Jumat, 17 Juni 2011

Princess Hours Episode 17

Shin sampai di kamar Hyo-rin dan dia kaget karena ada pengawal yang menjaga kamar itu. Hyo-rin membuka pintu dan kaget melihat kedatangan Shin. Shin masuk dan bicara berdua dengan Hyo-rin. Hyo-rin memegang dua tiket kenangan mereka.

“Aku sudah berpikir tentang masa lalu. Apa kau masih ingat? Tiket yang kita simpan saat pertama kalii kita bertemu? Kita membuat perjanjian untuk membukanya 10 tahun yang akan datang. Tapi kurasa aku takkan mengambilnya dalam waktu selama itu. Jadi aku mengambilnya kemarin. Untuk orang sepertiku, kenangan yang indah yang kubagi dengan seseorang, sepertinya sulit untuk menghapus semua itu. Ini sangat bodoh, tapi…setelah menyerah akan dirimu, aku baru menyadari betapa pentingnya kau dalam hatiku. Mungkin sampai akhir aku takkan bisa mengatasi rasa cinta itu. Tapi mulai sekarang, takkan ada halangan apapun dariku. Karena semuanya telah terhapus. Bagiku, keberadaan Shin tak ada yang bisa menggantikannya. Dan juga tak ada yang bisa disalahkan. Aku tahu itu. Lee Shin dan Shin Chae-gyeong, aku tak bermaksud bertindak sejauh ini dan membawamu dalam kesulitan. Maafkan aku karena telah hilang kendali” ungkap Hyo-rin panjang lebar.

“Hyo-rin, sepertinya kau bertindak terlalu jauh” kata Shin. Hyo-rin menangis. Shin pergi meninggalkan tempat itu. Shin memacu mobilnya di jalanan. Shin membelokkan mobilnya menuju suatu tempat.

Sementara itu di sebuah diskotik, Kang-in dan Ryu-wan sedang bersenang-senang disana sambil menikmati alunan musik. Tak berapa lama kemudian Shin masuk juga ke diskotik itu. Shin menelepon seseorang. Ternyata dia menelepon Kang-in. Malah Ryu-wan yang melihat Shin. Saat Ryu-wan menoleh ke arahnya, Shin melambaikan tangannya. Ryu-wan dan Kang-in menghampiri Shin.

“Benar. Aku merasa begitu frustasi. Untung kau menelepon. Jika merasa bosan, kenapa tak kau tunjukkan gaya berdansa ala Putra Mahkota” kata Kang-in. ryu-wan mengajak mereka minum. Tapi Kang-in bilang, kalau mau Ryu-wan bisa pergi sendiri. Shin juga hanya bisa diam saja. Shin teringat kata-kata ayahnya. “Kau hanya membuat malu keluarga kerajaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apa kau pikir kau masih layak menjadi seorang Raja?” maki Ayahnya. Shin mendesah, tanpa tahu kalau Kang-in dan Ryu-wan sudah pergi.  

Jang-gyeong masuk dengan buru-buru ke dalam diskotek itu. Dia mencari seseorang dan begitu melihat Shin ada di atas, dia naik dengan terburu-buru. Begitu sampai, Jang-gyeong langsung menarik kerah baju Shin. “Dasar brengsek. Dimana Hyo-rin?!? Dimana kau menyembunyikan Hyo-rin?” teriak Jang-gyeong.

Kang-in dan Ryu-wan kembali. Mereka mencoba melerai keduanya. Jang-gyeong minta mereka berdua tak  mengganggu. Ini urusannya dengan Shin. Keduanya pun akhirnya pergi lagi. Shin duduk diam di bangku sedangkan Jang-gyeong bersandar di depannya dan mulai bicara.

“Bermain-main dengan perasaan orang, apa itu menyenangkan? Aku bertemu Hyo-rin lebih dahulu daripada kau. Tapi aku masih memberikan Hyo-rin padamu. Kupikir itu bisa membuatnya lebih bahagia. Tapi ternyata aku salah. Kau bukanlah seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri. hidup dibawah kemewahan sebagai seorang Putra Mahkota. Sesuatu seperti perasaan orang lain bukanlah hal yang penting, kan? ini benar-benar keterlaluan. Jika itu aku, setidaknya aku takkan melakukan hal itu, meninggalkan seseorang yang kucintai dan menikahi orang lain. Karena tindakan tak bertanggung jawab itu, Hyo-rin lah yang terluka” ceramah Jang-gyeong.

“Sepertinya kau lupa. Aku ini Putra Mahkota negara ini. Dibandingkan dengan orang-orang seperti kalian yang bicara tentang cinta setiap hari, yang aku punya hanyalah tanggung jawab” kata Shin dengan dingin. “Benarkah begitu? Di antara tanggung jawab yang kau miliki, kenapa kau memilih meninggalkan Hyo-rin?” bentak Jang-gyeong. “Jika aku tak bisa bertanggung jawab sampai akhir, aku takkan memilih untuk melakukan hal itu. Itulah prinsipku. Sebagai seorang teman, ku sarankan padamu, akhiri disini sekarang juga” balas Shin. Dia menepuk pundak Jang-gyeong dan turun ke bawah.

Kang-in dan Ryu-wan datang menghampiri Jang-gyeong. “Ini bukan pertama kalinya seorang Shin bertindak seperti itu. Lupakanlah. Ayo berdansa” ajak Kang-in. Jang-gyeong marah dan mengusir keduanya agar pergi. Ryu-wan mencoba membujuk Jang-gyeong sambil membawa minumannya. Jang-gyeong mulai marah dan mendorong Ryu-wan. Kebetulan ada tiga orang pemuda lewat dan membuat minuman Ryu-wan tumpah ke baju salah satu dari mereka. Tentu saja tiga orang itu tak terima dan terjadilah pertengkaran.

Shin ada di atas bukit dan termenung di dalam mobilnya. Dia menoleh ke samping dan memandangi suasana istana di malam hari.

Kasim Kong datang bersama Pengacara Han dan menerima laporan dari seseorang. Orang itu berkata, dia sama sekali tak bermaksud untuk mengganggu Kasim Kong dengan maslaah ini. Kasim Kong memperkenalkan diri sebagai asisten pribadi Shin. Dan dia sudah dari tadi menunggu sejak orang itu meneleponnya. Kasim Kong mengenalkan orang itu pada Pengacara Han.

Kedua dayang Chae-gyeong melihat pertemuan itu. Chae-gyeong bertanya, ‘Paman’ (Kasim Kong) sedang bersama siapa. Kedua dayangnya berkata, dari yang mereka dengar, orang itu dari kepolisian. Chae-gyeong bertanya mengapa dan ada apa. Tapi kedua dayangnya sama sekali tak tahu apa-apa. Chae-gyeong mencoba mendengarkan pembicaraan antara Kasim Kong, Pak Polisi dan juga Pengacara Han.

Polisi itu bilang, situasinya tak bagus untuk Putra Mahkota. Masalah ini menyangkut Putra Mahkota. Mereka harus segera melakukan investigasi. Kasim Kong bilang ini tak mungkin karena sekarang ini Putra Mahkota tak ada di istana. Chae-gyeong mendekati mereka dan ketiganya memberi hormat pada Chae-gyeong.

Chae-gyeong menunduk memeberi salam dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia dengar ada sesuatu terjadi pada Shin. Ada apa dengan Shin. Chae-gyeong cemas mendengarnya. Tiba-tiba Shin masuk dan semuanya terkejut memandangi kedatangan Shin.

Mereka mulai membicarakan masalah itu berempat. Kedua dayang Chae-gyeong melayani keempat pria itu sedangkan Chae-gyeong tidak diperkenankan mendekat. Chae-gyeong hanya bisa mengamati dari jauh dan menguping. Chae-gyeong semakin penasaran dan membuatnya gusar sendiri.

Polisi itu melanjutkan laporannya. Ada seseorang yang berkata kalau Shin terlibat dalam tindakan kejahatan.

Hye-jeong sedang minum teh berdua bersama ibunya. Hye-jeong bilang kalau Hyo-rin menghilang. Seharusnya mereka menyingkirkan Hyo-rin terlebih dahulu. Tapi sepertinya ada seseorang yang mendahului mereka. Yul tak suka mendengar hal itu dan meminta ibunya berhenti memprovokasi Hyo-rin. Hyo-rin sudah cukup terluka. Tapi Hye-jeong bilang, luka itu akan sembuh seiring berlalunya waktu. Tapi seseorang akan jadi kuat setelah terluka. Dia bilang, mereka membutuhkan seseorang yang bisa menusuk Shin secara langsung.

Tiba-tiba terdengar seruan dari seorang dayang Hye-jeong yang berkata kalau Kwak Sang-gung datang. Hye-jeong menyuruh Kwak Sang-gung untuk masuk ke dalam. Kwak Sang-gung memberi hormat pada keduanya, lalu menyampaikan laporannya. Dia melapor kalau Putra Mahkota terlibat insiden kekacauan. Sekarang Putra Mahkota sedang di introgasi oleh seseorang dari kepolisian.

Hye-jeong tersenyum mendengarnya. Sepertinya sekarang  ini Putra Mahkota seakan terperangkap dalam jaring laba-laba. Dia senang mendengarnya dan mereka hanya tinggal melanjutkan apa yang telah terjadi. Sepertinya Shin sudah menggali lubangnya sendiri. Yul terlihat tak begitu senang dengan tingkah ibunya.

Chae-gyeong mengikuti Shin dan terus saja bicara. “Bagaimana kau bisa jadi seperti ini? Aku sangat khawatir memikirkanmu. Kau pergi begitu saja dan tak menghubungiku. Jika kau lakukan sekali lagi, aku akan meninggalkanmu” kata Chae-gyeong. “Kembalilah dulu. Ini sudah larut malam” kata Shin sambil melangkah menjauh dari Chae-gyeong.

Chae-gyeong mengejar Shin dan masuk ke dalam kamar Shin. Shin sedang duduk termenung saat Chae-gyeong masuk dan bicara. Tapi Chae-gyeong bicara tak menghadap ke arah Shin melainkan bicara sambil menatap foto Shin.  “Aku tahu Shin-gun selalu menyimpan semuanya sendiri dan membuat dirinya terluka sendiri. Tapi aku juga terluka saat melihatmu seperti ini. Kita ini sepasang. Kenapa aku harus selalu jauh dari sisimu? Tak bisakah kau bersandar padaku sekali saja? Kenapa kau selalu terluka sendirian. Dasar bodoh!” maki Chae-gyeong sambil membanting foto Shin.

“Aku lelah. Jangan bicara apa-apa lagi” kata Shin. Dia beranjak dari tempat duduknya dan hendak menuju ke kamarnya. Kata-kata Chae-gyeong menghentikan langkahnya. “Aku sangat khawatir padamu. Dimana kau, apa yang kau lakukan, kelakuanmu yang keras kepala itu akan membuat masalah untukmu. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?!” bentak Chae-gyeong. Dia ingin pergi meninggalkan Shin. Tapi Shin meraihnya dan memeluknya dengan erat.

Chae-gyeong bilang Shin terlalu erat memeluknya. Dia tak bisa bernafas. “Jika aku tak lagi jadi Putra Mahkota lagi, tetaplah ada disisiku” pinta Shin dengan lembut. Chae-gyeong senang mendengar hal itu. Dia tersenyum dalam pelukan Shin.

Raja dan Ratu mendengar laporan dari Kasim Kong dan juga Polisi. Mereka melaporkan kalau ternyata Shin tak terlibat secara langsung dengan kerusuhan yang terjadi di diskotik. Shin sudah pergi meninggalkan diskotik itu sebelum kerusuhan itu terjadi. Jadi tak akan ada masalah yang timbul. Ratu berkata, akhir-akhir ini, Keluarga Kerajaan selalu saja di konotasikan buruk di masyarakat. Raja bilang, itulah alasan kenapa dia memanggil polisi larut malam seperti ini. Polisi bilang, dia akan membantu sebisa mungkin dan berkata agar jangan khawatir. Raja dan Ratu senang mendengarnya.

Pagi itu di istana, Hyo-rin masuk untuk pertama kalinya ke dalam istana. Dia diantar seorang Sang-gung menuju ke sebuah tempat. Disana Park Sang-gung sedah menunggunya. Park Sang-gung bilang Ratu akan segera datang dan meminta agar Hyo-rin menunggu sebentar. Park Sang-gung pamit pergi. Dua orang dayang menyajikan teh untuk Hyo-rin.

Hyo-rin hendak meminum tehnya. Tapi tiba-tiba dia melihat Rtau datang. Dia tak jadi meminum tehnya. Ratu tampil tanpa Hanbok kebesarannya. Dia tersenyum dan mendekati Hyo-rin. Ratu duduk di samping Hyo-rin dan mulai bicara.

“Ku dengar kau seorang penari balet?” tanya Ratu. “Ya, Yang Mulia” jawab Hyo-rin. “Ku dengar kau menolak lamaran Putra Mahkota karena ambisimu. Kupikir kau pasti gadis yang cerdas?” lanjut Ratu. Hyo-rin mengiyakan pujian itu. “Sebagai seorang wanita, aku bisa mengerti perasaan Hyo-rin. Karena insiden ini, kau pasti juga khawatir. Dan karena ini, aku juga khawatir padamu” kata Ratu. “Aku sungguh-sungguh minta maaf, Yang Mulia” pinta Hyo-rin.

“Dan juga, meskipun kau hidup di lingkungan yang sulit. Tapi kau tak menyerah begitu saja dengan mimpimu. Dan kau sangat fokus dengan tarian baletmu. Jika aku jadi seseorang yang memberimu dukungan tuk meraih mimpimu bagaimana?” tanya Ratu. “Aku sangat berterimakasih. Tapi…” Ratu memotong kata-kata Hyo-rin.

 “Untuk menjadi seorang penari balet yang terkenal di seluruh dunia, kau butuh seseorang yang bisa mendukungmu. Untuk menciptakan lingkungan yang bisa mendukung agar kau bisa konsentrasi dengan bakatmu. Itulah yang kurasakan. Itu jalan terbaik untuk menciptakan seorang bintang. Keluarga Kerajaan juga mencari orang-orang berbakat sepertimu. Yang pantang menyerah dengan mimpi mereka dan juga memberi bantuan apapun yang mereka butuhkan. Putra Mahkota juga salah satu yang memberikan dukungan. Dia adalah seseorang yang akan menempati tahta di negeri ini. Apa kau mengerti maksudku?” tanya Ratu. “Ya Yang Mulia” jawab Hyo-rin.

Beberapa saat kemudian, Park Sang-gung mengantar Hyo-rin keluar dari istana. Baru saja keluar dari kediaman Ratu,  hyo-rin bertemu dengan Chae-gyeong. Keduanya sama-sama terkejut. Chae-gyeong mengajak Hyo-rin dan bicara berdua. Chae-gyeong dengan agak takut bertanya bagaimana keadaan Hyo-rin. Hyo-rin tersenyum simpul.

“Aku akan mengubur Shin dalam hatiku. Jika suatu saat nanti Shin mau kembali padaku, aku akan menerimanya dengan senang hati” ungkap Hyo-rin. Chae-gyeong hanya bisa menatap Hyo-rin. “Kita ini teman, bukankah kita harusnya berbagi kesedihan dan rasa sakit? Tapi… perlahan aku mulai menyadari bahwa kau adalah orang yang baik. Saat dia bersamaku, dia tak pernah mendapatkan kebahagiaan apapun” ungkap Hyo-rin.

“Aku tahu” kata Chae-gyeong. “Jangan pernah lepaskan Shin. Aku harus pergi” pamit Hyo-rin. “Minumlah tehmu sebelum kau pergi” kata Chae-gyeong. “Aku pamit. Terima kasih” jawab Hyo-rin.  Hyo-rin pun melangkah keluar. Chae-gyeong hanya bisa memandangi kepergian Hyo-rin.

Ibu Suri, Ratu dan Hye-jeong bicara bertiga. Ibu Suri mengeluh. Ada banyak sekali masalah yang terjadi di istana akhir-akhir ini. Ratu meminta maaf. Ini semua salahnya karena tidak mendidik Putra Mahkota dengan benar. Hye-jeong mencoba mencari muka. Dia bilang, yang terpenting adalah menjaga kesehatan Ibu Suri. Kesehatan Ibu Suri adalah keseimbangan di dalam keluarga kerajaan. Ibu Suri berterima kasih pada Hye-jeong dan berkata, dia akan melaksanakan saran Hye-jeong. Ratu memandang tak suka melihat tingkah Hye-jeong yang sok cari perhatian dan Ibu Suri melihat hal itu.

“Kenapa kalian berdua terlihat tak cocok?” tanya Ibu Suri. “Ini karena Raja punya keinginan kuat untuk menentukan kualitas seorang Putra Mahkota” jawab Seo Sang-gung yang melayani Ibu Suri. Hye-jeong menambahkan ‘bumbu’. “Ini di mulai karena skandal yang ditimbulkan oleh Putra Mahkota. Terutama setelah skandal yang terjadi dengan Pangeran Yul. Para tetua sangat marah. Dan kami sebagai seorang ibu hanya berusaha untuk mempertahankan putra masing-masing” kata Hye-jeong.

“Maafkan aku, Yang Mulia” pinta Ratu. “Aku, percaya pada Putra Mahkota. Putra Mahkota punya tanggung jawab yang besar dibandingkan dengan siapapun. Saat dia menempati posisinya, dia akan penuh dengan tanggung jawab” kata Ibu Suri. Hye-jeong tak suka mendengar hal itu. “Maafkan aku, Yang Mulia” pinta Ratu.

“Posisi sebagai seorang Raja, bukanlah ditentukan oleh orang-orang. Tapi itu adalah pilihan dari surga. Salah kalau masih harus membicarakan tentang posisi yang sudah ditentukan” tambah Ibu Suri. Hye-jeong memendam kekesalannya.

Ratu dan Hye-jeong sama-sama keluar dari kediaman Ibu Suri dengan Sang-gungnya masing-masing. “Tentang Hyo-rin, kau bertindak cepat sekali, Ratu” sindir Hye-jeong. “Ini adalah sesuatu yang akan mempengaruhi Putra Mahkota. Sebagai seorang Ibu, kenapa aku tak bisa melakukan hal itu?” jawab Ratu.

“Itu sangat menyentuh, Ratu. Putra Mahkota punya reputasi yang buruk untuk keluarga kerajaan. Apa bisa dia menjadi seorang Raja yang perhatian pada rakyatnya?” sindir Hye-jeong. “Sepertinya Ratu Agung (Hye-jeong) terlalu meremehkan kekuatan dari sebuah kejujuran” jawab Ratu. Hye-jeong kesal mendengarnya.

Raja sedang bersama Kasim Kim saat Yul masuk ke dalam. Yul bertanya apa Raja memanggilnya. Raja mengiyakan dan meminta Yul untuk duduk. Raja pun meminta Kasim Kim untuk duduk. Raja bertanya, sejak Yul masuk ke istana apa Yul menghadapi kesulitan. Yul bilang dia sama sekali tak mengalami  kesulitan. Raja kemudian berkata, mulai hari ini, Kasim Kim akan ada untuk membantu Yul melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan pada Yul. Raja berkata kalau Kasim Kim tak hanya membantu tugas-tugas Yul, tapi juga untuk mencari tahu apa saja yang dibutuhkan oleh Yul setiap hari. Kasim Kim berkata akan melakukan yang terbaik untuk membantu Yul.

Hyo-rin bertemu dengan Hye-jeong. Hye-jeong menanyakan keadaan Hyo-rin. Sepertinya keadaan Hyo-rin tak begitu baik. Hyo-rin hanya diam saja. Lalu Hye-jeong bertanya, dia dengar kalau Hyo-rin bertemu dengan Ratu. Hyo-rin mengiyakan hal itu. Seperti biasanya, Hye-jeong mencoba mengacaukan perasaan Hyo-rin.

“Hyorin, apa kau tahu... Betapa menakutkannya keluarga kerajaan itu. Mereka bisa memahami apapun yang akan mendatangkan keuntungan bagi merekaAku sangat khawatir kalau kau akan terluka” kata Hye-jeong. “Karena laporan yang tersebar luas itu, banyak orang yang akan terluka karenanya. Ini adalah saatnya untukku memperbaiki apa yang sudah kurusak” kata Hyo-rin.

“Hyo-rin? Apa maksudmu? Kau akan lebih menderita kalau kau seperti itu. Aku akan membantumu. Tak peduli apakah aku harus melawan keluarga kerajaan atau siapapun, aku akan membantumu mengatasi semuanya. Kenapa kau menyerah begitu saja? Kenapa tak bisa mengorbankan sesuatu jika kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan? Kau harus punya keberanian. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan” bujuk Hye-jeong.

“Aku tak mau membuat pilihan yang lain lagi. Selama aku menunggu, baik itu mimpi ataupun cintaku, aku pasti akan mendapatkan semua itu suatu hari nanti. Terima kasih” jawab Hyo-rin. Hyo-rin pamitan pergi dan Hye-jeong jengkel mendengarnya.

Hyo-rin ada di sebuah ruangan di hotel tempat Hyo-rin menginap sepulangnya sari rumah sakit kemarin. Dia bersama seorang wartawan dan juga Park Sang-gung. “Ya. Shin dan aku adalah teman sekolah. Dan seperti rumor yang beredar, kami berkencan selama 2 tahun” kata Hyo-rin.

“Ku dengar Putra Mahkota melamarmu?” tanya wartawan. “Ya, dia melamarku. Tapi aku menolaknya. Karena bagiku, mimpiku lebih berharga. Aku bukanlah wanita yang seperti di katakan oleh rumor yang beredar, ‘Seorang wanita yang ditinggalkan Putra Mahkota’. Aku yang memilih ini semua. Dan aku tak menyesali keputusanku” ungkap Hyo-rin. “Apa ada hal lain yang ingin kau katakan?” tanya wartawan itu lagi. “Ya. Sekarang ini aku hanya ingin jadi Hyo-rin, Sang Balerina” jawab Hyo-rin. Wartawan itu meminta ijin untuk mengambil foto Hyo-rin. Tapi Hyo-rin tak ingin gambarnya di ekspos. Hyo-rin pamitan pergi.

Sementara itu, Chae-gyeong diajari menyetir oleh Shin. Awalnya lancar. Tapi saat sampai di belokan, Chae-gyeong menyetir ngawur dan mengerem secara mendadak hingga membuat Shin terbentur ke depan mobil. Shin kesakitan dan tentu saja marah-marah karenanya. Cha-gyeong bilang dia tak bermaksud seperti itu dan kemudian bertanya apa Shin baik-baik saja.

Shin mencoba menenangkan diri dan mulai mengajari Chae-gyeong lagi. Tapi semuannya kacau. Chae-gyeong bingung karena sepanjang perjalanan Shin treus saja berteriak dan membentaknya. Shin merasa takut saat melihat aksi ugal-ugalan Chae-gyeong yang sembarangan itu. Shin berteriak kalau dia ingin turun. Tapi Chae-gyeong tak tahu bagaimana caranya menghentikan mobilnya!

Yul sedang termenung sendirian. Seo Sang-gung masuk membawakan makanan dan minuman untuk  Yul. Seo Sang-gung bilang, dia membuatkan Yeo-gan (agar-agar manis dengan isi pasta kacang merah) yang sangat disukai Yul. Seo Sang-gung berpikir tentang masa lalu dan ingin sekali membuat Yeo-gan itu.

Yul kemudian bertanya pada Seo Sang-gung, bagaimana keadaan istana selama 14 tahun dia tinggal di Inggris. Jika ayahnya masih hidup, pasti keadaan istana sekarang ini berbeda. Jika ayahnya tak meninggal, pasti dia dan Shin akan menempati posisinya masing-masing. Itulah kenapa, dia merasa menyesali kenapa ayahnya meninggal.

Seo Sang-gung turut sedih mendengar hal itu. Tul bilang, dia tak ingat kenangan apapun tentang ayahnya. Tapi kenangan tentang wajah ayahnya dan istana tua, selalu ada dalam pikirannya. Seo Sang-gung mencoba menghibur Yul agar berbesar hati. Dan bertanya, apa Yul punya masalah yang tak bisa ditanganinya.

Yul bertanya apa dia itu pantas jadi seorang Pangeran. Seo Sang-gung berkata, dia akan melakukan apapun dan memberikan apa saja yang dia miliki agar bisa membantu Yul mendapatkan posisinya kembali.

Yul sedang berbicara dengan para tetua dan juga pejabat kerajaan mengenai peninggalan sejarah yang harus tetap di jaga. Itu juga adalah pesan mendiang ayahnya yang ingin agar Yul bisa terus melestarikan budaya di negara mereka. mereka bukan boneka keluarga kerajaan yang bisa dijadikan mainan rakyat. Mereka adalah keluarga kerajaan yang punya kekuatan untuk melindungi budaya peninggalan nenek moyang mereka sendiri.

Di istana dalam, Ratu duduk berdua bersama Yul, Chae-gyeong duduk dihadapan mereka bersama Shin dan Ibu Suri duduk bersama Hye-myeong. Ratu merasa malu karena sama sekali tak ingat tentang ultah Yul. Yul berkata tak apa-apa. Saat dia tinggal di Inggris, dia sendiri juga sering lupa tentang hari ultahnya. Hye-myeong juga minta maaf karena dia juga tak tahu kapan Yul ultah. Ibu Suri bertanya, apa yang ingin Yul dapatkan di hari Ultahnya.

Yul berkata, dia pikir dia ingin mengadakan pesta dengan teman-teman sekolahnya di sebuah tempat di luar kota yang tak terlalu jauh dari istana selama 2 hari 1 malam. Jika boleh, dia ingin agar Pangeran dan Putri juga ikut kesana. Dan meminta ijin agar teman-temannya ikut juga. Ratu bertanya, kalau sebuah pesta, kenapa tak di kerjakan di istana saja.

Yul tersenyum dan berkata, sebenarnya dia juga ingin melakukan tugas akhirnya di sekolah seni. Kalau di istana dia tak bisa mendapatkan inspirasi saat melukis. Jadi dia ingin mengadakan pesta di sebuah tempat yang bisa memberikannya inspirasi untuk melukis sesuatu yang akan di kumpulkannya untuk Tugas Akhir sekolah. Hye-myeong berkata, tak ada alasan untuk menolak hal itu. Ibu Suri mengijinkan ketiganya pergi agar mereka bisa menikmati udara segar dan mmendapatkan beberapa inspirasi.

Tapi kemudian Ibu Suri bertanya, dimana mereka akan mengadakan pesta. Yul bilang ada seorang pejabat Dan Suk yang meminjamkan villa padanya. Ratu bilang dia tahu tempat itu. Tempatnya bagus dan akan menghindari kejaran pers. Yul berterimakasih pada Ibu Suri dan Ratu atas ijin dan perhatiannya. Yul memandangi Chae-gyeong dan tersenyum manis. Chae-gyeong tersenyum, tapi kemudian senyumnya hilang saat memandangi suaminya yang hanya diam saja.

Shin dan Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Chae-gyeong mengejar Shin dan bertanya kenapa Shin tak berkata apapun. Shin bilang, pesta macam apa itu, bermalam disana selama 2 hari 1 malam. Dan dia bilang dia takkan mau ikut.

Chae-gyeong berkata, jika mereka tak pergi, nanti Yul sedih. Teman-teman Chae-yeong juga berkata kalau mereka bertiga diundang. Shin bertanya, apa Chae-gyeong ingin pergi kesana. Chae-gyeong mengiyakan. Di ultah Shin, Yul juga datang untuk Shin. Shin emosi, kenapa Chae-gyeong begitu PEDULI. Chae-gyeong bertanya, apa maksud Shin dengan kata PEDULI. Dia hanya bilang kalau dia ingin menghadiri acara ultah temannya saja. Shin marah dan masuk ke kamarnya. Chae-gyeong terus berusaha merayunya.

Hye-jeong bertemu dengan teman dekat ayah Yul yang punya perusahaan penerbitan. Hye-jeong bilang, Ratu sudah mengetahui sepak terjangnya. Dia bertanya, bagaimana mungkin dia bisa ketahuan. Hye-jeong berkata, jangan meremehkan kemampuan badan intelejen kerajaan. Dia bertanya apa yang harus dia lakukan sekarang. Hye-jeong memintanya untuk meninggalkan Korea.

Dia tak mengerti maksud Hye-jeong. Hye-jeong berkata kalau Ratu sudah mulai penyelidikan lebih dalam. Akan jadi masalah kalau kemudian Ratu menemukan dirinya. Jadi mereka harus melakukan hal ini. Setidaknya ini adalah langkah yang bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.

Dia terus berkata kalau tak ingin pergi. Dia sudah melakukan banyak hal. Lagi pula, kalau dia tak ada disini, siapa yang akan membantu Hye-jeong. Hye-jeong berkata, untuk seseorang yang tak bisa menjaga identitasnya sendiri, bagaimana orang itu bisa membantunya. Hye-jeong tak ingin menerima walau hanya sedikit kesalahan saja.  Dia tetap ngotot dan berkata kalau dia tak ingin pergi. Hye-jeong telah melakukan semuanya karena hubungan baiknya di masa lalu dengan ayah Yul. Dan sekarang semuanya sudah berakhir. Hye-jeong pergi begitu saja.

Sementara itu, Yul bertemu dengan seorang pejabat yang memperkenalkannya pada seseorang. Orang itu bernama. Baek Cheon-ha, putra dari Baek Jun-gi. Chaeon-ha akan jadi bodyguard Yul, yang akan terus menjaga keselamatan Yul. Yul tersenyum memandang orang itu, lalu makan hidangan yang ada di depannya.

Kasim Kong melapor, kalau kepala editor Choi sudah meninggalkan negara ini. Ratu bertanya, apa Kasim Kong sudah mengecek pergerakannya. Kasim Kong bilang, berita itu saja yang di dapatnya. Ratu berkata, mulai sekarang mereka harus hati-hati dan mempersiapkan sebuah rencana. Biasanya akan ada badai yang tiba-tiba muncul saat suasana tenang.

Raja naik ke atas paviliun Myeong-seon. Dia mengamati sekitar tempat itu dan kaget saat melihat Hye-jeong juga ada disitu. Raja menghampiri dan ternyata itu hanya bayangan Hye-jeong saja. Raja mendesah karenanya. Raja berbalik hendak kembali lagi. Tapi sekarang, dia melihat Hye-jeong yang asli dengan pakaian Hanbok kebesarannya sebagai Ratu Agung. Raja ingin keluar. Tapi tangan Raja di tahan oleh Hye-jeong.

“Myeong-seon Dang (Paviliun Myeong-seon) sudah banyak berubah kan? Waktu sudah lama sekali berlalu. Ini adalah tempat kita berdua berbagi kenangan. Suatu saat, Yul ku pernah bermain disini saat dia jadi seorang cucu keluarga kerajaan. Sekarang tak mungkin semua itu kembali kan?” kata Hye-jeong. Raja hanya diam. Kemudian melangkah pergi dan turun meninggalkan Myeong-seon Dang.

Ratu sedang ngobrol berempat bersama Ibu Suri dan kedua orangtua Chae-gyeong. Ratu bertanya, apa ayah Chae-gyeong tak punya impian? Ayah Chae-gyeong berkata, impiannya adalah impian yang sederhana, yaitu menjadi seorang kepala rumah tangga yang baik yang bisa mempersiapkan semua kebutuhan istri dan anak-anaknya dengan baik. Ibu Chae-gyeong menimpali, maksudnya bukan seperti itu. Sebenarnya Ayah Chae-gyeong punya impian yang besar.

Kemudian tiba-tiba Ratu berkata, bagaimana kalau Ayah Chae-gyeong membantu mengelola Kantin Istana. Tentu saja Ibu Chae-gyeong kaget mendengarnya. Ayah Chae-gyeong merasa senang sekali karena dia akan jadi orang yang bertanggung jawab di kantin istana. Kedua orangtua Chae-gyeong sangat berterimakasih pada Ratu atas semuanya.

Chae-gyeong dan ketiga temannya hendak bersiap-siap pergi ke tempat diadakannya pesta Yul. Kang-hyeon bertanya apa benar ini mobil Chae-gyeong. chae-gyeong membenarkan hal itu. Chae-gyeong memuji mobilnya sendiri dan bilang kalau mobilnya cantik kan. Kang-hyeon bertanya apa Chae-gyeong punya surat ijin mengemudi. Chae-gyeong bilang tentu saja dia punya.

Tiba-tiba Shin datang dan turun dari mobilnya sambil menghampiri Chae-gyeong dan ketiga temannya. Shin bertanya apa benar Chae-gyeong ingin pergi dengan mengendarai mobil itu. Chae-gyeong menegaskan, tentu saja dia akan memakai mobil itu. Shin tersenyum dan berkata, bukankah Chae-gyeong belum pernah mengemudi di jalan raya sebelumnya. tapi Chae-gyeong berkata, Shin kan sudah pernah mengajarinya di jalan raya.

Shin bilang lupakan saja, itu terllau berbahaya dan meminta Chae-gyeong untuk masuk ke mobilnya. Chae-gyeong langsung berteriak dan berkata kalau dia tidak mau. Dia ingin mengendarai mobilnya sendiri. Chae-gyeong bertanya pada ketiga  temannya kalau mereka juga ingin naik mobilnya kan. Walau ragu, ketiganya menegaskan kalau mereka ingin naik mobil Chae-gyeong.


“Baiklah kalau begitu. Mengemudilah pelan-pelan. Jika ada apa-apa, hubungi aku” kata Shin kemudian. “Shin-gun, apa kau tak ingin mengendarai mobilku?” tanya Chae-gyeong. “Karena aku seorang Putra Mahkota, hidupku sangat berharga. Sampai jumpa disana” kata Shin sambil tersenyum. Chae-gyeong dan teman-temannya mulai masuk ke mobil dan hendak bergegas pergi meninggalkan istana.

Sementara itu, di luar tembok istana, Hyo-rin menanti di dalam mobil bersama Jang-gyeong. “Hyo-rin, kau bisa menolaknya jika kau tak ingin pergi” kata Jang-gyeong. “Tidak. Aku ingin pergi. Aku tak bisa bicara dengan baik dengan teman-temanku sejak insiden itu. Sekarang, aku hanya ingin hidup sama dengan orang-orang lainnya tanpa jadi tudingan orang” jawab Hyo-rin. “Baiklah. Lakukanlah apa yang kau inginkan” kata Jang-gyeong kemudian.

Tiba-tiba datang mobil Ryu-wan dan parkir di samping mobil Jang-gyeong. Kang-in ikut di mobil Ryu-wan. Ryu-wan bertanya kenapa Kang-in tak memakai mobilnya sendiri. Kang-in berkata, kalau sekarang harga bahan bakar mahal. Dia sekarang tak punya uang lebih untuk beli bahan bakar. Ryu-wan tertawa mendengarnya dan Kang-in  kemudian bertanya, ngomong-ngomong dimana Shin.

Baru saja Kang-in bertanya, Shin muncul dari belakang mengendarai mobilnya lalu mengajak mereka untuk segera pergi karena Chae-gyeong akan pergi dengan mobilnya sendiri.

Sementara itu di dalam istana, Chae-gyeong mencoba mengeluarkan mobilnya dari istana dan mengemudi dengan susah payah dan sembarangan. Tentu saja teman-temannya berteriak ketakutan dan memakinya. Katanya punya ijin mengemudi. Tapi kenapa mengemudi seperti itu. Bahkan para prajurit yang berjaga di sekitar tempat itu ikut merasa takut kalau terjadi sesuatu pada mereka berempat.

Chae-gyeong mencoba membela diri kalau ada yang aneh di mobilnya. Teman-temannya menyangkal apanya yang aneh. Chae-gyeong bilang ada sesuatu yang hilang dan itu aneh. Mereka berkata, bagaimana mungkin ada yang hiolang. Bukankah itu mobil baru. Chae-gyeong tetap ngoto bilang kalau mobilnya aneh. Kang-hyeon yang kesal karena dibohongi berkata, bukan mobil Chae-gyeong yang aneh, tapi Chae-gyeong sendiri yang aneh!

Mobil Yul datang menghampiri mereka. Sebenarnya ketiga teman Chae-gyeong berusaha membujuk Chae-gyeong untuk ikut di mobil Yul. Tapi Chae-gyeong tetap ngotot kalau dia ingin mengendarai mobilnya. Apa boleh buat, ketiganya juga tak enak hati mau membiarkan Chae-gyeong mengemudi sendirian. Chae-gyeong menyuruh Yul pergi duluan.

Mobil Chae-gyeong mulai bergerak pergi meninggalkan istana dengan pelan-pelan. Mobil Yul mengikuti di belakang mereka. Hee-sung berkata, kenapa pelan sekali. Kalau terus mengendarai seperti itu, mungkin besok pagi mereka baru sampai ke tempat pesta. Kemudian tiba-tiba Kang-hyeon berkata, kenapa tak memperhatikan peta saja. Yeong-sun berkata, bagaimana kalau mendengarkan musik agar tidak bosan. Chae-gyeong setuju. Tapi saat hendak menyalakan musik, malah tombol pembersih kaca yang dipencetnya.

Ketiganya mencoba menasehati Chae-gyeong agar lebih cepat lagi. Tapi saat Chae-gyeong hendak menambah kecepatan, yang diinjaknya justru rem. Mobil Chae-gyeong pun jadi berhenti. Yul yang ada di mobilnya tersenyum geli melihat hal itu.

Sementara itu, Shin dan teman-temannya juga Hyo-rin sudah lama menunggu di tempat itu. Tak berapa lama kemudian, barulah mobil Chae-gyeong dan Yul muncul  kemudian masuk ke villa itu. Shin langsung menghampiri mobil Chae-gyeong dan bertanya kenapa mereka lama sekali. Shin dan teman-temannya sudah menunggu hampir 3 jam di villa itu. Chae-gyeong hanya tertawa, cuma tiga jam saja. Yang penting mereka sekarang sudah sampai. Hee-sung mengeluh dan bilang kalau dia ingin muntah.

Yul keluar dari mobilnya dan disambut ketiga teman Shin juga Hyo-rin. Shin terus memperhatikan Yul. Kemudian saat Yul hendak masuk, Shin bertanya kenapa Yul bisa telat datang. Yul hanya tersenyum sambil memandangi Chae-gyeong. yul pergi sambil senyum-senyum. Shin terlihat tak suka memandang Yul.

Mereka berkumpul di dalam villa. Chae-gyeong ingin sekamar dengan ketiga temannya. Yul bilang, di villa itu dalam satu kamar hanya ada 3 tempat tidur. Jadi teman-teman Chae-gyeong memutuskan untuk tidur bertiga tanpa Chae-gyeong. chae-gyeong bisa tidur bersama suaminya. Awalnya Chae-gyeong tak mau. Tapi tak ada pilihan lain. Suaminya juga ada disitu, jadi kenapa dia harus tidur dengan teman-temannya. Shin memandang Chae-gyeong dengan grogi. Begitu pula Chae-gyeong.

Ketiga teman Shin juga hendak tidur sekamar. Teman-teman Chae-gyeong sudah mulai masuk ke dalam. Jang-gyeong menghampiri Hyo-rin dan membawakan barang-barang Hyo-rin ke kamarnya. Shin memandangi kepergian Hyo-rin dan ketiga temannya. Hanya tinggal Shin, Yul dan Chae-gyeong yang belum masuk ke kamar. Shin langsung membawa Chae-gyeong pergi ke kamarnya dengan paksa dan agak marah melihat Chae-gyeong yang terus saja memandangi Yul. Yul hanya bisa menatap kepergian mereka berdua dengan sedih.

Chae-gyeong memeriksa ruangan demi ruangan yang ada di dalam kamar mereka. dia merasa senang. Kemudian keduanya duduk berhadapan dan bicara. Chae-gyeong bilang, dia merasa malu harus berbagi ruangan bersama Shin. Shin bertanya kenapa harus malu, bukankah mereka pernah melakukannya. Chae-gyeong bilang, dia ingin sekali berada sekamar dengan teman-temannya.

Shin bertanya, apa Chae-gyeong tak suka sekamar dengan suaminya sendiri. kalau Chae-gyeong tak mau, Chae-gyeong bisa pergi ke kamar yang  lain. Chae-gyeong berkata bukan itu maksudnya. Hal yang buruk akan terjadi kalau mereka tidur dalam satu kamar. Seperti saat ada di rumah Chae-gyeong. Dan juga saat mereka menghabiskan malam pertama. Chae-gyeong tak tahu apa yang akan Shin lakukan padanya.

Tentu saja Shin marah mendengar hal itu. Apa Chae-gyeong pikir dia itu orang brengsek? Shin berkata, jika seseorang mendnegar hal ini, mereka mungkin akan berpikir kalau Shin adalah orang brengsek. Chae-gyeong malah meledeknya, Shin itu seperti binatang. Tentu saja Shin tak terima mendengarnya. Chae-gyeong bilang, siapa yang meminta Shin menciumnya seperti itu waktu itu.

Shin mencoba membela diri. Waktu Chae-gyeong diciumnya, kenapa Chae-gyeong tak menolaknya. Chae-gyeong langsung mengalihkan pembicaraan agar mereka cepat ganti baju. Yang lainnya sudah menunggu. Shin menggoda Chae-gyeong, kenapa mereka tidak ganti baju bersama. Tentu saja Chae-gyeong jadi ketakutan. Shin menggoda Chae-gyeong, bukankah mereka sudah sering berbagi ruangan, kenapa tidak melakukannya bersama. Chae-gyeong jengkel dan balik menantang Shin. Gantian Shin yang salah tingkah dan menutup matanya seketika karenanya.

“Shin-gun, kenapa kau tiba-tiba menutup matamu? Kau…Jangan lihat. Jika kau membuka matamu saat aku telanjang, berarti kau memang benar-benar orang brengsek!” ancam Chae-gyeong. “Ok. Baiklah. Aku tahu” jawab Shin. Tanpa Shin tahu, Chae-gyeong pergi sambil membawa tasnya dan pergi ke balik tembok sambil terus menggoda Shin agar jangan mengintip. Chae-gyeong senyum-senyum di balik tembok sambil meninggalkan sebuah catatan untuk Shin, lalu pergi.

Shin sudah tak tahan dan ingin membuka matanya. Lalu kemudian Shin membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Chae-gyeong sudah tak ada di situ. Kemudian ada catatan tergeletak dibawah kakinya. Catatan itu bertuliskan, “Kau itu sedang lihat apa?”. Shin tertawa sendiri membacanya. Disitu ada foto seorang tokoh kartun yang bawahnya digambari sendiri oleh Chae-gyeong.

Hyo-rin termenung sendirian. Tiba-tiba Shin dan Chae-gyeong keluar dari kamar mereka sambil bercanda. Hyo-rin melihat mereka berdua. Teman-teman mereka yang lain sedang sibuk memasak. Mereka bertanya kenapa Shin dan Chae-gyeong lama sekali turunnya. Mereka berpikir yang macam-macam mengenai kedua pasangan itu. Kang-hyeon berkata, Chae-gyeong pasti senang sekali. Chae-gyeong dan Shin jadi salah tingkah karenanya. Chae-gyeong mengalihkan perhatian dan berkata kalau dia lapar sekali.

Selesai memasak, mereka makan bersama. Kang-hyeon memberitahu Chae-gyeong, kenapa Shin makan sedikit sekali. Chae-gyeong malu-malu, tapi sebenarnya dia mau. Chae-gyeong bertanya pada Shin yang duduk di sebelahnya dan bertanya kenapa Shin hanya makan sedikit. Shin bilang, dia tak begitu suka baunya. Chae-gyeong kemudian bertanya, bagaimana kalau dia membungkus dagingnya dengan selada. Awalnya Shin menolak, tapi akhirnya mau makan juga dengan disuapi oleh Chae-gyeong.

Hyo-rin menatap dengan kecewa. Yul juga merasa iri. Sementara yang lainnya, menyoraki kedua pasangan itu. Jnag-gyeong berkata, Shin banyak sekali berubah. Dia jadi lebih dewasa. Dengan sombongnya Chae-gyeong bilang, itu karena dirinya. Chae-gyeong bilang, laki-laki bisa juga jadi terpengaruh karena kebiasaannya bersama seorang wanita seperti dirinya.

Selesai makan, anak-anak dari kelas seni mulai melukis untuk tugas akhir mereka. yul menghampiri Chae-gyeong dan berkata, kalau ternyata gambar Chae-gyeong lebih buruk dari yang dia bayangkan. Chae-gyeong jengkel dan berkata, kalau begitu dia ingin melihat gambar Yul. Yul panik dan menghalangi Chae-gyeong untuk melihat lukisannya. Yul bilang, dia akan memperlihatkannya nanti.

Shin datang bersama teman-temannya dan melihat tingkah Yul yang mencoba menghalangi Chae-gyeong untuk melihat lukisannya. Shin menghampiri Chae-gyeong agar ikut dengannya. Dia ingin memotret Chae-gyeong. Chae-gyeong bertanya apa Yul mau ikut, Yul dengan segera menolaknya dan meminta agar Chae-gyeong pergi saja dengan Shin. Dia masih harus menyelesaikan lukisannya. Chae-gyeong langsung mengajak ketiga temannya untuk berfoto, meninggalkan Yul sendirian. Yul memandangi lukisannya dengan sedih, ternyata dia melukis wajah Chae-gyeong!

Chae-gyeong masuk ke kamarnya dan dia merasa gerah. Dia ingin mandi. Lalu mulai mencari perlengkapannya di dalam tasnya. Dia mencoba mencari perlengkapan mandinya, tapi yang ditemukannya malah celana dalam Shin! Tiba-tiba Shin datang dan masuk ke kamar sambil menyebut nama Hyo-rin. Shin sedang berbicara di telepon dengan Hyo-rin. Chae-gyeong tak mau ketahuan dan dia langsung membawa barang-barangnya masuk ke lemari. Dia juga ikut masuk dan bersembunyi di dalam lemari.

Shin duduk di tempat tidur yang terletak di depan lemari tempat Chae-gyeong sembunyi. Chae-gyeong kesal saat mendengar kalau dia akan bicara nanti kalau ketemu lagi dengan Hyo-rin. Lalu kemudian dia terkejut. Celana dalam Shin masih tertinggal di luar. Chae-gyeong mengambilnya dengan susah payah dan masuk kembali ke dalam lemari.

Shin mulai melepas bajunya satu-persatu. Dia ingin mandi. Chae-gyeong kaget saat melihat Shin yang sedang membuka bajunya di depannya. Di atas tempat tidur. Shin selesai melepas bajunya, kemudian berdiri di depan lemari tempat Chae-gyeong sembunyi. Chae-gyeong melihat pemandangan didepannya dan dia segera menutup matanya dengan tangannya. Shin telanjang di hadapannya!

2 komentar: