Sabtu, 26 Maret 2011

Princess Hours Episode 4

Telepon di apartemen Yeol berdering. Yeol yang baru saja pulang berbelanja bergegas untuk mengangkatnya. Ternyata Ibunya yang menelpon. Ibunya bilang dia menyaksikan upacara pernikahan Shin melalui siaran tv. Ibunya bertanya kenapa dia tak melihat Yeol ada di antara mereka. Yeol bilang pasti akan susah mencari sebuah jarum yang terjatuh di lautan luas. Ibunya tertawa mendengarnya. Ibunya bilang kalau besok dia akan meninggalkan Inggris. Yeol senang sekali mendengarnya dan mencatat jadwal kepulangan ibunya agar dia tak lupa.

Bersabarlah sebentar lagi, Yeol. Kita tunjukkan pada mereka yang tlah membuang kita bahwa kita masih hidup dan baik-baik saja. Yang telah membuat kita menderita, sementara mereka hidup dengan nyaman. Ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan pada mereka agar mereka bisa merasakan penderitaan kita hingga menangis darah. Jangan khawatir, Yeol. Ibu akan mengatasi semuanya. I miss u” ucap Ibu Yeol dengan dingin. “I miss u too” jawab Yeol yang sedari tadi hanya diam sambil menutup teleponnyaa.

Putra mahkota hidup di istana bagian timur yang terbagi menjadi dua tempat. Yang aslinya hanya ada bangunan Sa Yang Dang. Tapi kemudian, dibangun bangunan ala barat yang dibagi menjadi dua bagian. Sa Yang Dang sekarang hanya dipakai untuk tempat belajar putra mahkota.

Dan bangunan ala barat yang terbagi jadi dua bagian itu, sekarang adalah tempat tinggal Putra Mahkota. Diantara kedua bangunan itu terdapat halaman yang luas di tengah-tengahnya. Di bangunan yang satu ditempati oleh Putra Mahkota dan bangunan di sisi yang lain ditempati oleh Putri Mahkota. Chae-gyeong dibawa ketempat itu saat upacara Tong Ne selesai.

Chae-gyeong masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama kedua orang dayang yang selama ini selalu bersamanya. Chae-gyeong senang sekali dengan perabotan serba mewah dan nyaman yang ada di situ.

Sementara di Thailand, Hyo-rin yang jadi juara sedang ngobrol dan berbincang-bincang dengan guru dan dua orang asing yang tertarik pada bakat Hyo-rin. Mereka berdua memberikan beasiswa untuk Hyo-rin belajar balet di luar negeri dan mengembangkan bakat baletnya itu disana. Hyo-rin dan guru baletnya tentu saja sangat senang menerimanya.

Tiba-tiba ada kabar di tv yang membuat Hyo-rin terkejut tapi membuat kedua orang asing itu sangat antusias menyaksikannya. Apalagi kalau bukan pernikahan Shin dan Chae-gyeong yang disebut oleh orang-orang sebagai pernikahan abad ini. Guru balet Hyo-rin mengatakan kalau Hyo-rin dan Putra Mahkota berasal dari sekolah yang sama. Tiba-tiba Hyo-rin melangkah pergi dan meninggalkan aplikasi beasiswa yang didapatkannya begitu saja diiringi pandangan bingung Guru Balet dan kedua orang yang memberinya beasiswa itu.

Di teras kamarnya, Hyo-rin menggenggam erat sepatu baletnya. Dia melihat dengan tatapan sedih berita pernikahan Shin dengan Chae-gyeong dari tv di kamarnya. Tiba-tiba telepon di kamar Hyo-rin berdering. Gurunya menelpon dari bawah dan meminta Hyo-rin untuk turun dan berkata apa Hyo-rin tak tahu siapa kedua orang itu dan meminta Hyo-rin untuk cepat turun lagi. Hyo-rin pun turun dan menemui mereka lagi.

Orang asing yang laki-laki memberikan aplikasi beasiswa itu pada Hyo-rin sedangkan yang wanita bertanya pada guru Hyo-rin apa yang sebenarnya terjadi pada Hyo-rin tadi. Gurunya tak bisa menjawabnya dan meminta Hyo-rin untuk segera menandatangani beasiswa itu. Bukankah hal itu adalah impian Hyo-rin sejak lama. Tapi Hyo-rin meminta maaf dan bilang kalau dia tak bisa menerimanya karna masih ada banyak hal yang harus dilakukannya di sekolah.

Sementara itu di istana, Ibu Suri, Ratu dan Choi Sang-gung sedang membicarakan tentang pendidikan Putri Mahkota. Ibu Suri berkata untuk belajar memakai huruf Hangeul saja dan diselingi dengan huruf Hanja karna mungkin Chae-gyeong tak begitu mengenal huruf Hanja. (Huruf Korea ada 2, Huruf Hanja atau nama lainnya Kanji China yang sering digunakan pada masa Korea masih di bawah pemerintahan kekaisaran dan juga huruf Hangeul yang digunakan sejak pemerintahan Raja Sejong. Raja Sejong lah yang menciptakan huruf Hangeul. Dalam buku2, kamus, petunjuk jalan, dll, biasanya tertulis dalam 2 macam huruf tersebut karna orang-orang jaman dulu hanya bisa membaca huruf Hanja saja. Berbeda dengan orang Korea modern yang sekarang hanya memakai huruf Hangeul saja).

Ibu Suri bertanya pada Ratu bagaimana dengan pendidikan dasar Pangeran. Pendidikan dasar juga perlu diberikan pada Chae-gyeong, yaitu pendidikan mengenai bagaimana cara untuk berbicara, bersikap dan juga cara untuk mengungkapkan perasaaan. Semua itu adalah hal yang paling mendasar yang harus dipelajari.

Kemudian, Ibu Suri juga berkata Ratu dulu juga berasal dari kalangan rakyat biasa, hanya saja Ratu berasal dari keluarga kaya yang sudah terbiasa dengan segala macam sopan santun yang ada dalam istana. Jadi Ratu tak mengalami kesulitan saat belajar tentang sopan santun di istana. Ibu Suri mengatakan, kalau Putri Mahkota sangat jauh berbeda daripada Ratu. Putri belum terbiasa dengan sopan santun di istana. Maka dari itu Ibu Suri meminta Ratu untuk mendidik Chae-gyeong dengan lebih sabar. Ratu hanya bisa mengiyakan.

Ibu Suri bercerita, setelah kematian tragis mendiang Raja Hyo-ryul, Raja sekarang mengambil alih singgasana dengan baik karna bantuan Ratu. Semuanya berjalan dengan lancar karnanya. Dulu Ibu Suri tak sempat mengatakan apa-apa pada Ratu bahwa dia sangat berterima kasih karna Ratu sudah membantu dengan sepenuh hati. Ratu merasa terharu dan tersanjung mendengarnya.

Yeol sedang menyetrika sambil mendengarkan berita yang masih saja heboh dibicarakan oleh orang-orang. Apalagi kalau bukan pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Ternyata Yeol menyetrika celana olahraga Chae-gyeong.

Di kamarnya Chae-gyeong masih tertidur lelap saat dayang-dayangnya mencoba membangunkannya karna hari sudah pagi. Mereka heran dan bertanya pada Chae-gyeong kenapa Chae-gyeong tidak memakai hanbok yang seharusnya dipakainya untuk tidur. Chae-gyeong bilang dia merasa sayang kalau hanbok yang cantik seperti itu dipakai untuk tidur. hehehehe ……

Para dayang Chae-gyeong membantu Chae-gyeong untuk mandi. Tapi Chae-gyeong bilang dia ingin melakukannya sendiri. Di kamar mandi, Chae-gyeong terkagum-kagum dengan interior yang ada di dalamnya. Dengan bathtub keramik n keran yang terbuat dari emas dilengkapi dengan tv di dalamnya. Chae-gyeong tersenyum-senyum melihatnya.

Selesai mandi, Chae-gyeong dan Shin menghadap Raja, Ratu dan Ibu Suri. “Mulai sekarang, pengawal Shin akan ditambah dari 3 orang menjadi 14 orang. Mereka takkan mengawal di dalam sekolah, mereka hanya akan berada di luar sekolah untuk mengawal” kata Raja. Shin tersenyum senang mendengarnya. “Dan juga untuk Putri Mahkota, mereka juga akan mengawalmu. Semoga pengawalan itu membuat kalian nyaman” lanjut Raja. Chae-gyeong mengucapkan terimakasih pada Raja.

Shin menuntut permintaannya yang dulu sebelum nikah dipenuhi. Dia dan Chae-gyeong ingin pindah ke istana Chang-deok. Tapi Ratu bilang, butuh waktu setahun setengah untuk memperbaiki istana itu. Jadi mereka harus bersabar dulu untuk beberapa tahun ini. Shin tak suka harus menunggu. Ratu juga tak suka Shin menuntutnya seperti itu di depan Chae-gyeong. Shin bilang tak apa-apa karna Chae-gyeong juga sudah tahu akan hal itu. Shin yang marah menarik Chae-gyeong pulang ke kediamannya.

Chae-gyeong tak percaya Shin bisa sekasar itu pada para Tetua Kerajaan. Biarpun kelakuannya kekanak-kanakan, tapi Shin bilang kalau mereka tak diancam seperti itu, keinginan mereka takkan di penuhi. Chae-gyeong heran melihat tingkah Shin. Dia menganggap kelakuan Shin benar-benar aneh.

Sementara itu, Ibu Suri memarahi Ratu karna ternyata Ratu yang berjanji pada Shin untuk menyetujui kepindahan Shin ke istana Chang-deok agar Shin setuju dengan pernikahan itu. Ibu Suri menyesali keputusan Ratu yang tak berdiskusi pada yang lain terlebih dulu. Ratu hanya bisa meminta maaf atas tindakannya yang salah.

Ratu berkata semua ini karna Raja mengijinkan Shin bersekolah di luar lingkungan istana. Sedangkan Raja berkata semua ini karna Ratu yang selalu terlalu keras kepala dan memutuskan semua sendiri hingga membuat Shin jadi arogan. Shin waktu kecil juga anak yang penurut, tapi sekarang dia sudah berubah jadi arogan seperti ini. Ibu Suri pusing melihat Raja dan Ratu yang saling menyalahkan.

Asisten Shin menghampiri Shin dan Chae-gyeong. Dia membawa 3 orang wanita yang akan menjadi pengawal pribadi untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong terkagum-kagum melihat mereka. Kemudian Chae-gyeong bertanya pada Asisten Shin karna sudah bertemu tapi belum pernah tahu siapa dia.

Asisten Shin memperkenalkan dirinya sebagai Asisten yang bertugas untuk melindungi pangeran dan mengatur jadwal sehari-hari Pangeran dan apapun yang berhubungan dengan masalah Pangeran Shin, jaman dulu disebut seorang kasim. Chae-gyeong membatin, Asisten Shin pasti sudah dikebiri karna itulah syarat jadi seorang kasim. Chae-gyeong senyum-senyum memikirkan hal itu.

Rupanya Asisten Shi tahu apa yang Chae-gyeong pikir, dia bilang, jaman sekarang sudah tak seperti itu. Dia sudah punya istri dan anak di rumah. Bukan seperti jaman dulu yang harus seperti itu. Wajah Chae-gyeong memerah karna malu. Shin tertawa melihat kekonyolan Chae-gyeong. Chae-gyeong meminta maaf karna sudah salah mengira. “Tak apa-apa Bigung Mama” kata Asisten Shin. Chae-gyeong tertawa mendengar panggilan barunya Bigung Mama (Yang Mulia Permaisuri).

Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Apa ada yang salah dengan panggilan itu?” tanya Shin heran. “Tidak. Aku hanya merasa agak gugup dipanggil seperti itu” jawab Chae-gyeong. Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Dia berbaring dan meneriakkan sebutan barunya” Aku adalah Yang Mulia Permaisuri” teriak Chae-gyeong. Teriakannya terhenti karna kedatangan Choi Sanggung.

Choi Sanggung berkata dia belum memperkenalkan secara resmi pada Chae-gyeong. Dia adalah Choi Sanggung, Asisten pribadi Chae-gyeong sekaligus yang bertanggung jawab atas pendidikan Chae-gyeong. Chae-gyeong melotot mendengarnya. Tak disangka dia harus belajar di bawah pengawasan Choi Sanggung yang sangat disiplin itu lagi.

Choi Sanggung berkata kalau Akuntan Istana sedang menunggu Chae-gyeong. Chae-gyeong heran mendengar kenapa Akuntan Istana mencarinya. Choi Sanggung bilang, Akuntan Istana bertugas untuk mengatur harta dan kekayaan yang dimiliki oleh Chae-gyeong. Kalau Chae-gyeong lelah hari ini, Chae-gyeong bisa menemuinya besok siang. Chae-gyeong bilang dia bisa menemui mereka hari ini.

Chae-gyeong menemui Akuntan Istana. Ternyata mereka memberikan tabungan untuk Chae-gyeong. Akuntan Istana bilang semua uang Chae-gyeong yang dibutuhkan Chae-gyeong akan ditransfer dari rekening istana ke tabungan Chae-gyeong. Jika ada sesuatu yang ingin Chae-gyeong tanyakan, Chae-gyeong tinggal bertanya saja.

Akuntan Istana perpamitan pergi. Chae-gyeong penasaran ingin membuka buku tabungan yang 4x lebih besar dari buku tabungan kita itu. Hehehe….Dan Chae-gyeong sangat terkejut dengan isinya saat membukanya. Disana tertulis jumlah tabungannya dengan angka yang sangat fantastis. 100 juta won (kira-kira 780 juta). Chae-gyeong sampai berteriak saking girangnya.

Di perjalanan menuju sekolah, Chae-gyeong berada satu mobil dengan Shin. Chae-gyeong sedang asyik menuliskan rencana untuk apa saja uang yang dimilikinya sambil sesekali tertawa. Kedua sopir mereka juga senyum-senyum melihat tingkah Chae-gyeong. “Apa kau sakit?” sindir Shin. “Aku tak apa-apa” jawab Chae-gyeong. “Tapi kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila” lanjut Shin. Chae-gyeong manyun mendengarnya dan berkata, “Kenapa aku harus gila kalau aku punya banyak uang yang bisa kupakai”.

Sampai di sekolah, siswa-siswa yang lain mengerubuti mereka. Para pengawal melaksanakan tugasnya. Mereka mengawal Shin dan Chae-gyeong masuk ke dalam sekolah.

Tiba di kelas, Chae-gyeong heran melihat Yeol yang mengembalikan celana olahraga-nya. “Siapa kau?” tanya Chae-gyeong. “Apa kau tak ingat?” Yeol balik bertanya. “Oh, kau murid pindahan itu” kata Chae-gyeong kemudian. Yeol tersenyum senang karna Chae-gyeong mengingatnya. “Apa kau juga pindah ke kelasku?” tanya Chae-gyeong tersenyum senang. Kemudian Chae-gyeong menyodorkan jari telunjuknya ke arah Yeol, salam luar angkasa khas Chae-gyeong. Hehehe….

Chae-gyeong mencoba menyapa teman-temannya. Tapi tak satupun yang peduli akan kehadirannya. Termasuk Kang-hyeon yang biasanya sangat mengerti dirinya. Dia memakai sarung tangan dan celana olahraganya. Tapi tak satupun yang mempedulikannya. Chae-gyeong sedih. Dia tak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, Shin bermain basket dengan teman-temannya, diiringi sorak sorai gadis-gadis dipinggir lapangan. Para pengawal Shin juga ada di pinggir lapangan. Dan saat Shin terjatuh, para pengawal langsung pontang panting berlari menghampirinya. Tapi Shin pernah melarang mereka untuk mendekat. Jadi mereka-pun tak berani mendekat.

Shin duduk dibangku bersama teman-temannya. Mereka bertanya pada Shin apa yang terjadi saat malam pertamanya. Shin bilang tak terjadi apapun yang ada di pikiran teman-temannya meskipun hanya 1%. Tapi tiba-tiba Shin teringat jari tangannya yang digigit oleh Chae-gyeong. Kemudian dia berkata, “Tapi kupikir, ada 7% yang terjadi di antara kami” Shin tertawa senang. Teman-temannya mendesaknya untuk bercerita. Shin tak mau mengataka apa-apa. Dia mengajak mereka untuk pergi.

Turun dari tangga mereka bertemu dengan Hyo-rin. Salah satu tema Shin memanggil Hyo-rin. Mereka bertiga meninggalkan Shin berdua dengan Hyo-rin agar mereka bisa berbicara.

Sementara itu, Chae-gyeong sedang curhat dengan Yeol. Dia sedih melihat teman-temannya seperti itu. “Seorang biasa yang tiba-tiba jadi seorang putri, bukankah itu aneh. Tapi ini bukan cerita Cinderella. Tapi aku takkan menyerah dan diam saja. Aku akan berjuang untuk menjadi orang yang lebih baik. Bagaimanapun juga, terimakasih” kata Chae-gyeong. “Untuk apa? Aku bahkan tak bisa membantumu apa-apa” elak Yeol. “Tapi kau mau mendengarkan semua keluh kesahku. Kau memang hebat” jawab Chae-gyeong.

Bagaimanapun juga aku merasa lega karna aku punya teman sepertimu” kata Chae-gyeong. “Aku juga senang berteman denganmu” timpal Yeol sambil tertawa senang. Mereka bahagia.

Sementara itu, Hyo-rin dan Shin. “Min Hyo-rin gadis yang bodoh. Orang bodoh yang hanya tahu tentang menari balet seumur hidupnya. Saat kau lihat kompetisinya, semua peserta seperti orang yang bodoh. Mereka semua tak punya emosi. Sedangkan aku, kebahagiaanku, kesedihanku, kemarahanku, dan rahasia hidupku, semua itu kugunakan dalam tarianku. Dan juga, aku mulai menari menuruti apa yang kusuka. Kau akan menyesalinya. Kau akan menyesal seumur hidup karna menungguku. Selamanya. Tapi semua itu sudah berakhir sekarang. Aku menyesal mengatkan itu padamu. Tapi kau masih mau bermain dengan Hyo-rin kan?” kata Hyo-rin pada Shin.

Shin hanya diam. “Jangan khawatir, aku takkan mencampuri hidupmu. Bukankah kau kenal aku dengan baik? Kau bodoh sekali karna tak mau bermain” lanjut Hyo-rin. Shin hanya diam kemudian pergi meninggalkan Hyo-rin yang sedih sendirian.

Chae-gyeong dan Yeol kembali ke ruang kelas mereka. Yeol berkata agar Chae-gyeong tak khawatir dan agar Chae-gyeong tenang menghadapi semuanya. Chae-gyeong berterimakasih atas bantuan Yeol yang membuatnya merasa nyaman. Chae-gyeong pun masuk ke dalam kelas bersama Yeol.

Chae-gyeong memperhatikan sekelilingnya. Tak satupun yang mempedulikannya. Dua orang teman dekat Chae-gyeong meminta Chae-gyeong untuk berdiri di depan kelas. Chae-gyeong memandang Yeol untuk meminta pendapat, tapi Yeol malah menghindari tatapannya. Chae-gyeong maju ke depan, Dengan menuruti kata teman-temannya, dia berharap agar mereka mau berteman dengannya lagi.

Di depan Chae-gyeong malah berpidato dan mengucapkan terimakasih pada mereka semua yang sudah mau berteman dengannya selama ini. Mereka sudah memperlakukan dia dengan baik. Chae-gyeong berterimakasih karna telah menjaga meja dan bangku Chae-gyeong selama Chae-gyeong tak masuk. Chae-gyeong menunduk sedih.

Tiba-tiba teman-teman Chae-gyeong menyemprot Chae-gyeong dengan pasta dan ketiga sahabat dekatnya maju kedepan sambil membawa kue tart dan karangan bunga untuk Chae-gyeong semabari mengucapkan selamat atas pernikahan Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong sangat gembira dan terharu.

Jangan terlalu gembira. Sekarang kau sudah menikah. Hidupmu sudah berakhir sekarang. Apa kau sadar itu?” kata Kang-hyeon. “Apa-apaan ini? Sudah selesai?” kata wali kelas mereka yang tiba-tiba masuk. “Selamat buatmu, gadis bodoh. Hei! Kenapa kau berani menikah mendahuluiku?” kata wali kelas Chae-gyeong. Chae-gyeong dan teman-temannya tertawa mendengarnya. “Jadi anda juga ikut-ikutan mengerjaiku?” tanya Chae-gyeong. “Tentu saja. Kalau tidak mereka semua akan memarahiku. Tunggu apalagi? Sekarang tiup lilinnya” kata wali kelas Chae-gyeong.

Chae-gyeong meniup lilinnya, begitu selesai, Kang-hyeon yang ada dibelakangnya membenamkan kepala Chae-gyeong ke tart hingga muka Chae-gyeong belepotan tart. Tentu saja Chae-gyeong tak hanya diam begitu saja. Dia langsung mengejar teman-temannya dan juga wali kelasnya untuk mengolesi wajah mereka semua dengan tart. Riuh sekali suasana kelas Chae-gyeong. Yeol yang melihat aksi mereka tertawa bahagia.

Pulang sekolah, Yeol dicegat oleh beberapa orang cewek. Salah satu cewek itu, tiba-tiba memeluknya. Tentu saja Yeol kaget melihatnya. Cewek-cewek yang lain juga kaget melihat aksi cewek nekat itu. Chae-gyeong menghampiri Yeol dan tak menyangka ternyata Yeol ikut campur dalam rencana itu. Yeol membela diri. Kalau mereka meminta mereka dengan sungguh-sungguh untuk berpura-pura agar berhasil bersandiwara untuk menjebak Chae-gyeong.

Chae-gyeong tersenyum malu-malu. Yeol senang melihatnya. Tiba-tiba Shin berteriak menyuruh Chae-gyeong untuk masuk ke mobil. Chae-gyeong-pun berpamitan pada Yeol dan masuk ke mobil dengan dongkol. Yeol menyapa Shin. Tapi Shin hanya senyum simpul. Mereka pulang menuju istana. Sementara Yeol termenung sendirian. “Itu adalah tempatku. Apa kau tahu? Sebenarnya itu adalah tempatku” kata Yeol dengan pedih. Di atas sekolah, Hyo-rin pun memandang sedih kepergian Shin dan Chae-gyeong.

Teman-teman Shin berusaha menghibur Hyo-rin. Mereka memberikan sebuah ponsel model terbaru sebagai ganti ponsel Hyo-rin yang rusak. Hyo-rin mencoba menolak pemberian itu, tapi mereka memaksanya. Hyo-rin kemudian berpamitan pada mereka untuk menjemput guru baletnya.

Di mobil, Chae-gyeong teringat rumahnya saat melewati tikungan yang berbelok ke rumahnya. Dia bilang, biasanya dia naik sepeda ke sekolah, dia membayangkan, seperti apa sekarang sepedanya, apakah sudah karatan karna terkena air hujan? Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin cuek-cuek aja n asyik mendengarkan lagu iPod-nya. Chae-gyeong sedih, dia ingin sekali mengendarai sepedanya lagi.

Chae-gyeong memanggil Shin dan melepaskan earphone dari telinga kiri Shin. Shin marah karnanya. “Um….kita dekat dengan rumahku. Bolehkan kita berhenti?” pinta Chae-gyeong. Shin menyalakan tv di mobil, Asistennya berkata, pulang sekolah, mereka masih harus belajar. Chae-gyeong sedih mendengarnya.

Sementara itu, di rumah Chae-gyeong, Ayah Chae-gyeong merasakan hal yang sama. Dia merindukan Chae-gyeong dan khawatir apakah Chae-gyeong makan dengan baik, apakah Chae-gyeong sakit perut, apakah Chae-gyeong membuat masalah. Mungkin sulit bagi Chae-gyeong untuk belajar tata krama di istana. Istrinya berkata agar Ayah Chae-gyeong tak terlalu khawatir. Ayah Chae-gyeong ingin menelpon Chae-gyeong tapi istrinya melarangnya. Dia khawatir nanti malah mereka berdua menangis bersama.

Ayah Chae-gyeong bertanya apakah Ibu Chae-gyeong tak sedih kehilangan Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong berkata tentu saja dia sedih. Tapi tetap saja tak bisa membalikkan keadaan seperti semula. Semua ini terjadi kan juga karna salah Ayah Chae-gyeong. Ayah Chae-gyeong hanya diam. Tiba-tiba Hp Ibu Chae-gyeong berbunyi.

Di mobil, Chae-gyeong masih mengomel sendiri. Shin bisa bertemu dengan nenek dan kedua orangtuanya. Sedangkan dia tak bisa bertemu dengan salah satu anggota keluarganya. Ini benar-benar tak adil.

Yeol bertemu lagi dengan Hyo-rin di toko bunga. Mereka saling tersenyum. Hyo-rin berkata karangan bunga Yeol cantik sekali. Pacar Yeol pasti akan suka. Yeol hanya tersenyum mendengar kata-kata Hyo-rin. Yeol menyukai bunga tanpa akar. Tapi Hyo-rin lebih suka yanga da akarnya. Yeol segera pergi setelah karangan bunganya selesai.

Ternyata Yeol pergi ke bandara untuk menjemput ibunya. Dia tersenyum senang begitu melihat ibunya berada di antara penumpang yang pesawatnya baru aja mendarat. Ibu Yeol pun tersenyum senang melihat putra nya. Ibu Yeol segera menghampiri Yeol. Yeol memberikan karangan bunga itu pada Ibunya. Tiba-tiba cahaya kamera menyoroti mereka. Ibu Yeol segera berbalik dan tersenyum.

Dua orang pria menhampiri merka dan salah satunya mengucapkan selamat datag kembali pada Ibu Yeol. Ibu Yeol mengucapkan terimakasih karna walaupun mereka sibuk, mereka masih mau menjemput dirinya di bandara. Ibu Yeol mengenalkan mereka pada Yeol. Ternyata mereka adalah sahabat dekat mendiang Ayah Yeol.

Yeol dan Ibunya makan disebuah tempat mewah. “Imperial Palace”. Ibu Yeol berkata kalau ternyata Seol sudah banyak berubah. Apakah mereka terlalu lama pergi? Yeol menanggapinya dengan senyumnya. Sementara itu di ruangan atas restoran itu, ternyata ada guru balet Hyo-rin yang sedang dikerubuti banyak orang. Hyo-ri merasa minder ada di antara mereka.

Saat melihat Hyo-rin datang, guru balet Hyo-rin melengos. Dia masih marah karna Hyo-rin menolak tawaran beasiswa yang didapatnya di Thailand waktu itu. Hyo-rin terus membujuk gurunya yang sudah banyak membantunya itu. “Aku minta maaf” pinta Hyo-rin. “Apa kau benar-benar menyesal?” tanya guru baletnya. Hyo-rin mengiyakan. Dia juga berjanji akan belajar balet dan kembali secepatnya. Gurunya tersenyum mendengar hal itu.

Hyo-rin menunggu gurunya di depan pintu keluar Imperial Palace dan secara tak sengaja dia melihat Yeol keluar bersama Ibunya. Hyo-rin menghampiri dan menyapa mereka. “Pacarmu sangat canti sekali” puji Hyo-rin. Yeol dan Ibunya hanya senyum-senyum. Kemudian Yeol pun memperkenalkan mereka. Tentu saja Hyo-rin tersenyum malu karna sudah salah menduga.

Tiba-tiba guru balet Hyo-rin keluar dari tempat itu dan kaget melihat Ibu Yeol. Ternyata mereka berdua saling mengenal. Guru Hyo-rin adalah adik kelas Ibu Yeol. Guru Hyo-rin memuji penampilan Ibu Yeol yang sampai sekarang tak berubah. Masih awet muda seperti dulu. Ibu Yeol tersenyum mendengar pujian itu. Kemudian dia melihat ke arah Yeol.

Kau tampan sekali. Seperti seorang pangeran. Oh maaf, kau memang seorang pangeran. Maafkan aku” kata Guru Hyo-rin. Ibu yeol berpamitan pergi karna jemputannya sudah datang. Dia juga meminta Guru Hyo-rin untuk merahasiakan kedatangannya ke Korea.

Sepeninggal mereka, Guru Hyo-rin bercerita pada Hyo-rin tentang siapa Ibu Yeol dan Yeol. Ibu Yeol harusnya jadi ratu seandainya saja suaminya tak mengalami kecelakaan mobil dan meninggal. Sepeninggal suaminya, Yeol dan Ibunya mengasingkan diri ke Inggris.

Di istana, Ratu sedang berbicara dengan Sanggung-nya. Mereka membicarakan tentang kemungkinan apakah Ibu Yeol sudah kembali ke Korea atau belum. Sanggung-nya berkata, ada berita kalau Ibu Yeol sudah pulang ke Korea. Hanya saja mereka belum menemukan bukti.

Di kamarnya, Ratu membersihkan kaki suaminya. “Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Apa kau masih juga khawatir?” tanya Raja pada istrinya. “Tidak Yang Mulia. Aku sudah lega keadaan anda sudah lebih baik. Ini karna anak itu” jawab Ratu. “Anak itu?” tanya Raja agak bingung mendengar keterangan Ratu. “Maksudku Hwi-seong. Setiap aku memikirkannya, aku merasa khawatir. Tak sepatah katapun terucap selama 14 tahun ini dan tiba-tiba dia datang saat keadaan Anda sakit seperti ini. Barusan aku dengar Ibu Yeol juga sudah kembali ke Korea. Dan hal itu membuatku merasa tak nyaman. Waktu berlalu dengan cepat dan anak-anak itu sudah sama-sama tumbuh dewasa” kata Ratu.

Sementara itu ditempat lain, para pengikut Ibu Yeol mengadakan upacara ritual persembahan untuk mengenang mendiang Ayah Yeol. Sementara itu, Yeol dan ibunya berada di sebuah ruangan dan berbicara berdua. Ibunya mengajak Yeol untuk menemui para tetua yag sudah bersedia merawat makam Ayah Yeol dengan baik. Sebelum mereka pergi, salah seorang dari tetua itu menghampiri mereka. Yeol dan Ibunya pun berterimakasih pada mereka semua.

Yeol menyerahkan sapu tangan pada Ibunya. Ibunya berkata akan mengembalikan semua yang seharusnya menjadi hak milik mereka yang selama ini tak mereka dapatkan. Perlahan demi perlahan mereka akan melaksanakan rencana yang telah mereka susun.

Di istana, Chae-gyeong sedang makan berdua dengan Shin. Para pelayan membantu melayani mereka berdua. “Apakah kita harus selalu makan seperti ini tiap kali kita makan?” tanya Chae-gyeong. “Semuanya tergantung Omma Mama (Yang Mulia Ibu). Untuk memakan makanan yang berbeda atau tidak. Termasuk juga minumannya” jawab Shin. Chae-gyeong terlihat kecewa mendengarnya. Shin bilang hari ini mereka akan menonton film bersama Appa Mama (Yang Mulia Ayah). Chae-gyeong senang mendengarnya.

Chae-gyeong bertanya kapan mereka akan menonton film. Shin bilang setelah makan mereka akan langsung nonton film Chae-gyeong kecewa karna sebenarnya dia berencana untuk istirahat setelah makan. Shin bilang, pertama, para Tetua akan mengatakan sesuatu, setelah itu mereka semua akan menonton film bersama-sama. Chae-gyeong kecewa mendengarnya.

Ternyata setelah maan Chaegyeong malah disuruh belajar. Dia belajar dengan diawasi oleh Choi Sanggung. Sementara itu, Shin bermain anggar. Dia berhenti dan menelpon seseorang. Ternyata Shin menelpon Chae-gyeong. Tapi saat Chae-gyeong hendak mengangkat telponnya, Choi Sanggung membentak Chae-gyeong karna tak boleh bermain HP saat sedang belajar. Chae-gyeong bilang, itu telpon dari Pangeran Shin. Barulah dia diijinkan untuk mengangkat teleponnya.

Shin berkata kalau Chae-gyeong harus bersiap-siap untuk memenuhi janji menonton film dengan Raja. Setelah selesai latihan, Shin akan menjemput Chae-gyeong. Agar mereka tak terlambat, Chae-gyeong harus bersiap-siap sekarang. Chae-gyeong senang mendengarnya dan mengulang kata-kata Shin di depan Choi Sanggung. Tentu saja Chae-gyeong senang, karna itu artinya dia tak perlu belajar lagi. Hehehehe…..

Mereka bertiga menonton Hwang Jin-i ! Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin malah melotot. Mereka minum the bersama setelah selesai menonton. “Aku penasaran akan apa yang dipikirkan oleh Bigung Mama tentang film itu” kata Raja. Chae-gyeong yang hendak minum teh langsung meletakkan cangkir teh-nya. “Hanbok kita sangat cantik. Kupikir Hanbok kita hanya punya beberapa warna saja seperti merah, kuning dan hijau. Bagaimanapun juga, setelah tinggal di istana dan mengenakannya hampir setiap hari membuatku sadar, hal itu tak benar. Kita ini bukan orang yang sama seperti yang lain. Kita ini orang yang berkelas. Benar begitu kan?” kata Chae-gyeong panjang lebar.

Raja tertawa senang mendengar perkataan Chae-gyeong. “Orang berkelas? Itu sepertinya menarik..menurutmu bagaimana?” tanya Raja kemudian. “Bunga, daun maple, pohon, langit, kunang-kunang…Itu semua adalah hal alami dalam sebuah film” jawab Chae-gyeong. Raja senang mendengar kata-kata Chae-gyeong. Kemudian bertanya apakah mereka perlu menonton film bersama seminggu sekali? Chae-gyeong mencoba menjawab dengan bahasa yang sopan, tapi sayang malah kata-katanya jadi aneh. Raja tertawa mendengar kata-kata honorifik Chae-gyeong yang belepotan dan meminta Chae-gyeong memakai kata-kata biasa saja. Chae-gyeong tersipu-sipu malu.

Hyo-rin menelpon Shin. Dan saat menelpon, Chae-gyeong melewati Shin dan tertegun mendengar Shin tertawa dengan seseorang melalui telepon. Chae-gyeong masuk ke kamarnya. Dan memandangi Shin saat Shin masuk pula ke kamarnya. Chae-gyeong menatap Shin dengan sedih. Kenapa Shin tak pernah tertawa sesenang itu saat bersamanya.

Chae-gyeong menghibur diri dengan menelpon keluarganya. Mereka senang sekali mendengar Chae-gyeong menelpon hingga berebut telpon untuk bicara pada Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong masih merasa sedih saat selesai menelpon.

Kenapa aku masih merasa kesepian? Ibu menjadi Ratu di dunia asuransi. Kami takkan khawatir tentang kedatangan dept kolektor lagi. Kenapa aku masih tak merasa bahagia mendengar itu semua? Setelah semua yang kulakukan untuk mewujudkan semua ini. Ada apa sebenarnya. Kenapa masih ada perasaan kosong dan kesepian ini?” bathin Chae-gyeong.

Chae-gyeong keluar dari kamarnya. Begitu keluar dari kamar, dia tersenyum memandangi Shin yang sedang termenung di pintu kamarnya sambil memeluk teddy bear kesayangannya.

Apa yang sedang dilakukannya. Seorang pria dewasa tapi masih memeluk boneka di tangannya seperti seorang anak kecil. Ekspresinya menunjukkan kalau dia sedang berpikir tentang hal yang menyedihkan. Apakah ini semua karna dia tak bisa menikahi orang yang disukainya? Jadi dia merasa kecewa karnanya. Apa ini? Lalu dia anggap aku ini apa? Ini benar-benar mengecewakan” bathin Chae-gyeong sambil menunduk sedih di depan kamarnya.

Bersambung………….

2 komentar: