertanya pada Mi-ho apa susah cari uang. Ketika Mi-ho mengatakan berapa pemilik restoran itu membayarnya untuk mencuci piring, Tae-wung kaget dan langsung menuju ke restoran itu untuk bertemu dengan pemiliknya dan memberikan sedikit ceramah. Tae-wung mendapatkan sisa gaji Mi-ho dan memberikan uang itu pada Mi-ho. Mi-ho mengatakan kalau pria itu pasti sudah memanfaatkan dirinya karena dia terlihat bodoh. Tapi Tae-wung menghiburnya dengan mengatakan kalau Mi-ho tidak bodoh. Dia hanya berbeda karena dia gumiho. Tae-wung meminta Mi-ho untuk tidak membiarkan ekornya terkulai.


Hye-in membeli sebuah camcorder dan ia pun membelikan satu untuk Tae-wung. Sun-nyeo memberi sebuah info pada Hye-in: Tae-wung belum sembuh benar dari kecelakaannya tapi dia terus bekerja demi cinta karena Mi-ho. Hye-in tidak suka pada kenyataan itu. Tae-wung menuju studio untuk mencoba kostum dan meminta Mi-ho untuk menunggunya. Nanti malam, dia juga akan mengajak Mi-ho makan di luar. Mi-ho gembira dan berkata, “Kencan?” Tae-wung mengatakan kalau ini acara jalan-jalan dan Mi-ho langsung manyun. (hehehe...)


Sutradara Ban dan Bibi Min-suk pulang makan siang dan bibi melingkarkan tangannya pada Du-hong saat mereka berjalan bersama. Tapi kemudian Sun-nyeo muncul bersama Hye-in dan Du-hong ketakutan. Dia mendorong Bibi Min-suk dengan kekuatan yang bisa dibilang besar hingga Bibi Min-suk terpelanting jatuh ke lantai. Sun-nyeo mendekati ayahnya dan Du-hong sama sekali tak memperkenalkan Bibi Min-suk di depan putrinya. Bibi Min-suk sangat kecewa karenanya.


Hye-in kebetulan melihat Bibi Min-suk dan bertanya apa bibi baik-baik saja. Bibi Min-suk mengenali wajah Hye-in dari hp Tae-wung dan bertanya apa dia pacar Tae-wung. Hye-in mengatakan kalau dirinya hanya teman tapi ketika Bibi Min-suk mengaku kalau dia tahu sedikit tentang pacar Tae-wung, Hye-in melihat sebuah kesempatan. Hye-in berkata bohong kalau bukan dia pacar Tae-wung dan dia berpikir kalau Mi-ho, pacar Tae-wung, menempel Tae-wung karna punya sebuah rencana untuk mendapatkan uang Tae-wung. Hye-in mengatakan pada Bibi Min-suk kalau Tae-wung cedera serius tapi terus melakukan syuting film atas permintaan Mi-ho.

Saat Hye-in hendak beranjak dari tempat itu, ia melihat Mi-ho dan merasa ketakutan karna ternyata ada Mi-ho di belakangnya. Mi-ho berhadapan dengan Hye-in yang baru saja mengatakan hal bohong tentang dirinya. Dan saat Hye-in membela diri, Mi-ho malah menakuti Hye-in. Gadis jahat itu pergi dengan jengkel dan berharap seharusnya dia bisa  berkata lebih banyak. Hye-in memutuskan untuk menggunakan camcorder itu untuk mengirim pesan pada Mi-ho. 


Pesan itu dikirim ke rumah dan Mi-ho membukanya dan sadar kalau benda ini sebenarnya yang dinginkan Tae-wung. Mi-ho memandangi hadiahnya dan sadar betapa dangkalnya dirinya.


Di tempat lain, Bibi Min-suk mengatakan pada kakek tentang kecelakaan yang terjadi pada Tae-wung serta keterlibatan Mi-ho yang terus saja memaksa Tae-wung untuk tetap main film yang bertentangan dengan nasehat dokter. Kakek marah. Mi-ho pergi untuk menemui Dong-ju dan dia berkata kalau dia tahu dirinya adalah makhluk yang berbeda tapi hari ini dia sadar kalau dia sangat bodoh. Dong-ju memberitahu Mi-ho kalaupun dia menjadi manusia, dia tidak akan bisa bersama Tae-wung. Dengan orang lain, yang berpikir kalau Mi-ho bodoh atau ketinggalan, Mi-ho bisa belajar dan banyak tahu. Tapi dengan Tae-wung, yang tahu kalau Mi-ho berbeda, semuanya tidak akan berhasil. Mi-ho menunduk lesu.

Saat Tae-wung menyelesaikan pekerjaannya, dia menolak ajakan Byung-su untuk keluar. Dia berkata kalau dia menerima hadiah dari Mi-ho jadi dia akan membawakan daging untuk Mi-ho di rumah. Byung-su heran sebab Tae-wung lebih sering membawakan daging ketimbang bunga. Tae-wung berkata, “Mi-ho-ku berbeda.” Dia mengatakan kalau Mi-ho tidak suka bunga. Atau… tunggu. Dia sadar kalau dia benar-benar tidak tahu sebab dia tidak pernah bertanya.

Jadi Tae-wung pulang ke rumah sambil membawa buket bunga raksasa. Dia berhenti di depan pintu masuk dan berpikir kalau rasanya aneh memberikan bunga pada gumiho tapi kemudian dia melihat spanduk camcorder-nya di tempat sampah. Tae-wung membawanya masuk dan melihat hadiah Hye-in, serta sadar kalau Mi-ho sudah tahu hadiahnya bukanlah hadiah yang Tae-wung inginkan.


Mi-ho pulang malam itu dan kaget waktu berjalan di ruangan yang gelap. Di tengah-tengah ruangan, hanya ada sebuah cahaya di atas spanduk camcorder. Tae-wung keluar dari balik spanduk itu dan bertanya kenapa Mi-ho membuangnya. Mi-ho berkata kalau bukan benda itu yang Tae-wung inginkan. Tae-wung mengakuinya – itu bukan apa yang dia inginkan tapi spanduk itu hadiah dari Mi-ho jadi sekarang itu yang dia inginkan dan dia akan belajar menyukainya.


Setelah itu, Tae-wung memberikan bunga pada Mi-ho yang membuatnya senang. Mi-ho berkata kalau dia menyukai bunga itu. Tae-wung terkejut karna itu tak seperti dugaannya. Mi-ho menyukai bunga seperti gadis biasa. Tae-wung berkata kalau dia tidak tahu sebab Mi-ho berbeda. Tapi dia senang karena Mi-ho menyukainya. Mi-ho masih tetap sedih karna tak bisa memberi Tae-wung hadiah yang Tae-wung inginkan. 


Tae-wung membenarkan Mi-ho – Mi-ho salah soal keinginan Tae-wung. Tapi Tae-wung juga melakukan kesalahan yang sama karna Tae-wung juga tak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Mi-ho. Tae-wung berkata kalau mereka akan memperbaiki semua itu dengan belajar mengerti satu sama lain dan hidup dengan menyamakan selera mereka. Mi-ho berkata kalau mulai dari sekarang dia akan bertanya segala hal pada Tae-wung. Dan dia langsung memulainya.



Mi-ho: Sekarang, seberapa besar rasa takutmu padaku?
Tae-wung: Sejujurnya, aku tidak takut padamu sama sekali. Aku hanya berpura-pura sebelumnya.
Mi-ho: Apa kau benci tinggal bersamaku?
Tae-wung: Sejujurnya, aku tidak membencinya. Aku rasa aku mulai terbiasa denganmu.
Mi-ho: Kalau begitu… mulai dari sekarang… apa mungkin kalau kau mulai menyukaiku? Meski aku berbeda darimu, tak bisakah kau menyukaiku?
Tae-wung memandangi wajah Mi-ho. Dia menelan ludahnya dan saat dia mulai berpikir kalau dia mungkin bisa mulai menyukai Mi-ho, sebuah daun jatuh dari buket itu dan Tae-wung menangkapnya dengan tangannya.

Tae-wung berusaha menyingkirkan daun itu dan akan menjawab… Saat kakek tiba-tiba masuk dan mengganggu saat-saat berharga itu. Kakek bilang kalau semuanya sudah berakhir – mereka harus berpisah. Kakek membentak Tae-wung agar dia mengemasi barang-barangnya.