Pagi hari di istana, Ibu Suri, Raja dan Ratu sedang sibuk membicarakan berita yang muncul di Koran. Kebanyakan mereka meliput tentang kedatangan Ibu Yeol. Ibu Suri merasa kesal kenapa Ibu Yeol datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Raja malah berkata tak ada salahnya mereka kembali setelah hidup sekian lama di Negara asing. Sambutlah mereka dengan hangat sebagai bagian dari anggota keluarga kerajaan.
Ibu Suri setuju dengan kata-kata Raja. Tapi dia merasa kalau kedatangan Ibu Yeol akan membuat punyusunan silsilah keluarga mereka dan masa depan istana menjadi kacau lagi. Mereka harus secepatnya mendapatkan keturunan Pangeran baru. Karna itu, mereka harus cepat-cepat menyuruh Shin untuk sekamar dengan Chae-gyeong agar silsilah keluarga jadi terlihat jelas. Tentu saja Ratu menentangnya karna Shin dan Chae-gyeong masih sangat muda. Mereka juga masih sekolah. Ibu Suri berkata mereka sudah cukup umur untuk melakukan hal itu. Raja hanya terdiam mendengarkan.
Sementara itu, Chae-gyeong masuk ke kediaman Shin dengan hati gembira karna peristiwa di pesta tadi malam. “Kita harus bersiap-siap untuk memberi salam, apa kau sudah siap?” tanya Chae-gyeong pada Shin yang sedang asyik membaca buku. Shin hanya diam tanpa mempedulikan ucapan Chae-gyeong.
“Tentang semalam, aku sangat tersanjung. Aku merasa seakan menjadi tokoh utama dalam cerita dongeng. Terutama di depan banyak orang, di depan banyak orang asing. Aku merasa seperti orang bodoh. Aku malu saat sepatuku terjatuh. Dan saat itu….” Kata Chae-gyeong dengan penuh semangat, tapi kata-kata Chae-gyeong terhenti mendengar ucapan Shin yang dingin. “Cerita dongeng itu tlah berakhir. Jadi, berhentilah bermimpi” kata Shin. Tentu saja Chae-gyeong sedih mendengarnya.
Apalagi Shin juga berkata agar Chae-gyeong tak mengenakan rok yang pendek karna kaki Chae-gyeong sangat besar. Bahkan seekor sapi pun bisa mati jika ditendang oleh Chae-gyeong. Wakkkkk…..Tentu saja Chae-gyeong tak terima mendengar ucapan Shin itu. Tapi saat dia hendak memarahi Shin, asisten Shin datang dan mengatakan mereka harus menyampaikan salam pada para tetua sekarang.
Di sekolah, Chae-gyeong masih jengkel dengan kata-kata Shin. Tapi Shin tak mempedulikannya. Chae-gyeong masuk ke dalam kelas, dia mencoba menyapa Yeol, tapi Yeol pergi begitu saja tanpa mempedulikannya. Tentu saja Chae-gyeong bingung karnanya. Salah seorang teman sekelasnya berkata kalau wali kelas Chae-gyeong menunggu Chae-gyeong di kantor.
Chae-gyeong menemui wali kelasnya si kantor. Wali kelasnya menyuruh Chae-gyeong untuk duduk. “Sam, aku benar-benar lupa kalau ada tes. Jadi aku belum siap. Sebenarnya ini karna harus selalu mengucapkan salam di pagi hari” kata Chae-gyeong. Wali kelas Chae-gyeong malah langsung memberikan kertas kosong pada Chae-gyeong dan meminta Chae-gyeong untuk tanda tangan. Tentu saja Chae-gyeong bingung menghadapinya.
“Tanda tangan apa?” tanya Chae-gyeong dengan bingung. “Keponakanku, ingin aku memberikannya tanda tangan putri” jelas wali kelas Chae-gyeong. “Benarkah?” tanya Chae-gyeong yang wajahnya kini berseri-seri. Wali kelas Chae-gyeong membenarkan ucapannya. Kemudian Chae-gyeong menandatangani kertas itu dengan semangat.
Sementara itu di kelas balet, teman-teman Hyo-rin sibuk membicarakan Hyo-rin yang sekarang ternyata tlah dicampakkan oleh Shin. Mereka juga berkata, kalau mereka adalah Pangeran, maka mereka akan memilih Min Hyo-rin daripada Shin Chae-gyeong. Mereka merasa kasihan pada Hyo-rin. Hyo-rin mendengarkan percakapan mereka dengan sedih.
Mereka juga berkata, mereka kasihan pada Hyo-rin yang harus selalu bertemu dengan Shin setiap hari di sekolah. Mereka bahkan juga satu klub di klub berkuda. Kalau mereka jadi Hyo-rin, mereka akan segera pindah agar tak melihat Shin dan Chae-gyeong selalu bersama.
Hyo-rin teringat kenangan masa lalunya dimana dia pernah pergi berdua dengan Shin naik kereta api. Shin terlihat senang dan Hyo-rin juga senang karna bisa melihat wajah Shin setiap saat.
“Hei, Hyo-rin, apa kau dengar berita yang berhubungan dengan kemunculan Yeol? Sebagai salah seorang calon pewaris, Pangeran kedua tlah muncul sekarang” kata Kang-in yang muncul bersama dua orang rekannya. Membuat lamunan Hyo-rin jadi buyar.
Mereka juga berkata sangat menyukai penampilan alami Ibu Yeol saat di pesta kemarin malam. Kang-in juga berkata kalau Shin dan si bebek itu terlihat sangat cocok. Tentu saja ucapan mereka menyinggung Hyo-rin dan membuat Hyo-rin bangkit dari duduknya untuk pergi meninggalkan mereka.
Di istana, Chae-gyeong sedang sibuk menjahit sesuatu. Ternyata Chae-gyeong membuat sebuah bantal besar yang terdapat gambar Shin yang sedang tersenyum di salah satu sisi dan sedang marah di sisi yang lain. Begitu selesai, Chae-gyeong membawa bantal itu ke kamar Shin yang sedang sibuk membaca buku. Chae-gyeong duduk di depan Shin.
“Kau tahu? Shin-gun terlihat tampan saat tersenyum. Saat pertama kali aku melihat Shin-gun, aku penasaran kenapa dia tak pernah tersenyum. Tapi sekarang akhirnya aku sadari kalau ternyata dia sangat suka tersenyum. Sering-seringlah tersenyum, itu akan membuatmu jadi tampan. Dan juga, aku memasang gambar Shin di sisi yang lain” ucap Chae-gyeong sambil memperlihatkan kedua sisi bantal barunya. Sayangnya Shin cuek-cuek aja. Chae-gyeong pun terdiam.
“Ku harap kau tak lupa dengan ucapanmu” kata Chae-gyeong. “Apa?” Shin balik bertanya. “Apa maksudmu? Kau pernah bilang kau akan membiarkanku pulang ke rumahku. Aku tak bisa melihat orangtuaku saat mereka datang kemari” kata Chae-gyeong. Sayangnya Shin tak menyetujui usul Chae-gyeong karna Chae-gyeong belum selesai dengan pelajarannya. Kenapa Chae-gyeong sempat membuat boneka itu, sementara dia masih belum bisa menyelesaikan pelajarannya. Tentu saja Chae-gyeong kesal mendengar kata-kata Shin kemudian segera berlalu dari kamar Shin bersama boneka barunya.
Di kamarnya, Chae-gyeong yang kesal melampiaskan kekesalannya pada boneka Shin. Dia memukulinya dengan bertubi-tubi. Shin yang sedang mengamati kameranya merasa terganggu dengan suara berisik Chae-gyeong segera mencari asal suara berisik itu dan melihat Chae-gyeong sedang sibuk bergulat dengan boneka barunya. Tapi kemudian Shin malah membidikkan kameranya ke arah Chae-gyeong yang sedang marah.
Keesokan harinya, Chae-gyeong bersuap-siap untuk memberikan salam seperti biasanya. Saat dia menuju ke kediaman para tetua, ternyata Shin sudah datang. Ibu Suri memuji gaun Chae-gyeong yang cantik pagi ini. Raja pun ikut memuji Chae-gyeong yang membuat suasana pagi itu jadi segar dengan gaunnya yang berwarna hijau.
“Pangeran sudah beranjak jadi dewasa, Omma Mama. Dia datang padaku pagi-pagi sekali dan meminta ijin untuk tinggal di rumah Chae-gyeong untuk beberapa hari” kata Raja pada Ibu Suri. Chae-gyeong kaget dan senang mendengar ucapan Raja. “Bagiku, ini ide yang baik untuk Pangeran tinggal di tempat yang berbeda untuk beberapa hari. Ini akan baik untuk membantu mendapatkan seorang pewaris keluarga kerajaan yang baru. Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia?” tambah Raja.
“Ini pernikahan yang baru, para mempelai memang seharusnya tinggal di rumah besan saat upacara pernikahan selesai. Bukankah seperti itu adat di negri kita? Aku juga berpikir mungkin Putri juga rindu akan rumah. Bagaimana pendapatmu Ratu?” tanya Ibu Suri. “Apa yang anda katakana sangat masuk akal, Yang Mulia. Jadi bagaimana menurut pendapatmu, Putri? Kau tak punya rencana lain, kan?” tanya Ratu pada Chae-gyeong.
Dengan wajah berseri-seri Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin cuek-cuek aja. “Tidak, aku sangat menyetujui usul itu” ungkap Chae-gyeong sambil tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada para tetua, hingga membuat Shin merasa kesal dengan tingkahnya.
Shin keluar mendului Chae-gyeong. Shin masih kesal dengan tingkah Chae-gyeong tadi. Chae-gyeong berusaha mengejar Shin. Seorang dayang yang berdiri di depan mereka mencoba mencegah Chae-gyeong berlari-lari di dalam istana. Tapi dia malah kaget melihat Yeol yang ternyata sudah ada di situ, memandangi kepergian Shin dan Chae-gyeong dengan tatapan tak suka. Yeol juga datang untuk mengucapkan salam pada para tetua.
Chae-gyeong terus mengejar Shin lalu kemudian memegang lengan Shin dan kemudian mengucapkan terimakasih pada Shin karna tlah meminta ijin pada Raja untuk pulang ke rumah Chae-gyeong selama beberapa hari. Shin dengan cuek malah bertanya berapa ruangan yang ada di rumah Chae-gyeong karna Shin butuh sebuah kamar untuk dirinya sendiri.
Iring-iringan yang membawa Shin dan Chae-gyeong menuju rumah Chae-gyeong tiba dengan selamat disana. Chae-gyeong sangat semangat sekali pulang ke rumahnya. Ayah dan Ibunya menyambut kedatangannya dengan suka cita. Sementara itu para wartawan sibuk meliput tentang keberadaan Shin dan Chae-gyeong di rumah orangtua Chae-gyeong. Seperti biasa, Chae-jun yang masih tergila-gila masuk tv sibuk cari perhatian ke media.
Malam harinya, mereka menjamu Shin. Ibu Chae-gyeong meminta Shin mencicipi masakan yang di masak oleh Ayah Chae-gyeong dan jangan hanya makan nasi putih saja. Chae-gyeong bercerita setiap hari Shin bertugas untuk mencicipi makanan yang akan disajikan untuk Raja.
Chae-jun menggoda kakaknya yang terus saja memanggil Shin dengan sebutan Shin-gun. Harusnya Chae-gyeong memanggil Shin dengan sebutan Pangeran atau Sayang. Shin tertawa senang mendengarnya dan setuju dengan usul Chae-jun. mereka berdua terlihat kompak.
Chae-gyeong bilang, di istana ada beberapa makanan yang tidak boleh dimakan oleh Keluarga Kerajaan. Seperti misalnya makanan kesukaan keluarga Chae-gyeong. Sang Chu-sam (nasi, kimchi dan daging yang dibungkus dengan daun selada). Di istana juga tak boleh berlari-lari. Mereka harus berjalan tanpa suara. Ada begitu banyak aturan yang ada di istana.
Ibu Chae-gyeong tahu, aturan di istana memang ketat. Tapi kenapa tidak boleh makan Sang Chu-sam. Chae-gyeong berkata dia juga tak tahu kenapa hal itu dilarang. Mereka pun mengecam peraturan itu.
Sementara di istana, Raja sedang berdua di kediamannya dengan permaisurinya. “Aku khawatir dia tak bisa melakukannya dengan baik. Maksudku Pangeran” kata Ratu. Raja memandangi istrinya. Kemudian tertawa. “Dia bukan pergi ke tempat yang berbahaya. Sesuatu yang sulit akan jadi mudah untuk Shin sejak Putri ada bersamanya” jawab Raja.
“Selain pergi ke luar negeri, ini adalah pertama kalinya dia menghabiskan waktu di tempat yang baru” kata Ratu lagi. “Jika dia hanya pergi ke sekolah dan ada di istana, bukankah sosialisasinya dengan dunia luar jadi kurang? Kita berpikir yang positif saja untuk memberinya kesempatan bertemu dengan orang-orang yang baru di sisi dunia yang lain” jelas Raja. Ratu pun setuju pendapat Raja.
Shin sedang minum teh bersama keluarga Chae-gyeong di ruang tamu. Ayah Chae-gyeong berkata pada Shin untuk tidur di kamar utama, kamar Ayah dan Ibu Chae-gyeong karna itu kamar yang terbaik yang ada di situ. Tapi Shin menolaknya. Dia bilang jangan memperlakukannya terlalu formal. Dia hanya minta kamar yang biasa saja.
Shin minta keluarga Chae-gyeong memperlakukannya sebagai anggota baru keluarga mereka. Shin tak perlu perlakuan khusus. Dia hanya ingin menikmati hidup di tengah keluarga barunya. Itulah kenapa dia juga tak membawa sekretaris Kim, asisten pribadi maupun bodyguardnya.
Shin bilang dia ingin memakai kamar Chae-jun. Chae-jun kan bisa tidur di atap dengan menggelar tenda. Tentu saja Chae-jun kaget mendengarnya. Dia tak yakin akan bisa belajar menghadapi ujian dengan baik kalau dia harus tinggal di dalam tenda di atas atap yang dingin. Shin tertawa. Ternyata dia hanya bercanda. Mereka pun ikut tertawa karnanya.
“Kalau begitu itu berarti kami akan tidur di kamar yang sama” kata Shin tiba-tiba. Tentu saja semuanya kaget mendengar perkataannya. “Kenapa? Apa kalian takut sesuatu yang buruk akan terjadi?” tanya Shin sambil memandangi kekagetan mereka semua. Bahkan Ayah Chae-gyeong sampai tersedak saat hendak menjawabnya.
Ayah dan Chae-jun masuk ke dalam kamar. Ibu Chae-gyeong menyusulnya. Mereka tak tahu harus berkata apa untuk mencegah Shin dan Chae-gyeong untuk tidur sekamar karna mereka berdua masih sekolah, bagaimana kalau sesuatu yang tak diharapkan terjadi.
Chae-gyeong mengajak Shin masuk ke dalam kamarnya. Shin terkejut melihat kamar Chae-gyeong yang sempit. Chae-gyeong belajar, makan, tidur dan melakukan semua hal di dalam kamarnya. Chae-gyeong berkata, itulah kenapa dia ingin Shin tidur di kamar orangtuanya saja. Chae-gyeong minta Shin keluar untuk tidur di kamar ortunya saja. Tapi Shin tak setuju.
Shin bilang dia taka pa tidur di situ. Tapi ada masalah besar. Kasurnya Cuma ada satu. Tiba-tiba Shin merangkul Chae-gyeong. Chae-gyeong kaget karnanya. “Kau dan aku adalah dua orang, sedangkan kasurnya cuma satu. Chae-gyeong kebingungan tak tahu harus bagaimana.
“Apa kau mulai gila sekarang? Aku sudah tidur di kasur ini selama 19 tahun. Kau tiodur saja di lantai” kata Chae-gyeong. “Selama 19 tahun, aku sudah tidur di kasur yang sebesar kamarmu” kata Shin sambil melepas jaketnya. “Hei, kenapa kau melepas jaketmu?” Chae-gyeong agak malu. Shin tertawa mengejek. Chae-gyeong mulai panik.
Kemudian Chae-gyeong langsung naik ke kasur dan berkata pada Shin untuk mengambil selimut dan tidur saja dilantai atau dimanapun Shin suka. “Kenapa aku harus tidur di lantai? Kalau begitu, kita tidur bersama saja” tantang Shin. Tentu saja Chae-gyeong kaget melihat aksi Shin yang langsung tidur di sampingnya.
“Jadi maksud kedatanganmu ke rumahku hanya untuk membuat hiodupku menderita?” tanya Chae-gyeong dengan marah. “Ya” jawab Shin singkat. “Apa kau merasa senang sudah mempermainkan aku?” tanya Chae-gyeong yang tambah marah. “Ya, kau benar. Kau itu seperti mainan baru yang membuat hidupku yang membosankan jadi berwarna” goda Shin. “Apa? Mainan? Lakukan terserah apa maumu, tapi jangan menyesalinya” hardik Chae-gyeong sambil tetap tidur di samping Shin.
“Aku kadang tak bisa tidur dengan tenang. Tapi jangan salahkan aku kalau aku menendangmu sampai jatuh” ancam Chae-gyeong. Kemudian mereka saling menendang di atas kasur Chae-gyeong yang sempit itu. Tak satupun yang mau mengalah.
Sementara itu, Hyo-rin dan Jang-gyeong yang sedang berdua di mobil mendengar siaran berita di radio tentang Shin yang menginap untuk beberapa hari di rumah Chae-gyeong. Hyo-rin terlihat sedih karna berita itu. Jang-gyeong pun langsung mematikan radio di mobilnya.
“Semua itu sangat sulit untukmu kan? Di saat kau ingin melupakannya, kabar tentag mereka malah semakin santer terdengar. “Semuanya akan baik-baik saja. Waktu yang akan menghapus semuanya” hibur Jang-gyeong.
Jang-gyeong menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Tapi Hyo-rin hanya diam saja. “Apa kau tak apa-apa?” tanya Jang –gyeong. “Tak apa-apa. Aku tak apa-apa. Sejujurnya, sebenarnya aku tak begitu baik. Sejak awal, kupikir semua kan baik-baik saja. Tapi semakin berlalunya waktu, aku merasa hatiku sangat sakit seperti sedang berada di neraka. Turunkan aku di yoga center saja” pinta Hyo-rin. Jang-gyeong mengabulkan keinginan Hyo-rin.
Hyo-rin berlatih yoga bersama dengan beberapa orang dengan Ibu Yeol sebagai instrukturnya.
Di kamarnya, Chae-gyeong tak bisa tidur dengan nyenyak. Dia heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia tak bisa membenci Shin yang sangat menyebalkan itu. Kemudian dia melihat ke arah punggung Shin dan kemudian menempelkan kepalanya di punggung suaminya itu. Dia malah kaget dengan tindakannya sendiri kemudian bangkit dari tidurnya.
Dia semakin heran dengan dirinya sendiri. Dia sangat menyukai punggung Shin seperti seekor serigala yang sangat menyukai sinar bulan.
Shin terbangun dari tidurnya. Dia merasa punggungnya basah karna sesuatu. Saat dilihat, ternyata Chae-gyeong ngiler dan membasahi punggungnya. Shin tersenyum melihat Chae-gyeong. Wakkkkkk…..
Di apartemennya, Yeol sedang membaca buku Harry Potter. Ibunya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sampingnya . Kemudian mengambil salah satu dari buku Harry Potternya. “Apa dia sangat menyukai sihir?” tanya Ibunya. Yeol tersenyum tapi tak mengerti maksud Ibunya. “Buku ini, pengarang buku ini” lanjut Ibunya. “Sihir?” Yeol balik bertanya. “Apa kau pikir begitu? Seseorang yang tak punya kerjaan. Seseorang yang bercerai. Mereka masih tetap khawatir dengan hidup mereka. Seseorang, dengan tiba-tiba jadi pengarang yang terkenal di seantero dunia. Apakah dia membuat perjanjian dengan setan dan ini sebagai balasannya. Mungkinkah dia mengkhianati jiwanya sendiri” ceramah Ibu Yeol.
Yeol hanya tertawa mendengarnya. “Kau ceramah mengenai teori tentang manusia lagi” kata Yeol. Ibunya bangkit dari tempat duduknya dan kemudian memeluk Yeol dengan penuh saying.
“Jika dilihat dari jauh, istana terlihat sangat tenang dan damai. Aku sangat menginginkan kedamaian seperti itu. Jika kau bisa menjadi Raja, aku akan membuat perjanjian dengan setan. Ayahmu yang terlupakan, posisi yang seharusnya jadi milikmu. Aku harus mengembalikannya ke tempatnya semula. Inilah alasannya kenapa aku harus tetap hidup” ungkap Ibunya.
Yeol selesai mandi. Dia mengambil handuk, kemudian berdiri di depan cermin. “Bayangan diriku, benar-benar kebalikan dari diriku. Tapi dia masih tetap bagian dari diriku. Aku merasa khawatir dan tak nyaman dengan bayanganku. Aku sedih dan kecewa” kata Yeol pada bayangannya sendiri.
Sementara itu, Shin sedang masuk ke dalam kamar mandi di rumah Chae-gyeong. Shin ingin mengambil sikat gigi, tapi kemudian dia ingat sikat giginya belum di keluarkannya. Jadi dia keluar lagi dari kamar mandi. Saat keluar, dia mendengar suara Ayah Chae-gyeong. Lalu kemudian buru-buru masuk lagi ke kamar lagi.
Di kamar, ortu Chae-gyeong tidur bertiga dengan Chae-jun. Ayah Chae-gyeong sedang membicarakan apa yang harus dilakukan untuk Shin. Apakah mengantar segelas jus atau apa. Di istana pasti lebih nyaman daripada di rumah mereka. Ibunya bilang kalau Ayah ingin melakukannya terserah saja. Tentu saja Ayah merasa tak nyaman kalau melakukannya sendiri. Jadi dia pun membangunkan istrinya dengan paksa.
Mereka berdua pergi ke kamar Chae-gyeong untuk mengantar minuman dan terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Mereka melihat Chae-gyeong tidur sambil memeluk Shin!
Ibu Chae-gyeong naik ke atas tempat tidur. Shin yang kaget berteriak hingga membuat Ibu Chae-gyeong terjatuh. Chae-gyeong terbangun karna ribut-ribut dan dia kaget hingga memukul dan mendorong Shin dari tempat tidur sampai Shin jatuh menimpa Ibunya yang sudah jatuh terlebih dahulu!
Ayah Chae-gyeong ingin Shin pindah ke kamarnya. Tapi Shin terus saja bilang untuk tak memperlakukannya secara istimewa. Kemudian Shin bertanya pada Chae-gyeong apa yang harus dilakukan. Chae-gyeong bilang hal itu takkan terjadi lagi. Tapi Shin tak percaya pada CHae-gyeong yang takkan tiba-tiba memeluknya saat tidur. Chae-gyeong yang ketakutan karna tadi tlah memukul dan mendorong Shin hingga jatuh mengalah dan berkata kalau dia akan tidur di bawah.
Tapi ternyata Shin tak sejahat itu, sebelum tidur lagi, Shin malah ngajak Chae-gyeong untuk suit. Tapi sayangnya Chae-gyeong kalah. Jadi Chae-gyeong terpaksa harus tidur di bawah. Hihihihi………chae-gyeong tak bisa tidur dengan tenang. Shin pun juga begitu.
Keesokan harinya, Ayah dan Ibu Chae-gyeong sedang sibuk memasak. Shin melihat mereka dengan tersenyum senang. Kedua orangtua Shin sangat mesra walaupun sedang ada di dapur. Chae-gyeong bilang dia ingin makan Sang Chu-sam. Ayah dan Ibunya menyetujuinya. Hanya saja Chae-gyeong harus mengambil daunnya. Chae-gyeong pun meminta Shin untuk menemaninya mengambil selada di kebun keluarga Chae-gyeong.
Chae-gyeong bilang mereka menanamnya tanpa pestisida. Jadi tanaman itu tumbuh secara alami. Jadi tidak berbahaya untuk kesehatan. Chae-gyeong minta Shin untuk mencicipinya karna daun itu bisa langsung dinikmati. Chae-gyeong meminta Shin membantunya mengambil daun-daun itu. Saat perjalanan pulang ke rumah, Chae-gyeong menunjukkan tanaman lain yag ditanam ayahnya, ada bawang merah, kubis, dll. Chae-gyeong bilang harusnya Shin yang membawa tanaman itu karna Shin seorang laki-laki. Shin yang diperintah bukannya marah tapi malah tersenyum. Dia merasa bahagia ada di rumah Chae-gyeong.
Keluarga Chae-gyeong makan Sang Chu-sam dengan nikmat. Mereka bahkan saling menyuapi. Shin yang hanya makan nasi dan daging sangat iri melihat keakraban mereka di meja makan. Chae-gyeong membungkuskan Sang Chu-sam untuk Shin. Tapi Shin merasa agak takut karna di istana, mereka tak boleh memakan itu. Chae-gyeong bilang, mereka sekarang bukan berada di istana, dan Chae-gyeong takkan mengatakan kalau Shin memakan Sang Chu-sam pada siapapun. Jadi Shin pun menikmatinya dengan tenang karna dia-pun jadi menyukainya.
Setelah makan, Chae-gyeong membagikan hadiah untuk keluarganya. Ada jam tangan untuk Ayahnya, kamera digital untuk Chae-jun, dll.
Sementara itu, di istana, para tetua juga sedang menikmati sarapan pagi. Ibu Suri bilang, pangeran pasti juga sedang menikmati sarapan pagi. Saat sarapan Ibu Suri berkata kalau dia ingin Yeol dan Ibunya juga bisa sarapan bersama mereka. Raja menyetujui usul itu. Tapi tidak dengan Ratu. Dia kecewa, tapi juga tak bisa menolaknya.
Di sekolah, Kang-hyeon kaget saat Chae-gyeong bercerita kalau dia tidur sekamar dengan Shin. Sama hal nya dengan teman-teman Shin yang kaget saat mendengar kalau Shin tidur di kamar yang sama dengan Chae-gyeong. Di kasur yang sama dan Shin bercerita dengan tersenyum senang.
Mereka menggoda Shin. Nanti malam mereka akan…. Tapi Shin berkata, mereka takkan sejauh itu. Di masa depan takkan lagi bisa seperti itu. Tentu saja teman-temannya kaget mendengarnya dan bertanya apa maksud Shin. Shin berkata itu bukan apa-apa.
Mereka berkata, Shin harus berhati-hati. Wanita jaman sekarang, kalau laki-laki diam, mereka yang akan beraksi. Jadi Shin harus tetap berhati-hati.
Tak ada bedanya dengan Sun-yeong dan Hee-sung yang terus saja menggoda Chae-gyeong. Dan memberi semangat Chae-gyeong sah-sah saja melakukan semua itu karna bagaimanapun juga mereka itu suami istri. Kang-hyeon yang marah membentak mereka. Sebagai wanita harusnya mereka punya harga diri. Bagaimana mungkin seorang wanita melakukan hal itu. Sungguh memalukan. Chae-gyeong setuju dengan kata-kata Kang-hyeon.
“Aku tak tahu apa yang terjadi. Ayah, Ibu dan bahkan Chae-jun berkata mereka punya banyak kerjaan dan hanya kami berdua yang tak melakukan apapun” batin Chae-gyeong saat dia hanya berdua bersama Shin yang sedang asyik membaca. Chae-gyeong merasa, sejak malam tadi dirinya tidur bersama Shin, dia merasa deg-deg an tiap kali melihat punggung Shin.
Tiba-tiba Shin bilang kalau dia lapar dan bertanya apakah ada yang bisa dimakan? Apakah di rumah Chae-gyeong ada Shin ramen? Wakkkkkk. Dengan agak takut Chae-gyeong mengiyakan. Shin memakan mie nya dengan lahap dan berkata kalau Chae-gyeong pandai sekali memasak mie dan rasanya enak. Ya iyalah, rang mie instant, dah da bumbunya dunk.
Shin membuka lemari es setelah selesai makan. Chae-gyeong melihat punggung Shin dan merasa ingin sekali memeluknya. Chae-gyeong merasa gugup. Dia benar-benar merasa ingin sekali memeluk Shin dari belakang. Tapi dia bukan wanita murahan, dia tak mungkin melakukan hal itu.
Saat batin Chae-gyeong sedang berkecamuk, Shin berkata kalau dia yang akan mencuci mangkuk yang dipakainya untuk makan mie tadi. Chae-gyeong bilang Shin tak perlu melakukan hal itu. Chae-gyeong yang akan melakukannya. Tapi Shin merasa kalau Chae-gyeong menganggap dirinya tak bisa melakukan apa-apa. Jadi Shin tetap ngotot kalau dia yang akan mencuci mangkoknya.
Shin minta Chae-gyeong untuk nonton tv saja saat Shin mencuci mangkok. Tapi Chae-gyeong yang sudah hampir pergi untuk nonton tv kembali lagi dan malah memeluk Shin dari belakang. Tentu saja Shin kaget karnanya. Dan Chae-gyeong pun tersadar tlah melakukan hal yang memalukan.
Di yoga center, Hyo-rin sedang minum the berdua dengan Ibu Yeol. Ibu Yeol berkata, tadi Hyo-rin berlatih yoga dengan sangat gugup, apakah Hyo-rin sedang ada masalah? Hyo-rin menyangkalnya, dia bilang dia hanya terlalu stress mempersiapkan ujian sekolah.
Kemudian tiba-tiba Hyo-rin bertanya tentang hidup Ibu Yeol di Inggris. Ibu Yeol berkata mereka hidup dengan baik disana. Tempat itu sangat cocok untuk dia dan Yeol. Inggris adalah Negara yang sangat menarik. Dimana orang-orang sangat menghormati keluarga kerajaan. Hyo-rin berkata hal itu sangat sama dengan Negara kita.
Ibu Yeol berkata, baru-baru ini Pangeran Charles dan Camilla juga baru menikah. “Apakah kau pernah dengar tentang Camilla?” tanya Ibu Yeol. “Ya. Aku melihat di berita, mereka bilang wanita itu adalah seseorang yang Pangeran Charles cintai” jawab Hyo-rin.
“Mereka sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama sejak lama sebelum mereka menikah. Tapi karna tradisi kerajaan, Pangeran Charles tak bisa menikah dengan Camilla. Bagaimanapun juga, mereka mencoba mengatasi masalah mereka, Pangeran Charles berhubungan dengannya secara sembunyi-sembunyi. Camilla seperti seorang adik baginya” cerita Ibu Yeol.
“Saat semakin sulit menyangkal dari tuduhan Diana, hubungan mereka jadi semakin dekat. Dan pada akhirnya mereka mengakui kalau mereka saling mencintai dan pada akhirnya mereka pun bisa bersama” tambah Ibu Yeol.
Di mobil, Hyo-rin terus saja memikirkan kata-kata Ibu Yeol. “Diana pernah berkata, ‘Pernikahan kita jadi rumit karna ada orang ketiga, yaitu antara Pangeran, Putri dan Camilla. Hubungan cinta segitiga itu berlangsung hampir 30 tahun. Dan pada akhirnya, setelah 35 tahun menunggu, Camilla berhasil menikah dengan Pangeran Charles. Camilla akhirnya menemukan kembali cintanya’ cerita Ibu Yeol.
Jang-gyeong mengantar Hyo-rin sampai ke rumahnya. Tapi Hyo-rin sama sekali belum beranjak turun. Jang-gyeong menawarkan untuk mengajak Hyo-rin berkeliling. Tapi tiba-tiba Hyo-rin berkata, “Min Hyo-rin, tak bisa menyerah seperti ini”. “Apa maksudmu? Menyerah akan apa?” tanya Jang-gyeong. “Dia tak cocok untuk Shin. Shin membutuhkan aku disampingnya” kata Hyo-rin sambil turun dari mobil. Tiba-tiba Hyo-rin kembali lagi, “Tolong bantu aku untuk mendapatkan Shin lagi” pinta Hyo-rin. Jang-gyeong hanya diam. Jadi Hyo-rin melangkah pergi ke pintu rumahnya diiringi tatapan Jnag-gyeong yang merasa Hyo-rin aneh malam itu.
Di rumah keluarga Chae-gyeong, mereka semua sedang asyik bermain. Yang kalah harus siap di pukul. Shin tentu saja satu grup dengan Chae-gyeong. Ibu, Ayah dan Chae-jun berada dalam satu grup jadi lawan mereka. Sayangnya Chae-gyeong dan Shin kalah, lawannya bersorak kegirangan. Saat mereka sibuk bersorak, Shin dan Chae-gyeong berbuat curang dengan menyilakkan taplak hingga membuat gambarnya berubah dan mereka pun menang. Shin dan Chae-gyeong bersorak sambil berpelukan karna menang.
Tentu saja lawannya tak terima, jelas-jelas tadi yang keluar gambar anjing, jadi mereka yang menang, kenapa gambarnya tiba-tiba berubah? Pasti Shin dan Chae-gyeong curang. Tentu saja keduanya menyangkalnya. Jadi Ayah Chae-gyeong bilang, mereka berdua adalah pasangan penipu. Tentu saja mereka bilang mereka bukan penipu.
Ayah dan Ibu Chae-gyeong pun bersorak, kalau behitu, mereka yang menang. Shin dan Chae-gyeong hanya mengiyakan saja karna tak mau kalau disebut pasangan penipu. Hehehehe…..
Karna kalah, mereka harus siap-siap dipukul. Ayah dan Ibu memukul tangan Chae-gyeong dengan keras, tapi memukul tangan Shin dengan lembut agar Shin tak kesakitan. Hanya Chae-jun yang bersikap adil dan memukul Shin seperti dia memukul tangan kakaknya. Tentu saja Shin sangat kesakitan karnanya. Chae-gyeong memarahi adiknya yang memukul tangan Shin dengan keras. Tapi Shin bilang kalau dia taka pa-apa.
Keceriaan yang ada membuat Shin tersenyum senang. Kemudian dia mengamati foto masa kecil Chae-gyeong dan geli melihat foto itu. Dia juga melihat bagaimana keakraban Chae-gyeong dengan Chae-jun adiknya. Dia tertawa senang melihat mereka. Kebahagiaan yang belum pernah dilihatnya saat dia tinggal di dalam istana.
Bersambung………………………………
Sabtu, 23 April 2011
Perhaps Love_Ost. Princess Hours
사랑인가요
By. HowL & J
Ost. Princess Hours
By. HowL & J
Ost. Princess Hours
언제였던건지 기억나진 않아 (eonjeyeotdon-geonji kieoknajin ana)
자꾸 내 머리가 너로 어지럽던 시작 (caggu nae meoriga neoro eojireopdeon sijak)
한 두번씩 떠오르던 생각 (han tubeonssik tteo oreudeon saenggak)
자꾸 늘어가서 조금 당황스러운 이 마음 (caggu neuleogeeseo cogeum tanghwangseureouni maeum)
별일이 아닐 수 있다고사소한 마음 이라고 (pyeolili anil su itdago sasohan maum irago)
내가 네게 자꾸말을 하는게 어색한걸 (naega nege caggumaneul haneunge eosaekangeol )
사랑인가요 그대 나와 같다면 시작인가요 (sarangingayo keudae nawa kathdamyeon sijakingayo)
맘이 자꾸 그댈 (mami caggu keudae)
사랑한대요 온 세상이 듣도록 소리치네요 (sarangandaeyo on sesangi teutdorok sorichineyo)
왜 이제야 들리죠 (wae ijeya teullijyo)
서롤 만나기 위해 이제야 사랑 찾았다고 (seorol mannagi wie ijeya sarang chajatdago)
지금 내 마음을 설명하려 해도 (cigeum nae maeumeul seolmyeongaryeo haedo)
니가 내가 되어 맘을 느끼는 방법 뿐인데 (niga naega twoeo neuggineun pangpeop ppuninde)
이미 난 니안에 있는 걸 (imi nan niane itneungeol)
내 안에 니가 있듯이 (nae ane niga itdeusi)
우린 서로에게 (서로에게) (urin seoroege (seoroege))
이미 길들여진지 몰라 (imi kildeulyeojinji molla)
생각해보면 많은 순간속에 (sanggak haepomyeon mani sungansoke)
얼마나 많은 설레임 있었는지 (eolmana maneun seolleim issoneunji)
조금 늦은 그 만큼 난 더 잘해 줄께요 (cogeum neutceun keu mankheum nan teo calae culggeyo)
함께 할께요 추억이될 기억만 선물할께요 (hamgge halggeyo chueokotwoel kieokman seonmul halggeyo)
다신 내곁에서 떠나지 마요 (tasin naegyeotheseo tteonaji mayo)
짧은 순간조차도 불안한 걸요 (ccalpeun sunganjochado pulanan keolyo)
내게 머물러줘요 (naege memulleojwoyo)
그댈 이렇게 많이 (그토록 많이) (keudael ireoke mani (keuthorok mani))
사랑하고 있어요 (그대 하나만) 이미 (saranghago isseoyo (keudae hanaman) imi)
Apa Ini Cinta
ku tak tahu kapan ini dimulai
sejak itu kepalaku pusing memikirkanmu
hal itu selalu saja terjadi dalam pikiranku
hatiku merasa semakin merindukanmu
tak apa-apa, hanya hal yang kecil
kata-katamu membuatku salah tingkah
apa ini cinta, jika kau merasa hal yang sama
apa kisah kita kan dimulai
hatiku terus berkata bahwa cinta ini untukmu
kenapa ini muncul begitu saja
akhirnya kita bertemu, akhirnya kita temukan cinta
kenapa lama sekali baru aku tahu
jika ingin ku tunjukkan perasaanku padamu
satu-satunya jalan untukmu datang padaku
ku tlah berada dalam hatimu, seperti kau ada dalam hatiku
(kita saling melengkapi) (saling melengkapi)
kita tlah di takdirkan tuk bersama
saat ku berpikir banyak hal tentangmu
ada banyak kenangan yang membuat hatiku bergetar
ku coba lakukan yang terbaik walau terlambat
ku kan bersamamu, ku kan hanya memberimu cinta
jangan biarkan ku pergi lagi
meskipun hanya dalam waktu singkat
tanpamu aku merasa tak nyaman
tetaplah disampingku (kusangat berharap)
(ku tlah sangat mencintaimu) (kau satu-satunya)
ost. Cruel Temptation
용서못해
By. Cha Su-gyeong (차수경)
Ost. Cruel Temptation
By. Cha Su-gyeong (차수경)
Ost. Cruel Temptation
왜너는나를만나서, 왜 나를 아프게만해 (wae neoneun nareul mannaso wae nareul apheugemanae)
내 모든 걸 다 주는데 왜 날 울리니 (nae modeungeol ta cuneunde wae nal ullini)
니가 나를 상처 준 만큼 다시 돌려줄 거야 (niga nareul sangcheo jun mankheum tasi tollyeojul keoya)
나쁜 여자라고 하지마 (nappeun yeojarago hajima)
용서 못해 (yongseo motae)
잔인한 인연은 사랑 같아 (caninhan inyeoneun sarang katha)
길이 아닌데 가다가 멈출 수는 없어 (kili aninde kadaga meomchul suneun opseo)
사랑 끝에 후회가 찾아오면 (sarang kkeuth huhoega chataomyeon)
비로소 남는 건 미움뿐 (piroso namneun keon miumppun)
사랑해달란 애원은 안 해 (saranghaedallan aewoneun an ae)
마음이 떠난 차디찬 눈빛이 싫어서 (maumi tteonan chadichan nunpichi siloseo)
그 마음이 끌리는 그곳엔 (keu maumi kkeullineun keugosen)
또 다른 유혹 있을 테니 (tto tareun yuhok isseul theni)
사랑이 뭔데 숨죽여 가며 (sarangi mwonde sumjukyeo kamyeo)
변해가는 널 잡고 싶었을까 (pyeonaeganeun neol capgo sipheosseulgga)
왜너는나를만나서, 왜 나를 아프게만해 (wae neoneun nareul mannaso wae nareul apheugemanae)
내 모든 걸 다 주는데 왜 날 울리니 (nae modeungeol ta cuneunde wae nal ullini)
나 너를 용서해야만 다시 웃을 수 있나 (na neoreul yongseoaeyaman tasi useul su itna)
나쁜 여자라고 하지마 (nappeun yeojarago hajima)
용서 못해 (yongseo motae)
왜 너는 내가 아는지, 왜 넌 내가 싫은 건지 (wae neoneun naega aneunji, wae neon naega sileun keonji)
내 모든 걸 다 주는데 왜 날 울리니 (nae modeungeol ta cuneunde wae nal ullini)
니가 나를 상처 준 만큼 다시 돌려줄 거야 (niga nareul sangcheo jun mankheum tasi tollyeojul keoya)
나쁜 여자라고 하지마 (nappeun yeojarago hajima)
용서 못해 (yongseo motae)
내 모든 걸 다 주는데 왜날 울리니 (nae modeungeol ta cuneunde wae nal ullini)
니가 나를 상처 준 만큼 다시 돌려줄 거야 (niga nareul sangcheo jun mankheum tasi tollyeojul keoya)
나쁜 여자라고 하지마 (nappeun yeojarago hajima)
용서 못해 (yongseo motae)
사랑이 너무 아파 (sarangi neomu apha)
Ku Takkan Memaafkan
kenapa aku bertemu denganmu, kenapa hanya aku yang terluka
kenapa semua yang kau berikan hanyalah kesedihan
banyak luka yang kau beri, dan kau pergi begitu saja
jangan sebut wanita jahat itu
ku takkan memaafkan
cinta dan benci saling berhubungan
kalau sudah berjalan, tak bisa berhenti
jika cinta berakhir yang ada hanya penyesalan
setelah itu yang tersisa hanya kebencian
cinta ini berubah jadi sebuah permohonan
perasaanmu jadi dingin, sorot matamu penuh kebencian
perasaan itu terpikat pada hati yang lain
kau tergoda wanita lain
kalau cinta kenapa kau tetap pergi
kenapa kau ingin berubah
kenapa aku bertemu denganmu, kenapa hanya aku yang terluka
kenapa semua yang kau berikan hanyalah kesedihan
kalau aku memaafkanmu, apa kan ada senyum lagi
jangan sebut wanita jahat itu
ku takkan memaafkan
kenapa kau bilang tak kenal aku, tak suka padaku
kenapa semua yang kau berikan hanyalah kesedihan
banyak luka yang kau beri, dan kau pergi begitu saja
jangan sebut wanita jahat itu
ku takkan memaafkan
kenapa semua yang kau berikan hanyalah kesedihan
banyak luka yang kau beri, dan kau pergi begitu saja
jangan sebut wanita jahat itu
ku takkan memaafkan
cinta ini terlalu menyakitkan
Fallin'_Ost. My Princess
Fallin’ (Jatuh)
By. Lee Sang-eun (이 상은)
Ost. My Princess
By. Lee Sang-eun (이 상은)
Ost. My Princess
나에게 그 사람 운명이라고 (naege keu saram..unmyeong irago)
언제나 커다란 선물이라고 (eonjena kheodaran seonmul irago)
알면 알수록 더 아파 오는데 (almyeon alsurok teo apha oneunde)
더 아파 할수록 피할 수 없이 (teo apha halsurok phihal su opsi)
점점 더 빠져드네 (ceomjeom teo ppajyeodeune)
커다란 네 어깨 위에 난 (kheodaran ne eoggae wie nan)
이 따뜻한 두 눈망울에 난 (i ttaddeutan tu nunmangeule nan)
빠져드네 (ppajyeodeune)
오오오오오오 오 (o o o o o o o)
어 쩌면 난 정말 어쩔 수 없이 (eo jjeomyeon nan ceongmal eojjeol su opsi)
하지만 더 이상 보낼수 없어 (hajiman teo isang ponaelsu opso)
알면 알수록 더 아파 오는데 (almyeon alsurok teo apha oneunde)
더 아파 할수록 피할 수 없이 (teo apha halsurok phihal su opsi)
점점 더 빠져드네 (ceomjeom teo ppajyeodeune)
이 커다란 네 어깨위에 난 (i kheodaran ne eoggae wie nan)
이 따뜻한 두 눈망울에 난 (i ttaddeutan tu nunmangeule nan)
빠져드네 (ppajyeodeune)
오오오오오오 오 (o o o o o o o)
JATUH
Dia memanggilku sebagai takdirnya
Yang kan selalu jadi hadiah terindah
Tahu hati kadang kan terluka
Dan akan merasa lebih tersakiti
Lebih dan lebih sakit lagi saat dia pergi
Dibalik bahumu yang besar
Senyummu sangat menghangatkan
Seakan mencari tahu
Mungkin aku tak bisa membantu, tapi
Tapi aku tak bisa memberi lebih
Tahu bahwa hati mungkin kan terluka
Dan akan merasa lebih tersakiti
Lebih dan lebih sakit lagi saat dia pergi
Dibalik bahumu yang besar ini
Senyummu sangat menghangatkan ini
Seakan mencari tahu
Princess Hours Episode 6
Pagi itu Shin sibuk mencicipi makanan. Chae-gyeong datang menghampirinya. Asistennya sibuk mencatat. Chae-gyeong menyapa mereka. Asisten pribadi Shin berkata kalau hari ini Chae-gyeong datang lebih awal dari biasanya.
“Aku tak telat kan?” kata Chae-gyeong. “Ya Yang Mulia. Anda 10 menit lebih awal dari biasanya” jawab asisten Shin. Chae-gyeong tersenyum sennag mendengarnya. “Kau tak tidur kan?” tambah Shin. “Bagaimana kau tahu?” tanya Chae-gyeong yang kaget karna Shin tahu semalaman Chae-gyeong tak tidur.
“Apa itu hal yang luar biasa? Kau dating dengan mata mirip mata kelinci” kata Shin dengan enteng sambil terus mencicipi makanan yang akan di hidangkan untuk Raja. “Benarkah? Apa mataku merah sekali? Apa benar mataku seperti itu?” Tanya Chae-gyeong pada para pengawal dan asisten Shin. Mereka semua mengiyakannya. “Lalu apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Chae-gyeong pada Shin. Asisten Shin menjelaskan kalau Shin sedang mencicipi hidangan untuk Raja.
“Kenapa harus dicicipi? Apa takut kalau ada yang meracuni” kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Chae-gyeong. Membuat asisten Shin kaget dan Shin yang kesal mendengarnya melempar sendok yang dipakainya untuk mencicipi.
Sudah sejak sepuluh tahun yang lalu Shin mencicipi hidangan yang akan disajikan untuk Raja dan itu berarti sejak Shin berusia 9 tahun dia sudah melakukan hal itu. Itu menyebabkan dia lebih peka merasakan makanan mana yang cocok untuk kesehatan Raja.
Chae-gyeong yang bosan kembali ke kediamannya. Tiba-tiba dia tersenyum. Ternyata dia melihat Yeol. Yeol sedang membaca sebuah buku dan tertarik karnanya. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Shin menatap mereka dengan muka masam.
Chae-gyeong dan Yeol bermain di istana belakang. Chae-gyeong sangat menikmatinya. Dia bahkan merasa sangat senang sekali bisa bermain-main disitu. Tapi Yeol tak hanya mengajaknya bermain tapi juga mengajarinya berbagai puisi. Chae-gyeong sangat senang karna dia bisa menghafalnya dengan mudah. Chae-gyeong pulang dengan senyum di wajahnya.
Chae-gyeong pulang dengan berseri-seri dan terhenyak saat melihat Shin yang sedang berlatih anggar. Dia mengintip Shin. Shin berbalik danmelihat Chae-gyeong dibalik pintu.
Chae-gyeong tersenyum dan masuk ke dalam. Shin berbalik badan. “Ini benar-benar memalukan. Kemana ilmu yang kau pelajari tentang mengendalikan diri?” kata Shin. “Apa maksudmu?” Tanya Chae-gyeong agak tersinggung. “Apa kau ingat apa yang pernah kukatakan? Ku bilang padamu untuk meningkatkan pengetahuanmu selama kau tinggal di istana” kata Shin. “Kenapa kau membicarakan hal itu dalam situasi seperti ini?” tanya Chae-gyeong tak suka dengan kata-kata Shin.
“Yang ku katakan sebelumnya itu dialog singkat dari Hamlet” kata Shin santai. “O…itu” Chae-gyeong gugup dan salah tingkah. “Kau tak butuh informasi itu saat kau menggambar?” Tanya Shin. “Apa maksudmu?” Tanya Chae-gyeong dengan nada tak suka. “Kau mungkin agak berbakat dalam melukis. Tapi dasar yang kau bawa itu sangat lemah. Benar begitu kan? Lupakan bahwa kau tak pernah membaca novel Shakespeare, tapi kau sepertinya akan mudah jatuh ke tangan orang lain seperti seekor kucing” sindir Shin.
“Hei! Apa maksudmu? Aku benar-benar tak bisa mempercayainya” kata Chae-gyeong setengah berteriak. Shin cuek mendengarnya. Dia meneruskan latihan anggarnya. “Baiklah, jika kau punya banyak pengetahuan yang hebat, kepribadian yang baik, lalu kenapa kau membuatku malu dan tak peduli padaku di hadapan teman-temanku di pesta ultah?” Chae-gyeong balik menyindir.
Shin tak mempedulikan kata-kata Chae-gyeong. “Sekarang ini, kupikir, itu semua bagian dari rencanamu. Kau mengundang Min Hyo-rin dan membuatku terlihat bodoh di depan teman-temanmu” sejenak Shin memandangi Chae-gyeong dengan rasa bersalahnya. “Jika kau benar-benar mencintai Min Hyo-rin, kau harus melakukan sesuatu untuk menikahinya. Kenapa kau harus membuat kesalahan seperti ini dan memperlakukanku seperti ini sekarang? Dasar kau laki-laki jahat dan egois” hardik Chae-gyeong.
“Apa kau bilang? Apa yang baru saja kau katakana?” tanya Shin. “Kau laki-laki yang jahat dan egois. Kenapa?” kata Chae-gyeong mengulang perkataannya barusan. Shin yang kesal mendekatkan dirinya pada Chae-gyeong. Chae-gyeong merasa sedikit grogi. Shin pun merasakan hal yang sama. Jadi dia mundur kemudian melanjutkan latihan anggarnya.
“Dengarkan aku baik-baik. Kita sangat tidak beruntung karna tak bisa saling melengkapi apa yang kita butuhkan. TAPI…..Tapi….kita harus merasakan teh bunga lili sekarang. Para tetua sedang menunggu kita. Cepatlah bersiap-siap” kata Shin tanpa bisa mengutarakanmaksud hatinya yang sebenarnya.
Mereka menikmati teh lili di paviliun istana bersama Ibu Suri, Raja dan Ratu. “Putri, ini pertama kalinya kau menikmati the lili putih ini kan?” tanya Ibu Suri. Chae-gyeong mengiyakan. Dia senang bisa menikmatinya. Ibu suri mengajak mereka semua untuk menikmati teh-nya. Chae-gyeong memperhatikan cara Shin meminum teh-nya dan mengikuti cara Shin minum teh.
Tiba-tiba Ibu suri mengucapkan sebuah puisi. Raja menyambung puisi Ibu Suri, kemudian Shin pun menambahkannya pula. Tiba giliran Chae-gyeong untuk melanjutkannya. Mereka semua memandangi Chae-gyeong dengan tak sabar. Kemudian Chae-gyeong menyambung puisi itu dengan mudah. Shin bahkan sampai takjub mendengarnya. Disangkanya Chae-gyeong takkan bisa melakukan hal itu. Semua menyambut gembira kemajuan Chae-gyeong.
Ratu memperingatkan Chae-gyeong yang terlalu tinggi mengangkat roknya dan berlari-lari di lapangan. Ratu merasa frustasi dengan sopan santun Chae-gyeong yang masih saja aneh. Raja yang ada di sebelah Ratu hanya tersenyum memandangi tingkah laku Chae-gyeong yang lucu itu. Sementara itu, Shin masih ada di paviliun istana bersama Ibu Suri. Ibu Suri senang dengan kemajuan Chae-gyeong.
Di sekolah, Yeol sedang membereskan hiasan di dalam ruangan melukis. Chae-gyeong menghampirinya dan berdiri di sebelah Yeol. Yeol tersenyum melihat kedatangan Chae-gyeong. Chae-gyeong mengucapkan terima kasih tentang kemaren. Karna Yeol tlah mengajarkannya puisi yang membuat kagum Ibu Suri. Chae-gyeong mengucapkan puisi dalam kalimat hanja itu. Teman-temannya sama sekali tak mengerti apa maksudnya. Salah satunya malah bilang, jelas saja berbeda karna mereka hidup di dunia yang berbeda.
Kang-hyeon menenangkan sahabat-sahabatnya dan mengajak mereka pergi ke kantin meninggalkan Chae-gyeong dan Yeol. Tapi tak seberapa lama kemudian, Chae-gyeong dan Yeol pun menyusul mereka ke kantin.
Chae-gyeong duduk berlima bersama teman-temannya dan Yeol. Mereka mengajari Yeol kata-kata yang biasa mereka pakai. Misalnya ‘kimddeok’. Itu adalah singkatan dari KIMbab dan TTEOKbokki. Kemudian mereka melewatkan hari dengan bercanda seperti anak kecil. Yeol senang karnanya.
Di istana, Ibu Suri merasa senang karna Yeol datang mengunjunginya. Tiba-tiba Ibu Suri terjatuh. Untung saja Yeol memeganginya. Yeol mencemaskan keadaan neneknya. Tapi Ibu Suri berkata dia taka pa-apa. Kemudian mereka berjalan kembali dan bertemu dengan Ratu di koridor. Ratu menyapa Ibu Suri dan memberikan salam hormatnya. Yeol melakukan hal yang sama untuk menghormati Ratu.
Ratu membicarakan tentang daftar orang-orang yang akan mendapat penghargaan di Festival Tarian Shin-gyeo yang akan segera berlangsung. Mereka membutuhkan juara yang akan di umumkan. Ibu Suri malah menyuruh Ratu untuk melibatkan Yeol karna Yeol juga seorang siswa jurusan seni. Ratu agak kecewa mendengar usul Ibu Suri.
Yeol memilih juara karya seni yang jadi juara. Ibu Suri menyetujui usul Yeol dan Ratu mengiyakan ucapan Ibu Suri untuk membuat orang itu keluar sebagai pemenangnnya. Yeol tersenyum senang karna pendapatnya disukai Ibu Suri.
Shin sedang bermain bersama Chae-gyeong. Mereka bermain ‘Kyeok-pha’ yang cara bermainnya hamper sama dengan permainan golf di era modern sekarang ini. Shin bermain. Semua dayang dan pengawal bertepuk tangan untuknya. Shin meminta Chae-gyeong untuk bermain. Tentu saja hal itu membuat Chae-gyeong gugup karna ini adalah saat pertama kalinya dia bermain permainan itu.
Shin mengajari Chae-gyeong dan mengaturnya untuk membenarkan posisi badannya yang membuat Chae-gyeong merasa kesal. Ratu menyaksikan mereka dari atas bersama Raja dan Ratu. Ibu Suri sangat suka melihat kebersamaan Shin dan Chae-gyeong. Apalagi dengan semangat jiwa muda mereka berdua. Raja setuju dengan pendapat Ibu Suri. “Memori masa muda akan selalu menyenangkan meskipun itu memori yang menyedihkan” ungkap Raja. “Untuk beberapa orang, memori masa muda mereka akan selalu terkenang di hati mereka” tambah Ibu Suri.
Shin mengarahkan ke arah mana Chae-gyeong harus memukul. Chae-gyeong yang merasa kesal karna sedari tadi harus menuruti kata-kata Shin, asal memukul saja. Chae-gyeong mengambil ancang-ancang dan memukulnya. Shin menertawakan tingkaj Chae-gyeong. Dan ternyata Chae-gyeong membuat keajaiban karna bisa melakukan ‘hole in one’. Semua orang menyambutnya dengan gembira. Yeol yang datang mendekatpun bertepuk tangan untuk Chae-gyeong.
Chae-gyeong melambaikan tangannya menyambut kedatangan Yeol. “Apa yang membawamu kemari?” tanya Shin. “Apa maksudmu? Kau bilang kau akan mengajariku bagaimana caranya memukul bola dari atas kuda” jawab Yeol. “Oh ya. Aku hamper saja lupa. Ayo kita pergi sekarang” ajak Shin kemudian.
Yeol agak kaget mendengar ajakan Shin yang tiba-tiba itu. Dia bilang dia bisa menunggu nanti kalau Shin sudah selesai melatih Chae-gyeong. Tapi Shin bilang dia sudah mulai bosan berada disitu dan meminta sekretaris Kim untuk menggantikan tugasnya mengajari Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong tak suka dengan tindakan Shin itu. Tapi toh dia tak bisa berbuat apa-apa karna Para Tetua sedang memperhatikan latihannya.
Yeol pun pergi bersama Shin. Sebelum pergi Yeol tersenyum pada Chae-gyeong. Chae-gyeong memandang kepergian mereka dengan rasa kecewa. Shin pun mengajari Yeol untuk memukul bola dari atas kuda.
Sementara itu di tempat lain, Hyo-rin yang sedang berkuda merasa sedih karna teringat Shin. Sekarang Shin sudah jarang datang untuk latihan berkuda.
“Aku merasa lega karna bisa sekelas dengan Chae-gyeong. Karnanya aku jadi mengenal lingkungan sekolah dan mengenal teman-teman baru” kata Yeol pada Shin saat mereka istirahat dari latihan. “Tapi kupikir kau harus hati-hati dengan apa yang akan kau katakan. Tak apa jika itu hanya diantara kita berdua. Tapi jangan di hadapan Para Tetua jangan memanggil ‘Chae-gyeong’. Terutama di depan Omma Mama (Omma= singkatan dari omoni (ibu). Mama= yang mulia. Ibu Ratu, Yang Mulia Ibu). “ nasehat Shin.
Yeol tersenyum mendengarnya. “Aku merasa agak tertekan. Kau benar, kalau tidak, mungkin Ibuku yang akan menasehatiku. Aku mengerti. Aku takkan melupakannya” jawab Yeol. Shin tersenyum senang mendengar kata-kata Yeol. Kemudian mereka-pun memutuskan untuk belajar memukul bola dari atas kuda lagi.
Shin dan Chae-gyeong datang ke sebuah acara pembukaan Museum Seni. Chae-jun yang melihat kakaknya muncul di TV segera memanggil ayahnya. Ibunya pun ikut menontonnya. Mereka tertawa senang melihat Chae-gyeong dan Shin muncul di TV.
“Tuan Putri sangat cantik! Dia pasti sangat suka tinggal di istana” ucap Ayah Chae-gyeong. Ibunya tertawa mendengarnya. “Lihatlah tangannya. Dia pasti banyak berlatih akhir-akhir ini” kata Ibu Chae-gyeong. Mereka semua sangat senang melihat Chae-gyeong di TV.
Shin dan Chae-gyeong diberi kehormatan untuk memotong pita tanda museum seni itu tlah dibuka. Setelah itu, tiba-tiba dompet Chae-gyeong terjatuh. Bukannya membantu, Shin malah meloto kea rah Chae-gyeong. Chae-gyeong pun mengambil dompetnya. Acara diteruskan dengan melihat isi museum seni itu.
Sekretaris Kim mengatakan kalau beberapa orang wartawan ingin mengambil foto Shin yang hadir dalam rangka membuka museum seni itu. Shin pun mengikuti sekretaris Kim.
Kamera blitz langsung menyambut mereka. Chae-gyeong pun langsung pasang aksi. Shin gerah melihat tingkah laku Chae-gyeong dan berbisik di telinga istrinya itu untuk menurunkan tangannya karna perbuatannya sangat memalukan. Tapi Chae-gyeong yang tak mau mendengarkan kata-kata Shin membuat Shin kesal.
Lalu tiba-tiba terjadilah insiden itu. Ada seseorang yang melempar Shin dengan telur. Tentu saja semuanya kaget melihat kejadian itu. Chae-gyeong berusaha melindungi suaminya dari lemparan telur. Para wartawan tambah antusian meliput berita yang mneghebohkan itu. Para pengawal segera berdatangan untuk mengamankan Shin dan Chae-gyeong.
Di istana Raja menjadi sangat marah atas terjadinya insiden pelemparan telur itu. “Bagaimana bisa pengawal pangeran jadi begitu tak berguna?” hardik Raja sambil melempar laporan yang diberikan oleh asisten pribadi Shin. “Apa saja yang sebenarnya dimakan oleh para bodyguard itu? Kenapa mereka membiarkan Pangeran dilempari telur dihadapan jutaan pasang mata” teriak Raja yang marah.
“Maafkan kami yang mulia. Mungkin ini karna kita mengurangi jumlah bodyguard pangeran jadi 3 orang saja. Karna itulah pengawalannya jadi sangat lemah. Untuk menangkap pengacau itu, perdana Menteri sudah turun tangan sendiri. Pengamanan di istana pangeran juga sudah dilipat gandakan untuk melindungi Putra Mahkota ” jawab asisten pribadi Shin.
Sementara itu, dayang kepala milik Ratu juga melaporkan kejadiannya pada Ratu. “Pangeran sekarang sedang beristirahat dan menolak untuk menghubungi dunia luar, Yang Mulia” lapor Dayang Kepala. “Baiklah, kau boleh pergi sekarang” ucap Ratu. Ibu Suri terlihat sangat shock mendengar kabar itu.
“Apa benar Putri berusaha mencegah lemparan telur itu dengan tangannya?” tanya Ibu Suri pada Ratu. “Ya, itu benar, Yang Mulia” jawab Ratu. “Oh… Bagaimana hal ini bisa terjadi?” keluh Ibu Suri. “Kita harus segera mencari siapa yang melakukan hal ini secepatnya. Perdana Menteri sudah mulai menyelidikinya sendiri. Jadi kuharap hasilnya kan cepat muncul” kata Ratu.
“Pertemuan pemilihan Calon Raja akan segera berlangsung. Kau harus mencoba menenangkan Pangeran” nasehat Ibu Suri. “Ya, Yang Mulia” Ratu menyetujui usul Ibu Suri.
Sementara itu di suatu tempat, Ibu Yeol bertemu dengan teman dekat mendiang Ayah Yeol. “Media akan merasa kasihan pada Putra Mahkota. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya apa yang kita harapkan melenceng dari apa sebenarnya ku harapkan” kata teman Ayah Yeol.
“ Tidak. Kita harus bertahan seperti ini. Meskipun sekarang semua orang memihak padanya karna kasihan, tapi suatu saat nanti media perlahan-lahan akan mengubah pendapat mereka tentang Pangeran. Mereka akan mulai penasaran kenapa ada orang yang melempari dia dengan telur. Aku akan membuat mereka semua bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga, sekarang pasti sudah banyak orang yang penasaran. Apa benar Pangeran pantas menjadi Raja yang berikutnya?” kata Ibu Yeol dengan dingin.
“Jangan bicarakan hal ini dulu. Ku dengar Perdana Menteri sendiri yang turun tangan menghadapi kasus ini untuk menangkap pengacaunya. Apakah akan ada masalah dengan hal itu?” tanya Ibu Yeol lagi. “Siapa aku? Kau tak perlu khawatir tentang hal itu” jawab teman Ayah Yeol. Ibu Yeol tersenyum sennag mendengarnya.
Sementara itu, Chae-gyeong sedang ngobrol bersama Yeol di beranda kediamannya. “Siapapun itu, jika kutemukan mereka, mereka akan mati! Bagaimana bisa mereka…Dia pasti sangat terkejut. Tidak, aku tak bisa melakukanya. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri bagaimana perasaannya” curhat Chae-gyeong.
“Sebaiknya kau tak pergi. Kau tak tahu apapun tentang harga diri Shin. Sejak dia masih kecil, dia tak suka mendengar hal negative dari orang-orang. Dan orang itu, dalam tayangan siaran langsung di TV, tlah dipukul dengan telur yang membuatnya begitu kotor dan menyedihkan. Apa kau tahu bagaimana terkejutnya dia mengatasi hal itu? Aku hanya mencoba menyarankan padamu, bagaimana Shin jika hal buruk terjadi padanya. Aku juga sudah ditolaknya saat pergi ke kamarnya” ungkap Yeol.
Chae-gyeong memandangi Yeol. “Benarkah itu?” tanya Chae-gyeong. Yeol mengangguk membenarkan ceritanya. “Kupikir lebih baik membiarkannya sendiri sementara waktu ini” nasehat Yeol lagi. “Tapi aku tak bisa melupakan ekspresi wajahnya saat dilempari telur” sambung Chae-gyeong. Dia tak terlihat marah. Dia seperti kehilangan sesuatu miliknya yang sangat berharga” kata Chae-gyeong lagi.
“Saat aku berkata seperti ini, sebuah perasaan mulai timbul dalam hatiku. Ini perasaan yang aneh yang belum pernah kurasakan. Sepertinya ini….” Batin Chae-gyeong.
Tiba-tiba Yeol menggenggam tangan Chae-gyeong. Chae-gyeong kaget karnanya dan merasa tak nyaman dengan hal itu. “Kau merasa kesepian kan?” tanya Yeol. Chae-gyeong mencoba melepaskan genggaman tangan Yeol. “Meskipun kau terlihat peduli dan ada kegembiraan di wajahmu, tapi aku tahu sebenarnya tak seperti itu. Bergembiralah” hibur Yeol. “Terimakasih” jawab Chae-gyeong singkat.
Shin keluar dari kamarnya. Dan dia menyaksikan Yeol dan Chae-gyeong yang tengah ngobrol berdua. Ada raut wajah tak suka terpancar dari wajah Shin. Tak berapa lama kemudian, Chae-gyeong bangkit dari duduknya. Dia pikir, lebih baik dia melihat Shin sekarang. Tak masalah jika Shin akan mengusirnya keluar. Karna dia hanya ingin melihat dengan matanya sendiri kalau Shin baik-baik saja.
“Apa kau yakin hal ini takkan membuatnya marah. Jika…Jika Hyo-rin yang menemuinya, mungkin dia takkan marah” kata-kata Yeol membuat Chae-gyeong terkejut. Dia merasa kecewa. “Tak peduli apa yang Shin-gun pikirkan. Bagaimanapun juga, sekarang aku adalah istrinya. Aku harus ada untuknya, terutama pada saat-saat seperti sekarang ini. Aku merasa aku harus selalu ada di sampingnya” ungkap Chae-gyeong kemudian berlalu pergi meninggalkan Yeol yang kecewa nasehatnya tak di dengar Chae-gyeong.
“Kenapa aku tiba-tiba merasa aku ingin menangis?” batin Chae-gyeong. Dia melihat ke dalam kamar Shin. “Kau mau pergi kemana?” tegur Shin. Chae-gyeong yang terkejut berbalik sambil menghapus airmatanya. Shin datang menghampiri Chae-gyeong.
“Apa yang terjadi? Apa kau menangis?” tanya Shin. Chae-gyeong mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Apa wajahmu tak apa-apa?” tanya Chae-gyeong. Shin tersenyum mendengarnya. “Tentu saja aku tak apa-apa. Aku hanya dilempar sebuah telur, hal itu takkan membunuhku, kan?” jawab Shin.
“Kurasa kau memang baik-baik saja. Kupikir kau…” kata-kata Chae-gyeong dipotong oleh Shin. “Sebenarnya ini adalah yang pertama kalinya aku menghadapi hal semacam ini. Dan aku sedikit terkejut. Aku juga takut orang-orang disekitarku akan menghakimiku tapi tak seorangpun datang mendekatiku. Tapi sekarang malah kau yang datang. Apa kau bisa melakukannya dengan baik? Tak bisa membaca situasinya dan selalu merubah atmosfer yang ada. Sebenarnya aku berharap kau datang dan menghiburku. Kupikir mungkin semuanya kan lebih baik kalau kau melakukan hal itu” ungkap Shin. Chae-gyeong terisak mendengarnya.
Shin mendekati Chae-gyeong. Dia menarik-narik rambut Chae-gyeong dan mempermainkannya. “Kau ini sungguh memalukan. Kau tertawa dan bermain-main dengan saudara iparmu di depan para penjaga. Mungkin lebih baik aku pergi ke peternakan untuk berkuda” kata Shin sambil berlalu dari hadapan Chae-gyeong.
Tiba-tiba Chae-gyeong berlari dan memeluk Shin dari belakang. “Maafkan aku. Maaf” ungkap Chae-gyeong. Shin menggenggam sejenak tangan Chae-gyeong. Tapi kemudian segera melepaskan diri dari pelukan Chae-gyeong.
“Jadi kau sekarang merasa menyesal karna tlah bersenang-senang dengan saudara iparmu?” tanya Shin. Chae-gyeong terkejut mendengar ucapan Shin. Shin melangkah pergi meninggalkan Chae-gyeong yang sedang mengomel. “Pantas saja kau dilempar telur. Kau mirip Shin Ramen (Mie Shin) tradisional dengan tambahan telur!” hardik Chae-gyeong. Hahahahaha…Shin hanya tertawa mendengar omelan Chae-gyeong itu.
Paginya, Shin pergi ke peternakan untuk berkuda dengan di temani Chae-gyeong. Tapi sayangnya, Chae-gyeong tak diperbolehkan turun karna Shin ingin berkuda seorang diri. Shin turun dari mobil dan bertemu teman-temannya, dia malah memeluk dengan akrab seorang wanita asing, teman wanitanya di klub berkuda yang membuat mata Chae-gyeonng yang lebar jadi semakin lebar. Chae-gyeong yang kecewa meminta pengawal yang mengantar mereka untuk mengantarnya ke sekolah menemui teman-temannya.
Shin mulai beraksi di atas kudanya dan Hyo-rin menatapnya dengan perasaan senang. Kang-in, Jang-gyeong dan Hyo-rin sedang ngobrol di lobby peternakan berkuda. Sementara itu Ryu-hwan malah asyik tertidur di bangku dekat mereka. “Dia selalu saja bisa tidur dimana saja. Ngomong-ngomong, jika semuanya berlangsung seperti ini, sama saja kan dengan seekor bebek berubah menjadi seekor angsa?” kata Kang-in. “Kau pikir semua orang bisa berubah jadi angsa? Dia hanya orang asing. Jika kau lihat dia dari kaki hingga kepala, dia memang benar-benar hanya orang asing” sangkal Jang-gyeong. Mereka berhenti bicara saat melihat Shin masuk ke situ sambil mengamati sebuah tapal kuda.
“Ada caranya seekor bebek bisa berubah jadi seekor angsa. Dengan ber-reinkarnasi” tambah Kang-in. Shin duduk di dekat Ryu-hwan yang tertidur. “Hei, anak-anak orang kaya. Apa kau ingin aku memberitahu kalian caranya berubah dari Shing-gu (kedua orangtuanya hanya orang biasa) menjadi Sheng-gu (kedua orangtuanya orang kaya)?” kata Shin. Kang-in dan Hyo-rin saling menatap. Mereka merasa Shin sedang marah. “Ber-reinkarnasilah!” tambah Shin dengan sinis. Kang-in tertunduk malu. Jang-gyeong dan Hyo-rin hanya bisa diam.
“Pulanglah ke rumah, ambil kalender dan pilihlah harinya. Ini sudah tahun 2006” lanjut Shin lagi sambil memukulkan topi berkudanya pada Ryu-hwan yang tengah tertidur. Tentu saja Ryu-hwan kaget dan terbangun. Shin meninggalkan teman-temannya. Mereka terdiam memandang kepergian Shin.
Hyo-rin mengendarai kudanya dan kemudian berhenti di senelah kuda yang tadi di tunggangi oleh Shin. Hyo-rin menghampiri Shin yang tengah memandangi lapangan hijau di depannya. Shin hanya diam memandangi kedatangan Hyo-rin.
“Kami bicara hal yang buruk tentang istrimu. Kau tak suka kan? Aku tahu kau bukan orang yang ingin bergantung pada orangtuamu, tidak dengan status dan kekayaanmu. Seperti yang kau bilang tentang abad 21, sekarang ini tak ada lagi darah bangsawan. Tapi aku tak bisa menerima itu. Tidak. Aku tak menyukai fakta itu. Seseorang yang datang dengan tampilan berbeda di depan kamera. Seseorang yang tak punya selera dan kekanak-kanakan. Bukankah kau bilang harusnya aku yang ada disisimu? Seseorang yang tak layak mendampingimu ada di dekatmu membuatku marah. Aku tak bisa menerima hal itu” ungkap Hyo-rin. Shin hanya memandangi Hyorin dengan perasaan bingung tanpa berkata apapun.
Hyo-rin berdiri di depan klub berkuda. Dia sudah berganti baju dengan baju biasa. Jang-gyeong datang dengan mobilnya. Hyo-rin pun masuk ke dalam mobil. “Apakah kita akan menambah latihan sebentar lagi?” tanya Jang-gyeong. Hyo-rin hanya diam. “Kau masih tetap ingin pulang?” tambah Jang-gyeong. Hyo-rin masih tetap diam sambil memakai sabuk pengamannya. Jadi Jang-gyeong pun memakai sabuk pengaman kemudian pergi dari tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara itu, Chae-gyeong tiba di sekolahnya. Ketiga temannya terpesona melihat mobil mewah yang terparkir di halaman sekolah mereka. Lalu kemudian mereka melihat Chae-gyeong. Mereka sepakat untuk mengerjai Chae-gyeong. Mereka menyerbu Chae-gyeong, tapi belum sempat mereka mengerjainya, mereka tlah ditangkap oleh para bodyguard Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong kaget karnanya dan meminta para bodyguardnya untuk melepaskan teman-temannya.
Sementara itu, Hyo-rin dan guru baletnya datang ke sebuah acara pembukaan tempat latihan yoga baru yang ternyata di kelola oleh Ibu Yeol. Mereka menghampiri Ibu Yeol dan kemudian ngobrol dengannya. Guru Hyo-rin secara resmi memperkenalkan pada Ibu Yeol tentang siapa Hyo-rin. Tentang hobby mereka yang sama-sama menyukai balet dan juga tentang hadiah dari turnamen balet. Guru Hyo-rin juga bercerita kalau Hyo-rin baru saja memenangkan turnamen balet di Bangkok.
Ibu Yeol memuji Hyo-rin dan mengucapkan selamat padanya walapun terlambat. Hyo-rin merasa senang, kemudian Hyo-rin menyerahkan karangan bunga yang dibawa oleh gurunya pada Ibu Yeol. Kemudian Ibu Yeol melihat Hyo-rin dan memuji kecantikan Hyo-rin. Teman dekat ayah Yeol mengamati Hyo-rin.
Teman dekat ayah Yeol menyerahkan beberapa lembar foto Hyo-rin di pesta ultah Shin di Jeju pada Ibu Yeol. “Itu memang dia. Tak salah lagi. Apa kau pernah bertemu dia sebelumnya?” kata teman dekat ayah Yeol. “Ya. Dia teman Yeol. Kami pernah bertemu sekali sebelumnya. Aku tak pernah mengira kalau dia benar-benar sama denganku. Bagaimana bisa hal ini terjadi” kata Ibu Yeol.
Ibu Yeol mengundang Hyo-rin datang ke tempat latihan yoganya dan membuatnya akrab dengan Hyo-rin. Ada banyak tips yang diberikan oleh Ibu Yeol pada Hyo-rin untuk mengasah lebih dalam potensi tubuhnya untuk menari balet. Ibu Yeol meminta Hyo-rin untuk datang setiap hari agar mereka lebih akrab. Hyo-rin senang mendengarnya.
“Kapanpun aku melihatmu, kau mengingatkanku akan masa laluku. Untuk menjadi seorang Putri Mahkota, aku menyerah pada mimpiku. Aku dulu juga seorang penari balet yang punya banyak kesempatan. Ini seperti aku melihat diriku sendiri yang masih berusia 19 tahun. Ini sepertinya sama. Akan sangat hebat kalau seseorang sepertimu menjadi seorang Putri Mahkota. Kau sangat elegan. Pemilihan Putri Mahkota kemaren benar-benar tak dipikirkan secara serius. Ini hanya pendapatku, jangan salah paham” ungkap Ibu Yeol. Dia memang sengaja memanas-manasi Hyo-rin. Hyo-rin hanya terdiam sambil berpikir tentang kata-kata Ibu Yeol.
Sementara itu, Chae-gyeong dan tiga sahabatnya sedang menikmati es krim di bangku taman sekolah mereka. “Ini hari minggu. Kenapa kau datang ke sekolah?” tanya Kang-hyeon. “Aku hanya kangen pada kalian” jawab Chae-gyeong. “Ini sangat cantik sekali, bolehkah aku memakainya sebentar saja?” tanya Sun-yeong sambil memegangi topi Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong langsung memberikan topinya. Dan Sun-yeong kegirangan karnanya.
Sementara Hee-sung ikut-ikutan meminta sarung tangan yang dikenakan oleh Chae-gyeong. Sun-yeong berkata kalau sekarang ini, Chae-gyeong adalah orang yang paling dicari di internet. Chae-gyeong tak mengerti apa maksud Sun-yeong. Sun-yeong menambahkan kalau Chae-gyeong punya fans klub yang anggotanya langsung 100ribu hanya dalam beberapa hari.
“Kau tahu apa nama fans klub mu itu? ‘Cinderella Chae-gyeong’, “ kata Sun-yeong. “Sepertinya keren. Lalu apakah aku harus bertemu dengan fans-ku?” kata Chae-gyeong senang. “Hei, jangan senang dulu dengan hal itu. Kau juga punya anti fans yang anggotanya lebih dari 50ribu orang” kata Kang-hyeon kemudian. “Anti? Apa salahku? Tanya Chae-gyeong lesu.
“Ada dua alasan mereka membencimu. Pertama itu karna rumor dan yang kedua itu karna keberadaanmu” kata Sun-yeong. “Lalu apa salahku?” tanya Chae-gyeong dengan lesu. “Karna kau menikah dengan Putra Mahkota” jawab Sun-yeong dengan enteng. Chae-gyeong jadi lemas mendengarnya. “Makanya kau harus hati-hati. Jika tertangkap anti-fans mu, kau akan berakhir” nasehat Kang-hyeon.
“Apa aku salah? Aku tak ingin hidup di bawah ancaman oranglain. Aku akan hidup dengan caraku sendiri. Untuk mereka yang tak menyukaiku, aku tak peduli, aku tak takut” kata Chae-gyeong. Tiba-tiba salah seorang bodyguard-nya berkata kalau sekarang saatnya untuk kembali ke istana.
Chae-gyeong-pun berpamitan pada sahabat-sahabatnya. Dia meminta mereka untuk menyimpan topi dan sarung tangan miliknya, kemudian memberikan pita leher yang dipakainya pada Kang-hyeon, tapi Kang-hyeon tak mau memakainya. Kemudian Chae-gyeong segera pergi meninggalkan teman-temannya untuk kembali ke istana.
Chae-gyeong termenung dengan sedih di dalam mobil. Dia mengingat rentetan peristiwa yang dialaminya bersama Shin. Saat di sekolah, saat pernikahannya, saat di istana, bertengkar dengan Shin, memeluk Shin, dll.
Chae-gyeong yang masuk ke dalam kediamannya disambut dua dayang setianya yang tlah mempersiapkan baju pesta untuknya. Kemudian mereka membantu Chae-gyeong untuk berganti baju. Malam ini akan diadakan pesta untuk menyambut pasangan baru si istana, Shin dan Chae-gyeong.
Shin masuk ke dalam kediaman Chae-gyeong dan terdiam memandangi Chae-gyeong yang terlihat sangat anggun malam itu. Chae-gyeong sedang asyik bercermin. Lalu kemudian dia menyadari kehadiran Shin dan menoleh ke arah-nya. Sementara Shin terus saja memandangi Chae-gyeong tanpa berkedip.
Sementara itu, Ratu ada di dapur istana bersama Sanggung-nya untuk mengecek persiapan jamuan yang akan disajikan. Kemudian Sang-gung Ratu berkata tentang Ibu Yeol. “Ada apa dengannya?” tanya Ratu. “Dia membuka yoga center dan pembukaannya berlangsung hari ini” kata Sang-gung Ratu. “Kau baru saja menerima berita itu?” tanya Ratu karna merasa beritanya sudah terasa basi. Sang-gung Ratu hanya bisa meminta maaf. “Dia seharusnya datang dan memberi salam pada para tetua di istana. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?” selidik Ratu.
Sementara itu, Ibu Yeol sedang sibuk berdandan untuk mempersiapkan kemunculannya, atau lebih tepatnya kebangkitannya untuk yang pertama kalinya di hadapan orang-orang istana dengan sebaik-baiknya.
Pihak istana mengundang banyak duta besar dari Negara lain. Sebenarnya, bintang pestanya adalah Shin dan Chae-gyeong yang diperkenalkan sebagai anggota baru dalam keluarga istana. Tapi seperti biasanya, Chae-gyeong yang ceroboh selalu saja membuat kesalahan. Sebenarnya maksudnya baik, menawarkan makanan pada salah seorang tamu, tapi yang terjadi, makanan itu malah tumpah mengenai baju tamunya karna Chae-gyeong sangat gugup. Ckckckckck……
Ibu Suri, Raja dan Ratu sedang sibuk mengobrol dengan sepasang tamu saat tiba-tiba kedatangan Yeol dan Ibunya membuat para wartawan yang datang meliput menjadi heboh dan berebut untuk mengambil gambar mereka berdua. Shin dan Chae-gyeong pun mengalihkan perhatian mereka pada Yeol dan Ibunya.
Ibu Yeol memberi hormat pada Ibu Suri yang sangat terkejut melihat kedatangannya. Raja menelan ludah, sementara Ratu mencoba untuk tetap tenang. Kemudian mereka berkumpul di sebuah ruangan dan Ibu Yeol menyampaikan salam hormatnya untuk Ibu Suri yang menyambut kedatangannya dengan gembira. Ibu Suri merasa senang karna semua anggota keluarganya berkumpul lagi sekarang. Semuanya merasa senang, hanya Ratu yang merasa cemas karna kedatangan Ibu Yeol.
“Kenapa dia memilih hari ini untuk kembali ke istana. Apa yang sebenarnya direncanakan olehnya?” kata Ratu pada Raja. “Hye-jeong sepertinya hidup dengan baik. Dia tak mungkin menyimpan kesedihan dalam hatinya selamanya” jawab Raja. “Dia sama sekali tak memberi kabar selama 14 tahun ini lalu kemudian dia datang dengan tiba-tiba, dia memilih waktu untuk kembali dimana kami semua cemas akan kesehatan Anda. Dan juga dia memilih hari ini dimana pasangan baru istana muncul secara resmi di hadapan publik. Berlagak seperti ini pesta untuknya. Bukankah seperti itu?” kata Ratu yang merasa tak suka dengan kedatangan Ibu Yeol.
Sepasang tamu sedang asyik berdansa. Saat mereka selesai, tepuk tangan meriah menyambut mereka. Kemudian Shin bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Chae-gyeong. Chae-gyeong yang kaget berusaha menolaknya. Tentu saja Shin mengancamnya dibalik senyumnya agar Chae-gyeong segera bangkit dari tempat duduknya.
Lampu blitz langsung menghujani mereka. Yeol memandang mereka dengan tatapan tak suka. Sementara orang-orang yang ada di sekitar mereka menyambut mereka dengan antusias dan diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Walaupun agak kaku dan kacau, tapi dengan bimbingan Shin, Chae-gyeong pun berdansa dengan baik. Para tamu yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah saat mereka berdansa. Yeol memandang mereka dengan tatapan penuh arti.
Ibu Suri dan Ibu Yeol sedang membicarakan tentang masa lalu. Tentang tragedy menyedihkan yang merenggut nyawa Ayah Yeol. Ibu Suri berkata agar Ibu Yeol melupakan masa lalu dan berpikir tentang masa depan mereka saja. Ibu Yeol menanyakan tentang kesehatan Ibu Suri, tapi Ibu Suri berkata, sejak melihat keadaan Raja yang terus membaik, dia merasa lebih baik.
“Jadi, alasan pernikahan Pangeran Shin itu terjadi dengan alasan kesehatan Raja?” tanya Ibu Yeol. “Kurasa bisa disebut seperti itu” jawab Ibu Suri apa adanya. Kemudian Ibu Yeol menawari Ibu Suri untuk melakukan yoga demi menjaga kesehatannya. Ibu Suri menyambut tawaran itu dengan gembira.
Kembang api di nyalakan untuk memeriahkan pesta malam itu. Para tamu yang hadir merasa sangat terhibur melihatnya. Chae-gyeong merangsek masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang sedang menikmati keindahan kembang api itu, tanpa menyadari kalau orang yang didorong disebelahnya itu adalah Raja. Raja tersenyum memandangi Chae-gyeong yang malu saat menyadari kesalahannya.
Saat meminta maaf pada Rja, barulah Chae-gyeong sadar kalau sepatunya hilang sebelah. Kemudian dia berbalik ke belakang dan melihat sepatunya yang terlepas. Tiba-tiba, datang seseorang mengambil sepatu itu, kemudian menunduk dan memakaikan sepatu itu ke kaki Chae-gyeong. Orang itu adalah Shin. Perlakuan Shin yang romantis pada Chae-gyeong membuat para tamu bertepuk tangan untuk mereka berdua. Chae-gyeong tersipu-sipu malu sekaligus senang. Sedangkan Yeol menatap mereka dengan pandangan kecewa.
Bersambung……………………..
“Aku tak telat kan?” kata Chae-gyeong. “Ya Yang Mulia. Anda 10 menit lebih awal dari biasanya” jawab asisten Shin. Chae-gyeong tersenyum sennag mendengarnya. “Kau tak tidur kan?” tambah Shin. “Bagaimana kau tahu?” tanya Chae-gyeong yang kaget karna Shin tahu semalaman Chae-gyeong tak tidur.
“Apa itu hal yang luar biasa? Kau dating dengan mata mirip mata kelinci” kata Shin dengan enteng sambil terus mencicipi makanan yang akan di hidangkan untuk Raja. “Benarkah? Apa mataku merah sekali? Apa benar mataku seperti itu?” Tanya Chae-gyeong pada para pengawal dan asisten Shin. Mereka semua mengiyakannya. “Lalu apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Chae-gyeong pada Shin. Asisten Shin menjelaskan kalau Shin sedang mencicipi hidangan untuk Raja.
“Kenapa harus dicicipi? Apa takut kalau ada yang meracuni” kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Chae-gyeong. Membuat asisten Shin kaget dan Shin yang kesal mendengarnya melempar sendok yang dipakainya untuk mencicipi.
Sudah sejak sepuluh tahun yang lalu Shin mencicipi hidangan yang akan disajikan untuk Raja dan itu berarti sejak Shin berusia 9 tahun dia sudah melakukan hal itu. Itu menyebabkan dia lebih peka merasakan makanan mana yang cocok untuk kesehatan Raja.
Chae-gyeong yang bosan kembali ke kediamannya. Tiba-tiba dia tersenyum. Ternyata dia melihat Yeol. Yeol sedang membaca sebuah buku dan tertarik karnanya. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Shin menatap mereka dengan muka masam.
Chae-gyeong dan Yeol bermain di istana belakang. Chae-gyeong sangat menikmatinya. Dia bahkan merasa sangat senang sekali bisa bermain-main disitu. Tapi Yeol tak hanya mengajaknya bermain tapi juga mengajarinya berbagai puisi. Chae-gyeong sangat senang karna dia bisa menghafalnya dengan mudah. Chae-gyeong pulang dengan senyum di wajahnya.
Chae-gyeong pulang dengan berseri-seri dan terhenyak saat melihat Shin yang sedang berlatih anggar. Dia mengintip Shin. Shin berbalik danmelihat Chae-gyeong dibalik pintu.
Chae-gyeong tersenyum dan masuk ke dalam. Shin berbalik badan. “Ini benar-benar memalukan. Kemana ilmu yang kau pelajari tentang mengendalikan diri?” kata Shin. “Apa maksudmu?” Tanya Chae-gyeong agak tersinggung. “Apa kau ingat apa yang pernah kukatakan? Ku bilang padamu untuk meningkatkan pengetahuanmu selama kau tinggal di istana” kata Shin. “Kenapa kau membicarakan hal itu dalam situasi seperti ini?” tanya Chae-gyeong tak suka dengan kata-kata Shin.
“Yang ku katakan sebelumnya itu dialog singkat dari Hamlet” kata Shin santai. “O…itu” Chae-gyeong gugup dan salah tingkah. “Kau tak butuh informasi itu saat kau menggambar?” Tanya Shin. “Apa maksudmu?” Tanya Chae-gyeong dengan nada tak suka. “Kau mungkin agak berbakat dalam melukis. Tapi dasar yang kau bawa itu sangat lemah. Benar begitu kan? Lupakan bahwa kau tak pernah membaca novel Shakespeare, tapi kau sepertinya akan mudah jatuh ke tangan orang lain seperti seekor kucing” sindir Shin.
“Hei! Apa maksudmu? Aku benar-benar tak bisa mempercayainya” kata Chae-gyeong setengah berteriak. Shin cuek mendengarnya. Dia meneruskan latihan anggarnya. “Baiklah, jika kau punya banyak pengetahuan yang hebat, kepribadian yang baik, lalu kenapa kau membuatku malu dan tak peduli padaku di hadapan teman-temanku di pesta ultah?” Chae-gyeong balik menyindir.
Shin tak mempedulikan kata-kata Chae-gyeong. “Sekarang ini, kupikir, itu semua bagian dari rencanamu. Kau mengundang Min Hyo-rin dan membuatku terlihat bodoh di depan teman-temanmu” sejenak Shin memandangi Chae-gyeong dengan rasa bersalahnya. “Jika kau benar-benar mencintai Min Hyo-rin, kau harus melakukan sesuatu untuk menikahinya. Kenapa kau harus membuat kesalahan seperti ini dan memperlakukanku seperti ini sekarang? Dasar kau laki-laki jahat dan egois” hardik Chae-gyeong.
“Apa kau bilang? Apa yang baru saja kau katakana?” tanya Shin. “Kau laki-laki yang jahat dan egois. Kenapa?” kata Chae-gyeong mengulang perkataannya barusan. Shin yang kesal mendekatkan dirinya pada Chae-gyeong. Chae-gyeong merasa sedikit grogi. Shin pun merasakan hal yang sama. Jadi dia mundur kemudian melanjutkan latihan anggarnya.
“Dengarkan aku baik-baik. Kita sangat tidak beruntung karna tak bisa saling melengkapi apa yang kita butuhkan. TAPI…..Tapi….kita harus merasakan teh bunga lili sekarang. Para tetua sedang menunggu kita. Cepatlah bersiap-siap” kata Shin tanpa bisa mengutarakanmaksud hatinya yang sebenarnya.
Mereka menikmati teh lili di paviliun istana bersama Ibu Suri, Raja dan Ratu. “Putri, ini pertama kalinya kau menikmati the lili putih ini kan?” tanya Ibu Suri. Chae-gyeong mengiyakan. Dia senang bisa menikmatinya. Ibu suri mengajak mereka semua untuk menikmati teh-nya. Chae-gyeong memperhatikan cara Shin meminum teh-nya dan mengikuti cara Shin minum teh.
Tiba-tiba Ibu suri mengucapkan sebuah puisi. Raja menyambung puisi Ibu Suri, kemudian Shin pun menambahkannya pula. Tiba giliran Chae-gyeong untuk melanjutkannya. Mereka semua memandangi Chae-gyeong dengan tak sabar. Kemudian Chae-gyeong menyambung puisi itu dengan mudah. Shin bahkan sampai takjub mendengarnya. Disangkanya Chae-gyeong takkan bisa melakukan hal itu. Semua menyambut gembira kemajuan Chae-gyeong.
Ratu memperingatkan Chae-gyeong yang terlalu tinggi mengangkat roknya dan berlari-lari di lapangan. Ratu merasa frustasi dengan sopan santun Chae-gyeong yang masih saja aneh. Raja yang ada di sebelah Ratu hanya tersenyum memandangi tingkah laku Chae-gyeong yang lucu itu. Sementara itu, Shin masih ada di paviliun istana bersama Ibu Suri. Ibu Suri senang dengan kemajuan Chae-gyeong.
Di sekolah, Yeol sedang membereskan hiasan di dalam ruangan melukis. Chae-gyeong menghampirinya dan berdiri di sebelah Yeol. Yeol tersenyum melihat kedatangan Chae-gyeong. Chae-gyeong mengucapkan terima kasih tentang kemaren. Karna Yeol tlah mengajarkannya puisi yang membuat kagum Ibu Suri. Chae-gyeong mengucapkan puisi dalam kalimat hanja itu. Teman-temannya sama sekali tak mengerti apa maksudnya. Salah satunya malah bilang, jelas saja berbeda karna mereka hidup di dunia yang berbeda.
Kang-hyeon menenangkan sahabat-sahabatnya dan mengajak mereka pergi ke kantin meninggalkan Chae-gyeong dan Yeol. Tapi tak seberapa lama kemudian, Chae-gyeong dan Yeol pun menyusul mereka ke kantin.
Chae-gyeong duduk berlima bersama teman-temannya dan Yeol. Mereka mengajari Yeol kata-kata yang biasa mereka pakai. Misalnya ‘kimddeok’. Itu adalah singkatan dari KIMbab dan TTEOKbokki. Kemudian mereka melewatkan hari dengan bercanda seperti anak kecil. Yeol senang karnanya.
Di istana, Ibu Suri merasa senang karna Yeol datang mengunjunginya. Tiba-tiba Ibu Suri terjatuh. Untung saja Yeol memeganginya. Yeol mencemaskan keadaan neneknya. Tapi Ibu Suri berkata dia taka pa-apa. Kemudian mereka berjalan kembali dan bertemu dengan Ratu di koridor. Ratu menyapa Ibu Suri dan memberikan salam hormatnya. Yeol melakukan hal yang sama untuk menghormati Ratu.
Ratu membicarakan tentang daftar orang-orang yang akan mendapat penghargaan di Festival Tarian Shin-gyeo yang akan segera berlangsung. Mereka membutuhkan juara yang akan di umumkan. Ibu Suri malah menyuruh Ratu untuk melibatkan Yeol karna Yeol juga seorang siswa jurusan seni. Ratu agak kecewa mendengar usul Ibu Suri.
Yeol memilih juara karya seni yang jadi juara. Ibu Suri menyetujui usul Yeol dan Ratu mengiyakan ucapan Ibu Suri untuk membuat orang itu keluar sebagai pemenangnnya. Yeol tersenyum senang karna pendapatnya disukai Ibu Suri.
Shin sedang bermain bersama Chae-gyeong. Mereka bermain ‘Kyeok-pha’ yang cara bermainnya hamper sama dengan permainan golf di era modern sekarang ini. Shin bermain. Semua dayang dan pengawal bertepuk tangan untuknya. Shin meminta Chae-gyeong untuk bermain. Tentu saja hal itu membuat Chae-gyeong gugup karna ini adalah saat pertama kalinya dia bermain permainan itu.
Shin mengajari Chae-gyeong dan mengaturnya untuk membenarkan posisi badannya yang membuat Chae-gyeong merasa kesal. Ratu menyaksikan mereka dari atas bersama Raja dan Ratu. Ibu Suri sangat suka melihat kebersamaan Shin dan Chae-gyeong. Apalagi dengan semangat jiwa muda mereka berdua. Raja setuju dengan pendapat Ibu Suri. “Memori masa muda akan selalu menyenangkan meskipun itu memori yang menyedihkan” ungkap Raja. “Untuk beberapa orang, memori masa muda mereka akan selalu terkenang di hati mereka” tambah Ibu Suri.
Shin mengarahkan ke arah mana Chae-gyeong harus memukul. Chae-gyeong yang merasa kesal karna sedari tadi harus menuruti kata-kata Shin, asal memukul saja. Chae-gyeong mengambil ancang-ancang dan memukulnya. Shin menertawakan tingkaj Chae-gyeong. Dan ternyata Chae-gyeong membuat keajaiban karna bisa melakukan ‘hole in one’. Semua orang menyambutnya dengan gembira. Yeol yang datang mendekatpun bertepuk tangan untuk Chae-gyeong.
Chae-gyeong melambaikan tangannya menyambut kedatangan Yeol. “Apa yang membawamu kemari?” tanya Shin. “Apa maksudmu? Kau bilang kau akan mengajariku bagaimana caranya memukul bola dari atas kuda” jawab Yeol. “Oh ya. Aku hamper saja lupa. Ayo kita pergi sekarang” ajak Shin kemudian.
Yeol agak kaget mendengar ajakan Shin yang tiba-tiba itu. Dia bilang dia bisa menunggu nanti kalau Shin sudah selesai melatih Chae-gyeong. Tapi Shin bilang dia sudah mulai bosan berada disitu dan meminta sekretaris Kim untuk menggantikan tugasnya mengajari Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong tak suka dengan tindakan Shin itu. Tapi toh dia tak bisa berbuat apa-apa karna Para Tetua sedang memperhatikan latihannya.
Yeol pun pergi bersama Shin. Sebelum pergi Yeol tersenyum pada Chae-gyeong. Chae-gyeong memandang kepergian mereka dengan rasa kecewa. Shin pun mengajari Yeol untuk memukul bola dari atas kuda.
Sementara itu di tempat lain, Hyo-rin yang sedang berkuda merasa sedih karna teringat Shin. Sekarang Shin sudah jarang datang untuk latihan berkuda.
“Aku merasa lega karna bisa sekelas dengan Chae-gyeong. Karnanya aku jadi mengenal lingkungan sekolah dan mengenal teman-teman baru” kata Yeol pada Shin saat mereka istirahat dari latihan. “Tapi kupikir kau harus hati-hati dengan apa yang akan kau katakan. Tak apa jika itu hanya diantara kita berdua. Tapi jangan di hadapan Para Tetua jangan memanggil ‘Chae-gyeong’. Terutama di depan Omma Mama (Omma= singkatan dari omoni (ibu). Mama= yang mulia. Ibu Ratu, Yang Mulia Ibu). “ nasehat Shin.
Yeol tersenyum mendengarnya. “Aku merasa agak tertekan. Kau benar, kalau tidak, mungkin Ibuku yang akan menasehatiku. Aku mengerti. Aku takkan melupakannya” jawab Yeol. Shin tersenyum senang mendengar kata-kata Yeol. Kemudian mereka-pun memutuskan untuk belajar memukul bola dari atas kuda lagi.
Shin dan Chae-gyeong datang ke sebuah acara pembukaan Museum Seni. Chae-jun yang melihat kakaknya muncul di TV segera memanggil ayahnya. Ibunya pun ikut menontonnya. Mereka tertawa senang melihat Chae-gyeong dan Shin muncul di TV.
“Tuan Putri sangat cantik! Dia pasti sangat suka tinggal di istana” ucap Ayah Chae-gyeong. Ibunya tertawa mendengarnya. “Lihatlah tangannya. Dia pasti banyak berlatih akhir-akhir ini” kata Ibu Chae-gyeong. Mereka semua sangat senang melihat Chae-gyeong di TV.
Shin dan Chae-gyeong diberi kehormatan untuk memotong pita tanda museum seni itu tlah dibuka. Setelah itu, tiba-tiba dompet Chae-gyeong terjatuh. Bukannya membantu, Shin malah meloto kea rah Chae-gyeong. Chae-gyeong pun mengambil dompetnya. Acara diteruskan dengan melihat isi museum seni itu.
Sekretaris Kim mengatakan kalau beberapa orang wartawan ingin mengambil foto Shin yang hadir dalam rangka membuka museum seni itu. Shin pun mengikuti sekretaris Kim.
Kamera blitz langsung menyambut mereka. Chae-gyeong pun langsung pasang aksi. Shin gerah melihat tingkah laku Chae-gyeong dan berbisik di telinga istrinya itu untuk menurunkan tangannya karna perbuatannya sangat memalukan. Tapi Chae-gyeong yang tak mau mendengarkan kata-kata Shin membuat Shin kesal.
Lalu tiba-tiba terjadilah insiden itu. Ada seseorang yang melempar Shin dengan telur. Tentu saja semuanya kaget melihat kejadian itu. Chae-gyeong berusaha melindungi suaminya dari lemparan telur. Para wartawan tambah antusian meliput berita yang mneghebohkan itu. Para pengawal segera berdatangan untuk mengamankan Shin dan Chae-gyeong.
Di istana Raja menjadi sangat marah atas terjadinya insiden pelemparan telur itu. “Bagaimana bisa pengawal pangeran jadi begitu tak berguna?” hardik Raja sambil melempar laporan yang diberikan oleh asisten pribadi Shin. “Apa saja yang sebenarnya dimakan oleh para bodyguard itu? Kenapa mereka membiarkan Pangeran dilempari telur dihadapan jutaan pasang mata” teriak Raja yang marah.
“Maafkan kami yang mulia. Mungkin ini karna kita mengurangi jumlah bodyguard pangeran jadi 3 orang saja. Karna itulah pengawalannya jadi sangat lemah. Untuk menangkap pengacau itu, perdana Menteri sudah turun tangan sendiri. Pengamanan di istana pangeran juga sudah dilipat gandakan untuk melindungi Putra Mahkota ” jawab asisten pribadi Shin.
Sementara itu, dayang kepala milik Ratu juga melaporkan kejadiannya pada Ratu. “Pangeran sekarang sedang beristirahat dan menolak untuk menghubungi dunia luar, Yang Mulia” lapor Dayang Kepala. “Baiklah, kau boleh pergi sekarang” ucap Ratu. Ibu Suri terlihat sangat shock mendengar kabar itu.
“Apa benar Putri berusaha mencegah lemparan telur itu dengan tangannya?” tanya Ibu Suri pada Ratu. “Ya, itu benar, Yang Mulia” jawab Ratu. “Oh… Bagaimana hal ini bisa terjadi?” keluh Ibu Suri. “Kita harus segera mencari siapa yang melakukan hal ini secepatnya. Perdana Menteri sudah mulai menyelidikinya sendiri. Jadi kuharap hasilnya kan cepat muncul” kata Ratu.
“Pertemuan pemilihan Calon Raja akan segera berlangsung. Kau harus mencoba menenangkan Pangeran” nasehat Ibu Suri. “Ya, Yang Mulia” Ratu menyetujui usul Ibu Suri.
Sementara itu di suatu tempat, Ibu Yeol bertemu dengan teman dekat mendiang Ayah Yeol. “Media akan merasa kasihan pada Putra Mahkota. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya apa yang kita harapkan melenceng dari apa sebenarnya ku harapkan” kata teman Ayah Yeol.
“ Tidak. Kita harus bertahan seperti ini. Meskipun sekarang semua orang memihak padanya karna kasihan, tapi suatu saat nanti media perlahan-lahan akan mengubah pendapat mereka tentang Pangeran. Mereka akan mulai penasaran kenapa ada orang yang melempari dia dengan telur. Aku akan membuat mereka semua bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga, sekarang pasti sudah banyak orang yang penasaran. Apa benar Pangeran pantas menjadi Raja yang berikutnya?” kata Ibu Yeol dengan dingin.
“Jangan bicarakan hal ini dulu. Ku dengar Perdana Menteri sendiri yang turun tangan menghadapi kasus ini untuk menangkap pengacaunya. Apakah akan ada masalah dengan hal itu?” tanya Ibu Yeol lagi. “Siapa aku? Kau tak perlu khawatir tentang hal itu” jawab teman Ayah Yeol. Ibu Yeol tersenyum sennag mendengarnya.
Sementara itu, Chae-gyeong sedang ngobrol bersama Yeol di beranda kediamannya. “Siapapun itu, jika kutemukan mereka, mereka akan mati! Bagaimana bisa mereka…Dia pasti sangat terkejut. Tidak, aku tak bisa melakukanya. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri bagaimana perasaannya” curhat Chae-gyeong.
“Sebaiknya kau tak pergi. Kau tak tahu apapun tentang harga diri Shin. Sejak dia masih kecil, dia tak suka mendengar hal negative dari orang-orang. Dan orang itu, dalam tayangan siaran langsung di TV, tlah dipukul dengan telur yang membuatnya begitu kotor dan menyedihkan. Apa kau tahu bagaimana terkejutnya dia mengatasi hal itu? Aku hanya mencoba menyarankan padamu, bagaimana Shin jika hal buruk terjadi padanya. Aku juga sudah ditolaknya saat pergi ke kamarnya” ungkap Yeol.
Chae-gyeong memandangi Yeol. “Benarkah itu?” tanya Chae-gyeong. Yeol mengangguk membenarkan ceritanya. “Kupikir lebih baik membiarkannya sendiri sementara waktu ini” nasehat Yeol lagi. “Tapi aku tak bisa melupakan ekspresi wajahnya saat dilempari telur” sambung Chae-gyeong. Dia tak terlihat marah. Dia seperti kehilangan sesuatu miliknya yang sangat berharga” kata Chae-gyeong lagi.
“Saat aku berkata seperti ini, sebuah perasaan mulai timbul dalam hatiku. Ini perasaan yang aneh yang belum pernah kurasakan. Sepertinya ini….” Batin Chae-gyeong.
Tiba-tiba Yeol menggenggam tangan Chae-gyeong. Chae-gyeong kaget karnanya dan merasa tak nyaman dengan hal itu. “Kau merasa kesepian kan?” tanya Yeol. Chae-gyeong mencoba melepaskan genggaman tangan Yeol. “Meskipun kau terlihat peduli dan ada kegembiraan di wajahmu, tapi aku tahu sebenarnya tak seperti itu. Bergembiralah” hibur Yeol. “Terimakasih” jawab Chae-gyeong singkat.
Shin keluar dari kamarnya. Dan dia menyaksikan Yeol dan Chae-gyeong yang tengah ngobrol berdua. Ada raut wajah tak suka terpancar dari wajah Shin. Tak berapa lama kemudian, Chae-gyeong bangkit dari duduknya. Dia pikir, lebih baik dia melihat Shin sekarang. Tak masalah jika Shin akan mengusirnya keluar. Karna dia hanya ingin melihat dengan matanya sendiri kalau Shin baik-baik saja.
“Apa kau yakin hal ini takkan membuatnya marah. Jika…Jika Hyo-rin yang menemuinya, mungkin dia takkan marah” kata-kata Yeol membuat Chae-gyeong terkejut. Dia merasa kecewa. “Tak peduli apa yang Shin-gun pikirkan. Bagaimanapun juga, sekarang aku adalah istrinya. Aku harus ada untuknya, terutama pada saat-saat seperti sekarang ini. Aku merasa aku harus selalu ada di sampingnya” ungkap Chae-gyeong kemudian berlalu pergi meninggalkan Yeol yang kecewa nasehatnya tak di dengar Chae-gyeong.
“Kenapa aku tiba-tiba merasa aku ingin menangis?” batin Chae-gyeong. Dia melihat ke dalam kamar Shin. “Kau mau pergi kemana?” tegur Shin. Chae-gyeong yang terkejut berbalik sambil menghapus airmatanya. Shin datang menghampiri Chae-gyeong.
“Apa yang terjadi? Apa kau menangis?” tanya Shin. Chae-gyeong mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Apa wajahmu tak apa-apa?” tanya Chae-gyeong. Shin tersenyum mendengarnya. “Tentu saja aku tak apa-apa. Aku hanya dilempar sebuah telur, hal itu takkan membunuhku, kan?” jawab Shin.
“Kurasa kau memang baik-baik saja. Kupikir kau…” kata-kata Chae-gyeong dipotong oleh Shin. “Sebenarnya ini adalah yang pertama kalinya aku menghadapi hal semacam ini. Dan aku sedikit terkejut. Aku juga takut orang-orang disekitarku akan menghakimiku tapi tak seorangpun datang mendekatiku. Tapi sekarang malah kau yang datang. Apa kau bisa melakukannya dengan baik? Tak bisa membaca situasinya dan selalu merubah atmosfer yang ada. Sebenarnya aku berharap kau datang dan menghiburku. Kupikir mungkin semuanya kan lebih baik kalau kau melakukan hal itu” ungkap Shin. Chae-gyeong terisak mendengarnya.
Shin mendekati Chae-gyeong. Dia menarik-narik rambut Chae-gyeong dan mempermainkannya. “Kau ini sungguh memalukan. Kau tertawa dan bermain-main dengan saudara iparmu di depan para penjaga. Mungkin lebih baik aku pergi ke peternakan untuk berkuda” kata Shin sambil berlalu dari hadapan Chae-gyeong.
Tiba-tiba Chae-gyeong berlari dan memeluk Shin dari belakang. “Maafkan aku. Maaf” ungkap Chae-gyeong. Shin menggenggam sejenak tangan Chae-gyeong. Tapi kemudian segera melepaskan diri dari pelukan Chae-gyeong.
“Jadi kau sekarang merasa menyesal karna tlah bersenang-senang dengan saudara iparmu?” tanya Shin. Chae-gyeong terkejut mendengar ucapan Shin. Shin melangkah pergi meninggalkan Chae-gyeong yang sedang mengomel. “Pantas saja kau dilempar telur. Kau mirip Shin Ramen (Mie Shin) tradisional dengan tambahan telur!” hardik Chae-gyeong. Hahahahaha…Shin hanya tertawa mendengar omelan Chae-gyeong itu.
Paginya, Shin pergi ke peternakan untuk berkuda dengan di temani Chae-gyeong. Tapi sayangnya, Chae-gyeong tak diperbolehkan turun karna Shin ingin berkuda seorang diri. Shin turun dari mobil dan bertemu teman-temannya, dia malah memeluk dengan akrab seorang wanita asing, teman wanitanya di klub berkuda yang membuat mata Chae-gyeonng yang lebar jadi semakin lebar. Chae-gyeong yang kecewa meminta pengawal yang mengantar mereka untuk mengantarnya ke sekolah menemui teman-temannya.
Shin mulai beraksi di atas kudanya dan Hyo-rin menatapnya dengan perasaan senang. Kang-in, Jang-gyeong dan Hyo-rin sedang ngobrol di lobby peternakan berkuda. Sementara itu Ryu-hwan malah asyik tertidur di bangku dekat mereka. “Dia selalu saja bisa tidur dimana saja. Ngomong-ngomong, jika semuanya berlangsung seperti ini, sama saja kan dengan seekor bebek berubah menjadi seekor angsa?” kata Kang-in. “Kau pikir semua orang bisa berubah jadi angsa? Dia hanya orang asing. Jika kau lihat dia dari kaki hingga kepala, dia memang benar-benar hanya orang asing” sangkal Jang-gyeong. Mereka berhenti bicara saat melihat Shin masuk ke situ sambil mengamati sebuah tapal kuda.
“Ada caranya seekor bebek bisa berubah jadi seekor angsa. Dengan ber-reinkarnasi” tambah Kang-in. Shin duduk di dekat Ryu-hwan yang tertidur. “Hei, anak-anak orang kaya. Apa kau ingin aku memberitahu kalian caranya berubah dari Shing-gu (kedua orangtuanya hanya orang biasa) menjadi Sheng-gu (kedua orangtuanya orang kaya)?” kata Shin. Kang-in dan Hyo-rin saling menatap. Mereka merasa Shin sedang marah. “Ber-reinkarnasilah!” tambah Shin dengan sinis. Kang-in tertunduk malu. Jang-gyeong dan Hyo-rin hanya bisa diam.
“Pulanglah ke rumah, ambil kalender dan pilihlah harinya. Ini sudah tahun 2006” lanjut Shin lagi sambil memukulkan topi berkudanya pada Ryu-hwan yang tengah tertidur. Tentu saja Ryu-hwan kaget dan terbangun. Shin meninggalkan teman-temannya. Mereka terdiam memandang kepergian Shin.
Hyo-rin mengendarai kudanya dan kemudian berhenti di senelah kuda yang tadi di tunggangi oleh Shin. Hyo-rin menghampiri Shin yang tengah memandangi lapangan hijau di depannya. Shin hanya diam memandangi kedatangan Hyo-rin.
“Kami bicara hal yang buruk tentang istrimu. Kau tak suka kan? Aku tahu kau bukan orang yang ingin bergantung pada orangtuamu, tidak dengan status dan kekayaanmu. Seperti yang kau bilang tentang abad 21, sekarang ini tak ada lagi darah bangsawan. Tapi aku tak bisa menerima itu. Tidak. Aku tak menyukai fakta itu. Seseorang yang datang dengan tampilan berbeda di depan kamera. Seseorang yang tak punya selera dan kekanak-kanakan. Bukankah kau bilang harusnya aku yang ada disisimu? Seseorang yang tak layak mendampingimu ada di dekatmu membuatku marah. Aku tak bisa menerima hal itu” ungkap Hyo-rin. Shin hanya memandangi Hyorin dengan perasaan bingung tanpa berkata apapun.
Hyo-rin berdiri di depan klub berkuda. Dia sudah berganti baju dengan baju biasa. Jang-gyeong datang dengan mobilnya. Hyo-rin pun masuk ke dalam mobil. “Apakah kita akan menambah latihan sebentar lagi?” tanya Jang-gyeong. Hyo-rin hanya diam. “Kau masih tetap ingin pulang?” tambah Jang-gyeong. Hyo-rin masih tetap diam sambil memakai sabuk pengamannya. Jadi Jang-gyeong pun memakai sabuk pengaman kemudian pergi dari tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara itu, Chae-gyeong tiba di sekolahnya. Ketiga temannya terpesona melihat mobil mewah yang terparkir di halaman sekolah mereka. Lalu kemudian mereka melihat Chae-gyeong. Mereka sepakat untuk mengerjai Chae-gyeong. Mereka menyerbu Chae-gyeong, tapi belum sempat mereka mengerjainya, mereka tlah ditangkap oleh para bodyguard Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong kaget karnanya dan meminta para bodyguardnya untuk melepaskan teman-temannya.
Sementara itu, Hyo-rin dan guru baletnya datang ke sebuah acara pembukaan tempat latihan yoga baru yang ternyata di kelola oleh Ibu Yeol. Mereka menghampiri Ibu Yeol dan kemudian ngobrol dengannya. Guru Hyo-rin secara resmi memperkenalkan pada Ibu Yeol tentang siapa Hyo-rin. Tentang hobby mereka yang sama-sama menyukai balet dan juga tentang hadiah dari turnamen balet. Guru Hyo-rin juga bercerita kalau Hyo-rin baru saja memenangkan turnamen balet di Bangkok.
Ibu Yeol memuji Hyo-rin dan mengucapkan selamat padanya walapun terlambat. Hyo-rin merasa senang, kemudian Hyo-rin menyerahkan karangan bunga yang dibawa oleh gurunya pada Ibu Yeol. Kemudian Ibu Yeol melihat Hyo-rin dan memuji kecantikan Hyo-rin. Teman dekat ayah Yeol mengamati Hyo-rin.
Teman dekat ayah Yeol menyerahkan beberapa lembar foto Hyo-rin di pesta ultah Shin di Jeju pada Ibu Yeol. “Itu memang dia. Tak salah lagi. Apa kau pernah bertemu dia sebelumnya?” kata teman dekat ayah Yeol. “Ya. Dia teman Yeol. Kami pernah bertemu sekali sebelumnya. Aku tak pernah mengira kalau dia benar-benar sama denganku. Bagaimana bisa hal ini terjadi” kata Ibu Yeol.
Ibu Yeol mengundang Hyo-rin datang ke tempat latihan yoganya dan membuatnya akrab dengan Hyo-rin. Ada banyak tips yang diberikan oleh Ibu Yeol pada Hyo-rin untuk mengasah lebih dalam potensi tubuhnya untuk menari balet. Ibu Yeol meminta Hyo-rin untuk datang setiap hari agar mereka lebih akrab. Hyo-rin senang mendengarnya.
“Kapanpun aku melihatmu, kau mengingatkanku akan masa laluku. Untuk menjadi seorang Putri Mahkota, aku menyerah pada mimpiku. Aku dulu juga seorang penari balet yang punya banyak kesempatan. Ini seperti aku melihat diriku sendiri yang masih berusia 19 tahun. Ini sepertinya sama. Akan sangat hebat kalau seseorang sepertimu menjadi seorang Putri Mahkota. Kau sangat elegan. Pemilihan Putri Mahkota kemaren benar-benar tak dipikirkan secara serius. Ini hanya pendapatku, jangan salah paham” ungkap Ibu Yeol. Dia memang sengaja memanas-manasi Hyo-rin. Hyo-rin hanya terdiam sambil berpikir tentang kata-kata Ibu Yeol.
Sementara itu, Chae-gyeong dan tiga sahabatnya sedang menikmati es krim di bangku taman sekolah mereka. “Ini hari minggu. Kenapa kau datang ke sekolah?” tanya Kang-hyeon. “Aku hanya kangen pada kalian” jawab Chae-gyeong. “Ini sangat cantik sekali, bolehkah aku memakainya sebentar saja?” tanya Sun-yeong sambil memegangi topi Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong langsung memberikan topinya. Dan Sun-yeong kegirangan karnanya.
Sementara Hee-sung ikut-ikutan meminta sarung tangan yang dikenakan oleh Chae-gyeong. Sun-yeong berkata kalau sekarang ini, Chae-gyeong adalah orang yang paling dicari di internet. Chae-gyeong tak mengerti apa maksud Sun-yeong. Sun-yeong menambahkan kalau Chae-gyeong punya fans klub yang anggotanya langsung 100ribu hanya dalam beberapa hari.
“Kau tahu apa nama fans klub mu itu? ‘Cinderella Chae-gyeong’, “ kata Sun-yeong. “Sepertinya keren. Lalu apakah aku harus bertemu dengan fans-ku?” kata Chae-gyeong senang. “Hei, jangan senang dulu dengan hal itu. Kau juga punya anti fans yang anggotanya lebih dari 50ribu orang” kata Kang-hyeon kemudian. “Anti? Apa salahku? Tanya Chae-gyeong lesu.
“Ada dua alasan mereka membencimu. Pertama itu karna rumor dan yang kedua itu karna keberadaanmu” kata Sun-yeong. “Lalu apa salahku?” tanya Chae-gyeong dengan lesu. “Karna kau menikah dengan Putra Mahkota” jawab Sun-yeong dengan enteng. Chae-gyeong jadi lemas mendengarnya. “Makanya kau harus hati-hati. Jika tertangkap anti-fans mu, kau akan berakhir” nasehat Kang-hyeon.
“Apa aku salah? Aku tak ingin hidup di bawah ancaman oranglain. Aku akan hidup dengan caraku sendiri. Untuk mereka yang tak menyukaiku, aku tak peduli, aku tak takut” kata Chae-gyeong. Tiba-tiba salah seorang bodyguard-nya berkata kalau sekarang saatnya untuk kembali ke istana.
Chae-gyeong-pun berpamitan pada sahabat-sahabatnya. Dia meminta mereka untuk menyimpan topi dan sarung tangan miliknya, kemudian memberikan pita leher yang dipakainya pada Kang-hyeon, tapi Kang-hyeon tak mau memakainya. Kemudian Chae-gyeong segera pergi meninggalkan teman-temannya untuk kembali ke istana.
Chae-gyeong termenung dengan sedih di dalam mobil. Dia mengingat rentetan peristiwa yang dialaminya bersama Shin. Saat di sekolah, saat pernikahannya, saat di istana, bertengkar dengan Shin, memeluk Shin, dll.
Chae-gyeong yang masuk ke dalam kediamannya disambut dua dayang setianya yang tlah mempersiapkan baju pesta untuknya. Kemudian mereka membantu Chae-gyeong untuk berganti baju. Malam ini akan diadakan pesta untuk menyambut pasangan baru si istana, Shin dan Chae-gyeong.
Shin masuk ke dalam kediaman Chae-gyeong dan terdiam memandangi Chae-gyeong yang terlihat sangat anggun malam itu. Chae-gyeong sedang asyik bercermin. Lalu kemudian dia menyadari kehadiran Shin dan menoleh ke arah-nya. Sementara Shin terus saja memandangi Chae-gyeong tanpa berkedip.
Sementara itu, Ratu ada di dapur istana bersama Sanggung-nya untuk mengecek persiapan jamuan yang akan disajikan. Kemudian Sang-gung Ratu berkata tentang Ibu Yeol. “Ada apa dengannya?” tanya Ratu. “Dia membuka yoga center dan pembukaannya berlangsung hari ini” kata Sang-gung Ratu. “Kau baru saja menerima berita itu?” tanya Ratu karna merasa beritanya sudah terasa basi. Sang-gung Ratu hanya bisa meminta maaf. “Dia seharusnya datang dan memberi salam pada para tetua di istana. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?” selidik Ratu.
Sementara itu, Ibu Yeol sedang sibuk berdandan untuk mempersiapkan kemunculannya, atau lebih tepatnya kebangkitannya untuk yang pertama kalinya di hadapan orang-orang istana dengan sebaik-baiknya.
Pihak istana mengundang banyak duta besar dari Negara lain. Sebenarnya, bintang pestanya adalah Shin dan Chae-gyeong yang diperkenalkan sebagai anggota baru dalam keluarga istana. Tapi seperti biasanya, Chae-gyeong yang ceroboh selalu saja membuat kesalahan. Sebenarnya maksudnya baik, menawarkan makanan pada salah seorang tamu, tapi yang terjadi, makanan itu malah tumpah mengenai baju tamunya karna Chae-gyeong sangat gugup. Ckckckckck……
Ibu Suri, Raja dan Ratu sedang sibuk mengobrol dengan sepasang tamu saat tiba-tiba kedatangan Yeol dan Ibunya membuat para wartawan yang datang meliput menjadi heboh dan berebut untuk mengambil gambar mereka berdua. Shin dan Chae-gyeong pun mengalihkan perhatian mereka pada Yeol dan Ibunya.
Ibu Yeol memberi hormat pada Ibu Suri yang sangat terkejut melihat kedatangannya. Raja menelan ludah, sementara Ratu mencoba untuk tetap tenang. Kemudian mereka berkumpul di sebuah ruangan dan Ibu Yeol menyampaikan salam hormatnya untuk Ibu Suri yang menyambut kedatangannya dengan gembira. Ibu Suri merasa senang karna semua anggota keluarganya berkumpul lagi sekarang. Semuanya merasa senang, hanya Ratu yang merasa cemas karna kedatangan Ibu Yeol.
“Kenapa dia memilih hari ini untuk kembali ke istana. Apa yang sebenarnya direncanakan olehnya?” kata Ratu pada Raja. “Hye-jeong sepertinya hidup dengan baik. Dia tak mungkin menyimpan kesedihan dalam hatinya selamanya” jawab Raja. “Dia sama sekali tak memberi kabar selama 14 tahun ini lalu kemudian dia datang dengan tiba-tiba, dia memilih waktu untuk kembali dimana kami semua cemas akan kesehatan Anda. Dan juga dia memilih hari ini dimana pasangan baru istana muncul secara resmi di hadapan publik. Berlagak seperti ini pesta untuknya. Bukankah seperti itu?” kata Ratu yang merasa tak suka dengan kedatangan Ibu Yeol.
Sepasang tamu sedang asyik berdansa. Saat mereka selesai, tepuk tangan meriah menyambut mereka. Kemudian Shin bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Chae-gyeong. Chae-gyeong yang kaget berusaha menolaknya. Tentu saja Shin mengancamnya dibalik senyumnya agar Chae-gyeong segera bangkit dari tempat duduknya.
Lampu blitz langsung menghujani mereka. Yeol memandang mereka dengan tatapan tak suka. Sementara orang-orang yang ada di sekitar mereka menyambut mereka dengan antusias dan diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Walaupun agak kaku dan kacau, tapi dengan bimbingan Shin, Chae-gyeong pun berdansa dengan baik. Para tamu yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah saat mereka berdansa. Yeol memandang mereka dengan tatapan penuh arti.
Ibu Suri dan Ibu Yeol sedang membicarakan tentang masa lalu. Tentang tragedy menyedihkan yang merenggut nyawa Ayah Yeol. Ibu Suri berkata agar Ibu Yeol melupakan masa lalu dan berpikir tentang masa depan mereka saja. Ibu Yeol menanyakan tentang kesehatan Ibu Suri, tapi Ibu Suri berkata, sejak melihat keadaan Raja yang terus membaik, dia merasa lebih baik.
“Jadi, alasan pernikahan Pangeran Shin itu terjadi dengan alasan kesehatan Raja?” tanya Ibu Yeol. “Kurasa bisa disebut seperti itu” jawab Ibu Suri apa adanya. Kemudian Ibu Yeol menawari Ibu Suri untuk melakukan yoga demi menjaga kesehatannya. Ibu Suri menyambut tawaran itu dengan gembira.
Kembang api di nyalakan untuk memeriahkan pesta malam itu. Para tamu yang hadir merasa sangat terhibur melihatnya. Chae-gyeong merangsek masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang sedang menikmati keindahan kembang api itu, tanpa menyadari kalau orang yang didorong disebelahnya itu adalah Raja. Raja tersenyum memandangi Chae-gyeong yang malu saat menyadari kesalahannya.
Saat meminta maaf pada Rja, barulah Chae-gyeong sadar kalau sepatunya hilang sebelah. Kemudian dia berbalik ke belakang dan melihat sepatunya yang terlepas. Tiba-tiba, datang seseorang mengambil sepatu itu, kemudian menunduk dan memakaikan sepatu itu ke kaki Chae-gyeong. Orang itu adalah Shin. Perlakuan Shin yang romantis pada Chae-gyeong membuat para tamu bertepuk tangan untuk mereka berdua. Chae-gyeong tersipu-sipu malu sekaligus senang. Sedangkan Yeol menatap mereka dengan pandangan kecewa.
Bersambung……………………..
Selasa, 12 April 2011
Princess Hours Episode 5
Shin dan Chae-gyeong sedang sarapan berdua seperti biasanya. HP Shin berbunyi. Shin mengangkatnya. Dia bicara di telepon dengan sesekali memandangi Chae-gyeong. Saat selesai, Chae-gyeong bertanya apa Hyo-rin yang menelpon, dengan enteng Shin mengiyakan. Chae-gyeong bilang, Shin tak perlu menyembunyikannya. Hyo-rin kan juga teman Shin. Jadi kalau menelpon tak apa-apa.
Shin bertanya apa maksud Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang, dari tadi Shin menelpon sambil melmandangi Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang kalau dia tak apa-apa kalau Shin menelpon Hyo-rin. Shin menyela kata-kata Chae-gyeong. “Aku menikah atau tidak, aku akan mengangkat siapa saja yang menelponku tanpa memikirkan apa yang ada dipikiran orang lain. Alasan kenapa aku memandangimu karna ada nasi tertinggal di pipimu” kata Shin. Chae-gyeong kaget mendengarnya dan segera mengelap sisa nasinya. Hihihihihi………..
“Apa kau merasa pernikahan ini terlalu berat untukmu? Meskipun kau menikahiku karna ingin pindah ke istana Chang-deok, tapi apa artinya aku untukmu? Katakanlah didepanku. Aku adalah barang yang bagus yang bisa digunakan untuk pertukaran. Aku merasa tak senang setelah itu” kata Chae-gyeong. Shin tertawa meremehkan.
“Apa kau sadar mengatakan hal itu?” tanya Shin. “Apa maksudmu?” Chae-gyeong balik bertanya. “Untuk masuk ke kelas utama ini, kau menikahiku karna uang. Kudengar kau meminta pada Ibuku untuk mengatasi masalah keuangan di keluargamu. Bukankah itu berarti kau menikahiku karna uang” sindir Shin dengan sinis. Chae-gyeong sedih sekali mendengarnya.
“Ah..jangan salah kira. Aku melihat adikmu juga mengatakan hal itu… Kudengar kau adalah gadis dengan pemikiran yang sederhana. Aku tak pernah tahu kalau kau bisa begitu pintar menghitung. Kudengar kau sudah menerima dokumen dari Akuntan Istana. Apa yang kau rasakan saat melihat jumlah uangmu?” Shin tambah menyindir dengan tajam.
“Kata-katamu benar-benar jahat!” kata Chae-gyeong. “Kenapa? Apa kau marah? Tak perlu merasa seperti itu dan habiskan saja pencuci mulutmu” jawab Shin. Chae-gyeong mendengus kesal. “Sepertinya kau benar-benar marah. Kenapa? Apa kau begitu marah?” tanya Shin sambil tersenyum mengejek. “Jika bisa, aku akan menjahit mulutmu” kata Chae-gyeong sambil bangkit dari tempat duduknya. “Baiklah. Memang benar. Aku menikahimu karna uang. Apa kau puas sekarang? Aku merasa senang saat aku melihat buku tabunganku. Saat aku melihat buku itu, aku masih berpikir satu hal. Sejak kau memberikan cap padaku sebagai cewek matre, aku mungkin akan menguasai seluruh hartamu dan membantu keluargaku yang miskin” Chae-gyeong membalikkan badannya untuk menghapus airmatanya.
“Kau tahu Lee Dong-wan dalam film “The Trap of Youth?” dia itu yang aku jadikan sebagai patokan. Apa kau tahu? Bertemu seorang suami yang baik dan terus menangkapnya. Untuk merubah statusku dari wanita yang miskin menjadi seseorang yang terpenuhi kebutuhannya dan kemudian merencanakan sesuatu untuk menguasai hartanya. Kau harus berhati-hati mulai sekarang. Dasar kau tak punya hati!” maki Chae-gyeong sambil meninggalkan tempat itu.
Shin hanya bisa memandangi kepergian Chae-gyeong dengan bingung. Sementara itu, Chae-gyeong masuk ke kamarnya dan memaki sambil menangis di dalam. Kedua dayang Chae-gyeong dan Asisten Shin memandang dengan sedih. Chae-gyeong hendak keluar, tapi dihentikan oleh Choi Sanggung. Chae-gyeong bilang dia akan segera kembali hingga Choi Sanggung pun membiarkannya pergi.
Asisten Shin menghampiri Shin dan bersiap untuk mengatakan jadwal Shin berikutnya. Tapi Shin malah bertanya tentang film yang tadi disebut oleh Chae-gyeong. Asisten Shin berkata dia tahu drama itu.
Sementara itu Chae-gyeong berjalan sambil mengomel dan mengata-ngatai Shin. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya karna melihat seseorang yang dia kenal. Ternyata orang itu adalah Yeol. Mereka pun duduk dan ngobrol berdua. Chae-gyeong kaget karna melihat Yeol di istana. Yeol bilang dia juga salah satu anggota keluarga kerajaan. Hanya saja dia tak bisa datang saat pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Chae-gyeong mengucapkan terimakasih karna Yeol sudah membawakannya permen dan coklat waktu itu. Bukannya mengerti, Yeol malah bingung. (episode 3).
Di kamarnya, Shin dan asistennya menonton film yang dimaksud oleh Chae-gyeong. Shin merasa ngantuk sekali saat menontonnya. Sementara Chae-gyeong sendiri sedang ngobrol berdua dengan Yeol.
“Apa yang akan teman-teman sekelas katakan. Dengan tiba-tiba….aku jadi seorang Putri Mahkota. Aku jadi takut mereka semua akan mengutukku. Saat ketemu tiga orang teman baikku, sebuah lubang tiba-tiba muncul di kepalaku” ungkap Chae-gyeong. “Yah, anggap saja ada seekor kucing jenis baru yang muncul. Bagaimana wajah itu mampu memikat Putra Mahkota. Berhentilah berkata seperti itu. Sejujurnya, apa kau percaya pada omongkosong seperti itu?” tanya Yeol sambil tertawa.
Chae-gyeong malah malu mendengar kata-kata Yeol. “Akan sangat mudah menyukaimu karna kau itu imut. Meskipun sebenarnya kau bukan tipe gadis yang disukai Shin” kata Yeol. Chae-gyeong tersenyum tipis. Tiba-tiba HP Chae-gyeong berbunyi. Chae-gyeong pikir Choi Sanggung yang menelpon karna dia harus segera belajar. Shin yang menelpon. Tapi dengan malas-malasan Chae-gyeong menjawabnya.
“Kenapa? Apa kau menelpon karna kau ingin mencari tahu apa aku mencuri sesuatu?” tanya Chae-gyeong sambil langsung menutup telpon Shin. Yeol tersenyum dan berkata pada Chae-gyeong. “Apa kau siap mengalami pertengkaran antar pasangan? Sepertinya hidup kalian akan sangat menarik”. “Hidup menarik apa?” kata Chae-gyeong tersenyum masam. “Bukankah kau harus pergi?” tanya Yeol. Tapi Chae-gyeong enggan beranjak dari tempat itu.
Yeol membujuk Chae-gyeong untuk cepat pergi karna Shin adalah tipe cowok yang gampang marah kalau harus dipaksa menunggu. Dengan berat hati Chae-gyeong terpaksa pulang kembali ke kediamannya.
Ternyata Shin sudah menunggunya. Chae-gyeong kaget melihat Shin sudah berbaring di dalam ruangannya. Wajah Chae-gyeong jadi tambah manyun. “Bagaimana kabarmu Nn. Lee Dong-wan? Orang itu benar-benar buruk” komentar Shin yang baru saja selesai menonton film “The Trap of Youth”. Chae-gyeong masuk ke dalam.
“Kenapa? Orang itu sama denganku. Menikah hanya untuk mendapatkan uang” kata Chae-gyeong tertunduk sedih. Shin bangkit dari kursi tempatnya berbaring. “Berhentilah berkata seperti itu. Sekarang aku sangat mengerti arti film itu setelah aku menontonnya” kata Shin sambil berdiri menghampiri Chae-gyeong.
“Sebenarnya aku berpikir untuk mengundangmu makan malam. Bagaimana? Kau bisa mengundang teman-temanmu sebanyak yang kau mau” tanya Shin. “Apa kau sedang membodohi dan bermain-main denganku sekarang?” Chae-gyeong malah marah mendengar kata-kata Shin. Shin mencoba mendekati Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong malah mendorong Shin untuk menjauh darinya. “Iya. Aku hanya bercanda. Kau ingin pulang ke rumah kan? Haruskah aku mengabulkannya? Atau haruskah aku mengundang orangtuamu kemari?” tanya Shin lagi. Chae-gyeong mengangkat wajahnya. Chae-gyeong mengangguk mengiyakan.
“Baiklah. Akan kulakukan jika sudah kulihat bagaimana tingkah lakumu dulu” kata Shin. Chae-gyeong jadi tambah marah karnanya. Dia memegang kerah baju Shin. “Apa katamu? Aku hampir gila memikirkan mereka. Kenapa kau harus bilang kalau aku menikah denganmu karna uang untuk membuatku marah? Dan sekarang kau membodohiku dengan mengatakan “Aku akan membiarkanmu pulang ke rumah”. Kau benar-benar orang yang jahat” kata Chae-gyeong sambil memukuli Shin karna kesal merasa dirinya dipermainkan oleh Shin.
Shin mencoba melepaskan diri dari Chae-gyeong. Dia menggenggam tangan Chae-gyeong yang berusaha memukulnya. Kemudian meninggalkan Chae-gyeong. Sebelumnya dia sempat berkata apakah Chae-gyeong sudah siap untuk ujian besok pagi. Tentu saja Chae-gyeong kaget karna dia sama sekali tidak ingat kalau besok mereka harus menghadapi ujian.
Paginya, Chae-gyeong dan teman-temannya mengerjakan test. Chae-gyeong sibuk mencontek jawaban Yeol yang duduk tak jauh darinya. Setellah Yeol, giliran Kang-hyeon yang dimintai jawaban. Tapi Kang-hyeon sama sekali tak bereaksi. Gwali kelasnya mengomeli karna merasa Chae-gyeong sebagai seorang calon Ratu harusnya memberi contoh yang baik pada rakyatnya. Tak berapa lama kemudian, wali kelas meminta mereka semua untuk mengumpulkan jawaban test.
Sementara itu di ruangan lain, Hyo-rin mulai belajar balet lagi. Sementara Shin dan teman-temannya sedang asyik bercanda di luar ruangan kelas mereka. Tiba-tiba Hyo-rin muncul dari tangga bawah. Teman-teman Shin menyapa Hyo-rin. Hyo-rin mencoba tersenyum pada Shin. Shin hanya tersenyum tipis. Hyo-rin pun [pergi meninggalkan mereka.
Pulang sekolah, Shin mendapat laporan dari para pengawalnya kalau Chae-gyeong tak ditemukan dimana-mana. Ternyata Chae-gyeong dan ketiga sahabatnya sedang asyik menikmati Ttokbokki di pinggir jalan dan mereka merasa senang karna berhasil mengecoh para pengawal Shin dan pengawal Chae-gyeong. Tiba-tiba Yeol datang menyapa mereka.
Mereka berkata Yeol hebat karna bisa mengenali mereka. Kemudian mereka meminta Yeol ikut makan Ttokbokki bersama mereka. Tapi Yeol merasa aneh karna ini adalah kali pertama Yeol memakan Ttokbokki. Mereka tahu Yeol lama meningggalkan Korea. Jadi mereka maklum kalau Yeol merasa aneh. Tiba-tiba salah satu teman Chae-gyeong berseru karna ada masalah besar. Ternyata Shin meninggalkan Chae-gyeong di sekolah. Shin dan para pengawal sudah kembali meninggalkan sekolah.
Di istana, Ratu sedang mengobrol bersama Choi Sanggung dan membicarakan tentang pendidikan Chae-gyeong yang sama sekali belum mengalami kemajuan. choi Sang-gung berkata kalau Chae-gyeong memang tidak pintar dalam pendidikan. Tapi dia pandai dalam hal maen catur dan juga beberapa seni.
Selesai belajar hari itu, Chae-gyeong menemui Shin dan berkata kalau dia senang bahwa hari ini orangtuanya akan pergi ke istana. Chae-gyeong memohon pada Shin agar membantunya mengerjakan tugas supaya dia bisa cepat selesai belajar hari ini dan bisa cepat bertemu dengan orangtuanya. Tapi Shin dengan dingin menolaknya. Tentu saja Chae-gyeong kesal dengan penolakan Shin.
Orangtua Chae-gyeong datang dan ngobrol bersama Ibu Suri, Raja dan Ratu. Raja meminta maaf karna baru sempat mengundang mereka ke istana sekarang. Tapi kedua ortu Chae-gyeong berkata taka pa-apa. Suatu kehormatan bisa datang ke istana. Kelakuan Ayah Chae-gyeong yang hampir mirip dengan Chae-gyeong membuat Ibu Suri menahan tawanya berkali-kali demi menjaga kesopanan.
Sementara itu, Chae-gyeong gelisah dalam belajarnya. Dia memandangi HP-ny dan Choi Sang-gung yang melihatnya jadi marah karna Chae-gyeong tak konsentrasi belajar.
Ayah dan Ibu Chae-gyeong sedang menunggu Chae-gyeong dan merasa tak senang karna Chae-gyeong tak datang-datang. Apalagi berkali-kali Ibu Chae-gyeong ditelpon oleh klien-nya. Saat Ibunya ingin pulang, Ayahnya mencegahnya. Tapi karna Chae-gyeong kelamaan, mereka pun akhirnya pulang juga.
Selesai belajar, Chae-gyeong berlari-lari pulang dengan tergesa-gesa. Tapi saat dia masuk ke dalam kamarnya, yang ada hanyalah kimchi buatan Ayahnya yang sangat disukai Chae-gyeong yang dibawa oleh ortunya. Tentu saja Chae-gyeong yang sangat kangen pada kedua ortunya sangat sedih karna mereka tak bisa bertemu. Chae-gyeong pun menangis sedih.
Chae-gyeong keluar dan marah saat bertemu dengan Shin. “Kau ini menantu macam apa. Membiarkan Ayah dan Ibuku yang ingin bertemu denganku pergi begitu saja. Tiap hari hanya bisa sok keren saja. Aku sangat rindu orangtuaku” kata Chae-gyeong. tangisnya pecah lagi. “Kami tak tahu kalau mereka pergi. Mereka sama sekali tak menelpon. Pangeran bilang kau mungkin tak nyaman jika pangeran ada di sekitar anda. Jadi dia menunggu hingga anda selesai bertemu dengan orangtua anda. Itulah kenapa pangeran baru muncul sekarang”ungkap Pengawal Shin.
Ada sedikit penyesalan di wajah Chae-gyeong karna tlah salah menuduh Chae-gyeong. “Daripada mengatakan hal yang tak berguna, katakana saja padanya, apa jadwal dia selanjutnya” kata Shin yang agal tersinggung. Shin juga memerintahkan mengirim barang yang di bawanya ke rumah ortu Chae-gyeong. Shin pergi meninggalkan Chae-gyeong. Chae-gyeong hanya bisa memandangi Shin dengan menyesal.
Chae-gyeong menemui Shin di kamarnya. Walaupun Shin tak menghiraukan panggilannya, tapi Chae-gyeong masuk begitu saja dan duduk di depan Shin. Chae-gyeong mengambil Edward, teddy bear Shin dan menimang-nimangnya. Shin asik dengan CD Player sambil membaca bukunya dan tak menghiraukan kedatangan Chae-gyeong.
“Apa kau masih menyukai Min Hyo-rin? Jika keluargaku tak pernah membuat perjanjian seperti ini, kita takkan menikah. Dan mungkin kau akan menikah dengannya kan? Karna dia satu-satunya yang kau suka. Jika seperti itu, kau pasti akan sangat bahagia karna menikah dengannya sekarang. Sepertinya aku ini hanya benalu yang tumbuh di antara kalian berdua. Dan aku merasa bersalah padanya. Tapi saat aku berpikir kau menikah dengannya, aku merasa sangat sedih. Aku ini aneh kan? ” kata Chae-gyeong.
Chae-gyeong menghentikan kata-katanya karna Shin menutup bukunya dengan keras. Chae-gyeong memandangi Shin. Shin melepas headsetnya dan berkata kalau Shin ingin pergi ke belakang. Chae-gyeong mengambil CD Player Shin. “Aku penasaran, sebenarnya dia mendengarkan musik macam apa” kata Chae-gyeong.
Betapa terkejutnya Chae-gyeong saat membuka CD Player Shin karna ternyata tak ada kaset CD di dalamnya. Bahkan CD Player itu tak dilengkapi dengan Radio. Tentu saja Chae-gyeong panic. Jadi tadi Shin mendengar apa? Jangan-jangan Shin mendengar semua kata-kata yang diucapkannya tadi. Chae-gyeong jadi panik dan salah tingkah. Chae-gyeong langsung lari pulang ke kamarnya.
“Kau mau pergi kemana” tegur Shin saat Chae-gyeong berlari pergi. Chae-gyeong bilang tak apa-apa, dia hanya ingin pulang. Ada rona sedih di wajah Shin saat Chae-gyeong pergi.
“Aku memalukan sekali. Sekarang apa yang harus aku lakukan?” kata Chae-gyeong di kamarnya. Chae-gyeong langsung menelpon Kang-hyeon dan menceritakan semuanya. “Dia mendengarkan kata-katamu dan berpura-pura bahwa dia tak mendengar apapun?” tanya Kang-hyeon. “Rasanya sebentar lagi aku akan jadi gila. Dari ekspresinya, aku yakin dia dengar” curhat Chae-gyeong. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak… mungkin dia tak dengar apapun. Yang jelas aku tak bilang ‘aku suka padamu’. “ kata Chae-gyeong lagi.
“Dasar bodoh. Itu sama saja. Kau pasti benar-benar menyukai dia. Aigo…..kau sama saja dengan cerita di buku yang sedang kubaca sekarang. Dimana seseorang yang kawin kontrak pada akhirnya mereka akan saling jatuh cinta” kata Kang-hyeon.
Chae-gyeong mencoba mencari ketenangan di depan kamarnya. Tapi pikirannya sungguh tak karuan. Tiba-tiba Yeol menghampirinya. “Sepertinya ada hal berat yang sedang kau pikirkan” kata Yeol. “Kau baru saja mengucapkan salam untuk Ibu Suri?” tanya Chae-gyeong. “Ya. Karna itulah aku tahu kalau minggu depan adalah ultah Shin” kata Yeol. “Ulangtahun?” tanya Chae-gyeong. “Apa kau tak tahu? Pestanya biasanya diadakan di pulau Jeju dan dia akan mengundang kami semua untuk datang. Kenapa ini. Masak Putri Mahkota tak tahu tentang hal ini?” tanya Yeol heran.
Hari ulang tahun Shin. Seperti yang Yeol katakan, pesta itu dilagsungkan di Pulau Jeju. Shin masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Chae-gyeong. teman-teman Shin juga datang. Dan mereka membicarakan tentang hyo-rin. Tentu saja Chae-gyeong kecewa karnanya. Apalagi Hyo-rin berdandan dengan sangat anggun. Chae-gyeong tambah sedih melihatnya. Apalagi saat suaminya berjabat tangan dengan Hyo-rin. Tapi Chae-gyeong tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Yeol yang terus memperhatikan raut wajah sedih Chae-gyeong.
Chae-gyeong ngobrol berdua dengan Yeol sementara Shin asyik bersama Hyo-rin dan teman-temannya. Chae-gyeong berkata, Hyo-rin itu gadis paling cantik di sekolah mereka. Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba HP Yeol berbunyi. Ibu Yeol yang menelpon dan bertanya apa Yeol sudah sampai di Jeju. Ibunya bilang dia sedang mengatur apartemen mereka dan kemudian memutuskan obrolan di telpon saat ada tamu penting yang datang.
Tamu Ibu Yeol adalah teman baik Ayah Yeol. Mereka berdua merencanakan untuk membuat skandal tentang keluarga istana yang akan membuat mereka malu lalu kemudian merebut tahta dari tangan mereka. Semua sudah dipersiapkan dengan baik.
Sementara itu, beberapa wartawan mencoba masuk ke area pesta ultah Shin dengan cara meramal sebagai tukang sayur yang datang untuk mengantarkan sayuran. Mereka sudah siap dengan kamera mereka untuk mencari berita.
Chae-gyeong mengambil makanan dan lagi-lagi bertemu dengan Hyo-rin. Hyo-rin bertanya apa Chae-gyeong senang tinggal di istana, Chae-gyeong hanya bisa diam. Saat duduk bersama-sama, ternyata Hyo-rin mengambil makanan itu untuk Shin. Tentu saja Chae-gyeong tambah sedih melihat keakraban mereka berdua.
Sementara itu, tiga orang sahabat Chae-gyeong mencoba menyusup masuk ke area pesta. Mereka mengendap-endap dan menyaksikan acara ultah Shin. Mereka heran melihat Yeol ada di pesta Shin. Tapi karna berteriak, mereka ketahuan para penjaga lalu kemudian ditangkap. Sementara itu, para wartawan sibuk mengabadikan kemesraan antara Shin dan Hyo-rin.
Chae-gyeong hanya berdua bersama Yeol. Untung saja masih ada Yeol yang menemani Chae-gyeong karna Chae-gyeong tak tahu Shin ada dimana. Tiba-tiba teman-teman Shin datang dan menyuruh Yeol pergi karna Shin mencarinya. Teman-teman Shin mengerjai Chae-gyeong yang tak bisa bahasa Inggris. Hyo-rin juga ada di antara mereka. Mereka mengatakan kalau Chae-gyeong adalah bagian yang menyenangkan dari pesta ini. Chae-gyeong yang tak paham apapun hanya bisa diam saja saat mereka tertawa-tawa mengejeknya dengan memakai bahasa Inggris.
Sementara itu, Shin ternyata sedang mandi di sauna berdua dengan Yeol. Yeol berkata kalau daritadi Chae-gyeong mencarinya. Kenapa Shin tak bilang kalau dia ada disini. Ini pesta pertamanya. Harusnya Shin selalu ada di dekatnya. Shin itu putra mahkota dan Chae-gyeong putrid mahkota. Harusnya di saat-saat seperti ini, Shin harus ada di dekat Chae-gyeong.
Pengawal kerajaan mengiinterogasi teman-teman Chae-gyeong. mereka tak percaya saat teman-teman Chae-gyeong bilang kalau mereka bertiga adalah sahabat putri mahkota. Tentu saja Chae-gyeong segera dipanggil dan membebaskan mereka. Tentu saja mereka sangat senang.
Chae-gyeong bertanya kenapa mereka bisa ada disitu, mereka bilang, mereka kan penggemar keluarga istana. Jadi apapun yang berhubungan dengan keluarga istana, tentu saja mereka tahu. Chae-gyeong bertanya kenapa Kang-hyeon yang biasanya tak peduli ikut datang. Dengan gugup Kang-hyeon berkata kalau dia hanrus mengawasi kedua temannya yang tak pernah bertindak normal. Hehehe…….
Yeol juga ikut menyusul Chae-gyeong. Yeol bilang sekarang saatnya acara buka kado. Jadi Chae-gyeong harus ada disana karna Chae-gyeong itu Putri Mahkota. Tapi Chae-gyeong agak ragu untuk pergi karna teman-temannya tak mungkin bisa ikut pergi bersamanya. Apalagi mereka terus saja memegangi tangan Chae-gyeong untuk tidak meninggalkan mereka di situ.
Yeol tahu apa masalah mereka dan berkata agar Chae-gyeong membawa teman-temannya juga. Tak apa karna mereka kan juga teman sekelas Yeol. Tentu saja mereka semua senang sekali mendengarnya. Kang-hyeon bertanya apa benar Yeol itu juga seorang pangeran. Chae-gyeong dengan gugup mengiyakan.
Hyo-rin menghadiahi Shin MP3 Player. Shin senang menerimanya. Sementara itu, Chae-gyeong menghadiahi Shin sepasang sepatu. Teman-teman membandingkan hadiah Chae-gyeong dengan hadiah dari Hyo-rin. Shin jadi malu karnanya. Tentu saja Chae-gyeong sedih melihatnya. Teman-teman Chae-gyeong juga tak habis pikir kenapa Chae-gyeong menghadiahi Shin sepatu murahan. Chae-gyeong meminta mereka berhenti bercanda karna dia juga sudah sangat malu tadi di hadapan teman-teman Shin.
Chae-gyeong dan teman-temannya menghampiri Shin karna teman-teman Chae-gyeong juga membawa hadiah untuk Shin. Shin sedang asyik mendengarkan mp3 barunya. Chae-gyeong duduk di sebelah Shin. Tapi Shin tak begitu mempedulikan mereka. Apalagi saat teman-teman Shin datang dan berkata pada Chae-gyeong, kalau yang di duduki Chae-gyeong itu tempat Hyo-rin. Chae-gyeong minta maaf dan segera mengajak teman-temannya pergi.
Malam hari, Kang-hyeon menasehati Chae-gyeong di tepi kolam. Kenapa Chae-gyeong diam saja saat teman-teman Shin mengusirnya. Tempat di sebelah Shin itu, tentu saja tempat Chae-gyeong karna Chae-gyeong itu istri Shin. Tapi kenapa Chae-gyeong membiarkan mereka menang. Chae-gyeong berkata. Mungkin mereka pikir Hyo-rin itu jahat. Tapi sebenarnya Chae-gyeong lah yang jahat. Teman-teman Chae-gyeong tak terima kalau Chae-gyeong menganggap dirinya sendiri jahat. “Putri Mahkota adalah orang yang sangat baik” protes mereka.
“Sejak awal, Hyo-rin itu pacar Shin. Dia bahkan sudah pernah dilamar oleh Shin” kata Chae-gyeong. Tentu saja teman-temannya kaget mendengarnya. “Bukan..bukan itu maksudku. Min Hyo-rin sangat mengerti Shin. Apa yang Shin suka, apa kebiasaan Shin. Sedangkan aku tak tahu apapun tentang Shin” kata Chae-gyeong dengan sedih. Salah satu teman Chae-gyeong mengiyakan perkataan Chae-gyeong dan berkata Shin dan Hyo-rin memang sangat cocok.
“Itulah kenapa, aku bilang akulah yang jahat karna tlah memisahkan mereka. Itulah kenapa aku tak mau bertengkat dengan mereka” ungkap Chae-gyeong dengan sedih. Kang-hyeon tak suka melihat Chae-gyeong sedih. Tiba-tiba Yeol menyapa mereka. “Hei, gadis-gadis abad 21. kenapa kalian terlihat sangat menyedihkan? Apa pestanya tak menyenangkan?” tanyanya. Mereka berempat terkejut dan berbalik memandangi Yeol yang sedang duduk di atas ayunan di belakang mereka.
Chae-gyeong yang sedih bermain air kolam. Chae-gyeong tak sadar saat Yeol mengendap-endap menghampirinya. Kang-hyeon dan teman-temannya melihat Yeol. Tapi Yeol meminta mereka untuk tutup mulut. Yeol menyeburkan Chae-gyeong ke kolam yang ternyata dangkal. Tentu saja Chae-gyeong berteriak karna kaget. “Apa-apaan kau ini, Yeol-Gun. Kalian pikir ini lucu ya!” kardik Chae-gyeong sambil menarik teman-temannya ke dalam kolam. Dan tentu saja Chae-gyeong juga menarik Yeol masuk ke kolam.
Mereka berteriak-teriak dan tertawa di dalam kolam. Shin yang sedang asyik membaca mendengar kegaduhan tawa mereka. Dia membuka kembali hadiah Chae-gyeong dan membelai dengan sayang hadiah sepasang sepatu yang diberikan Chae-gyeong kemudian mencoba memakainya. Dia terkejut saat tiba-tiba Hyorin datang dan duduk di sampingnya.
Hyo-rin agak kecewa melihat Mp3 darinya tergeletak begitu saja di samping Shin. Hyo-rin bertanya apa Shin sudah memakai Mp3 darinya, Shin bilang dia belum mencobanya. Kemudian Hyo-rin memasangkan headset di telinga Shin dan mereka mendengarkan musik berdua tanpa tahu kalau ada wartawan yang mengabadikan kemesraan mereka.
Tengah malam, Shin dan Chae-gyeong sudah ada di istana. “Ini pertama kalinya aku pergi ke Pulau Jeju, kenapa kita harus kembali cepat-cepat di tengah malam. Apa kereta kencananya akan berubah jadi labu dan Cinderella akan berubah jadi gadis miskin lagi?” protes Chae-gyeong. “Hei. Kupikir kau kebanyakan minum air dan lupa pada satu hal. Memberi salam pada para Tetua di pagi hari adalah jadwal terpenting kita. Apa kau ingat itu?” timpal Shin. “Aku lupa semua tentang itu. Besok itu hari Minggu dan aku bahkan tak bisa tidur larut malam” lanjut Chae-gyeong lagi. Shin hanya bisa mendesah kesal mendengar kata-kata Chae-gyeong.
“Karna aku tak bisa tidur besok, lebih baik aku tak tidur sekalian” kata Chae-gyeong.
Shin tidur di kamarnya. Tapi tidurnya pun tak tenang. Dia membuka hadiah dari teman-teman Chae-gyeong. yang berisi sebuah kalung. Sementara itu, Hyo-rin sedang duduk di kamarnya dan memikirkan Shin. Dan Yeol yang juga belum tidur memandangi jendela kamarnya. Chae-gyeong yang bilang kalau dia takkan tidur sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Kemudian tak sengaja dia melihat Shin yang sedang duduk di kursinya sambil tersenyum.
Bersambung……………..
Langganan:
Postingan (Atom)