Rabu, 01 Desember 2010

Playful Kiss Episode 11



Pagi harinya.
Seung-jo sudah bangun terlebih dulu dari pada Ha-ni. Sebelum membuka matanya Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : Benar, aku menghabiskan malam bersama dengan Seung-jo. Aku berpikir bahwa saat aku bangun Seung-jo akan ada di sampingku. Seung-jo..
Ha-ni membuka mata dan ia tidak mendapati Seung-jo ada di sampingnya.

Seung-jo : sudah waktunya bangun.
Seung-jo sedang membaca.
Ha-ni : apakah tidurmu nyenyak?
Seung-jo : Semalam, tidur bersamamu sangat mengerikan.
Ha-ni : kenapa?
Seung-jo : karena kebiasaan tidurmu yang sangat mengerikan.
Ha-ni : Apa yang kau bicarakan? Aku sebenarnya adalah orang yang suka tidur.
Seung-jo : Jangan bercanda denganku.

Kemudian, Seung-jo dan Ha-ni sarapan bersama. 


Ha-ni mencoba memilihkan baju untuk Seung-jo.
Ha-ni : pakai yang ini.
Seung-jo : aku tidak mau.
Kemudian Seung-jo memilih sendiri pakaiannya.

Seung-jo akan ganti baju, tapi Ha-ni masih berada di dekat Seung-jo.
Seung-jo : apakah kau akan terus memandangiku seperti itu?
Ha-ni : Ah, maaf. (Ha-ni membalikkan badannya, agar tidak melihat Seung-jo mengganti baju).

Saat hendak berangkat ke kampus, Ha-ni membalikan sepatu Seung-jo. Seung-jo melihat hal itu dan ia menatap Ha-ni, Ha-ni mengerti tatapan Seung-jo mungkin Seung-jo tidak ingin memakai sepatu yang itu, jadi Ha-ni mengambil sepatu yang lain.
Seung-jo : Kelakuanmu seperti kau yang punya rumah ini.
Ha-ni tersenyum : benarkah?

Seung-jo dan Ha-ni pergi ke kampus bersama, Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : pergi ke kampus bersama dengan Seung-jo. Ini perasaan yang sangat berbeda ketika saat aku tinggal di apartemen Seung-jo. Rasanya seperti kami tinggal bersama.
Ha-ni mencoba menggapai pundak Seung-jo.
Seung-jo : Kau sedang membayangkan apa? Jangan melakukan hal yang berlebihan (tegas Seung-jo.)

Di restaurant Ayah Ha-ni, Jun-gu belum juga datang.
Ayah Ha-ni mencoba menghubungi Jun-gu tapi tidak ada jawaban.
Ayah Ha-ni : Dia tidak pernah telat untuk bekerja. Ada masalah apa?

Di kampus.
Para mahasiswa ramai berkumpul di satu tempat, Seung-jo dan Ha-ni yang baru saja datang penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya mereka pun melihat kerumunan itu. Seung-jo dan Ha-ni kaget mengetahui apa yang terjadi. Ada sebuah pengumuman yang isinya mengenai Seung-jo dan Ha-ni yang bermalam bersama.


Dua orang dari orang-orang yang berkerumun itu membicarakan tentang pengumuman tersebut. Seung-jo dan Ha-ni yang berada tepat di belakang mereka, ikut mendengarkan pembicaraan itu.
Girl 1 : Kau tau gadis yang berasal dari club tennis.
Mereka melihat ke arah Ha-ni : Oh dia.
Boy 1 : Hey! Baek Seung-jo! Sejak kapan kau...? Beruntungnya kau.

Ternyata Ibu Seung-jo kembali menyamar, ia ikut bergerumul diantara orang-orang itu. ckckck....



Ibu Seung-jo : Ceritakan, ceritakan kepada kami secara detail. Jadi bagaimana yang sebenarnya?
Orang-orang yang bergerumul itu memperhatikan Ibu Seung-jo dan mereka tertawa melihat penampilan Ibu Seung-jo.
Ibu Seung-jo : Aku berkata beritahu kami kejadian yang mendetail.

Saat melihat ibunya yang sedang menyamar, Seung-jo langsung mengetahui hal itu dan ia langsung membawa ibunya pergi menjauhi kerumunan itu.
Seung-jo : ibuu,
Ibu Seung-jo : Apa masalah mu? Kenapa kau memanggilku ibu?
Seung-jo : Ibu.
Semua orang yang berkerumun itu sekarang berganti mengerumuni Seung-jo dan Ibu Seung-jo.

Seung-jo mengatakan pada ibunya untuk tidak mengganggunya lagi.
Ibu Seung-jo menanyakan tentang kesehatan Ha-ni : Ha-ni, bagaimana perasaanmu setelah sakit dan semua hal yang terjadi padamu?
Ha-ni : aku baik-baik saja sekarang.
Ibu Seung-jo : benarkah? aku senang mendengarnya. Jadi, bagaimana?
Ha-ni : apa?
Ibu Seung-jo : bagaimana rasanya.
Ha-ni : Suaramu terlalu keras, itu bukan sesuatu yang spesial.
Ibu Seung-jo : benarkah? Tipe lelaki seperti apa Seung-jo itu? Tidak bisa dipercaya. Ha-ni, apakah kau sudah memberikan coklat pada Seung-jo?
Ha-ni : ah ya, chocolate. Coklat. (Ha-ni mengingat sesuatu dan kemudian ia baru sadar kalau ia tidak memberikan chocolate buatannya pada Seung-jo). Coklat-nya hilang.
Ibu Seung-jo : Hilang bagaimana? Itu adalah salah satu tanda cinta.
Ha-ni panik. Ha-ni : apa yang harus aku lakukan, chocolate untuk Baek Seung-jo!

Di salon tempat bekerja sahabat Ha-ni, Jun-gu datang menemui sahabat Ha-ni. Jun-gu menceritakan apa yang telah terjadi pada Ha-ni dan Seung-jo. Jun-gu mengatakan bahwa Ha-ni dan Seung-jo telah tidur bersama. Sahabat Ha-ni kaget tapi juga senang. Di kampus, Sahabat Ha-ni menanyakan pada Ha-ni, apa yang sebenarnya terjadi antara Ha-ni dan Seung-jo. Ha-ni mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua. 




Di kelas, He-ra menyinggung soal Seung-jo dan ha-ni yang tidur bersama, Seung-jo mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa diantara mereka berdua. He-ra senang mendengar hal itu, ia langsung mengajak Seung-jo untuk dinner setelah selesai kuliah.


Di kafetaria, Ha-ni dan kedua sahabat berbincang-bincang.
Ha-ni : sepertinya aku akan mati karena ujian ini.
Sahabat Ha-ni : Aku tidak akan mampu mempelajari 12 mata pelajaran sekaligus.
Sahabat Ha-ni yang lain : Jika Min-ah berkata seperti itu, maka tentu saja akan menjadi hal yang tidak mungkin untuk Oh Ha-ni.
Ha-ni : baikalah, aku telah membuat keputusan. Aku hanya akan mempelajari bahasa inggris saja.

Jun-gu menunggu hujan reda di kampus, ia bertemu dengan Kyung-su. Kyung-su dan Jun-gu tidak saling mengenal. Kyung-su menanyakan keadaan Jun-gu yang terlihat lesu. Jun-gu menceritakan bahwa ia tengah putus asa dengan cintanya. Jun-gu menceritakan tentang kisah cintanya dengan Ha-ni, tapi Jun-gu tidak menyebutkan nama Ha-ni.

Kemudian Kyung-su menyuruh Jun-gu untuk menyatakan rasa cintanya itu... Kyung-su mengajari Jun-gu mengenai cara Seung-jo saat pertama kali mencium Ha-ni. Jun-gu menyadari kalau ia ternyata belum pernah menyatakan cintanya pada Ha-ni. Setelah berterimakasih pada Kyung-su, Jun-gu pamit untuk pergi.

Di kamarnya, Ha-ni belajar dengan giat, ia menghafal beberapa rumus. Ia benar-benar sangat giat belajar (hehee...) dan akhirnya Ha-ni belajar sampai tertidur

Di apartemen Seung-jo, setelah selesai mandi tanpa sengaja Seung-jo menemukan chocolate milik Ha-ni yang tertinggal. Seung-jo membaca note dari Ha-ni kemudian tersenyum. Ia mencoba mencicipi chocolate itu, karena rasanya tidak enak Seung-jo berhenti memakannya. Tapi, akhirnya ia tersenyum juga...


Di kampus, Seung-jo dan He-ra sedang mengobrol di dalam kelas. Ha-ni datang tanpa mempedulikan mereka.
He-ra : Ha-ni, kau datang juga.
Seung-jo : kau terlihat tidak sehat.
He-ra mulai merendahkan Ha-ni, ia berkata bahwa Ha-ni tidak akan berhasil untuk ujian bahasa inggris kali ini karena ini adalah ujian yang sangat sulit. He-ra malah menyarankan agar Ha-ni ikut test bahasa inggris di tahun yang akan datang saja. Ha-ni hanya bisa menatap kesal ke arah He-ra.

Saat ujian dimulai, Ha-ni tidak mengerjakan soalnya tapi ia malah sibuk memperhatikan Seung-jo. Hani berkata pada dirinya sendiri : ini pertama kalinya aku ikut test bersama Seung-jo. Seung-jo terlihat sangat tampan saat sedang mengerjakan soal.

Uaah.. Seung-jo cool.. Seung-jo sudah selesai mengerjakan soalnya kemudian ia langsung menukar jawaban miliknya dengan jawaban milik Ha-ni yang masih kosong. He-ra kesal melihat hal itu. *ternyata itu cuma bayangan Ha-ni saja!




Seung-jo dan He-ra sudah selesai mengerjakan test itu hanya dalam waktu 40 menit. Sedangkan Ha-ni, kertas ujiannya masih kosong.


Setelah selesai test bahasa inggris, Ha-ni bertemu dengan Jun-gu yang sudah menunggunya dari tadi.
Jun-gu : aku datang karena.. aku memiliki hal yang harus aku katakan padamu.
Ha-ni : benarkah? apa yang ingin kau bicarakan?
Jun-gu : meskipun kau tidak menceritakan apapun padaku, tapi aku tahu segalanya. Mungkin kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku saat itu. Tapi tidak masalah betapapun aku memikirkan tentang hal itu, aku berpikir bahwa hal itu tidaklah benar. Sesungguhnya, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri untuk berhenti menyukaimu, Ha-ni. Aku hanya ingin mengerti tentang semua yang telah terjadi.


Setelah Jun-gu mengatakan seluruh isi hatinya dan ternyataaa.. Ha-ni tidak mendengarkan hal itu, ia malah tertidur. kasihan deh Jun-gu.. Jun-gu.. Jun-gu.


Ternyata kedua sahabat Ha-ni sudah sedari tadi mendengarkan pembicaraan Jun-gu dan Ha-ni. Kedua sahabat Ha-ni memanggil Jun-gu dan Jun-gu menghampiri mereka.
Sahabat Ha-ni berkata, apa yang sebenarnya Jun-gu tawarkan untuk Ha-ni. Sahabat Ha-ni juga menjelaskan bahwa sebenarnya Seung-jo tidak melakukan apapun pada Ha-ni, mendengar hal itu Jun-gu sangat senang sekali.

Di lapangan tenis, saat Ha-ni sedang mengambil beberapa bola tennis dan memasukkannya ke dalam keranjang, tiba-tiba seseorang datang dan berkata : Ha-ni, Ayo berkencan.

Ha-ni hanya termangu mendengar dan melihat orang itu. Kyung-soo memanggil orang tersebut dengan nama Ki-tae.



Kyung-su : hai Ki-tae, kapan kau tiba? Kenapa kau mengatakan hal itu pada Ha-ni?
Ki-tae : aku tidak bercanda. Aku teman Kyung su dan akan mulai kuliah di tempat ini semester depan. Aku Kim Ki-tae, senang bertemu denganmu.




Para anggota club tennis juga sangat penasaran dengan Ki-tae, Kyung-su merasa risih dan ia menyuruh para anggota club untuk mengucapkan salam.

Kyung-su bertanya pada Ki-tae : Kau termasuk laki-laki yang sangat menyenangkan, sejak kapan kau mengenal dan kau ingin pergi dengannya, padahal kalian baru saja bertemu.
Kyung-su berkata pada Ha-ni yang sedari tadi hanya diam : Hey, Ha-ni. Tidakkah dia tampan. Ketika kami pertama kali datang ke kampus ini, kami sangat populer di kalangan klub tenis. Ki-tae yang tampan dan aku yang memiliki karisma.


Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : ini terasa sangat aneh, aku sangat terkejut. ini pertama kalinya dalam hidupku ada seseorang menyatakan hal itu. Ini sangat mengagumkan.

Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Ha-ni di lapangan tennis, kedua sahabat Ha-ni menanyakan kepastian tentang kejadian itu. Mereka sangat bahagia mendengar tentang kejadian itu, karena mereka yang paling tahu kalau itu adalah pertama kali dalam hidup Ha-ni.


Ha-ni dan kedua sahabatnya ingin tahu bagaimana reaksi Seung-jo saat mendengar hal ini. Kedua sahabat Ha-ni menceritakan kepada Seung-jo bahwa ada seorang laki-laki yang akan mengajak Ha-ni kencan. Diam-diam Ha-ni mendengarkan pembicaraan itu. Reaksi Seung-jo seperti biasa, ia tidak peduli dengan hal itu. Mendengar hal itu, Ha-ni sangat sedih. Padahal Ha-ni berharap, Seung-jo akan cemburu karena hal itu, tapi ternyata tidak sama sekali.


Di rumah Ha-ni menceritakan kejadian tadi siang pada keluarganya, Ibu Seung-jo sangat terkejut mendengar hal itu.



Ibu Seung-jo : benarkah? Ia akan mengajakmu kencan.
Ha-ni : Iya, tapi hanya sekedar kencan tidak lebih.
Eun-jo : Jadi, apa yang akan kau lakukan.
Ha-ni kesal mendengar pertanyaan dari Eun-jo yang menyudutkannya, Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : Kenapa ia seperti kakaknya?!




Ibu Seung-jo shock mendengar hal itu : Hal yang paling aku takutkan akhirnya datang. Anak gadis semanis Ha-ni. Aku tau aku akan kehilangannya segera. Semua ini karena Seung-jo.

Ayah Seung-jo menenangkan Ibu Seung-jo : Sudahlah sayang. Hal seperti ini adalah sesuatu kebebasan untuk orang lain.

Ayah Ha-ni bertanya pada Ha-ni tentang bagaimana Kim Ki-tae itu.
Ha-ni : Dia itu adalah pengajar klub tenis dan ia lebih tua satu tahun dari padaku. Dan kita berada di semester yang sama.
Ibu Seung-jo : apa?! pelatih tennis?
Ha-ni : Aku tidak benar-benar ingat bagaimana wajahnya.
Ayah Ha-ni mengira mungkin Ha-ni yang terlebih dahulu menggoda laki-laki itu sehingga ia bisa terbujuk. Ha-ni berkata bahwa ia tidak seperti itu.

Dikamar Ha-ni.
Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : mendapatkan sesuatu yagn lebih besar dari yang aku harapkan. Hari ini adalah hari yang sangat penting. Tapi, dia mengungkapkan hal itu, apakah dia tahu bahwa aku menyukai Seung-jo. Dia orang yang sangat berani. Aku tidak dapat mengingat wajahnya. bagaimana wajahnya.


Saat Ha-ni mulai membayangkan wajah Ki-tae, tiba-tiba yang muncul adalah wajah Seung-jo. (Ha-ni memang tak bisa lepas dari bayangan Seung-jo...ckckck....).

Di kampus, Ki-tae menemui Ha-ni. Ki-tae menghampiri Ha-ni, ia duduk di sebelahnya Ha-ni.
Ha-ni : kenapa kau datang?




Ki-tae : kau tidak dapat melupakan wajahku. Jadi aku datang untuk menunjukkan wajahku.


Ki-tae merangkul pundak Ha-ni, tapi Ha-ni segera melepaskannya. Ha-ni duduk bergeser mencoba menjauh dari Ki-tae, tapi Ki-tae ikut bergeser juga dari Ha-ni.

Ki-tae : Hey, Baek Seung-jo sekarang bekerja di sebuah restaurant, benarkah?
Ha-ni : iya, benar.
Ki-tae : beberapa waktu yang lalu saat aku pergi kau di sana juga. Aku dengar kalau kau pergi ke restaurant tempat Seung-jo bekerja setiap hari.
Ha-ni : Aku pergi ke sana beberapa kali.

Ki-tae : tahukah kau kalau aku pintar juga. Tentu saja aku tidak akan menampakkan hal itu pada Seung-jo yang sempurna.
Ha-ni : Jadi, kau mendekatiku karena Seung-jo...
Ki-tae : tentu saja aku merasa iri pada Seung-jo yang memiliki bakat dalam segala hal, entah itu dalam belajar dan juga tenis. Sebagaimana aku khawatir pada Baek Seung-jo, rasa kekhawatiranku itu benar, saat aku melihatmu mengikutinya kemanapun ia berada. Tiba-tiba tanpa aku sadari, sedikit demi sedikit, aku mulai melihatmu.
Ha-ni mengangguk senang.

Ki-tae : Kau akan terus maju meskipun ditolak oleh Baek Seung-jo. lagi dan lagi. Aku sangat tersentuh akan hal itu, Oh Ha-ni. Jadi, aku akan membebaskanmu dari hal itu. Sudahlah, ayo ikut aku pergi. 

Tanpa sepengetahuan Ha-ni dan Ki-tae, He-ra melihat mereka berdua. He-ra menghampiri Ha-ni dan Ki-tae. Ternyata He-ra sudah mengenal Ki-tae, mereka bertemu beberapa kali saat diadakannya pertandingan tennis.


He-ra heran melihat Ha-ni dan Gi tae akrab, He-ra berkata : apakah kalian saling mengenal?
Ki-tae : tentu saja, aku akan mengajak Ha-ni keluar.
He ra senang bukan kepalang mendengar hal itu : Jadi, kau akn berhenti untuk mengharapkan Seung-jo sekarang?
Ki-tae : tentu saja.
Ha-ni memukul Ki-tae : Jangan katakan apapun sesuai maumu.
He-ra senang sekali mendengar hal itu. He-ra menyarankan pada Ki-tae untuk selalu menjaga Ha-ni dan meneruskan hubungan mereka, karena mereka sangat cocok.

Lagi-lagi Ibu Seung-jo kembali menyamar, ia tengah memata-matai Ki-tae. Ibu Seung-jo mengambil beberapa gambar.


Di rumah, Ibu Seung jo mengamati foto-foto yang baru saja ia ambil.
Ibu Seung-jo : ketampanan wajahnya berada di level 85 persen. Kepribadiannya terlihat sangat berkilau dan dia sangat antusias. Mungkin dimasa depan ia akan menjadi politikus atau pengacara.

Ha-ni datang menghampiri Ibu Seung-jo, ia melihat beberapa foto Ki-tae yang berserakan di meja. Ha-ni bertanya apakah Ibu Seung-jo pergi ke kampus untuk melihat Ki-tae. Ibu Seung-jo tersenyum lalu ia berkata bahwa Ki-tae adalah saingan Seung-jo jadi ia harus menganalisa Ki-tae. Dan ternyata Ibu Seung-jo menyadari kalau Ki-tae lebih imut dari pada Seung-jo. (hehee..mereka berdua sama-sama cute.) Kemudian Ibu Seung-jo merencakan untuk membuat Seung-jo cemburu karena kedekatan Ha-ni dan Ki-tae.


Di lapangan tennis.
Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : benarkah Seung-jo akan benar-benar cemburu akan hal itu?


He-ra datang dan duduk di sebelah Ha-ni. He-ra mulai memprovokasi Ha-ni untuk melupakan Seung-jo karena Ki-tae sama populernya dengan Seung-jo diantara para mahasiswi.




Seung-jo menghampiri Ha-ni dan He-ra, Seung jo mulai mengejek Ha-ni karena Ki-tae : Mungkin dia sakit mata atau dia sangat aneh.



Ha-ni membela Ki-tae, Ha-ni berkata bahwa Ki-tae sama pintarnya dengan Seung-jo dan sikap Ki-tae lebih baik kepada perempuan dari pada sikap Seung-jo.

Di restaurant tempat Seung-jo bekerja.
Seung-jo : Kau mau pesan apa?
Ha-ni : Satu gelas ice tea.
Seung-jo : apakah kau ingin menghabiskan waktu dengan duduk di sini seharian lagi seperti waktu itu?
Ha-ni : Hari ini. Aku datang kemari bukan untuk melihatmu. Aku datang ke sini untuk janji yang lain.

Ternyata Ha-ni janjian Ki-tae.
Ki-tae : Ha-ni, maaf. Jalan menuju ke sini sangat macet. apakah kau sudah menunggu lama?
Ha-ni : tidak, aku baru saja datang.
Ki-tae : Oh hai Baek Seung-jo. Satu coffee untukku dengan es.
Seung-jo : baiklah. Ice tea dan Ice coffee..Tunggu sebentar. (wah...orang korea seneng bgt yang  namanya es kopi ya? Jadi inget dulu waktu kecil. Tiap kali ada sisa kopi-nya bapak, langsung masukin kulkas. Pulang sekolah dah dingin. Di minum...hmmmm...ketagihan terus ma es kopi pe sekarang...^_^).


Ha-ni memperhatikan Seung-jo saat ia pergi, sebenarnya Ha-ni sedang menjalankan misinya untuk membuat Seung-jo cemburu, tapi ternyata Seung-jo terlihat tidak peduli sama sekali. Saat Seung-jo pergi, Ha-ni dan Ki-tae berbincang-bincang. Ki-tae menanyakan apakah ini kencan pertama Ha-ni. Ha-ni menjawab kalau ini bukan kencan pertamanya. Ya iyalah, ini bukan kencan pertama Ha-ni karena Ha-ni pernah berkencan dengan Seung-jo. Setelah pengejaran di bioskop, mereka berkencan di danau naik perahu dan Ha-ni jatuh ke danau. Ha-ni memikirkan saat ia dan Seung-jo berkencan.

Ki-tae mencoba mendekati Ha-ni, ia merangkul pundak Ha-ni. Awalnya Ha-ni melepaskan rangkulan tangan Ki-tae, tapi karena Seung-jo datang jadi Ha-ni membiarkan Ki-tae tetap merangkul pundaknya. 




Seung-jo datang membawakan pesanan Ha-ni dan Ki-tae, Seung-jo melihat mereka berdua dengan tatapan kesal.




Setelah selesai mengantar pesanan Seung jo pergi, Ha-ni sedih karena ia tidak mendapati Seung-jo yang cemburu. Ki-tae mengajak Ha-ni untuk pergi ke beberapa tempat wisata dan akhirnya mereka pergi ke taman.


Waaaah....Ki-tae keren. Dia sangat menjaga Ha-ni, saat ada sepeda yang melintas saat mereka berjalan, Ki-tae langsung menarik Ha-ni ke pinggir jalan agar Ha-ni tidak terserempet sepeda. Kemudian saat hendak memasuki pintu kecil, Ki-tae menadahkan tangannya di atas kepala Ha-ni agar Ha-ni kepala Ha-ni tidak terbentur. co cweet....^_^

Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : Saat ia baik padaku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Ini baru kencan sungguhan. Sifat seorang perempuan yang menghabiskan banyak waktu mereka untuk berkencan seperti ini.

Ki-tae datang membawakan minuman.
Ha-ni : aku tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Ki-tae : benarkah? Apakah itu karena ketika kau bersama Baek Seung-jo, kau merasa gugup?
Ha-ni : betul.
Ki-tae : Sudah berapa tahun kau menyukai Baek Seung-jo?
Ha-ni : Apa? Sepertinya sudah lebih dari 4 tahun.
Ki-tae : semenjak SMA. Aku kira ini akan menjadi pertarungan yang sangat panjang untukku.
Ha-ni : Apa?
Ki-tae : Tidak. (Ki-tae tersenyum) Jika kau menyukainya selama 4 tahun yang lalu, dan tiba-tiba aku datang padamu, itu tidak berarti hatimu tiba-tiba akan berubah. Meskipun jika kau hanya memikirkanku dari waktu ke waktu. Bukankah begitu? Aku sangat memakluminya.

Ha-ni berbicara pada dirinya sendiri : Dia berbeda 180 derajat dari Seung-jo. Aku mengharapkan Seung-jo datang tapi Seung-jo tidak pernah muncul.
Ki-tae : Ha-ni, ayo pergi.

Ha-ni melihat Seung-jo dari kejauhan, ia berkata pada dirinya sendiri : Aku tidak dapat melanjutkan seperti ini. Ini seperti sebuah isyarat untukku kalau Seung-jo benar-benar tidak memiliki rasa untukku. Jika hal ini akan seperti ini terus, sepertinya aku hanya akan memanfaatkan Ki-tae. Aku harus mengakhiri ini.

Hani sedang ada di perpustakaan saat Ki tae datang dan Ha-ni terkejut. Ki-tae bertanya sedang apa Ha-ni di tempat ini, apakah Ha-ni sedang memperhatikan seseorang. Ki-tae melihat ke sekeliling, Ki-tae tahu bahwa Ha-ni sedang memperhatikan Seung-jo. Ki-tae menyuruh Ha-ni untuk melupakan Seung-jo. Ki-tae mencoba mencium Ha-ni. Ha-ni mencoba menghindar.



Kemudian datanglah Jun-gu menghentikannya. Kemudian Jun-gu memukul Ki-tae. dan Ki-tae balas memukul Jun-gu. Akhirnya mereka saling memukul. Ha-ni panik, ia tidak bisa menghentikan mereka. Akhirnya Seung-jo datang, membuat Jun-gu dan Ki-tae kaget karnanya.


Seung-jo: Apa kalian berdua bertengkar bukan karena Ha-ni?
Jun-gu : Baek Seung-jo, ini tidak ada hubungannya denganmu. Jadi, pergilah!
Seung-jo : meskipun kalian bertengkar atau saling membunuh satu sama lain pun, itu tidak menjadi masalah. Karena satu-satunya orang yang Ha-ni sukai adalah aku! (Seung-jo merangkul pundak Ha-ni.) Jadi, jangan membuang-buang waktu kalian untuk bertengkar mengenai masalah ini. Ibuku mengatakan untuk menyuruh kami makan malam bersama. Ayo pergi.


Ha-ni bertanya pada Seung-jo, apakah Seung-jo cemburu. Seung-jo mengatakan bahwa ia tidak cemburu sama sekali, ia hanya melakukan apa yang disuruh oleh ibunya.

Di rumah keluarga Seung-jo, seluruh anggota keluarga (Seung-jo, Eun-jo, ibu Seung-jo, ayah Seung-jo, Ha-ni, Ayah Ha-ni) berkumpul untuk makan malam bersama. Kemudian keluarga besar itu berkumpul di ruang keluarga. Ayah Ha-ni membuat beberapa lelucon. Lelucon yang garing, haha.. Seung-jo pamit untuk tidur. Sebelum Seung-jo pergi, Ayah Seung-jo ingin berbicara berdua dengannya.


Ayah Seung-jo : Seung-jo, sekarang kau sudah dewasa. Bagaimana dengan masa depanmu? Apa rencanamu untuk masa depanmu sendiri? Sudah lama setelah beberapa waktu kau meninggalkan rumah. Aku rasa, sudah saatnya untuk menjernihkan pola pikirmu.
Seung-jo : belum..
Ayah Seung-jo : Seung-jo, Aku harap, kau dapat meneruskan perusahaan keluarga kita. Pertama, kau menjadi tangan kananku. Dan kemudian, kau menjadi seorang yang sukses di perusahaan. Apa yang kau pikirkan mengenai hal itu?

Seung-jo : Sebenarnya kau tidak menanyakanku tentang apa yang aku pikirkan, tapi kau menyuruhku untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginanmu, bukankah begitu? Jadi kau yang memutuskan masa depanku seperti apa yang kau inginkan.
Ayah Seung-jo : bukan begitu.
Seung-jo : Jika kau sudah selesai, aku akan pergi ke kamarku dulu.
Ayah Seung-jo : baiklah, kau boleh pergi ke kamarmu.

Saat Seung-jo keluar dari ruang kerja ayahnya, ternyata Ibu Seung-jo dan Ha-ni tengah menunggunya. Itu berarti mereka juga mendengarkan pembicaraan antara Seung-jo dan Ayah Seung-jo. Seung-jo hanya pamit untuk menuju ke kamarnya.

Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : Dengan datangnya hari libur, Seung-jo tiba-tiba menghilang, Dia tidak pernah terlihat di lapangan tennis bahkan mungkin dia keluar dari klub tenis atau berhenti beberapa waktu dari pekerjaan part timenya di restaurant keluarga itu. Dimana Seung-jo pergi?

Sementara itu, Seung-jo tengah memotret beberapa orang: satu, dua tigaa.. say cheese! 




Pemandangan di sini sangat bagus. Kami akan menyiapkan barbeque ketika kalian datang.
Mereka mengucapkan terimakasih dan pergi. Tiba-tiba Ha-ni dan Eun-jo datang.
Ha-ni : Hyeong! kami datang.
Akhirnya Ha-ni bisa menemukan Seung-jo. Pekerjaan baru Seung-jo.


Seung-jo bertanya pada Eun-jo : Eun-jo, kalian datang sendiri?
Eun-jo : Ayah tidak bisa datang karena urusan pekerjaan dan ibu tidak dapat meninggalkan ayah sendiri.
Ha-ni : Ibu sangat merasa kecewa.
Seung-jo : itu sangat jelas.

Ternyata Seung-jo dan Kyung-su bekerja bersama lagi, mereka seperti guide tour di sebuah tempat wisata. Kyung-su melihat Eun-jo dan ia berkata bahwa Eun-jo mirip dengan Seung-jo.

Seung-jo berkata pada Kyung-su : Pelatih, kenapa kau tidak membuka perusahaan broadcast milikmu sendiri?
Kyung-su : Apa? apa yang kau bicarakan?
Seung-jo : Kau tidak menceritakan pada orang lain juga, benarkah?

He-ra juga ikutan datang, setelah He-ra turun dari mobilnya, ia langsung menghampiri Seung-jo dan mendorong Ha-ni yang saat itu berada di dekat Seung-jo. He-ra berkata bahwa villa-nya ada didekat area sini dan He-ra mengajak Seung-jo untuk makan malam bersama di villa.

Ha-ni kesal, ia menghampiri Kyung-su dan memaksa Kyung-su untuk menceritakan hal yang tadi Seung-jo bicarakan mengenai perusahaan Broadcast. Kyung-su dan Ha-ni pergi untuk membicarakan hal itu. Dari kejauhan Ha-ni melihat Seung-jo dan He-ra sedang berfoto dan itu membuat Ha-ni cemburu. Kyung-su berbicara pada Ha-ni mengenai rencananya untuk mendekati He-ra. Ha-ni yakin bahwa hal itu sangat sulit, karena He-ra yang selalu mendekati Seung-jo. Tapi Kyung-su meyakinkan Ha-ni bahwa itu mudah, karena Jun-gu sudah mempersiapkan dengan matang semua rencananya untuk mendekati He-ra.

Kyung-su mengarahkan para tamu ke dalam permainan yang merupakan salah satu strateginya untuk mendekati He-ra. Tidak ada yang benar-benar memahami permainan yang dibuat kyung soo untuk tamunya. Para tamu termasuk He-ra hanya sibuk dengan obrolan mereka sendiri. Terutama He-ra, He-ra melihat-lihat kesekeliling mencari Seung-jo yang tidak datang. Hanya Ha-ni saja yang bertepuk tangan. Aturan main dari permainan Kyung soo adalah para anggota harus menemukan cap yang sudah disebar di beberapa titik daerah.


Di tempat lain, dengan tekad kuatnya Jun-gu yang tahu Ha-ni pergi kemana, berjalan kaki untuk menyusul Ha-ni ke tempat penginapan. (semangat!) Jun-gu berhenti sejenak karena merasa lelah, ia berkata pada dirinya sendiri kalau ia akan menjaga Ha-ni.

Ha-ni dan Eun-jo berjalan kaki masuk ke dalam hutan, mereka sedang mengikuti permainan Kyung-su.
Eun-jo : Kenapa aku harus melakukan ini, Ha-ni?
Kemudian Ha-ni melihat cap yang digantung di atas pohon, Ha-ni bersorak karena ia orang pertama yang menemukan cap itu. Cap nomor 4, kemudian Ha-ni mengecap blangko permainan yang dibawanya. Eun-jo kesal, karena menurutnya ini permainan bodoh. Tapi, kemudian Ha-ni melihat cap yang bergantung lagi, Ha-ni berteriak senang. (suara Ha-ni kalau lagi teriak senang lucu kedengarannya.)


Di tempat lain, Kyung-su bersama He-ra. Dengan segala macam cara, Kyung-su mencoba mendekati He-ra, tapi momentnya selalu aja salah. He-ra bertanya pada Kyung-su, apakah ini semua rekayasa Kyung-su, Kyung-su menjawab bahwa ia tidak mungkin merekayasa hal ini. Tiba-tiba terdengar suara aneh, He-ra takut dan kaget refleks ia mendekati Kyung-su! (hore!!..pucuk dicinta ulam pun tiba.hehehehe....)..


Di tempat lain, Ha-ni sudah berhasil mengumpulkan banyak stempel. Ia dan Eun-jo tengah duduk beristirahat, tapi tiba-tiba Ha-ni dan Eun-jo juga mendengar suara aneh yang sama. Ha-ni berpikir kalau itu adalah serigala tapi Eun-jo menjawab kalau serigala sudah tidak ada di negara ini. Lalu Ha-ni berpikir kalau mungkin saja suara itu adalah suara Beruang. Suara yang semakin mendekat itu membuat Ha-ni dan Eun-jo berlari ketakutan.



Dari semak-semak muncul Jun-gu, ia mendengar suara jeritan Ha-ni. Jun-gu berkata pada dirinya sendiri kalau baru saja ia mendengar jeritan Ha-ni. Jun-gu berlari ke arah sumber suara.

Karena mendengar suara aneh tadi Ha-ni dan Eun-jo jadi berlari tidak tentu arah, mereka menuju sebuah tebing yang tidak curam. Ha-ni berjalan di depan Eun-jo, tiba-tiba Ha-ni tergelincir dan terperosok ke dalam tebing itu. Ha-ni kesakita, Eun-jo panik.
Eun-jo : apakah kau baik-baik saja?
Ha-ni : aku baik-baik saja, Eun-jo. (Ha-ni terlihat kesakitan tapi ia memang baik-baik saja.)
Eun-jo : bodoh! (iiiih...ne anak..mang sama ja ma Seung-jo!)
Ha-ni : tapi topiku hilang.
Eun-jo : Tunggu di sana. Aku akan turun ke bawah.







Di bagian hutan yang lainnya, Kyung-su bersama He-ra. Mereka melewati beberapa bagian hutan secara bersama, saat mereka memasuki kawasan mata air, Kyung-su lupa dengan daerah itu. Tapi kemudian Kyung-su melihat stempel yang bergelantung di pohon. He-ra menyuruh Kyung-su untuk mengambil stempel itu, tapi Kyung-su lambat akhirnya He-ra yang mengambilnya.


Jun-gu menemukan topi Ha-ni, topi itu tersangkut di bagian ranting yang agak tinggi. Saat Jun-gu mencoba mengambilnya, ia malah terperosok dan jatuh.

Saat Seung-jo sedang menyapu, He-ra dan Kyung-su datang. He-ra membantu Kyung-su berjalan karena badan Kyung-su yang lemah. Seung-jo membantu Kyung-su. He-ra berkata bahwa hutan di sini sangat menyeramkan ada suara-suara yang aneh yang terdengar. Seung-jo menanyakan keadaan Ha-ni dan Eun-jo pada He-ra. He-ra berkata bahwa Ha-ni dan Eun-jo sudah berjalan terlebih dulu dari pada mereka, tapi kenapa mereka belum juga sampai.

Di dalam hutan, Ha-ni dan Eun-jo merasa kedinginan dan kelaparan.
Eun-jo : masalah besarnya adalah kita tidak dapat menemukan jalan pulang.
Ha-ni : Tidak ada signal di sini. Handphone tidak digunakan di hutan ini.
Eun-jo mengeluarkan selimut dan makanan, ia menawarkan semua itu pada Ha-ni.
Ha-ni : Baek Eun-jo, kau sangat mengagumkan. Untuk persiapan. Jika kau bersiap-siap kau akan bahagia.Ini analogi... (Ha-ni lupa itu analoginya siapa? haha)

Eun-jo menyuruh Ha-ni untuk memakai selimutnya.
Ha-ni : Ini seperti bersama dengan Seung-jo junior.. (yupz...)



Eun-jo : pertama kita harus menemukan tebing. Jika kita mengikuti arah jalan itu kita akan kembali.
Ha-ni : Bagaimana kalau kita menunggu Seung-jo datang saja?
Eun-jo : kau bodoh. Bagaimana dia akan tahu kalau kita ada di sini?
Ha-ni merasa kedinginan.
Eun-jo : apakah kau kedinginan?
Eun-jo menggenggam tangan Ha-ni, Eun-jo berkata : Kau dapat memegang tanganku.
Ha-ni : kau sangat mengagumkan.

Jun-gu terjatuh ke dalam tebing, kakinya terluka. Ia kesal karena matahari sudah mulai terbit tapi ia belum dapat menemukan Ha-ni. Jun-gu mencoba untuk mendaki tapi ia terjatuh lagi. Jun-gu berusaha sekuat tenaga untuk dapat keluar dari tebing bagian dalam itu, tapi perjuangannya tidak membawakan hasil. Jun-gu membayangkan bila ia tidak dapat keluar dari tebing ini, ia akan menjadi tengkorak. Jun-gu berteriak dengan memanggil Ha-ni.


Suara teriakan Jun-gu terdengar seram bila terdengar dari kejauhan. Ha-ni mendengar suara itu, Ha-ni dan Eun-jo merasa takut.






Seung-jo berlari di hutan, ia tengah mencari Eun-jo dan Ha-ni. Dari berbeda tempat, Seung jo dan Jun-gu mendengar suara ketakutan Ha-ni. Seung-jo mempercepat larinya, sedangkan Jun-gu kembali berteriak. Lagi-lagi suara teriakkan Jun-gu sampai terdengar sayup-sayup di bagian hutan tempat Ha-ni dan Eun-jo berada. Suara itu seperti suara yang sangat menakutkan.

Ha-ni ketakutan, Eun-jo menyuruh Ha-ni untuk berlindung di belakangnya. Dan akhirnya Seung-jo dapat menemukan Eun-jo dan Ha-ni.


Sedangkan Jun-gu, ia masih terperangkap di lembah itu dan belum berhasil keluar dari sana. Dan akhirnya juga, Seung-jo berhasil menemukan Jun-gu. Seung-jo mengulurkan tali ke arah Jun-gu dan menyuruhnya untuk segera naik melalui tali itu, tapi Jun-gu merasa gengsi, jadi ia menyuruh Seung jo pergi saja karena Jun-gu tidak membutuhkan bantuannya. Tapi, ketika Seung-jo pergi, Jun-gu kembali memanggilnya. Jun-gu berkata bahwa mereka harus menyelamatkan Ha-ni. Seung-jo menjawab bila Ha-ni sudah selamat dan ada di tempat penginapan saat ini. Jun-gu terharu mendengar hal itu, ia menangis terharu dan akhirnya Jun-gu meminta Seung-jo untuk membantunya,


Seung-jo dan Jun-gu berhasil kembali ke penginapan, mereka sangat kelelahan satu sama lain. Jun-gu merasa sangat berterimakasih pada Seung-jo, ia memberitahukan Seung-jo bahwa dari dulu tidak ada yang benar-benar peduli padanya selain Ha-ni. Jun-gu berkata bahwa kelak, ia akan membalas semua kebaikan Seung-jo ini.


Pagi harinya, Ha-ni menghirup udara pagi dan ia berjalan jalan di sekitar penginapan. Ha-ni duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon yang rindang dan tiba-tiba Seung-jo datang.


Seung-jo : Apakah kau ingin berjalan-jalan? Kau harus sendirian. Saat kau mengatakan bahwa kau menyukaiku dan segalanya tentangku. Tahukan kau perasaanku?



Ha-ni : perasaanmu... Tidak ada kesempatan bagi orang sepertiku..
belum sempat Ha-ni melanjutkan perkataannya, Seung-jo memegang pundak Ha-ni daaaan.. Seung-jo mencium Ha-ni.


Ha-ni berkata pada dirinya sendiri : tapi itu hanya mimpi, aku sangat terkejut. Kalau aku tahu itu hanya mimpi aku akan tidur lebih lama, tapi ciuman itu seperti.. nyata! 




Karena ternyata Eun-jo berdiri di dekat tempat Ha-ni duduk dan Eun-jo terlihat sangat gugup. Eun-jo seperti telah melihat sesuatu yang belum pernah ia liat sebelumnya.




Bersambung.......^_^





2 komentar:

  1. tita, yuli mau tanya donk..han ki tae tuh yg maen film apa yah?kok rasanya familier bgt gitu..cuma yuli gak inget dy pernah maen film apa..

    BalasHapus
  2. td dh di jwb di blog-ny ka'tirza,yuli.......gpp ya..coz td pas lihat2blog-nya ka'tirza,bru ngeh saat yuli tanya...미안해......

    BalasHapus